Dialog Ibnu Abbas Radhiyallohu’anhu Dan Kaum Khawarij

Abu Isma’il (Sumber: Majalah Asysyariah edisi: Meluruskan Sejarah)

Wajibnya Kembali Pada Sahabat Dalam Memahami Islam.

Jauh dari jalan sahabat Rasulullah r dalam memahami Al-Kitab dan As-sunnah, adalah pertanda kesesatan dan alamat kebinasaan. Dalam sebuah wasiatnya yang agung Rasulullah r mewanti-wanti umat ini agar selalu berjalan di atas jalan mereka yang lurus. Beliau bersabda:

قإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين المهديين تمسكوا بها و عضوا عليها بالنواجذ

Maka sungguh, siapa yang hidup diantara kalian akan menyaksikan perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian mengikuti sunnahku dan sunnah Al-Khulafa yang mendapat bimbingan dan petunjuk, pegang eratlah sunnah itu dan gigitlah dengan geraham-geraham kalian.[1]

Nasehat ini ternyata tidak dihiraukan oleh orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya, kaum khawarij misalnya. Meski mereka orang yang rajin ibadah, tekun berzikir bahkan jidat-jidat mereka hitam terluka karena banyaknya shalat malam, namun tatkala jalan yang mereka tempuh bukan jalannya sahabat Rasulullah r – salaf (pendahulu) umat ini- merekapun Allah sesatkan hingga terjerumus dalam jurang kebinasaan. Demikianlah ketentuan Allah atas mereka yang menentang Rasul r dan meninggalkan jalan sahabat-sahabatnya.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali. An-Nisa 115

Rentetan peristiwa tarikh adalah mata rantai-mata rantai bersambung yang tak terpisahkan. Wafatnya Khalifah Ar-Rasyid Utsman bin Affan t dan Ali bin Abi thalib t dalam keadaan syahid dan terdzalimi adalah bagian dari akibat buruk pemahaman khawarij yang jauh dari sahabat Rasulullah r. Mereka memang ahli baca Qur`an, bahkan menghafalnya, mereka ahli ibadah bahkan disebagian besar waktunya, namun ketika mereka telah tinggalkan sahabat dalam memahami wahyu Allah, merekapun terjatuh dalam jurang kebinasaan.

Bukti kebodohan khawarij dan jauhnya mereka dari salaf umat ini terlalu banyak untuk disebutkan, akan tetapi cukuplah dalam lembar berikut kita simak dialog mereka bersama Ibnu Abbas t, putera paman Rasulullah r, habrul ummah (ulamanya ummat ini). Dalam dialog tersebut kita bisa menyimak sejauh mana mereka menyimpang dari jalan sahabat, dan bagaimana mereka lebih mengedepankan ro’yu dan perasaan ketimbang jalan lurus yang telah Rasulullah r gariskan.

Kita tinggalkan Abul Faraj Ibnul Jauzi rahimahullah meriwayatkan dialog tersebut dalam bukunya Talbis Iblis, dengan sanadnya hingga Abdullah bin ‘Abbas bin Abdul Muthalib t ….

 

Dialog Ibnu Abbas t Dan Khawarij, Cermin Kebodohan Khawarij Memahami Agama

Berkata Ibnu ‘Abbas t: “Orang-orang khawarij memisahkan diri dari Ali t, berkumpul disatu daerah untuk keluar dari ketaatan (memberontak) kepada khalifah. Mereka ketika itu berjumlah enam ribu orang.

Semenjak khawarij berkumpul, tidaklah ada seorang yang mengunjungi Ali t melainkan dia berkata –mengingatkan beliau-: “Wahai Amirul Mukminin, mereka kaum khawarij telah berkumpul untuk memerangimu.”

Beliau menjawab: “Biarkan mereka, aku tidak akan memerangi mereka hingga mereka memerangiku, dan sungguh mereka akan melakukannya.”

 “Hingga di suatu hari yang terik, saat masuk waktu dhuhur aku menjumpai Ali t, aku berkata: “Wahai Amirul Mukminin tunggulah cuaca dingin untuk shalat dhuhur, sepertinya aku akan mendatangi mereka (khawarij) berdialog.”

Berkata ‘Ali bin Abi Thalib t : “Wahai Ibnu Abbas, Sungguh Aku  mengkhawatirkanmu !.”

Ibnu Abbas t : “Wahai Amirul mukminin, janganlah kau khawatirkan diriku, aku bukanlah orang yang berakhlak buruk dan aku tidak pernah menyakiti seorangpun.” Maka Ali t mengizinkanku.

“Jubah terbaik dari Yaman segera kupakai, kurapikan rambutku, dan kulangkahkan kaki ini hingga  masuk dibarisan mereka di tengah siang.”

Berkata Ibnu Abbas t: “Sungguh aku dapati diriku masuk ditengah kaum yang belum pernah sama sekali kujumpai satu kaum yang sangat bersemangat dalam ibadah seperti mereka, dahi-dahi penuh luka bekas sujud, tangan-tangan menebal bak lutut-lutut onta, wajah-wajah mereka pusat pasi karena tidak tidur, menghabiskan malam untuk beribadah.”

“Kuucapkan salam pada mereka. Serempak mereka menyambutku: “Marhaban, wahai Ibnu ‘Abbas t, apa gerangan yang membawamu kemari?”.

Aku berkata: “Sungguh aku datang pada kalian dari sisi sahabat muhajirin dan sahabat anshar, juga dari sisi menantu Rasulullah r,[2]  yang kepada merekalah Al-Quran diturunkan dan merekalah orang-orang yang paling mengerti makna Al-Quran daripada kalian.”

Pembaca rahimakumullah sebelum kita lanjutkan penuturan Ibnul Jauzi, perhatikan sejenak jawaban Ibnu ‘Abbas t yang sarat makna dan penuh keindahan. Kata-kata itu sesungguhnya mutiara yang sangat berharga mengingatkan kedudukan sahabat muhajirin dan anshar sekaligus nasehat bagaimana seharusnya prinsip seorang muslim dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah yaitu: mengembalikan kepada pemahaman sahabat yang kepada merekalah Al-Qur`an diturunkan, dan merekalah orang yang paling mengerti Al-Kitab dan As-Sunnah. Dalam jawaban ini beliau juga ingin tegaskan besarnya kedudukan Ali bin Abi Thalib t disisi Allah ta’ala, sebagai menantu Rasulullah r, mungkin mereka menyadari kesesatan yang mereka sedang diatasnya dan segera bertaubat untuk tidak memerangi Ali t.

Begitu mendengar ucapan Ibnu Abbas t yang penuh makna dan merupakan prinsip hidup -yang tentunya tidak mereka sukai karena menyelisihi prinsip sesat mereka-, berkatalah sebagian khawarij memberi peringatan: “Jangan sekali-kali kalian berdebat dengan seorang Quraisy (yakni Ibnu ‘Abbas t-pen), sesungguhnya Allah berfirman:

بل هم قوم خصمون

“Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” Az-Zukhruf: 58

Betapa bodohnya mereka gunakan ayat ini untuk mencela Ibnu Abbas t, padahal beliau lebih mengerti Al-Quran, sebagaimana Rasulullah r berdoa untuknya: “Ya Allah faqihkan ia dalam agama dan ajarkanlah ia tafsir.”

Ibnul Jauzi rahimahullah kembali melanjutkan riwayat kisah ini: Berkata dua atau tiga orang dari mereka: “Biarlah kami yang akan mendebatnya !”.

Aku berkata: “Wahai kaum, datangkan untukku alasan, mengapa kalian membenci menantu Rasulullah r beserta sahabat muhajirin dan anshar, padahal kepada merekalah Al-Quran diturunkan, dan tidak ada seorangpun dari sahabat bersama kalian, dan ia (Ali t adalah orang) yang paling mengerti dengan tafsir Al-Quran?”

Mereka berkata: “Kami punya tiga alasan.”

Aku berkata: “Sebut (tiga alasan kalian).”

Mereka berkata: “Pertama: Sungguh dia telah jadikan manusia sebagai hakim (pemutus perkara) dalam urusan Allah, padahal Allah berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ

“…Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah...” Yusuf: 40

Hukum manusia tidak ada artinya dihadapan firman Allah. [3]

Aku berkata: “Ini alasan kalian pertama, lalu apa lagi?”

Mereka berkata: “Adapun yang kedua, sesungguhnya dia telah berperang dan membunuh [4] tapi kenapa tidak mau menawan dan mengambil ghanimah?” Kalau mereka (Aisyah dan barisannya) itu mukmin tentu tidak halal bagi kita memerangi dan membunuh mereka dan tidak halal tawanan-tawanannya.”

Ibnu Abbas t berkata: “Lalu apa alasan kalian ketiga?”

Mereka berkata: “Ketiga: Dia telah hapus sebutan amirul mukminin dari dirinya, kalau dia bukan amirul mukminin (karena menghapus sebutan itu) berarti dia adalah amirul kafirin (pemimpin orang-orang kafir).”

Berkata Ibnu ‘Abbas t: “Adakah pada kalian alasan selain ini?” Mereka berkata: “Cukup sudah bagi kami tiga perkara ini !”

Bantahan Ibnu ‘Abbas t Atas Kebodohan Khawarij.

Pembaca rahimakumullah, lihatlah bagaimana khawarij bermudah-mudah mengambil vonis kafir, dan mengambil sikap memberontak bahkan kepada khalifah Ar-Rasyid yang penuh keutamaan dan kemuliaan. Alasan-alasan mereka adalah syubhat yang sangat lemah dan menunjukkan kebodohan mereka dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah dan jauhnya mereka dari pemahaman shahabat.

Selanjutnya, mari kita simak bagaimana Ibnu Abbas t mendudukkan syubhat-syubhat tersebut.

Berkata Ibnu ‘Abbas t: “Ucapan kalian bahwa Ali t telah menggunakan manusia dalam memutuskan perkara (untuk mendamaikan persengketaan antara kaum muslimin-pen), sebagai jawabannya akan kubacakan ayat yang membatalkan syubhat kalian. Jika ucapan kalian terbantah, maukah kalian kembali (kepada jalan yang benar)?”

Mereka berkata: “Ya, tentu kami akan kembali.”

Berkata Ibnu ‘Abbas t: “Ketahuilah sesungguhnya Allah telah menyerahkan diantara hukum-Nya kepada hukum (keputusan) manusia, seperti dalam menentukan harga kelinci (sebagai tebusan atas kelinci yang dibunuh saat ihram[5].) Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barang siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan (hukum) dua orang yang adil di antara kamu, sebagai had-ya yang di bawa sampai ke Ka’bah, atau (dendanya) membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barang siapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. Al-Maidah : 95

Demikian pula dalam perkara perempuan dan suaminya yang bersengketa, Allah juga menyerahkan hukumnya kepada hukum (keputusan) manusia untuk mendamaikan antara keduanya. Allah berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. An-Nisa: 35

Maka demi Allah ! jawablah oleh kalian, apakah diutusnya seorang manusia untuk mendamaikan hubungan mereka dan mencegah pertumpahan darah di antara mereka[6] lebih pantas untuk dilakukan atau hukum manusia perihal darah seekor kelinci dan urusan pernikahan wanita? Menurut kalian manakah yang lebih pantas?

Mereka katakan: “Bahkan inilah (yakni mengutus manusia untuk mendamaikan manusia dari pertumpahan darah) yang lebih pantas.”

Berkata Ibnu ‘Abbas t: “Apakah kalian telah keluar dari masalah pertama?” Mereka berkata: “Ya.”

Adapun ucapan kalian bahwa Ali t telah memerangi tapi tidak mau mengambil ghanimah dari yang diperangi dan tidak menjadikan mereka sebagai tawanan, sungguh (dalam alasan kedua ini) kalian telah mencerca ibu kalian (yakni Aisyah). [7]

“Demi Allah ! kalau kalian katakan bahwa Aisyah bukan ibu kita (yakni kafir), kalian sungguh telah keluar dari Islam (karena mengingkari firman Allah), demikian pula kalau kalian menjadikan Aisyah sebagai tawanan perang dan menganggapnya halal sebagaimana tawanan lainnya (sebagaimana layaknya orang-orang kafir), maka kalianpun keluar dari Islam. Sesungguhnya kalian berada diantara dua kesesatan, karena Allah berfirman:

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ

Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Al-Ahzab: 6

Ibnu Abbas t berkata: “Apakah engkau telah keluar dari masalah ini?”

Ya,

Berkata Ibnu Abbas t: Adapun ucapan kalian bahwasannya Ali t telah menghapus untuk dirinya sebutan Amirul Mukminin, maka (sebagai jawabannya) aku akan kisahkan kepada kalian tentang seorang yang kalian ridhoi yaitu Rasulullah r. Ketahuilah, bahwasannya beliau di hari Hudaibiyah (6 H) melakukan shulh (perjanjian damai) dengan orang-orang musyrikin, Abu Sufyan dan Suhail bin ‘Amr. Tahukah kalian apa yang terjadi?

Ketika itu Rasulullah r bersabda kepada Ali t: “Wahai Ali tulislah perjanjian untuk mereka.” Ali menulis: “Inilah perjanjian antara Muhammad Rasulullah …

Segera orang-orang musyrik berkata: “Demi Allah !! Kami tidak tahu kalau engkau rasulnya Allah, kalau kami mengakui engkau sebagai rasul Allah tentu kami tidak akan memerangimu.”

Rasulullah r bersabda: “Ya Allah, sungguh engkau mengetahui bahwa aku adalah Rasulullah !, Wahai Ali tulislah: “Ini adalah perjanjian antara Muhammad bin Abdilah…” (Rasulullah memerintahkan Ali untukmenghapus sebutan Rasulullah dalam perjanjian-pen)

Berkata Ibnu Abbas t: “Demi Allah, sungguh Rasulullah r lebih mulia dari Ali t, meskipun demikian, beliau menghapuskan sebutan Rasulullah dalam perjanjian Hudaibiyah…” (Apakah dengan perintah Rasul menghapuskan kata Rasulullah dalam perjanjian kemudian kalian mengingkari kerasulan beliau?? Sebagaimana kalian ingkari keislaman Ali karena menghapus sebutan Amirul mukminin ?)

Berkata Ibnu Abbas t: “Maka kembalilah dua ribu dari mereka sementara lainnya tetap memberontak (dan berada di atas kesesatan), hingga mereka diperangi dalam sebuah peperangan besar (yakni perang Nahrawan).[8]

Demikian tiga syubhat khawarij yang mereka jadikan sebagai alasan memberontak dan memerangi Ali t. Semua syubhat tersebut terbantah dalam dialog mereka dengan Ibnu ‘Abbas t, maka selamatlah mereka yang mau mendengar sahabat dan menjadikan mereka sebagai rujukan dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah dan tetaplah dalam kebinasaan, mereka yang tidak mau kembali pada sahabat Rasulullah r .

Hingga terjadilah pertempuran Nahrawan… fitnah pun berlanjut dan terjadilah pembunuhan Khalifah Ar-Rasyid Ali bin Abi Thalib t …


[1] HR. Abu Dawud no.4607 dan At-Tirmidzi no.2676

[2] Yakni Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib t

[3] Maksud mereka: Kenapa Ali t melakukan tahkim (berhukum) dengan keputusan Abu Musa Al-Asy’ari t dari pihak beliau dan ‘Amr bin Al-Ash t dari pihak Mu’awiyah bin Abi Sufyan t untuk melakukan shulh (perdamaian) demi menjaga darah-darah muslimin setelah sebelumnya terjadi perang Shiffin di bulan safar 37 H.

[4] Yaitu perang Jamal tahun 36 H. Perang antara barisan Ali bin Abi Thalib t dan barisan Aisyah R.A. Hal yang harus diketahui tentang perang jamal, bahwasannya dalam perang tersebut sama sekali Ali bin Abi Thalib maupun Aisyah tidak menginginkan adanya peperangan. Yang terjadi adalah keinginan Aisyah untuk melakukan ishlah (perbaikan hubungan) antara dua barisan kaum muslimin, berangkatlah Aisyah menuju Bashrah bersama Thalhah, Az-Zubair dan sejumlah kaum muslimin dengan tujuan Ishlah, perdamaianpun terjadi diantara kedua belah fihak. Namun para penyulut fitnah tidak tinggal diam dengan ketenangan dan perdamaan yang terwujud. Mereka melakukan makar dengan memunculkan adanya penyerangan dari dua kubu sekaligus, maka Ali menyangka beliau diserang sehingga harus membela diri demikian pula Aisyah menyangka diserang sehingga harus membela diri, hingga terjadilah peperangan yang sesungguhnya tidak diinginkan. Dan yang harus diketahui bahwasannya tidak ada seorang sahabatpun yang ikut dalam fitnah tersebut. (Lihat: Tasdid Al-Ishabah Fima Syajara Bainash-Shahabah, oleh Dziyab bin Sa’d Al-Ghamidi)

[5] Haji atau ‘Umrah

[6] Sebagaimana dilakukan Ali bin Abi Thalib t mengirim Abu Musa Al-‘Asy’ari t untuk menghentikan perang Shiffin.

[7] Karena konsekwensinya adalah menjadikan Aisyah RA sebagai tawanan perang, budak yang boleh dinikahi, padahal beliau adalah Ummul Mukminin yang haram bagi siapuapun menikahi beliau sesudah wafatnya Rasulullah r

[8] Talbis Iblis Ibnul Jauzi dengan perubahan-perubahan.

About these ads

Posted on Mei 18, 2012, in Aqidah, Kisah dan Ibroh, Sekte-Aliran-Bid'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: