Tragedi Bi’r Ma’unah Awal disyareatkannya Qunut Nazilah

Abu Ismail Muhammad Rijal

Ka’b bin Zaid bin An-Najjar Radhiyallahu ‘anhu berada di tengah-tengah tumpukan mayat SyuhadaDia terluka parah… namun tak ada yang menyangka ia akan terus hidup. Allah takdirkan Ka’b berumur panjang hingga mengikuti perang Khandak bersama Rasulullah saw, dan syahid di perang tersebut.

Apakah gerangan yang terjadi pada diri Ka’b bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu?Bersama jasad-jasad siapa tubuh beliau berlumur darah ?

Beliaulah saksi hidup kekejian dan penghianatan kufar terhadap perjanjian bersama Rasulullah saw pada peristiwa Bi’r Ma’unah. Tragedi berdarah Bi’r Ma’unah mengantarkan semua shahabat, tujuh puluh ahli Al-Quran menemui Rabb-Nya dalam keadaan Syahid. Kecuali Ka’b bin Zaid. Bagaimana kisahnya?

Perang Uhud masih menyisakan kesedihan. Tujuh puluh shahabat terbaik, dari kaum muhajirin dan Anshor meninggal. Hamzah bin Abdul Muththalib, Mush’ab bin ‘Umair, Abdullah bin Haram dan sederet nama patriot islam menghembuskan nafas terakhir untuk Allah, syahid di bumi Uhud.

Selang beberapa bulan, musibah kembali menimpa kaum muslimin. Dua peristiwa, Ar-Rajii’ dan Bi’r Ma’unah menjadi saksi pengorbanan shahabat dalam menyebarkan islam dan bukti kegigihan mereka menegakkan kalimat Allah di muka Bumi.

 

Sebab Pengiriman Satuan Pasukan dalam Peristiwa Bi’r Ma’unah

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya[1] bahwa sebab pengiriman satuan perang ini adalah datangnya serombongan tamu kepada Rasulullah saw meminta beliau agar mengutus shahabat-shahabat untuk mengajari mereka Al-Quran dan As-Sunnah.

Selaras dengan riwayat Muslim, Al-Bukhari menyebutkan bahwa sebab pengiriman rombongan shahabat adalah permohonan Ri’l dan Dzakwan dari Bani Sulaim, dan ‘Ushoyyah dari Bani Lahyan, mereka memohon bantuan Rasulullah saw, maka beliau mengutus tujuh puluh shahabat.

 

Dalam referensi Sirah Nabawiyah[2] disebutkan bahwa suatu ketika Abu Barâ’, Amir bin Malik bin Ja’far, pembesar Bani Amir, yang dikenal sebagai ahli tombak menemui Rasulullah saw di Madinah. Rasulullah saw menawarkan Islam kepadanya. Abu Barra’ tidak menerima ajakan islam, namun tidak pula menolaknya.

Abu Barra’ kemudian berkata, “Wahai Rasulullah ! Seandainya Engkau mengutus shahabat-shahabatmu ke penduduk Nejd untuk mengajak mereka kepada islam. Aku berharap mereka mau menerima seruan tersebut.

Rasulullah saw pun menjawab, “Aku mengkhwatirkan mereka dari berbagai kemungkinan buruk yang dilakukan oleh penduduk Nejd.”

Kekhawatiran Rasulullah saw sangat beralasan, wilayah Nejd saat itu masih dikuasai kuffar.

Abu Barra’ menyahut, “Aku yang menjamin keselamatan mereka.”

Mendapat jaminan Abu Barra’, Rasulullah saw pun mengutus 70 orang shahabat untuk membawa misi dakwah.

Dari semua riwayat-riwayat di atas, mungkin kita katakan bahwa Rasulullah saw mengutus para shahabat dengan semua sebab itu, pertama: permintaan Bani Sulaim, kedua: permintaan Abu Barra’, Allahu a’lam.

Siapa tujuhpuluh orang shahabat yang diutus Rasulullah saw? Mereka adalah shahabat-shahabat pilihan yang disebut qurra’ (ahli Al-Qur’an). Hari-hari mereka dipenuhi dengan amalan shalih dan semangat menuntut ilmu. Di siang hari mereka bekerja sebagai pencari kayu bakar, hasilnya mereka sedekahkan untuk ahli suffah, shahabat-shahabat fuqara’. Adapun di malam hari, mereka tekun menegakkan shalat dan ibadah kepada Allah. [3]

Dengan penuh pengharapan dan tawakkal kepada Allah, Berangkatlah kesatuan pasukan Rasulullah saw.  Al-Mundzir bin Amr dari Bani Sa’idah ditunjuk sebagai pimpinan sariyyah (pasukan). Dialah shahabat yang berjuluk ‘al-Mu’niq li Yamût’ (Sang pemberani mati, orang yang bergegas meraih syahadah (mati syahid).

Dibawah kepemimpinannya berangkatlah shahabat qurra’ lainnya seperti Amir bin Fuhairoh[4] seorang bekas budak Abu Bakar ash-Shiddiq, Haram bin Milhan, Ka’b bin Zaid bin An-Najjar, al-Harits bin ash-Shimmah, ‘Urwah bin Asma’, Nafi’ bin Budail bin Warqâ’, dan sahabat-sahabat pilihan lainnya.

Mereka meninggalkan Madinah pada bulan Shafar tahun 4 hijriyah, empat bulan setelah perang Uhud.

 

Tiba di Bi’r Ma’unah dan wafatnya Haram bin Milhan

Sampailah Rombongan Al-Mundzir bin Amr di sebuah tempat bernama Bi`r Ma’unah. Daerah ini berada diantara wilayah Bani ‘Amir dan wilayah Bani Sulaim. Kedua daerah tersebut berdekatan, namun Bi’r Ma’ûnah lebih dekat kepada wilayah Bani Sulaim daripada wilayah Bani Amir.

Setibanya di Bi’r Ma’unah, diutuslah Haram bin Milhan, saudara Ummu Sulaim bintu Milhan untuk menyampaikan surat Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam kepada musuh Allah, ‘Amr bin Thufail.

Ternyata Haram tidak disambut sebagaimana mestinya seorang utusan yang terhormat. Surat Rasulullah saw tidak dihiraukan sama sekali oleh ‘Amr bin Ath-Thufail. Bahkan ia memberi isyarat kepada seseorang agar Haram bin Milhan dibunuh.

Tombak nan tajam melesat, ditusukkan dengan demikian kuat dari belakang tubuh Haram. Benda tajam itu menembus dadanya, merobek dada yang selama ini dipenuhi dengan Kalamullah, Al-Quran. Innalillahi wa inna ilaihi Raji’un

Darah bersimbah,

Detik-detik kematian menghampiri shahabat yang mulia, Haram bin Milhan,

Demi melihat darah segar, bukan kesedihan yang tersirat dari wajah Haram, justru kebahagiaan melingkupi relung kalbunya. Dengan lantang Harom bin Milhan, seorang yang pincang kakinya berteriak penuh kebahagiaan:

الله أكبر فزت و رب الكبة

 “Allahu Akbar, Aku telah beruntung Demi Rabb Ka’bah !”

Subhanallah ! Sungguh tidak terbayang kalimat indah indah ini terucap !

Tubuh Haram bin Milhan rebah, bersama diangkatnya Roh menuju keridhaan dan ampunan Robbul ‘izzah.

 

Amr binThufail Menghasut Bani Amir dan Bani Sulaim

Kematian Al-Haram tidak cukup bagi Amr bin Thufail. Dia lanjutkan makar dan pengkhianatannya dengan menghasut orang-orang Bani ‘Amir agar memerangi rombongan qurra’, namun mereka menolak karena adanya perlindungan Abu Barra`.

Diapun menghasut Bani Sulaim dan ajakan ini kemudian disambut oleh ‘Ushaiyyah, Ri’l, dan Dzakwan, padahal merekalah yang meminta kedatangan shahabat, dan mereka masih terikat perjanjian dengan Rasulullah saw.

Ushayyah, Ri’l dan Dzakwan termakan hasutan Ibnu Thufail, segera mereka mengepung para shahabat Rasulullah n. Meskipun shahabat Qurra’ mencoba mengadakan perlawanan dengan senjata-senjata yang mereka bawa, namun Allah menghendaki kemuliaan atas mereka. Semua dibunuh, kecuali Ka’b bin Zaid bin An-Najjar, tubuhnya terlempar, terbaring bersama jenazah lainnya dengan luka yang sangat parah. Hingga beliau selamat dan menyaksikan perang Khandak dan syahid di pertempuran tersebut.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari juga memaparkan kisah yang disebutkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, beliau mengatakan: “Bahwasanya ada perjanjian antara kaum musyrikin dengan Rasulullah n. Mereka adalah kelompok yang tidak ikut memerangi beliau. Diceritakan oleh Ibnu Ishaq dari para gurunya, demikian pula oleh Musa bin ‘Uqbah dari Ibnu Syihab, bahwa yang mengadakan perjanjian dengan beliau adalah Bani ‘Amir yang dipimpin oleh Abu Barra` ‘Amir bin Malik bin Ja’far si Pemain Tombak. Sedangkan kelompok lain adalah Bani Sulaim. Dan ‘Amir bin Thufail ingin mengkhianati perjanjian dengan para shahabat Rasulullah n. Diapun menghasut Bani ‘Amir agar memerangi para shahabat, namun Bani ‘Amir menolak, kata mereka: “Kami tidak akan melanggar jaminan yang diberikan Abu Barra`.” Kemudian dia menghasut ‘Ushaiyyah dan Dzakwan dari Bani Sulaim dan mereka mengikutinya membunuh para shahabat…” demikian secara ringkas.

 

Pasca Peristiwa Bi’r Ma’unah

Pada saat pembantaian, ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamri dan Al-Mundzir bin ‘Uqbah bin ‘Amir tidak bersama pasukan. Keduanya sedang mengurusi keperluan kaum Muslimin. Mereka tidak mengetahui peristiwa melainkan karena adanya burung-burung yang mengitari tempat kejadian.

Akhirnya kedua shahabat ini melihat kenyataan yang memilukan, menyaksikan para utusan berlumuran darah sementara kuda-kuda mereka masih berdiri. berkatalah Al-Mundzir bin ‘Uqbah kepada Amr bin Umayyah, “Bagaimana pendapatmu?” Amr bin Umayyah berkata, “Aku berpendapat sebaiknya kita segera menghadap Rasulullah dan memberitakan kepada beliau apa yang terjadi.”

Namun Al-Mundzir bin ‘Uqbah menolak dan lebih suka turun menyerang kaum musyrikin. Ia berkata, “Aku lebih suka terbunuh bersama al-Mundzir bin Amru di tempat ia terbunuh …..” Kemudian ia menyerang kabilah tersebut dan gugur terbunuh.

Adapun ‘Amr, dia ditawan. Namun ketika dia menyebutkan bahwa dia berasal dari kabilah Mudhar, ‘Amir bin Ath-Thufail membebaskannya dan hanya memotong (mencukur) rambut ubun-ubunnya.

‘Amr bin Umayyah bergegas pulang ke Madinah. Setibanya di Al-Qarqarah, sekitar 8 burud (pos) dari Madinah, dia berhenti berteduh di bawah sebuah pohon. Kemudian datanglah dua laki-laki Bani Kilab dan turut berteduh di tempat itu juga. Ketika keduanya tertidur, ‘Amr menyergap mereka dan membunuhnya. Dia ber-anggapan bahwa ia telah membalas dendam para shahabatnya. Ternyata kedua-nya mempunyai ikatan perjanjian dengan Rasulullah n yang tidak disadarinya. Setelah tiba di Madinah, dia ceritakan semuanya kepada Rasulullah n dan beliau pun berkata: “Sungguh kamu telah membunuh mereka berdua, tentu saya akan tebus keduanya.”[5]

 

Karomah Ibnu Fuhairoh

Hisyam bin Urwah meriwayatkan dari Ayahnya, bahwa ketika orang-orang yang pergi ke Bi’r Ma’unah terbunuh dan Amr bin Umayyah al-Dhamri ditawan, Amir bin Thufail bertanya kepada Amr bin Umayyah, “Siapa orang ini?” sambil menunjuk kepada salah scorang yang terbunuh.

Amr bin Umayyah menjawab, “Ini Amir bin Fuhairah.”

Amir bin Thufail berkata, “sungguh Setelah ia terbunuh, aku melihatnya diangkat ke atas, sehingga berada di antara langit dan bumi. Kemudian diletakkan kembali ke bumi.”

 

Sampainya Berita dan Turunnya Wahyu Kepada Rasulullah saw

Berita tentang musibah yang menimpa satuan perang Nabi saw sampai kepada Rasulullah saw melalui Malaikat Jibril. Berita mereka juga datang dari Amr bin Umayyah Adh-Dhamri. Lalu beliau mengabarkan kematian mereka kepada para sahabat. Beliau berkata, “Sahabat-sahabat kalian telah gugur dan mereka telah berdoa kepada Allah, “Wahai Rabb kami, beritahukanlah kepada saudara-saudara kami bahwa kami ridha kepada-Mu dan Engkau ridha kepada kami.” Maka Rasulullah Saw. mengabarkan hal terscbut kepada para sahabat. (HR Bukhari dari jalur Hisyam bin `Urwah)

Dalam Riwayat Al-imam Al-Baihaqi, Ibnu Mas’ud r.a menceritakan bahwa Rasulullah Saw mengirim pasukan. Tidak lama kemudian Rasulullah berdiri, memuji Allah, dan berkata, “Saudara-saudara kalian telah berhadapan dengan orang-orang musyrik dan mereka gugur, hingga tidak tersisa scorang pun. Mcreka telah berdoa, `Wahai Rabb, sampaikan kepada kaum kami bahwa kami  telah ridha kepada-Mu dan Engkau telah ridha kepada kami.’ Aku adalah utusan mereka untuk menyampaikan hal ini kepada kalian. Mereka telah ridha dan Allah meridhai mereka.”

Demikianlah syuhada, mereka meninggal namun sesungguhnya mereka telah meraih kehidupan barzakh yang membahagiakan. Mereka ingin mengabarkan kabar gembira kepada kaum mukminin di dunia akan nikmat yang mereka raih. Allah berfirman:

وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ  فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Ali Imran: 169-170

 

Qunut Nazilah

Kesedihan sangat tampak pada wajah beliau dengan tragedi Bi’r Ma’unah, sebagaimana dikisahkan shahabat Anas bin Malik dalam riwayat Al-Bukhari. Belum pernah para shahabat melihat Rasulullah n begitu berduka dibandingkan ketika mendengar berita ini.

Dengan sebab kejadian inilah kemudian Rasulullah saw melakukan qunut selama sebulan mendoakan kejelekan atas orang-orang yang membunuh shahabat-shahabat qurra` di Bi`r Ma’unah.

 Al-Imam Al-Bukhari menceritakan dari Anas bin Malik Ra: “Rasulullah saw qunut selama satu bulan ketika para qurra` itu terbunuh. Dan aku belum pernah melihat Rasulullah saw begitu berduka dibandingkan ketika kejadian tersebut.”

Dalam Shahih Muslim diriwayatkan bahwa Anas bin Malik ra. berkata: Rasulullah saw. berdoa untuk kehancuran orang-orang yang telah membunuh para sahabat di Bi’r Ma’unah sebanyak tiga puluh kali setiap Subuh. Beliau juga mendoakan untuk kehancuran Bani Ri`l, Bani Dzakwan, Bani Lihyan dan Bani Ushayyah serta orang yang mendustai Allah dan Rasul-Nya. (HR. Muslim No.1085)

Ya Allah dengan Nama-nama dan Shifat-Mu Aku memohon kepada-Mu, kumpulkanlah diri-diri kami bersama dengan Rasul-Mu dan shahabat-sahabat beliau di jannah-Mu, ampunilah kami sebagaimana Engkau telah mengampuni mereka dan ridhoilah kami sebagaimana Engkau telah meridhoi mereka… Amin

 

Faedah-Faedah Kisah

 

Banyak pelajaran penting dan berharga yang mungkin kita ambil dari peristiwa Bi’r Ma’unah, diantara faedah-faedahnya adalah:

  1. Rasulullah shallalohu ‘alaihi wasallam tidak mengetahui perkara ghaib. Beliau tidak mengetahui sama sekali apa yang akan terjadi atas shahabat Qurra’ di Bi’r Ma’unah. Ini diantara pelajaran aqidah yang perlu kita tanamkan, bahwasannya perkara ghaib hanya di sisi Allah ta’ala.
  2. Wali-wali Allah mendapatkan mushibah sebagai ujian untuk mengangkat derajat mereka, sebagaimana hal ini menimpa para shahabat dalam banyak peristiwa, termasuk Bi’r Ma’unah.
  3. Syuhada, jasad-jasad mereka terluka di dunia namun mereka hidup mendapatkan rizki dan kebahagiaan di sisi Rabbul ‘alamin.
  4. Kisah ini memberikan pelajaran agar kaum muslimin selalu waspada terhadap makar dan penghianatan kuffar. Mereka adalah kaum yang terus melakukan upaya penipuan demi menjebak umat Islam dalam segala aspek kehidupan.
  5. Telah menjadi sunnatullah bahwa musuh-musuh Islam akan terus berupaya memadamkan cahaya agama ini. Tidak saja dengan menghalangi penyebaran dakwah islam, bahkan bisa jadi berupaya membunuh para ulama dan dainya, seperti makar Amr bin Ath-Thufail membunuh shahabat ahli Al-quran yang Rasulullah utus kepada mereka.
  6. Keberuntungan dan kebahagiaan yang sesungguhnya adalah meraih keridhoan Allah. Renungkanlah ucapan Haram bin Milhan: “Allahu Akbar, Fuztuu Birabbil Ka’bah,” saat ajal menjemput. Sungguh ucapan ini salah satu diantara bukti yang menunjukkan bagaimana shahabat memahami arti kebahagiaan dan keberuntungan.
  7. Pentingnya dakwah dan pengutusan delegasi dakwah sebagaimana dilakukan Rasulullah saw. Perang Uhud yang menjadi sebab gugurnya tujuh puluh shahabat tidak menghalangi Rasulullah saw untuk tetap mengutus delegasi yang berakhir dengan wafatnya para shahabat dalam dua peristiwa, Ar-Rajii’ dan Bi’r Ma’unah.
  8. Disyareatkan Qunut Nazilah atas mushibah yang menimpa kaum muslimin.
  9. Perlu menjadi perhatian bahwasannya qunut yang dilakukan oleh Rasulullah n hanyalah qunut nazilah. Itupun beliau lakukan selama satu bulan, mendoakan kejelekan terhadap Bani Lihyan, ‘Ushaiyyah dan lain-lain. Qunut yang beliau lakukan bukanlah Qunut yang dilakukan terus-menerus pada shalat shubuh. Al-Imam Ahmad dan lainnya meriwayatkan dari Anas bin Malik ra beliau berkata: “Bahwasanya Nabi n qunut selama satu bulan lalu meninggalkannya.”[6]
  10. 10.  Kisah Amir bin Fuhairah yang diangkat ke langit diantara bukti bahwa karomah Wali-wali Allah adalah perkara yang ada dan wajib diakini keberadaannya.
  11. 11.  Bolehnya bersedih atas mushibah yang menimpa. Dan sesungguhnya kesedihan tidaklah menafikkan kesabaran sebagaimana kesedihan Rasulullah saw atas peristiwa Bi’r Ma’unah. Bahkan tetesan airmata pun sebagaimana Rasulullah meneteskan air mata saat kematian putranya, Ibrahim. Yang tercela adalah An-Niyahah meratapi mayyit dengan ratapan-ratapan jahiliyah.
  12. Bolehnya mengabarkan kematian saudara muslim, sebagaimana Rasulullah saw kabarkan wafatnya delegasi beliau. Rasulullah saw juga mengabarkan kematian Najasyi di hari kematiannya.
  13. Semua apa yang menimpa kita hendaknya selalu diserahkan dan diadukan kepada Allah Yang Maha Agung. Itulah yang dilakukan Rasulullah saw. Beliau mengadukan semua kepedihan itu kepada Allah dan menyerahkan urusannya kepada Allah, diantaranya dengan Qunut nazilah. Demikian yang dilakukan semua nabi dan Rasul. Adalah nabi Ya’qub ketika cobaan-demi cobaan datang mendera beliau mengadukan urusannya kepada Allah:

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ

Yakub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” Yusuf: 86

  1. Rasulullah saw mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap adil dan selalu menetapi perjanjian meskipun kepada musuh. Lihatlah kisah di atas, ketika Amr bin Umayyah Adh-Dhamri membunuh dua orang Bani Kilab, Rasulullah saw bersama kaum Muslimin tetap bertanggungjawab membayar diat (denda). Amr bin Umayyah semula hanya berniat membalas dendam atas terbunuhnya sahabat-sahabat beliau. Ternyata yang dia bunuh adalah dua orang dari Bani Kilab yang telah mengadakan perjanjian damai dengan Rasulullah saw di Madinah. Rasulullah saw tetap bertanggungjawab membayar diatnya. Semua ini memberikan tauladan kepada kaum  muslimin untuk bersikap adil dan selalu menjaga hak-hak manusia bagaimanapun gentingnya suasana. 

 


[1] Shahih Muslim (3/1511 no. 677)

[2] Siroh Ibnu Hisyam (3/260) dengan sanad Mursal, Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqat (2/51) tanpa sanad, dan Al-Waqidi (1/346)

[3] Lihat Shahih Al-Bukhori no. 3064,

[4] Amir bin Fuhairah memiliki jasa andil dalam perjalanan Hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Dialah shahabat yang ditugasi Abu Bakr untuk menggembalakan kambing di sekitar persembunyian Rasulullah saw untuk menghilangkan jejak.

[5] Ibnu Jarir meriwayatkan pula dalam Tarikh-nya (2/81), dan dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad (3/247).

[6] Lihat keterangan Ibnul Qoyyim tentang masalah ini dalam kitabnya Zaadul Ma’ad (1/273-285).

About these ads

About salafartikel

bismillah

Posted on April 28, 2013, in Kisah dan Ibroh and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d bloggers like this: