Fiqh Haji Tamattu’

Haji Tamattu’ adalah salah satu dari tiga jenis manasik haji, dimana seorang melakukan ibadah ‘umrah dan haji dalam satu perjalanan, dengan tahallul di antara keduanya. Haji Tamattu’ diawali dengan ‘umrah pada bulan-bulan haji[1] kemudian bertahallul, setelah itu masuk ibadah haji pada tanggal 8 Dzulhijjah (hari tarwiyah).

[A- Ibadah ‘Umrah]

Ihram:

Ihram termasuk rukun dari rukun-rukun ibadah ‘umrah. Ihram adalah berniat melakukan ibadah ‘umrah, bukan semata-mata memakai baju ihram, bisa jadi seorang memakai baju ihram tetapi tidak dalam keadaan ‘umrah atau haji.

1)   Disunnahkan mandi sebelum ihram[2] dan memakai wewangian di rambut kepala, lihyah (jenggot) dan badan (bukan pada kain ihram).[3]

2)   Memakai kain ihram, yaitu izar dan rida’ bagi laki-laki, disunnahkan berwarna putih[4] adapun bagi wanita boleh baginya memakai apa saja (termasuk pakaian dalam, kaos kaki), kecuali sarung tangan dan burqu’/niqob (cadar).

3)   Melakukan shalat -bagi yang tidak haidh dan nifas- jika memang waktu shalat wajib. Adapun jika bukan waktu shalat, shalat dua rakaat diniatkan shalat sunnah wudhu. Baru setelah itu ihram, sebagaimana dilakukan Rasulullah r.

Catt: Tidak ada shalat khusus bernama shalat ihram.

4)   Ihram wajib dilakukan di Miqot, tidak boleh dilakukan setelah melampaui miqot.

Maka bagi jama’ah haji Indonesia yang turun di Jeddah menggunakan pesawat dari arah Yaman ihram-nya dilakukan di pesawat[5] ketika pesawat hampir melewati Yalamlam (yaitu miqat bagi penduduk yaman dan yang melewatinya).[6]

5)   Ihram yaitu niat masuk ibadah ‘umrah seraya mengucapkan “Labbaika ‘umrotan” — “Labbaika Allahumma labbaik labbaika laa syariika laka labbaika, Innal Hamda wan-Ni’mata laka wal-Mulk Laa syariika laka”

6)   Jika seorang meniatkan ‘umrahnya[7] untuk orang lain, saat talbiah mengucapkan “Labbaika ‘an Fulan”[8]

7)   Jika khawatir ada penghalang yang akan menghalangi ibadah ‘umrah (atau haji)-nya[9] disyariatkan untuk mengucapkan syarat: “Fain Habasani Haabisun Fa mahilli haitsu Habastani.”[10] sebagaimana ditunjukkan Hadits Dhuba’ah binti Az-Zubair.[11]

8)   Adapun bagi yang tidak memiliki kekhawatiran apapun, tidak disyariatkan menyebutkan syarat (isythirath) karena Rasulullah r tidak menganjurkan kecuali pada Dhuba’ah binti Az-zubair.

9)   Memperbanyak talbiyah “Labbaika Allahumma labbaik labbaika laa syariika laka labbaika, Innal Hamda wan-Ni’mata laka wal-Mulk Laa syariika laka”.

10)               Waktu talbiyah untuk ‘umrah adalah dari sejak ihram dan berakhir ketika hendak thawaf.

11)               Menghentikan talbiyah ketika hendak melakukan thawaf.

12)               Disyareatkan bagi laki-laki mengeraskan suara talbiyah, adapun bagi wanita melirihkannya dan mencukupkan suara untuk dirinya.

13)               Meninggalkan semua larangan-larangan ihram (mahdzuuratul ihram) selama ibadah ‘umrah[12]

14)               Perhatian: Termasuk kesalahan dalam ihram: (1) berihram melewati miqot. misalnya berihram dari Jeddah, padahal dia melewati Yalamlam.[13] (2) Ber-idhtiba’ (membuka pundak kanan) sejak awal ihram.

Thawaf:

Termasuk rukun dari ibadah ‘umrah. Thawaf adalah mengelilingi Ka’bah tujuh putaran dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad.

1)   Disunnahkan ketika masuk Makkah untuk mandi.[14]

2)   Ketika masuk Masjidil Haram disunnahkan melakukan adab masuk masjid yaitu mendahulukan kaki kanan dan membaca basmalah, bershalawat atas Rasulullah r, dan membaca doa masuk masjid :

(أعوذ بالله العظيم وبوجهه الكريم وسلطانه القديم من الشيطان الرجيم اللهم افتح لي أبواب رحمتك)

3)   Menghentikan talbiyah ketika hendak thawaf.

4)   Apakah disyaratkan suci ketika thawaf?[15]

5)   Melakukan Al-Idhtiba’: yaitu membuka pundak kanan (dengan cara meletakkan bagian tengah rida’ (kain ihram) di ketiak kanan) dan menutup pundak kiri (dengan cara dua ujung rida’ disampirkan pada pundak kiri).

Catt: Idhtiba’ dilakukan hanya ketika thawaf ‘umrah dan qudum saja, adapun ketika shalat dua rakaat thawaf atau sa’i tidak melakukan idhtiba’, tapi menutup dua pundaknya. [16]

6)   Memulai thawaf dari rukun Hajar Aswad,

7)   Disunnahkan sebelum memulai thawaf untuk: (a) mencium Hajar Aswad dan mengucapkan: “Bismillah, Allahu Akbar.”[17] (b) jika tidak bisa maka mengusapkan tangan ke Hajar Aswad kemudian mencium tangannya, (c) jika tidak bisa, boleh baginya menyentuhkan tongkat atau semisalnya ke Hajar Aswad dan menciumnya -tentu jika tidak menyakitkan kaum muslimin (d) atau jika tidak bisa cukup baginya mengisyaratkan dengan tangan kanan[18] menghadap Hajar Aswad dan bertakbir, keadaan terakhir ini tidak disyareatkan mencium tangan cukup mengisyaratkan dengan satu tangan.[19]

8)   Disunnahkan pada tiga putaran pertama thawaf ‘umrah melakukan “romal” yaitu berjalan cepat dengan mendekatkan langkah kaki. Adapun empat putaran terakhir berjalan biasa, tidak disyariatkan “romal”.[20]

9)   Ketika sampai di Rukun Yamani (a) disunnahkan untuk mengusapnya, (b) Jika tidak bisa mengusapnya cukup dilewati tanpa mengisyaratkan tangan.

10)               Disunnahkan menbaca doa “Robbanâ Âtinâ fiddunyâ hasanah wa fil Âkhirati hasanah waqinâ ‘adzabânnâr” saat berjalan dari rukun Yamani hingga rukun Hajar Aswad di setiap putaran.

11)               Setiap melewati rukun Hajar Aswad disunnahkan mengusap dan mencium tangan yang digunakan untuk mengusap dan jika tidak bisa, cukup menghadap Hajar Aswad dan mengisyaratkan tangan kanan dengan bertakbir mengucapkan “Allahu akbar.”[21]

12)               Setelah selesai tujuh putaran disunnahkan melakukan shalat dua rakaat thawaf. Dan yang sunnah adalah shalat di depan Maqom Ibrahim (menjadikan Maqom Ibrahim di antara Ka’bah dan orang yang shalat meskipun jauh jaraknya)

13)               Ketika hendak shalat dan menuju Maqom Ibrahim[22] disunnahkan membaca firman Allah U :

واتخذوا من مقام إبراهيم مصلى  (البقرة : 135)

14)                Sunnah-sunnah ketika shalat: (a) Disunnahkan meringankan shalat dengan membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama, dan surat Al-Ikhlash pada rakaat kedua. (b) Disunnahkan menjadikan Maqom Ibrahim di antara dia dan ka’bah meskipun jauh jaraknya. Jika tidak bisa –karena kepadatan misalnya- maka diperbolehkan shalat di manapun dalam Masjid Al-Haram. (c) Tidak ada doa khusus setelah dua rakaat Thawaf, bahkan setelah salam hendaknya bangkit untuk memberikan kesempatan pada yang lain untuk melakukan sunnah, berikanlah kasih sayang pada saudara kita sungguh Allah U akan merahmati kita. (d) Dua pundak harus ditutup ketika shalat, adapun yang banyak dilakukan manusia dengan terus melakukan idhtiba’ (membuka pundak kanan) menyelisihi tuntunan Rasulullah r.

15)               Disunnahkan setelah selesai shalat dua rakaat thawaf untuk minum air zam-zam

16)               Disunnahkan sesudahnya menuju Hajar Aswad dan mengusapnya jika memungkinkan.

17)               Ketika thawaf hendaknya memperbanyak dzikir, doa atau membaca Al-Quran, dan tidak disyareatkan doa-doa khusus setiap putaran.[23].

18)               Diperbolehkan bercakap-cakap ketika thawaf.

19)               Termasuk penyelisihan syareat dalam thawaf: (1) Berdesak-desakan untuk mencium Hajar Aswad dan menyakiti yang lain. Ingat bahwa mencium Hajar Aswad hukumnya sunnah adapun berdesak-desakan menyakiti orang lain adalah haram. Juga sangat membahayakan terlebih disaat yang sangat padat dan semua orang berdesakan untuk mencapai Hajar Aswad (2) Mencium tangan ketika memberikan isyarat pada Hajar Aswad (3) Memberikan isyarat ke rukun yamani, juga mencium tangan sesudahnya. (4) Doa-doa khusus setiap putaran tidak dicontohkan sama sekali oleh Rasulullah r[24] (5) Shalat dua rakaat thawaf masih dalam keadaan pundak kanan terbuka (idhtiba’) (6) Mengusap-usap bagian ka’bah yang tidak diperintahkan untuk diusap, atau mengusapkan baju, kain dan semisalnya untuk bertabarruk (mencari berkah) dengannya (7) Mengusap-usap Maqom Ibrahim atau bagian lain dari Ka’bah selain dua rukun yamaniyain (Hajar Aswad dan Rukun Yamani) (8) Keyakinan bahwa Hajar Aswad, Maqom Ibrahim, Hijr Isma’il atau Rukun Yamani memberikan berkah, memberikan manfaat atau menolak madarat (bahaya-bahaya).[25] (8) Melakukan Romal di seluruh putaran.

20)               Faedah: (1) Jika dalam thawaf seseorang ragu tentang jumlah putaran yang dilakukannya, 3 atau 4 misalnya. Hendaknya dia bangun di atas keyakinan dengan memilih yang paling sedikit yaitu 3 karena inilah yang yakin, kemudian dia lanjutkan thawaf di atas keyakinan ini. (2) Jika ditengah-tengah thawaf dikumandangkan iqomah maka shalatlah bersama imam, kemudian setelah selesai shalat melanjutkan putaran yang tersisa dan tidak mengawalinya dari awal. (3) Tidak boleh bagi perempuan nifas atau haidh[26] untuk thawaf[27] (4) Hijr Isma’il termasuk Ka’bah[28] (5) Hukum shalat dalam Hijr Isma’il[29] (6) Tentang Multazam[30]

Sa’i:

Sa’i termasuk rukun ‘umrah, dilakukan berurutan sesudah thawaf.[31] Sa’i adalah berjalan tujuh putaran diantara Shafa dan Marwah[32] diawali dari Shafa dan berakhir di Marwah.[33]

1)   Setelah selesai melakukan thawaf dan dua rakaat sesudahnya, segera menuju ke bukit Shafa, yaitu bukit yang paling dekat (menghadap) dengan Hajar Aswad, untuk melakukan rukun ‘umrah berikutnya yaitu sa’i.

2)   Setelah dekat dengan Shafa disunnahkan membaca firman Allah U:

(إن الصفا و المروة من شعائر الله ) – البقرة – ابدأ بما بدأ الله به

Sesungguhnya Shofa dan Marwah termasuk syi’ar-syiar Allah (Al-Baqarah) Dan mengatakan: Abda-u bimaa bada-a Llohu bihi (Aku mulai dengan apa yang Allah mulai dengannya)

3)   Ketika sampai di Shofa disunnahkan menghadap Ka’bah, bertakbir dan berdoa seraya mengangkat kedua tangan. Bacaan yang disunnahkan: “Laa ilaaha illalloh – wallohu akbar – Laa ilaaha illalloh wahdahu Laa syariika lahu, Lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumiitu wa huwa ‘ala kulli syaiin qodiir, laa ilaaha illallohu wahdahu, anjaza wa’dahu wa nashoro ‘abdahu, wa hazamal ahzaaba wahdahu.” Setelah membaca dzikir ini berdoa sebanyak-banyaknya untuk kebaikan dunia dan akhirat. Dibaca tiga kali dan di antara dzikir tersebut disunnahkan berdoa sebanyak-banyaknya untuk kebaikan dunia dan akhirat.

4)   Turun berjalan menuju Marwah dengan tenang.

5)   Di antara Shofa dan Marwah ada dua tanda hijau.[34] Disunnahkan untuk lari di antara keduanya bagi laki-laki.

6)   Setelah sampai ke Marwah disunnahkan menghadap kiblat dan melakukan dzikir serta doa sebagaimana dilakukan di Shofa. Tidak disunnahkan membaca ayat di Marwah dan juga Shofa kecuali ketika pertama kali mendekati bukit Shofa.

7)   Sa’i dilakukan tujuh putaran, diawali dari Shofa dan diakhiri di Marwah

8)   Boleh bagi orang yang sa’i membaca Al-Qur’an, atau dzikir, dan boleh baginya berbicara

9)   Beberapa penyelisihan dalam Sa’i (1) Masih melakukan idhtiba’ (membuka pundak kanan) karena hal ini hanya dilakukan ketika thawaf[35] saja (2) Menentukan doa-doa khusus pada setiap putaran (3) Ketika naik ke Shofa atau Marwah mengangkat kedua tangan dan menggerak-gerakkan seperti orang shalat.

Tahallul:

Tahallul adalah keluar dari ibadah ‘umrah dengan mencukur (memendekkan) rambut atau menggundulnya (halq).

1)   Seusai dari sa’i melakukan tahallul yaitu menggundul kepala bagi laki-laki atau memendekkan rambut Perlu diketahui bahwasannya dalam memendekkan rambut, wajib dilakukan merata pada seluruh bagian kepala. Adapun bagi wanita cukup digunting seukuran ruas jari.

2)   Menggundul lebih afdhol dari memendekkan rambut[36].

3)   Beberapa kesalahan dalam tahallul: (1) memotong rambut kepala hanya sedikit dan bagian tertentu saja/ tidak merata (bagi laki-laki)[37] (2) Keyakinan bahwa yang boleh memotong rambut adalah orang yang sudah bertahallul (3) Memendekkan atau membuang jenggot. Perbuatan ini menyelisihi sunnah Rasulullah r beliau memerintahkan umatnya memanjangkan jenggot dan memeliharanya, dan sama sekali beliau tidak mencukur jenggotnya baik ketika ihram (haji/’umrah) atau tidak ihram. (4) Mencukur rambut wanita yang bukan mahramnya sebagaimana banyak dilakukan jamaah haji/’umrah.

Dengan tahallul, selesailah rangkaian ibadah ‘umrah. Diperbolehkan bagi jamaah melakukan apa saja yang tadinya diharamkan ketika ihram (Mahdzuratul Ihram) seperti memakai minyak wangi, memotong kuku, mendatangi istri (jimak), dan lainnya. Seusai ‘umrah jamaah menunggu hingga tanggal 8 Dzulhijjah (hari tarwiyah) untuk melaksanakan ibadah haji.

Hendaknya memanfaatkan waktu dan kesempatan sebaik-baiknya dengan memperbanyak shalat di Masjidil Haram baik shalat wajib atau sunnah karena pahalanya Allah U lipatkan seratus ribu kali lipat dibanding shalat di masjid lainnya selain Masjid Nabawi.

Disunnahkan pula memperbanyak thawaf sunnah.[38] Adapun memperbanyak ‘umrah dengan berbolak-balik dari Masjidil Haram ke Masjid ‘Aisyah (Tan’im) mengulang-ulang ‘umrah maka ini tidak disyariatkan, Allahu a’lam.

[B. Ibadah Haji]

Amalan di Hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah)

Pada hari tarwiyah, jama’ah haji bersiap-siap menempuh rangkaian ibadah haji, diawali dengan ihram dari tempatnya masing-masing (hotel di mana jama’ah menginap).

1)   Disunnahkan untuk mandi sebelum ihram dan memakai wewangian di badan dan kepalanya dan lihyahnya (bukan di baju ihramnya).

2)   Melakukan Ihram yang merupakan rukun, yaitu berniat untuk ibadah haji, dengan memakai baju ihram (sesuai dengan ketentuan bagi laki-laki dan wanita) dan mengucapkan: “Labbaika  Hajjan” — “Labbaika Allahumma labbaik labbaika laa syariika laka labbaika, Innal Hamda wan-Ni’mata laka wal-Mulk Laa syariika laka”

3)   Disunnahkan memperbanyak talbiyah sejak ihram untuk haji sampai nanti melempar jumrah ‘Aqobah (Jumrah Kubro) pada hari nahr (tanggal 10 Dzul hijjah).

4)   Menuju Mina di waktu dhuha untuk mabit di Mina pada hari tarwiyah.

5)   Mabit di Mina hari tarwiyah hukumnya sunnah.[39]

6)   Amalan di Mina: Shalat Dhzuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Shubuh, diqoshor dan tidak dijamak, masing-masing shalat dilakukan pada waktunya.

7)   Memperbanyak talbiyah, dzikir dan doa.

Amalan di Hari ‘Arafah (Tanggal 9 Dzul Hijjah)

1)   Seusai shalat shubuh di Mina, jamaah memperbanyak talbiyah, dan menunggu hingga terbit matahari.

2)   Setelah terbit segera meninggalkan Mina menuju ‘Arafah[40], boleh berjalan kaki atau berkendaraan.

3)   Disunnahkan untuk berhenti di Namiroh[41] sebelum masuk waktu shalat dzuhur – jika memungkinkan[42]

4)   Setelah zawal (masuk waktu shalat dzuhur) segera masuk wilayah ‘Arafah.

5)   Yang sunnah bagi jamaah haji di hari ‘Arafah adalah: tidak melakukan puasa sebagaimana Rasulullah r tidak berpuasa, di antara hikmahnya –Allahu a’lam- agar jamaah lebih kuat dan bersemangat dalam berdoa kepada Allah U di hari itu.[43]

6)   Yakinkan dan pastikan bahwa anda benar-benar berada di wilayah ‘Arafah, jika tidak maka haji tidak akan sah – karena belum wuquf di ‘Arafah.[44]

7)   Semua wilayah ‘Arafah adalah tempat untuk wukuf, tidak disyaratkan wukuf di dekat Jabal Rahmah.[45]

8)   Disyariatkankan bagi imam berkhutbah (sebelum shalat) menjelaskan tentang apa yang dibutuhkan baik permasalahan ushuluddiin (pokok-pokok agama), hukum-hukum haji atau selainnya dan bagi jamaah haji mendengarkan khuthbah tersebut.

9)   Setelah khutbah, Shalat Dhuhur dan Ashar jamak taqdim dan diqoshor dengan satu adzan dan dua iqomat.

10)               Memperbanyak dzikir dan doa untuk kebaikan dunia dan akhirat[46], karena waktu tersebut adalah waktu yang sangat mustajab, Allah U turun ke langit dunia membanggakan hamba-hamba-Nya di hadapan malaikat-malaikat-Nya dan di hari yang agung itu Allah U membebaskan banyak hamba-hamba-Nya dari neraka, sebagaimana sabda Rasulullah r dari ‘Aisyah:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنْ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمْ الْمَلَائِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ

“Tidak ada hari yang dihari itu Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya  dari neraka daripada hari ‘‘Arafah, dan sungguh Allah mendekat dan membanggakan mereka (orang-orang yang melakukan haji) di hadapan malaikat seraya berfirman: Apa yang mereka kehendaki?[47]

11)               Disunnahkan memperbanyak dzikir: “Laa ilaaha illalloh wahdahu Laa Syariika lahu, Lahul Mulku walahul Hamdu Wa huwa ‘ala Kulli Syai’in Qodiir”. Dzikir ini adalah dzikir yang paling afdhol diucapkan.

12)               Wajib untuk berada di ‘Arafah sampai tenggelam matahari.

13)               Setelah tenggelam matahari, segera meninggalkan ‘Arafah menuju Muzdalifah (dan tidak melakukan shalat maghrib dan isya’ di ‘Arafah).

14)               Beberapa kesalahan di hari ‘Arafah (1) Termasuk kesalahan fatal: tidak memastikan wilayah ‘Arafah, ternyata dia wukuf di luar ‘Arafah. (2) Wuquf di shaf-shaf depan masjid Namiroh, padahal bagian depan masjid Namiroh bukan termasuk ‘Arafah (3) Menggunakan waktu yang agung untuk tidur atau bertamasya mengambil foto kenang-kenangan ketika sedang berdoa di ‘Arafah (4) Banyak jama’ah haji yang menaiki Jabal Rahmah untuk bertabarruk (mencari berkah) atau mencari batu-batu untuk dibawa pulang ke negaranya untuk mendapatkan berkah dari batu tadi ini termasuk kesyirikan dan merusak ibadah haji (5) Meninggalkan ‘Arafah sebelum tenggelam – berarti dia meninggalkan kewajiban dan wajib membayar dam.

Mabit di Muzdalifah, dan amalan-amalan di malam itu.

1)   Setelah tenggelam matahari di ‘Arafah Allah U perintahkan manusia berbondong menuju Muzdalifah untuk melakukan kewajiban Mabit. Dengan terus memperbanyak talbiyah.

2)   Sesampainya di Muzdalifah segera menunaikan shalat Maghrib dan Isya (dua rakaat), jamak & qoshor, dengan satu adzan dan dua Iqomat.

3)   Jika dikhawatirkan waktu ikhtiyar untuk shalat isya’ habis sebelum sampai di Muzdalifah –karena kepadatan arus atau sebab lainnya- hendaknya shalat maghrib dan isya’ dalam perjalanan meskipun belum sampai Muzdalifah.

4)   Amalan di Muzdalifah adalah Istirahat tidur, -tidak pula melakukan shalat tahajud[48]- mempersiapkan tenaga untuk melakukan amalan hari nahr (10 Dzul Hijjah) di Mina.[49]

5)   Mabit di Muzdalifah hukumnya wajib hingga pagi hari,

6)   Adapun bagi orang-orang yang lemah seperti perempuan atau yang mengiringi mereka – diberi rukhshoh (keringanan) meninggalkan Muzdalifah setelah melewati tengah malam.[50]

7)   Shalat Shubuh di Muzdalifah, kemudian berdiri menghadap kiblat memperbanyak dzikir, dan doa, sampai langit benar-benar menguning.

8)   Beberapa penyelisihan di Muzdalifah (1) Keyakinan bahwa mabit di Muzdalifah adalah untuk mencari batu untuk melempar jumrah, keyakinan ini menyelisihi syariat syariat. Tidak disyaratkan bahwa batu berasal dari Muzdalifah. Bahkan Rasulullah r tidak memerintahkan shahabat mencari batu untuk beliau r kecuali sesudah meninggalkan Muzdalifah, maka boleh mengambil batu ketika dalam perjalanan menuju Mina atau bahkan mencarinya di Mina. (2) Keyakinan bahwa batu harus dicuci, hal ini tidak ada contohnya dari Rasulullah r.

Hari Nahr (10 Dzul Hijjah)

1)   Di Muzdalifah, setelah langit benar-benar menguning -sebelum terbit matahari-, segera jama’ah haji berjalan menuju Mina dengan khusyu’ dan memperbanyak talbiyah, untuk mengamalkan amalan hari nahr.

2)   Amalan hari nahr secara urut dari apa yang dilakukan Rasulullah r adalah yaitu: (1) Melempar jumrah Aqabah, (2) Menyembelih sembelihan (bagi mutamati’ dan qorin) (3) Halq (menggundul kepala) atau taqshir (memendekkan rambut dengan rata) (4) Thawaf haji (ifadhah) dan Sa’i bagi mutamatti’ (demikian pula mufrid dan qorin bagi yang belum sempat sa’i bersama thawaf qudum).

3)   Yang afdhol adalah melakukan amalan tersebut semuanya dengan urutan sebagaimana Rasulullah r melakukannya, tetapi amalan di hari itu boleh dilakukan secara tidak beurutan[51]-

4)   Menghentikan talbiyah ketika melempar Jumrah ‘Aqobah.

5)   Setelah sampai di Mina, pertama yang dilakukan adalah: Melempar Jumrah Aqobah dengan tujuh lemparan. (a) mengangkat tangan ketika melempar (b) dan bertakbir setiap lemparan. (c) hendaknya yakin bahwa batu kerikil  masuk ke dalam kolam jumrah. (d) Waktu melempar jumrah ‘Aqabah diawali sejak terbit matahari (dhuha) hingga terbenam matahari. Apabila tidak bisa di waktu tersebut dibolehkan melemparnya setelah terbenam matahari.

6)   Menyembelih Hadyu (bagi haji tamattu’ atau Qiron).[52] Disunnahkan menyembelih sendiri – dan boleh diwakilkan.

7)   Menggundul kepala atau memendekkannya, menggundul lebih afdhol karena Rasulullah r mendoakan tiga kali bagi mereka yang menggundul agar mendapatkan rahmat dari Allah U, “Ya Allah berilah rahmat bagi mereka yang menggundul.” sedangkan bagi yang memendekkan hanya didoakan sekali.

8)   Setelah melempar Jumrah dan menggundul atau memendekkan kepala jama’ah haji telah ber-tahallul awwal.[53]

9)   Menuju Makkah untuk melakukan Thawaf  Ifadhoh (thawaf haji) diiringi dengan Sa’i[54]

10)               Penting!: Tiga amalan pada hari nahr berkaitan dengan tahallul awal dan tahallul tsani adalah: (1) Melempar Jumrah ‘Aqobah (2) Mencukur rambut (3) Thawaf dan Sa’i[55] -. Jika dua dari tiga perkata ini telah dilakukan, berarti dia telah Tahallul Awwal, boleh melakukan segala sesuatu kecuali yang berhubungan dengan perempuan (jimak). Adapun jika tiga perkara ini sudah dilakukan maka dia telah Tahallul Tsany (kedua) dan boleh melakukan apa saja termasuk mendatangi istri.

11)               Setelah semua amalan di Makkah selesai, segera kembali ke Mina untuk melakukan amalan berikutnya yaitu Mabit di Mina di hari-hari tasyrik.

12)               Talbiyah berakhir dengan melempar Jumrah ‘Aqobah, dan setelahnya jama’ah haji memperbanyak takbir hingga akhir hari tasyrik. “Allahu akbar, Allahu akbar, Laa ilaaha illallahu Allahu akbar, Allahu akbar walillahil Hamd”

Amalan di Hari Tasyrik (11,12,13 Dzul Hijjah)

1)   Amalan hari tasyrik adalah mabit (bermalam) di Mina, hukumnya Wajib.

2)   Wajib melempar tiga jumrah pada setiap harinya: Shughro, Wustho dan ‘Aqobah masing-masing 7 kerikil, jadi dalam satu hari melempar 21 lemparan.

3)   Waktu melempar: Dari sesudah tergelincir matahari (masuk waktu dhuhur)[56] hingga tenggelam matahari. Boleh pula melempar sesudah tenggelam.

4)   Disunnahkan bertakbir setiap kali lemparan,

5)   Disunnahkan berdoa menghadap kiblat setelah melempar jumrah sughro dan wustho, dan tidak ada doa sesudah melempar jumrah ‘Aqobah.

6)   Selama di Mina Shalat lima waktu pada waktunya dan diqoshor.

7)   Setelah mabit tanggal 11 dan 12 dan telah melempar 42 lemparan, bagi jama’ah boleh meninggalkan Mina (nafar awwal). Perhatian: erdoa mroh dan menggundul atau memendekkan kepala jamaah haji menuju Makkah untuk a menggundul kepala)sabdakan RasuBagi yang hendak meninggalkan Mina lebih awwal (Nafar Awwal) harus meninggalkan Mina tanggal 12 Dzul Hijjah sebelum tenggelam matahari[57], adapun jika setelah tenggelam matahari tanggal 12 masih berada di Mina, maka wajib baginya untuk mabit tanggal 13 dan mengambil Nafar Tsany[58]

8)   Perhatian: Bagi yang sakit atau perempuan hamil yang takut akan kandungannya atau lemah seperti kakek-kakek dan semisalnya, boleh mewakilkan lemparan kepada orang lain. Orang yang mewakili melempar dahulu untuk dirinya kemudian melemparkan untuk orang lain.

9)   Dengan berakhirnya lemparan jumrah ‘Aqabah sebelum tenggelam tanggal 13 Dzul Hijjah, berakhirlah rangkaian ibadah haji, dan tidak ada yang tersisa kecuali Thawaf Wada’.

Thawaf wada’.

1)   Ketika jama’ah haji hendak meninggalkan Makkah wajib untuk melakukan thawaf wada’.

2)   Thawaf Ifadhah boleh di akhirkan dan digabungkan dengan thawaf wada’ (tetapi harus diingat, jika thawaf ifadhah diakhirkan artinya dia belum sempurna dalam tahallul, baru tahallul awal dan belum tahallul tsani, dia boleh melakukan apa saja kecuali yang berkaitan dengan wanita (istri)).

3)   Bagi wanita yang haidh, kewajiban thawaf wada’ gugur jika sudah melakukan thawaf ifadhah, adapun bagi wanita yang haidh dan belum thawaf ifadhah maka hendaknya tinggal di Makkah menunggu suci dan melakukan thawaf ifadhah sekaligus sebagai thawaf wada’.

4)   Beberapa kesalahan: (1) Sebagian Jamaah haji sebelum nafar awal atau tsani datang ke Makkah melakukan dengan niat thawaf wada’, kemudian kembali ke Mina untuk melempar jumrah tanggal 12 atau 13 kemudian safar ke negeri mereka masing-masing[59] (2) Meninggalkan Ka’bah dengan mundur (agar tidak membelakanginya) (3) Tinggal di Makkah sesudah thawaf wada’[60]

 

Faedah:

Amalan-amalan haji di atas, terbagi menjadi tiga: rukun haji, kewajiban haji dan sunnah-sunnah haji, Adapun rukun-rukun haji adalah: (1) Ihram (2) Wuquf di ‘Arafah (3) Thawaf Ifadhoh (4) Sa’i. Barang siapa meninggalkan salah satu dari rukun haji ini maka hajinya tidak sah.

Yang termasuk kewajiban-kewajiban haji: (1) Ihram di Miqot (2) Wuquf di ‘Arafah sampai tenggelam matahari (3) Mabit Di Muzdalifah[61] (4) Mabit di Mina tanggal 11,12, dan 13 bagi yang mengakhirkan (nafar tsani) (5) Melempar Jumrah (6) Menggundul atau memendekkan rambut[62] (7) Thawaf wada’. Bagi perempuan yang haidh tetapi sudah thawaf ifadhoh maka kewajiban thawaf wada’ gugur.[63] Jika salah satu dari kewajiban ini ditinggalkan maka wajib baginya Fidyah (dam) yaitu seekor kambing yang disembelih di Makkah, dibagikan kepada orang-orang faqir Makkah dan tidak boleh baginya untuk memakan daging fidyah ini.

Adapun sunnah-sunnah haji maka sebagiannya telah disebut di tengah pembahasan, dan di akhir tulisan ini diwasiatkan kepada segenap jama’ah haji untuk senantiasa menanyakan apa-apa yang belum diketahui kepada ahlul-ilmu, yang menyandarkan ucapan dan pendapatnya di atas dalil al Quran dan As-Sunnah. Semoga Allah U memerikan kepada kita semuanya taufiq dan Allah U bimbing jama’ah haji sekalian untuk memperoleh Haji Mabrur, Rasulullah r bersabda:

و الحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة

“Dan Haji Mabrur, tidak ada balasan baginya melainkan Al-Jannah. (Muttafaqun ‘Alaihi)[64]

الحمد لله رب العالمين

و صلى الله و سلم على محمد و على آله و من تبعهم بإحسان


[1] Bulan-bulan haji adalah Syawwal, Dzulqa’dah dan 10 hari bulan Dzul hijjah.

[2] Bagi wanita yang haidh atau nifas disunnahkan pula mandi ketika ihram, sebagaimana Rasulullah r memerintahkan Asma binti Umaisy – istri Abu Bakr As-Shiddiq – untuk mandi sesudah melahirkan (nifas) ketika sampai di Dzul Hulaifah (Bir Ali). (Shahih Muslim no. 1218 dari hadits Jabir bin Abdillah)

[3] Tidak mengapa jika parfum/wewangian tersebut tetap membekas pada rambut atau badan selama manasik. Adapun baju ihram, maka tidak boleh diberi wewangian baik sebelum ihram atau sesudahnya.

[4] Boleh pula warna selain putih sebagaimana Rasulullah r pernah thawaf memakai kain berwarna hijau. Lihat hadits Abu Dawud no.1883, At-Tirmidzi no.859 Ibnu Majah no. 2954 dalam Sunan mereka dengan sanad shahih.

[5] Faedah: Tatacara ihram di atas pesawat: (1) Jamaah mandi di rumah sebelum naik pesawat dan memakai baju biasa atau langsung memakai baju ihram jika dia berkehendak, misalnya memakai izar, adapun bagian atas masih memakai baju biasa. (2) Jika pesawat hampir mendekati miqat segera memakai baju ihram jika belum memakainya (3) Jika pesawat kira-kira telah sejajar dengan miqot segera berniat ibadah ‘umrah atau haji dan bertalbiyah (4) Tidak mengapa berniat (ihram) sebelum miqot beberapa waktu karena khawatir lalai, mengingat cepatnya pesawat. (Fatawa Arkanil Islam Syaikh Ibnu ‘Utsaimin hal. 517)

[6]Adapun bagi jama’ah haji Indonesia yang turun di Madinah An-Nabawiyah terlebih dahulu, maka miqotnya adalah “Dzul Hulaifah” yang lebih dikenal dengan sebutan “Bir Ali”, sehingga tidak harus baginya melakukan ihram di atas pesawat.

[7] Boleh menghajikan atau meng’umrahkan orang lain sebagaimana ditunjukkan hadits Ibnu ‘Abbas diriwayatkan Abu Dawud dalam As-Sunan no.1811. Kebolehan tersebut dengan syarat: (1) Orang yang menghajikan atau meng’umrahkan sudah menunaikan ibadah ini untuk dirinya (2) Orang yang dihajikan atau di’umrahkan sudah meninggal, atau masih hidup tetapi dihukumi orang yang meninggal seperti orang yang sudah renta dan lumpuh atau menderita sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya.

[8] Tetapi jika lupa tidak melafadzkan dalam talbiyah bahwa ‘umrah atau hajinya untuk fulan, tetapi niatan semula memang bukan untuk dirinya sendiri maka ‘umrah atau hajinya tetap untuk orang yang diniatkan, berdasar sabda Rasulullah r: “Innamal a’malu bin-niyyat” (lihat Tuhfatul Ikhwan  hal.195 Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazz)

[9] Semisal kondisi keamanan atau sakit yang mengkhawatirkan hingga ada kemungkinan ditengah perjalanan ditahan musuh atau sakitnya hingga tidak bisa menyempurnakan manasik haji atau ‘umrah. Jika ditengah perjalanan memang dia tidak mampu menyempurnakan haji atau ‘umrahnya maka dia tehallul di tempat dia tertahan dan tidak ada hadyu (sembelihan) atasnya. Adapun mereka yang tidak mensyaratkan di awal ihramnya, atas mereka sembelihan sebagaimana firman Allah U:

فإن أحصرتم فما استيسر من الهدي

[10] Artinya: “Jika ada penghalang yang menghalangi ku (dari ibadah ‘umrah atau haji) maka tahalulku di tempat Engkau tahan diriku.”

[11] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no.5089 dan Muslim no.1207 dalam Shahih keduanya.

[12] Dilarang bagi orang yang ‘umrah atau haji melakukan mahdzurat (larangan-larangan) ihram, yang secara umum terbagi menjadi tiga bagian dengan rincian sebagai berikut:

Pertama: Larangan untuk laki-laki dan wanita:

(1) Membuang/memotong rambut kepala [demikian pula rambut pada bagian jasad lain seperti rambut ketiak dan bulu kemaluan].  (Faedah: a. Jika rambut rontok karena tidak sengaja menggaruk atau mandi atau karena lupa, tidak ada hukuman baginya b. Seandainya ada rambut mata yang mengganggu mata dan tidak hilang gangguannya kecuali dengan mencabut maka tidak mengapa baginya mencabut) (2) Memotong kuku tangan atau kaki (Faedah: a. Seandainya dia memotong karena lupa atau memotongnya karena sebagian kuku terlepas dan sangat mengganggu maka tidak ada dosa dan hukuman baginya) (3) Memakai parfum/wangi-wangian baik di badan atau di kain selama melakukan ‘umrah dan haji (adapun minyak wangi yang tersisa di badan ketika mandi untuk ihram -sebelum ihram- tidak mengapa) sebagaimana telah disebutkan (4) Mubasyaroh (menyentuh istri) dengan syahwat apalagi menjimakinya dan atau melihanyat dengan syahwat (5) Mengkhitbah wanita atau melangsungkan akad nikah (6) Memotong atau mencabut pohon-pohon di tanah Haram yang tumbuh sendiri (Faedah: a. Tidak mengapa memotong pohon di luar Haram, maka boleh bagi jamaah memotong pohon di ‘Arafah, karena dia bukan wilayah haram b. Tidak mengapa memotong pohon yang sudah mati, atau tidak sengaja menabrak pohon hingga roboh atau terpotong) (7) Tidak boleh berburu (membunuh hewan buruan) yaitu hewan-hewan liar seperti kelinci, belalang, burung merpati, tidak boleh pula membantu berburu (Faedah: a. Adapun buruan laut maka diperbolehkan bagi muhrim untuk memburunya, demikian pula boleh menyembelih hewan-hewan yang memang diperuntukkan disembelih seperti ayam, kambing dan semisalnya. b. Ada jenis-jenis hewan yang diperintahkan/diizinkan dibunuh di dalam/luar haram, baik sedang ihram atau tidak di antaranya lima jenis hewan fasik: Ghurob (gagak), Hida`ah (sejenis burung), kalajengking, tikus, anjing gila, dan yang semisal atau lebih berbahaya seperti ular, serigala, singa dan sejenisnya.)  (8) Memakai kaos tangan

Faedah: Tidak boleh bagi orang yang muhrim atau bukan muhrim mengambil barang temuan di tanah Haram baik berupa emas, perak uang atau yang lainnya, kecuali untuk mencari siapa yang punya. (Jika anda menemukan barang berupa dompet, pasport atau semisalnya silahkan diambil dan serahkan pada polisi-polisi penjaga Masjidil Haram, untuk nanti diumumkan di tempat yang telah disediakan pemerintah kerajaan)

Kedua: Larangan Khusus untuk laki-laki:

(1) Menutup kepala dengan sesuatu yang menempel seperti memakai kopiah/peci atau surban dan semisalnya, (Faedah: a. jika lupa atau tidak sengaja seperti menutup kepada ketika tidur maka tidak ada dosa dan tidak ada kafaroh baginya, akan tetapi wajib baginya segera meninggalkan jika ingat atau terbangun  b. adapun menutup kepala dengan sesuatu yang tidak menempel (berteduh) dengan payung, kemah atau sejenisnya maka ini bukan termasuk larangan. c. Demikian pula tidak mengapa membawa barang seperti tas dan semisalnya di atas kepala jika tidak dimaksudkan untuk menutup kepala. d. Tidak mengapa pula menyelamkan kepala ke dalam air meskipun kepala tertutup (tenggelam dalam) air. (2) Tidak boleh memakai baju yang berjahit (mahith) seperti jaket, gamis, baju koko dan semisalnya.

Ketiga: Larangan khusus untuk wanita:

(8) Tidak boleh bagi wanita memakai burqu’/niqob (cadar)

Faedah: Kaedah umum dalam masalah larangan-larangan ihram (mahdzuuratul ihram):

(1)  “Barangsiapa melanggar (melakukan) larangan ihram karena, lupa, jahil, atau dipaksa maka tidak ada kafaroh (fidyah) apapun baginya, berdasar keumuman firman Allah U dalam Surat Al-Baqarah: 286). (Lihat Fatawa Arkanil Islam Ibnu Utsaimin hal:536-537)

(2)  Bagi yang melanggarnya karena udzur seperti mencukur kepala sebelum saatnya karena sakit sebagaimana terjadi pada sahabat Ka’b bin ‘Ujroh, atau butuh memakai jaket bagi laki-laki karena sakit maka atasnya fidyah yaitu memilih satu dari tiga perkara: (1) Menyembelih kambing di makkah dan membagikannya pada Fuqoro (tidak boleh dia mengambil bagiannya) (2) Memberi makan enam orang miskin masing-masingnya setengah sho’ (3) Shoum tiga hari. Dan tidak ada dosa baginya

(3)  Bagi yang melanggar dengan sengaja dia berdosa dan wajib membayar fidyah dengan ketentuan di atas.

Fawaid: a. Di antara Mahdzuratil ihram ada yang tidak dikenakan fidyah (dam) seperti mengkhithbah wanita dan melakukan akad nikah. b. Bukan termasuk mahdzuratil ihram beberapa hal berikut: memakai jam tangan, kaca mata, head phone, sepatu sandal (sandal yang dikelilingi tali), memakai sabuk di perut, menggantungkan pada tubuhnya pedang/sarung pedang, menggendong qirbah (tempat air di pundak) atau kantung bekal, [termasuk juga menggendong tas-pen] (Syarhul Mumti’ (7/133)) tidak mengapa mencium minyak wangi c. Bagi yang tidak mendapatkan izar, boleh baginya memakai sirwal dan tidak ada fidyah atasnya, sebagaimana hal ini diizinkan Rasulullah r.

[13]Jika seorang melampaui miqot dalam ihram, maka wajib baginya “membayar fidyah (dam)” karena meninggalkan salah satu kewajiban, dengan menyembelih kambing di tanah haram dan dibagikan kepada fuqoro’ haram (Makkah).

[14] Boleh melepas baju ihram – boleh pula mengganti dengan kain lainnya sebagaimana bolehnya dia mengganti sendal, tetapi ingat sekarang dia dalam keadaan muhrim, maka tidak boleh memakai wewangian.

[15] Jumhur (kebanyakan) ulama berpendapat wajibnya suci dalam thawaf.

[16]Idhtiba’ disyariatkan pada tujuh putaran pada thawaf ‘umrah dan qudum. Adapun thawaf haji (ifadhoh) tidak disyariatkan idhtiba’.

[17] Doa ketika mengusap Hajar Aswad: “Bismillah Wallahu akbar, Allahumma imanan bika, wa tashdiqan bikitabika wa wafa`an bi ‘ahdika wat tiba’an lisunnati nabiyyika Muhammadin  r.” (Al-Minhaj Syaikh Utsaimin hal.22)

[18] Mengisyaratkan tangan kanan ke arah Hajar Aswad dengan bertakbir dalam keadaan kaum muslimin berjejal lebih afdhol daripada berdesak-desakankan atau bahkan menyakiti mereka sebagaimana wasiat Rasulullah r kepada Umar bin Al-Khaththab. Rasulullah r bersabda: “Wahai Umar sesungguhnya engkau seorang yang kuat, maka janganlah engkau berdesakan pada Hajar Aswad hingga engkau sakiti yang lemah, jika engkau dapatkan kelonggaran usaplah Hajar Aswad, jika tidak (cukuplah) engkau menghadap padanya bertakbirlah.”

[19] Adapun mencium tangan setelah mengisyaratkannya kepada Ka’bah bagi yang tidak bisa mengusap sebagaimana dilakukan kebanyakan orang maka perbuatan ini menyelisihi tuntunan Rasulullah r, dan berhati-hatilah wahai saudaraku dari mengikuti apa yang dilakukan kebanyakan orang didepan Hajar Aswad, mereka melambaikan tangan dan mencium tangan mereka, “fainna khoiro hadyi hadyu muhammadin r”.

[20] Bagi wanita, thawaf dan sa’i semuanya dengan berjalan biasa, adapun  “Romal” (mempercepat langkah dan memendekkannya/lari-lari kecil) ketika Thawaf, demikian juga lari ketika sa’i di antara dua tanda hijau berlaku khusus bagi laki-laki, adapun wanita tidak disyareatkan melakukan romal. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi menukilkan ijma’ tentang masalah ini dalam Al-Mughny  (3/334)

[21] Termasuk di akhir thawaf ketika sampai di Hajar Aswad menghadapnya dan bertakbir, Allahu a’lam..

[22] Pada Maqom Ibrahim yang dilindungi dengan kaca pada saat ini terdapat dua bekas telapak kaki, apakah telapak kaki itu adalah bekas telapak kaki Nabi Ibrahim –alaihissalam- Berkata Syaikh Muhammad bin sholeh Al-‘Utsaimin rahimahullah: “Tidak diragukan  bahwa Maqom ibrahim itu tsabit (ada). Dan apa yang ada (sekarang) yang dibangun di atasnya kaca adalah Maqom Ibrahim, akan tetapi lubang/ukiran (yang berbentuk kaki) padanya tidak jelas bahwasannya itu adalah bekas dua kaki Ibrahim, karena yang ma’ruf dalam tinjauan  tarikh (sejarah) bahwasannya bekas dua telapak kaki Ibrahim telah hilang sejak zaman yang lama, akan tetapi dibuatnya ukiran hanyalah sebagai tanda dan tidak bisa kita pastikan bahwa ukiran tersebut adalah letak dua kaki Ibrahim ‘Alaihis salam. Ada hal lain yang ingin kita ingatkan … bahwa sebagian orang yang ‘umrah atau haji berhenti di Maqom Ibrahim (baik ketika thawaf atau sesudah shalat dua rakaat thawaf-pen) dan berdoa dengan doa-doa yang tidak datang dari Nabi  r  terkadang dengan mengangkat suara sehingga mengganggu orang-orang yang shalat dua rakaat thawaf di belakang Maqom Ibrahim, (ketahuilah sesungguhnya) tidak ada doa khusus dibaca pada Maqom Ibrahim, bahkan yang sunnah adalah meringankan sholat dua rakaat dan langsung bangkit sesudah salam untuk memberikan kesempatan (tempat) pada yang lebih berhak untuk melakukan dua rakaat sesudah thawaf   (Fatawa Arkanul Islam hal.547 dengan sedikit perubahan). Dan yang lebih membahayakan dari itu adalah menjadikan Maqom Ibrahim sebagai tempat untuk ngalap berkah, meyakini bahwa Maqom Ibrahim memberikan manfa’at dan madarat.

[23] Rasulullah r tidak menentukan doa-doa tertentu pada tiap-tiap putaran tawaf atau sa’i hanya datang dari beliau sabda:

إنما جعل الطواف بالبيت و بين الصفا و المروة و رمي الجمار لإقامة ذكر الله

Diriwayatkan Abu Dawud dalam As-Sunan no.1888, At-Tirmidzi dalam As-Sunan no. 902 beliau mengatakan tentang hadits ini: “Hasan shahih” dikeluarkan pula oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad (6/64). Hadits ini didhaifkan Syaikh Al-Albani karena dalam sanadnya ada Ubaidullah bin Abi Ziyad

[24] Banyak dijual buku-buku saku tentang manasik haji dan ‘umrah, terdapat di dalamnya banyak penyelisihan di antaranya doa-doa di setiap putaran thawaf atai sa’i. Berkata Syaikh Muhammad bin shalil Al-‘Utsaimin: “…buku-buku kecil (saku) yang ada padanya doa-doa tertentu pada masing-masing putaran termasuk kebid’ahan, tidak boleh seorang muslim mengamalkannya, karena itu dholalah dan (samasekali) Nabi tidak menetapkan bagi ummatnya doa-doa di setiap putaran …” (Fatawa Arkanil Islam hal. 543)

[25] Tujuan mencium Hajar Aswad adalah mengagungkan Allah U dengan melaksanakan syariatnya, bukan karena meyakini bahwa Hajar Aswad memberikan barakah, manfaat atau menolak bahaya, Allahlah yang memberikan berkah, Dialah yang memberikan manfaat dan madarat adapun makhluk semuanya lemah dan tidak memberikan manfaat atau madarat Perhatikanlah apa yang diucapkan Umar bin Al-Khaththab ketika mencium Hajar Aswad? Beliau berkata: “Sungguh aku tahu engkau adalah batu, tidak memberikan manfaat tidak pula mendatangkan madarat, kalau bukan aku melihat Rasulullah r menciummu aku tidak akan menciummu.”(Shahih Al-Bukhari no.1605)

[26] Boleh memakai obat pencegah haidh jika tidak ada dhoror (dampak yang membahayakan) Ditanya Syaikh Abdul Aziz bin Bâzz tentang bolehkah seorang wanita menggunakan obat pencegah haidh agar ibadah haji dan puasa Ramadhan tidak terhalang haidh ? beliau menjawab: “Boleh bagi seorang wanita untuk menggunakan obat pencegah haidh ketika haji setelah sebelumnya meminta saran dari dokter ahli untuk menjaga keselamatannya, demikian juga pada bulan Ramadhan…” 

[27] Jika seorang datang bulang (haidh) ketika thawaf ‘umrah, maka dia tetap dalam keadaan ihram menunggu sampai suci untuk melakukan thawaf dan sa’i, kemudian tahallul. Akan tetapi jika sampai hari tarwiyah (8 Dzul Hijjah) belum juga suci maka masuk kedalam ibadah haji (haji qiron).

[28] Oleh karenanya tidak boleh dalam thawaf tidak mengelilinginya, seandainya ada yang lupa masuk ke dalam hijir Isma’il dalam thawaf wajib dia menambah putaran.

[29] Shalat dalam Hijr Ismail artinya shalat dalam Ka’bah, dan ini diperbolehkan hanya untuk shalat sunnah bukan shalat fardhu.

[30] Multazam adalah tempat antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.

[31] Adapun dalam thawaf haji (Ifadhoh), sa’i boleh dilakukan sebelum thawaf. Dengan dalil sabda Rasulullah r ketika haji wada’, seorang bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, saya melakukan sa’i sebelum thawaf.” Beliau bersabda: “Laa Haraj.” (tidak mengapa) HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 1734

[32] Jarak antara Shafa dan Marwah sekitar 450 m

[33] Marwah adalah bukit yang paling jauh jaraknya dengan Ka’bah, dan ditandai dengan banyaknya tukang cukur (pemangkas rambut) yang menyediakan jasa menggundul atau memendekkan rambut setelah sa’i.

[34] Tanda Hijau ini berupa lampu Neon (TL) hijau  panjang dan terpasang di dinding jalan antara Shofa dan Marwah

[35] Yaitu thawaf qudum dan thawaf ‘umrah, adapun thawaf ifadhoh tidak disyariatkan Idhthiba’.

[36] Akan tetapi jika jarak antara ‘umrah dan haji dekat, yang afdhol adalah memendekkan rambut agar ketika haji masih ada sisa rambut untuk digundul (halq).

[37] Seorang yang tidak mengetahui wajibnya memendekkan rambut dari seluruh sisi kepala, hingga di saat tahallul hanya memotong sedikit rambut dari beberapa bagian kepalanya apa yang harus dia lakukan, adakah kafaroh (fidyah) atasnya? Tidak ada kafaroh atasnya karena kejahilan (kebodohan) nya, akan tetapi yang harus dia lakukan adalah menyempurnakan dalam memendekkan rambut kepala. (Lihat: Fatawa Arkanul Islam hal 522-523)

[38] Thawaf sunnah dapat dilakukan kapan saja dengan mengelilingi Ka’bah tujuh putaran dan disunnahkan shalat dua rakaat thawaf sesudahnya. Dalam Thawaf ini tidak disyaratkan memakai baju ihram sebagaimana ketika thawaf ‘umrah, tidak pula diikuti dengan sa’i di Shafa dan Marwah, karena ibadah sa’i hanya khusus pada manasik ‘umrah dan Haji sebagaimana Allah U berfirman dalam Al-Baqarah: 158.

فمن حج البيت أو اعتمر فلا جناح عليه أن يطوف بهما

[39] Seandainya seorang datang ke ‘‘Arafah tanggal 9 dan tidak sempat melakukan mabit di Mina hari tarwiyah hajinya sah dan tidak ada kafarah (dam) atasnya.

[40] Batasan-batasan Mina, ‘Arafah dan Muzdalifah sangat jelas. Pemerintah Kerajaan Saudi memberikan tanda batas wilayah dengan menggunakan papan-papan besar dan berwarna dengan keterangan dengan beberapa bahasa, maka hendaknya jama’ah haji memperhatikan papan-papan ini untuk memastikan keberadaannya di tempat yang disyareatkan.

[41] Namiroh, tempat dimana Rasulullah r berhenti ketika haji wada’ dan bukan termasuk ‘‘Arafah. Baru setelah waktu dzuhur Rasulullah r meninggalkan Namirah dan masuk wilayah ‘Arafah.

Faedah: Di Namiroh saat ini dibangun Masjid besar terkenal dengan Masjid Namiroh – perlu diketahui bahwa bagian depan dari masjid dan shaf-shaf awwal bukan termasuk wilayah ‘‘Arafah adapun bagian belakang termasuk ‘Arafah, bagi jamaah yang wukuf dalam masjid hendaknya memastikan mana yang termasuk wilayah ‘‘Arafah..

[42] Untuk jama’ah Indonesia yang datang dengan rombongan dan tidak banyak mengenal medan sunnah ini –yaitu berhenti di Namirah menunggu masuknya waktu dhuhur- agak berat untuk dilakukan, sebaiknya tetap mengikuti rombongan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti padatnya jalan hingga memberatkan masuk wilayah ‘Arafah dan kesulitan-kesulitan lainnya..

[43] Adapun bagi mereka yang tidak haji disunnahkan berpuasa di hari ‘Arafah.

[44] Seandainya terjadi ada jamaah melakukan wukuf di luar ‘Arafah hingga tenggelam matahari, maka di sebagian malam harinya harus berada di ‘‘Arafah untuk melakukan wukuf, meskipun dia sudah sampai di Muzdalifah wajib bagi dia kembali ke ‘Arafah untuk mendapatkan rukun yang sangat besar dalah haji yaitu wukuf. Seandainya tetap tidak berada di ‘Arafah di malam harinya hajinya tidak sah dan wajib menunaikan kembali hajinya di tahun-tahun mendatang.

[45] Banyak di antara jama’ah haji yang berdesak-desakan berusaha naik ke jabal Rahmah, sehingga terjadilah kecelakaan atau menyakiti sesama jama’ah haji, dan yang lebih menyedihkan dari itu adalah apa yang dilakukan sebagian jama’ah haji berupa kesyirikan baik syirik besar atau syirik kecil yang merusak ibadah hajinya, bahkan dunia dan akhiratnya – wallahu musta’an.

[46] Sertakan pula doa untuk kaum muslimin, agar Allah U memberi kemuliyaan dan kejayaan dan Allah U selamatkan dari berbagai mushibah yang menimpa saudara-saudara kita di perbagai belahan dunia.

[47] HR. Muslim dalam Shahih-nya no.1348.

[48] kecuali witir, sesungguhnya Rasulullah r tidak pernah meninggalkan shalat witir demikian pula dua rakaat sebelum subuh (qobliyah subuh) baik ketika mukim atau safar, demikian keterangan Syaikhuna Asy-syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad, hafidzahullah –jama’ana wa iyyahu fi jannatihi-.

[49] Kebanyakan jama’ah haji menggunakan waktu di Muzdalifah untuk mencari batu, bahkan sampai terkadang tidak beristirahat. Kecuali sedikit  padahal batu untuk melempar tidak harus berasal dari Muzdalifah, dan saat haji Wada’ Rasulullah r tidak menggunakan malam hari itu untuk mencari batu.

[50] Bagaimana menentukan tengah malam? Kita tetapkan waktu maghrib (tenggelam matahari) dan waktu shubuh kemudian dibagi menjadi dua. Kalau seandainya maghrib jam 6 sore, kemudian subuh jam 4 pagi, maka tengah-tengah antara keduanya adalah jam 11 malam.

[51] Subhanallah, kalau kita renungkan kebebasan ini adalah Rahmat dan kemudahan yang Allah U berikan pada umat ini..

[52] Faedah-faedah berkaitan dengan Hadyu. (1) Bagi yang tidak mampu mendapatkan hadyu wajib atasnya shoum sepuluh hari, dengan rincian: tiga hari ketika haji dan tujuh hari jika telah kembali pada keluarga (negeri)-nya  (2) Waktu untuk menyembelih hadyu adalah tanggal 10 hingga tanggal 13, tidak boleh disembelih beberapa hari sebelum hari nahr sebagaimana banyak jamaah haji ditipu untuk membeli hadyu dengan harga murah. Ternyata hewan-hewannya tidak memenuhi syarat dan disembelih sebelum hari nahr.

Perhatian: Hati-hati kepada jamaah haji dalam mempercayakan penyembelihan hadyu-nya, berikanlah kepada orang-orang yang terpercaya di antaranya lembaga khusus yang ditunjuk pemerintah kerajaan untuk melaksanakan penyembelihan hadyu sesuai dengan syariat dari sisi jenis dan waktunya, yaitu Bank Ar-Rajhi.

[53] Maksudnya telah tahallul awwal adalah boleh baginya segala sesuatu, seperti memakai baju, wangi-wangian, dan sebagainya kecuali wanita, tidak diperbolehkan mendatangi wanita (jimak) dan muqaddimahnya hingga bertahallul kedua (tahallul tsani)..

[54] Bagi yang sudah tahallul awal tentunya boleh berthawaf dalam keadaan memakai baju biasa dan memakai wewangian. Demikian pula sa’i.

[55] Adapun menyembelih Hadyu, tidak ada hubungannya dengan tahallul. Sembelihan boleh disembelih tanggal 10, atau hari tasyrik. Bahkan bagi mereka yang tidak mampu membeli hadyu atau tidak mendapatkannya diganti dengan puasa sepuluh hari, tiga hari disaat haji dan 7 hari setelah kembali dari ibadah haji.

Faedah: Diperbolehkan puasa di hari tasyrik (11,12,13) bagi mereka yang tidak mendapatkan hadyu.

[56] Rasulullah r melempar tiga jumrah setelah zawal dan sebelum melakukan shalat dzuhur, dan ini yang afdhol. Akan tetapi Jika tidak bisa melakukan di waktu yang afdhol karena kepadatan terlebih bagi mereka yang lemah, ditambah dengan kebanyakan manusia yang tidak mempedulukan keselamatan saudaranya, maka waktu boleh diakhirkan sampai malam sampai terbit fajar, kecuali pada hari tasyrik yang terakhir yaitu tanggal 13, maka tidak ada lemparan malam hari, karena tanggal 13 berakhir dengan tenggelamnya matahari.  (lihat beberapa tambahan pada Fatawa Arkanil Islam hal : 557)

[57] Dinasehatkan kepada jama’ah haji untuk tidak tergesa-gesa meninggalkan Mina pada tanggal 12, hendaknya melihat situasi dan kondisi, karena hampir semua jama’ah ingin segera meninggalkan Mina, sehingga kepadatan dan derasnya arus terkadang bisa menjadi sebab kecelakaan –biidznillah-

[58] Dan yang afdhol adalah tetap bermalam hingga melempar tiga jumrah pada tanggal 13 Dzul Hijah. Dengan bermalam tiga hari berarti telah melakukan amalan yang lebih banyak yaitu melempar jumrah 63 lemparan, sebagaimana Rasulullah r juga mabit hingga tanggal 13 Dzulhijjah. Di sisi lain –insyaallh- masalah yang sering dihadapi jama’ah haji yaitu sesaknya jumrah tidak didapatkan bagi yang mabit hingga tanggal 13.

[59] Dia belum melakukan thawaf wada’ karena akhir dari ibadah hajinya melempar jumrah.

[60] Ahlul ilmu memberikan rukhshoh (keringannan) untuk tinggal di Makkah setelah Thawaf wada’ karena beberapa hal di antaranya, setelah thawaf di tegakkan shalat maka dia ikut shalat, atau pergi ke pasar sekadar membeli keperluan safar, bekal, atau menunggu teman safarnya dan semisalnya. (Lihat Tuhfatul Ikhwan dan Akhtho’ Yartakibuha Ba’dhul Hujjaj hal.29)

[61]Sebagian ulama di antaranya An-Nakha’y, Asy-Sya’by, ‘Alqomah, dhzohiriyyah, Malik, dan dipilih oleh Ibnul Qoyyim: berpendapat bahwa mabit di Muzdalifah termasuk dari rukun akan tetapi yang benar dalam permasalahan ini adalah pendapat jumhur, bahwasannya mabit di Muzdalifah termasuk kewajiban dan bukan rukun.

[62] Menggundul lebih afdhol serta lebih menunjukkan ketawadhu’an di hadapan Allah U

[63] Bagi wanita yang tinggal di negeri jauh seperti Indonesia, sementara tidak ada mahrom yang menunggu hingga berhentinya haidh untuk melakukan Thawaf ifadhoh, sementara perjalanan pesawat tidak bisa ditunda, maka boleh bagi mereka menurut salah satu pendapat –wallahu a’lam- untuk melakukan thawaf ifadhoh (tawaf haji) meskipun dalam keadaan haidh dengan benar-benar menjaga jangan sampai darah haidh keluar dan menajisi Masjid. Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim, demikian juga Syaikh bin Bazz berfatwa dengan fatwa ini, demikian juga Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin,  (Fatawa Arkanil Islam (Hal.531-532))-wa billahi At-Taufiq.

[64]Selesai ditulis dengan pertolongan Allah U Rabu, 28 November 2007 M, dan selesai penambahan beberapa fawaid dan murajaah kamis, 23 Oktober 2008 M, semoga apa yang tertulis diridhai Allah U dan mencocoki kebenaran dan apa yang salah semoga Allah U ampuni dan Allah U beri rizki kepadaku untuk segera memperbaikinya.

Catt: Tulisan ini hanya bantuan sekadarnya bagi kaum muslimin, masih ada beberapa permasalahan yang perlu dibahas, oleh karena itu kepada jama’ah haji untuk menanyakan kepada masyayikh di pos-pos panduan ibadah haji (Tau’iyatul Hajj) yang telah disediakan oleh Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia di sekitar Masjid Nabawi atau masjid-masjid di sekitar Masjidil Haram, untuk mendapatkan buku-buku panduan dengan bahasa indonesia, atau menanyakan langsung hal-hal penting terkait dengan ibadah haji dan permasalahan lainnya (insyaallah pada pos-pos tersebut terdapat penerjemah-penerjemah bahasa indonesia sehingga jama’ah bisa menanyakan apa-apa yang dibutuhkan dengan mudah), atau bila perlu ditanyakan pada ulama masyayikh pengajar di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram, dengan teriring nasehat jangan sia-siakan perjalanan ibadah haji yang belum tentu terulang, beramalah berdasarkan ilmu yang diwariskan Rasulullah r, wa billahit taufiq.

Tentang salafartikel

bismillah

Posted on Januari 16, 2012, in Fiqh - Artikel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: