Talqin Untuk Mayyit Seusai Pemakaman

Soal: Tidak asing kita dapatkan dalam prosesi pemakaman seorang berdiri di samping kuburan kemudian berkata: Hai Fulan, jangan takut jika datang Munkar dan Nakir, dia makhluk juga sebagaimana kita makhluk. Jika did datang menangyakan Man Robbuka ? Siapa Robb mu maka jawablah: Robb saya Allah… dst atau kalimat-kalimat serupa. Benarkah amalan ini disyareatkan?

Jawab:

Yang disyaretkan Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam seusai pemakaman adalah mendoakan mayyit agar mendapatkan kekokohan dalam menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir.

Adapun mentalkin mayyit dengan cara seperti dilakukan kebanyakan manusia adalah bentuk kebid’ahan. Rasulullah shallalohu’alaihi wa sallam tidak melakukannya demikian pula para shahabat.

Ada dalil yang dijadikan sandaran dalam masalah ini yaitu hadits yang disandarkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam namun hadits ini sangat lemah. Hadits yang dimaksud adalah:

إذا مات الرجل منكم فدفنتموه فليقم أحدكم عند رأسه، فليقل، يا فلان بن فلانة! فإنه سيسمع، فليقل، يا فلان بن فلانة! فإنه سيستوي قاعدا، فليقل، يا فلان بن فلانة! فإنه سيقول، أرشدني، أرشدني، رحمك الله، فليقل، اذكر ما خرجت عليه من دار الدنيا، شهادة أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدا عبده ورسوله، وأن الساعة آتية لا ريب فيها، وأن الله يبعث من في القبور، فإن منكرا ونكيرا يأخذ كل واحد منهما بيد صاحبه ويقول له، ما نصنع عند رجل قد لقن حجته؟ فيكون الله حجيجهما دونه….

“Bila seorang laki-laki di antara kamu meninggal dunia, lalu kamu kuburkan ia, maka hendaklah salah seorang di antara kamu berdiri di dekat kepalanya, lalu hendaklah ia mengatakan, ‘Hai Fulan bin Fulanah.!’ Sebab ia akan mendengar. Hendaklah ia mengatakan, ‘Hai Fulan bin Fulanah.!’ Sebab ia akan duduk lurus. Hendaklah ia mengatakan, ‘Hai Fulan bin Fulanah.!’ Sebab ia akan mengatakan, ‘Berilah aku petunjuk, berilah aku petunjuk, semoga Allah merahmatimu.!’ Hendaklah ia mengatakan, ‘Ingatlah ucapan yang kamu bawa keluar dari dunia; persaksian bahwa tiada tuhan –yang berhak disembah- selain Allah semata, Yang tiada sekutu bagiNya dan bahwa Muhamad adalah hamba dan utusanNya, hari Kiamat pasti datang, tiada keraguan padanya dan Allah akan membangkitkan orang yang berada di dalam kubur. Sebab masing-masing dari Munkar dan Nakir memegang tangan temannya seraya berkata kepadanya, ‘Apa yang harus kami lakukan terhadap seorang laki-laki yang telah menalqinkan hujjahnya.? Maka Allah-lah yang akan memberikan hujjah kepada keduanya untuk membelanya.”


Hadits ini didhaifkan oleh banyak ulama. al-Hafizh al-‘Iraqi mendha’ifkan dalam Takhrij al-Ihya’ (4/420). Ibnu al-Qayyim berkata dalam Zad al-Ma’ad (1/206), ‘Tidak shahih bila dinilai Marfu’.’ Ash-Shan’ani berkata:  ‘Dari perkataan ulama tahqiq didapatkan bahwa ia adalah hadits Dha’if, mengamalkannya adalah Bid’ah. Dan janganlah tergiur dengan banyaknya orang yang melakukannya.’ Subulussalam (II:161).

Lihat Takhrij hadits secara luas di: Silsilah Adh-Dha’ifah (2/64-65, No. 599) Karya Syaikh Al Albani rahimahullah.

About these ads

Posted on Juli 27, 2012, in Fiqh - Tanya Jawab Fiqh and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d bloggers like this: