Hukum Mempelajari Tajwid

Apa Hukum Mempelajari ilmu Tajwid ?

Jawab: Tentang hukum belajar ilmu tajwid dan beramal dengannya, ada 2 pendapat yang masyhur di kalangan ulama:

(1) Pendapat fuqoha’ bahwa: menjalankan kaidah dan hukum-hukum tajwid adalah perkara mustahab dan termasuk adab yang sebaiknya diterapkan saat membaca Al Quran, bukan hal yang wajib. [1]

(2)Pendapat mayoritas ulama tajwid bahwa: belajar tajwid adalah fardhu kifayah bagi umat islam. Adapun menerapkan kaidah dan hukumnya saat membaca al quran adalah wajib atas setiap mukallaf, walaupun tidak  mengenal istilah-istilahnya. Sebagaimana ucapan ibnul jazari dalam al Muqaddimah :

وَالأَخْذُ بِالتَّجْوِيدِ حَتْمٌ لازِمُ ، مَنْ لَمْ يُجَوِّدِ الْقُرَآنَ آثِمُ

Mengamalkan tajwid (dengan rinciannya) adalah keharusan dan kelaziman, barang siapa tidak memperbagus bacaan Al Quran akan terkena dosa.

Dalam salah satu nuskhah (naskah absah dan otentik dari sejumlah murid Ibnul Jazari) ada perbedaan satu kata pada bagian kedua bait ini. Pada nuskhah tersebut tertulis : مَنْ لَمْ يُصَحِّحِ الْقُرْآنَ. Yang maknanya bahwa dosa bagi yang tidak “membenarkan” bacaan Al Quran. Sehingga disimpulkan bahwa tajwid (dengan rinciannya) bukanlah suatu amalan yang seluruhnya “wajib” secara syar’i. Namun di antara sisi ilmu tajwid ada yang wajib dipelajari dan diamalkan. Seperti mempelajari sifat-sifat lazimah dari huruf-huruf sehingga bisa terucapkan dengan benar. Sedangkan tajwid sebagai sebuah bidang ilmu mencakup rincian yang luas, tidaklah seluruhnya menempati nilai urgensi yang sederajat untuk diterapkan dalam membaca kalamullah. [2]

Syaikh Abdul ‘aziz bin Baaz rahimahullah bersama anggota Lajnah Daimah tatkala ditanya oleh seorang imam masjid yang merasa lemah dalam tajwid, dan banyak kekurangan dalam membaca Al Quran serta sedikit hafalannya, sehingga ia ingin mundur karena kekhawatiran yang besar akan tanggung jawab ini, menjawab : (yang kesimpulannya), beliau menasehati agar penanya tidak meninggalkan tugas ini, namun hendaknya berusaha keras memperbaiki kekurangan dalam tajwid dan terus menambah hafalannya, dengan selalu menjaga keikhlasan, serta bersabar dan yakin dengan pertolongan Alloh.[3]


[1] Sebagaimana pendapat Al Faqih Al ‘Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ (juz 4) yang di dalamnya juga beliau nukil pendapat sama dari guru beliau asy-syaikh abdurrahman bin nashir As Sa’di. rahimahumullah

[2] Demikian pendapat guru kami Syaikh ‘Abdurrahman Al ‘Adany dan juga guru qiro’ah kami Syaikh Majdi Al ‘Askary hafidzahumullah.

[3] Kitabud Da’wah juz 1 hal 56.

About these ads

Posted on April 9, 2012, in Ilmu Tajwid Qiroah dan ulumul quran. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: