Lele Septictank Hadir di Meja Jamuan?

Apa hukum makan ikan lele yang dipelihara di penampungan kotoran tinja manusia ?

Jawab:

Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan kulit licin. Di Indonesia ikan lele mempunyai beberapa nama daerah, antara lain: ikan kalang (Padang), ikan maut (Gayo, Aceh), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makasar), ikan cepi (Bugis), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah). 

Di sebagian tempat kita dapatkan ikan ini dipelihara di penampungan atau pembuangan tinja. Ikan lele yang dipelihara di penampungan tinja manusia tergolong dari hewan jallalah.

Jallalah adalah hewan yang memakan kotoran dan najis-najis, baik dari jenis onta, sapi, kambing, ayam atau lainnya. Dinamakan Jallalah karena hewan-hewan ini memakan Jallah yaitu Roji’ (kotoran).

Mengenai hukum memakan jallalah terjadi perbedaan di kalangan fuqaha’.

Pendapat pertama: Hewan-hewan ini haram dimakan dagingnya, tidak boleh pula diminum susunya dan tidak boleh ditunggangi. Demikian pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayat yang dinukilkan dari beliau (Al-Mughni (8/594)) juga Ibnu Hazm Al-Muhalla (7/410-429).

Pendapat kedua: Hewan tersebut makruh dan tidak haram, ini pendapat Imam Asy-Syafi’I dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.

Yang rajih dari dua pendapat di atas adalah diharamkannya jallalah berdasarkan Hadits Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma:“Rasulullah saw melarang dari memakan jallalah dan susu-susunya” (HR. Abu Dawud no.3785 At-Tirmidzi 1825 Ibnu Majah 3185 dan dishahihkan Al-Albani rahimahullah). Demikian pula Hadits ‘Amr bin Syu’aib dalam riwayat Abu Dawud no. 3811 An-Nasai (7/239) Ahmad (2/39).

Hikmah (‘illat) dilarangnya jallalah karena bercampurnya  najis dan daging jallalah, Allahu a’lam.

Lalu Bagaimana memanfaatkan hewan-hewan tersebut?

Jallalah boleh dimakan setelah dagingnya baik/bersih. Yaitu dengan mengarantinakan untuk diberi makanan-makanan yang toyyib sampai diperkirakan dagingnya sudah suci kembali.

Ada sebagian riwayat yang menyebutkan pembatasan waktu karantina diantaranya:

(1) Hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash bahwa hewan tersebut diberi makan selama empat puluh hari. Sebagaimana dalam riwayat Al-Hakim (2/39) Ad-Daruquthni (4/283) Al-Baihaqi (9/333).

(2)  Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar menahan ayam selama tiga hari. Namun semua riwayat tersebut tidak lepas dari kelemahan, sehingga pembatasan waktunya dikembalikan kepada gholabat Adzdzon (dugaan kuat) bahwa daging telah menjadi baik. Wallahua’lam.  (Penulis: Abu Isma’il Muhammad Rijal dari beberapa sumber)

About salafartikel

bismillah

Posted on Januari 28, 2012, in Fiqh - Tanya Jawab Fiqh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: