Daily Archives: Januari 16, 2012

Fiqh Haji Tamattu’

Haji Tamattu’ adalah salah satu dari tiga jenis manasik haji, dimana seorang melakukan ibadah ‘umrah dan haji dalam satu perjalanan, dengan tahallul di antara keduanya. Haji Tamattu’ diawali dengan ‘umrah pada bulan-bulan haji[1] kemudian bertahallul, setelah itu masuk ibadah haji pada tanggal 8 Dzulhijjah (hari tarwiyah).

[A- Ibadah ‘Umrah]

Ihram:

Ihram termasuk rukun dari rukun-rukun ibadah ‘umrah. Ihram adalah berniat melakukan ibadah ‘umrah, bukan semata-mata memakai baju ihram, bisa jadi seorang memakai baju ihram tetapi tidak dalam keadaan ‘umrah atau haji.

1)   Disunnahkan mandi sebelum ihram[2] dan memakai wewangian di rambut kepala, lihyah (jenggot) dan badan (bukan pada kain ihram).[3]

2)   Memakai kain ihram, yaitu izar dan rida’ bagi laki-laki, disunnahkan berwarna putih[4] adapun bagi wanita boleh baginya memakai apa saja (termasuk pakaian dalam, kaos kaki), kecuali sarung tangan dan burqu’/niqob (cadar).

3)   Melakukan shalat -bagi yang tidak haidh dan nifas- jika memang waktu shalat wajib. Adapun jika bukan waktu shalat, shalat dua rakaat diniatkan shalat sunnah wudhu. Baru setelah itu ihram, sebagaimana dilakukan Rasulullah r.

Catt: Tidak ada shalat khusus bernama shalat ihram.

4)   Ihram wajib dilakukan di Miqot, tidak boleh dilakukan setelah melampaui miqot.

Maka bagi jama’ah haji Indonesia yang turun di Jeddah menggunakan pesawat dari arah Yaman ihram-nya dilakukan di pesawat[5] ketika pesawat hampir melewati Yalamlam (yaitu miqat bagi penduduk yaman dan yang melewatinya).[6]

5)   Ihram yaitu niat masuk ibadah ‘umrah seraya mengucapkan “Labbaika ‘umrotan” — “Labbaika Allahumma labbaik labbaika laa syariika laka labbaika, Innal Hamda wan-Ni’mata laka wal-Mulk Laa syariika laka”

6)   Jika seorang meniatkan ‘umrahnya[7] untuk orang lain, saat talbiah mengucapkan “Labbaika ‘an Fulan”[8]

7)   Jika khawatir ada penghalang yang akan menghalangi ibadah ‘umrah (atau haji)-nya[9] disyariatkan untuk mengucapkan syarat: “Fain Habasani Haabisun Fa mahilli haitsu Habastani.”[10] sebagaimana ditunjukkan Hadits Dhuba’ah binti Az-Zubair.[11]

8)   Adapun bagi yang tidak memiliki kekhawatiran apapun, tidak disyariatkan menyebutkan syarat (isythirath) karena Rasulullah r tidak menganjurkan kecuali pada Dhuba’ah binti Az-zubair.

9)   Memperbanyak talbiyah “Labbaika Allahumma labbaik labbaika laa syariika laka labbaika, Innal Hamda wan-Ni’mata laka wal-Mulk Laa syariika laka”.

10)               Waktu talbiyah untuk ‘umrah adalah dari sejak ihram dan berakhir ketika hendak thawaf.

11)               Menghentikan talbiyah ketika hendak melakukan thawaf.

12)               Disyareatkan bagi laki-laki mengeraskan suara talbiyah, adapun bagi wanita melirihkannya dan mencukupkan suara untuk dirinya.

13)               Meninggalkan semua larangan-larangan ihram (mahdzuuratul ihram) selama ibadah ‘umrah[12]

14)               Perhatian: Termasuk kesalahan dalam ihram: (1) berihram melewati miqot. misalnya berihram dari Jeddah, padahal dia melewati Yalamlam.[13] (2) Ber-idhtiba’ (membuka pundak kanan) sejak awal ihram. Read the rest of this entry