Bantahan Quraniyyun Dan Pemuja Akal

Abu Ismail Muhammad Rijal

Ad-Darimi[1] rahimahullah meriwayatkan dari Miqdam bin Ma’dikarib t:

أن رسول الله r حرم أشياء يوم خيبر، الحمار و غيره ثم قال:   (( ليوشك الرجل متكئا على أريكته يُحَدَّثُ بِحَدِيْثِي فيقول: ( بيننا و بينكم كتاب الله ، ما وجدنا فيه من حلال استحللناه و ما وجدناه فيه من حرام حرمناه ) , ألا و إن ما حرم رسول الله r فهو مثل ما حرم الله عز وجل ))

“Rasulullah r mengharamkan beberapa perkara pada hari khaibar ; yaitu himar (keledai) dan lainnya. Kemudian Beliau r bersabda: “Telah dekat (munculnya) seorang, ia  bertelekan di atas dipannya, disampaikan padanya haditsku, (namun dia menolaknya) seraya berkata: “(Cukuplah) di antara kita dan kalian Kitabullah. Apa yang kita dapatkan dalam Kitabullah halal kita halalkan, dan apa yang kita dapatkan di dalamnya haram kita haramkan.” (Kemudian Rasul r bersabda:) “Ketahuilah, sesungguhnya apa yang Rasulullah r  haramkan sama dengan apa yang Allah haramkan.”

 Takhrij Hadits.

Ad-Darimi meriwayatkan hadits ini dalam Muqaddimah Sunan-nya, Bab As-Sunnah Qo-dhiyatun ‘Ala kitabillah no. 590 dari Asad bin Musa dari Mu’awiyah bin Shalih dari Al-Hasan bin Jabir dari Miqdam bin Ma’dikarib t.

Guru beliau, Asad Bin Musa, adalah Ibnu Ibrahim bin Al-Walid bin Abdil Malik Al-Umawi. Asadus-Sunnah (Singanya sunnah) demikian ia dijuluki. Kata Ibnu Hajar : “Shoduqun, Yughrib.”

Mu’awiyah bin Shalih bin Hudair Al-Hadhrami Al Himshi. Tentangnya, berkata abu Zur’ah Ar-Razi dan An-Nasa`i: “Tsiqah”, Al-Jarh Wat-Ta’dil (8/382). Berkata Al-‘Ijli: “Tsiqah.” Tarikh At-Tsiqat hal. 432, Ibnu Hajar berkata: “Shoduq Lahu Auham”

Adapun Al-Hasan bin Jabir Al-Lakhmi Al-Kindi, Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat (4/125), adapun Ibnu Hajar, beliau berkata: “Maqbul.” (Haditsnya diterima jika ada penguat, jika tidak maka lemah) – dan hadits ini termasuk hadits yang memiliki penguat-penguat.

Melalui jalan Mu’awiyah bin Shalih dari Al-Hasan bin Jabir dari Miqdam bin Ma’dikarib t, At-Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunan-nya Kitab Al-Ilmu bab Maa Naha ‘anhu An Yuqola ‘ala haditsin Nabiy no. 2664, demikian pula Ibnu Majah dalam Muqaddimah Sunan-nya Bab Ta’dzimu Haditsi Rasulillah r Wat Taghlidz ‘ala Man ‘aradhahu no. 12.

Adapun Abu Dawud rahimahullah, beliau riwayatkan Hadits Miqdam bin Ma’dikarib t dalam As-Sunan Kitab As-Sunnah bab Fi Luzumi As-Sunnah no. 4604 –dengan sanad yang semua rawinya tsiqat-dari gurunya, Abdul Wahhab bin Najdah dari Abu ‘Amr bin Katsir bin Dinar dari Haris bin ‘Utsman dari Abdurrahman bin Abi ‘Auf dari Miqdam bin Ma’dikarib t secara marfu’ dengan lafadz:

ألا إني أوتيت الكتاب و مثله معه ، ألا يوشك رجل شبعان على أريكته يقول: عليكم بهذا القرآن فما وجدتم فيه من حلال  فأحلوه و ما وجدتم فيه من حرام فحرموه , الا لا يحل لكم لحم الحمار الأهلي و لا كل ذي ناب من السبع … الحديث

“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Kitab dan yang semisalnya bersamanya (yakni Al-Hadits). Ketahuilah, telah dekat (munculnya) seorang yang kenyang di atas dipannya berkata: “(Cukuplah) kalian dengan Al-Qur’an ini (tidak perlu pada hadits Nabi–pen), apa yang kalian dapatkan dalam Al-Qur’an halal maka halalkanlah, dan apa yang kalian dapatkan di dalamnya haram maka haramkanlah.” (Kemudian Rasul r bersabda): “Ketahuilah, tidak halal bagi kalian daging himar peliharaan, tidak halal pula semua yang bertaring dari hewan buas … Al-Hadits

Hadits Miqdam bin Ma’dikarib t memiliki syawahid dari hadits Abu Rafi’ Al-Anshary t[2] dan hadits Jabir t

Hadits Miqdam t Shahih dengan semua jalan-jalan dan syawahidnya. Syaikh Al-Albani rahimahullah mensahihkannya dalam Shahih At-Tirmidzi. Walhamdulillah.

 Makna Hadits

Ada berita dan bimbingan dalam sabda yang agung ini. Rasulullah r memberitakan akan munculnya pengingkar sunnah. Mereka tolak hadits-hadits Rasul r, dan melemparnya ke belakang punggung dengan kesombongan sebagaimana digambarkan, mereka adalah kaum yang kenyang dan bertelekan di atas dipan-dipan.

Dalam upayanya mengingkari sunnah mereka berkata: “(Cukuplah) kalian dengan Al-Qur’an ini, apa yang kalian dapatkan dalam Al-Qur’an halal maka halalkanlah, dan apa yang kalian dapatkan di dalamnya haram maka haramkanlah.”. Adapun hadits-hadits Rasul r, mereka picingkan mata dan mereka berpaling darinya.

Mereka yang lebih dikenal dengan Qur’aniyyun atau inkarus sunnah, dengan ucapan yang batil ini tidak sadar bahwa ayat-ayat Al-Quran dengan tegas memerintahkan mereka untuk berpegang teguh pada sabda-sabda Rasulullah r seperti firman Allah ta’ala:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. Al-Hasyr:7

Saudaraku, jika bukan dari sabda-sabda Rasulullah r, darimana kita akan mengerti tata cara shalat, dari mana kita mengerti tata cara haji, darimana pula kita mengerti rincian-rincian dari apa yang disebutkan dalam Al-Quran secara mujmal (global)? Orang yang berakal sehat tentu akan menjawab: “Kita hanya akan mengerti itu semua dari sabda-sabda Rasulullah r !”  

Suatu hari, sahabat Imran bin Al-Hushoin t[3] berada disebuah majelis bersama murid-muridnya. Tiba-tiba seorang berkata: “Jangan kau sampaikan pada kami kecuali Al-Qur`an !” ‘Imron t berkata: “Dekatkan orang ini padaku !” Kemudian ‘Imron t berkata padanya: “Wahai fulan, apa pendapatmu, seandainya kau dan teman-temanmu diserahkan pada Al-Qur`an, akankah kau dapatkan di dalamnya shalat dzuhur empat rakaat, shalat ashar empat rakaat, shalat maghrib tiga rakaat dengan men-jahar-kan bacaan pada dua rakaat (pertama)? Apa pula pendapatmu seandainya kau dan teman-temanmu diserahkan pada Al-Qur`an, akankah kau dapatkan tawaf (mengelilingi Ka’bah) itu tujuh putaran demikian pula (Sa’i di) Shofa dan Marwah (tujuh kali)?” Kemudian Imran bin Al-Hushoin t berkata:

أي قوم  ! خذوا عنا ، فإنكم و الله ، إن لا تفعلوا لتضلن

“Wahai kaum, ambilah dari kami (hadits-hadits Nabi r), karena kalian –Demi Allah- seandainya tidak melakukannya pasti akan tersesat.” – Demikian kisah ini diriwayatkan Khatib Al-Baghdadi rahimahullah dalam Al-Kifayah hal. 38 dari beberapa jalan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah.

Serupa dengan ucapan Imran bin Al-Hushoin t, Al-Hakim dalam Ma’rifah ‘Ulumul Hadits hal. 65 dan Al-Khatib dalam Al-Kifayah hal. 49 meriwayatkan dari Al-Auza’i, dia berkata: Ayub As-Sikhtiyani rahimahullah berkata:

إذا حدثت الرجل بالسنة فقال : دعنا من هذا وحدثنا من القرآن فاعلم أنه ضال مضل

“Jika engkau sampaikan kepada seorang sabda Rasul r, namun dia berkata: “Tinggalkan ini, sampaikan saja pada kami Al-Qur’an !”, Ketahuilah sesungguhnya dia adalah seorang yang sesat dan menyesatkan !”

Betapa banyak syareat islam diterangkan Rasulullah r dalam hadits-haditsnya, betapa banyak pula ayat-ayat Al-Qur’an dirinci dalam sabda-sabda Nabi r. Maka tidak ada keraguan sedikitpun bahwasanya menolak hadits-hadits Rasul r bermakna meruntuhkan Islam, dan pelakunya sesat dan menyesatkan.

Disamping berisi berita, hadits Miqdam t ada di dalamnya bimbingan bagi umat ini untuk berhati-hati dari kaum tersebut –atau yang sefaham dengan mereka- dan berusaha membentengi diri dari kesesatan mereka tentu dengan selalu berdoa kepada Allah agar dilindungi dari segala fitnah. Wabillahittaufiq.

Kedudukan Sunnah Rasul r

Sebelum kita berbicara lebih jauh tentang sunnah Rasul r, ada satu hal yang perlu kita dudukkan yaitu: “Apa yang dimaksud dengan sunnah dalam pembahasan kita?”

Sunnah yang kita kehendaki bukanlah sunnah yang didefinisikan dalam ilmu ushul fiqh sebagai: “Perkara yang jika dilakukan akan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa,” yang diistilahkan pula dengan mustahab.

Namun sunnah yang kita maksudkan adalah ajaran Rasulullah r secara umum, yaitu risalah yang beliau bawa, baik Al-Quran atau Al-Hadits. Sunnah dengan makna inilah yang disebut dalam sabda Rasulullah r:

مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

“Barangsiapa membenci sunnah-ku (-yakni ajaranku baik Al-Quran atau Hadits-pen) maka dia bukan dari golonganku.  Diriwayatkan Muslim dalam As-Shahih no. 1401 dari Anas bin Malik t.

Al-Qur`an Allah turunkan kepada Rasul-Nya r, dan Allah perintahkan beliau untuk menerangkannya kepada manusia dengan sabda-sabda beliau yaitu Al-Hadits. Allah berfirman:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka  An-Nahl:44

Demikianlah tugas Rasul r, membacakan kepada manusia apa yang Allah wahyukan kepada beliau berupa Al-Qur’an dan Al-Hadits, sebagaimana Allah ingatkan nikmat ini dalam firman-Nya:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah (Al-Hadits). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” Ali Imran: 164

Maka, semua yang datang dari Rasulullah r baik Al-Quran atau Al-Hadits, adalah sunnah (ajaran) beliau yang wajib diagungkan dan dimuliakan, tidak boleh bagi siapapun meremehkan apalagi membencinya. Yang demikian itu karena sunnah Rasul r adalah wahyu Allah, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى * إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” An-Najm: 3-4

Demikianpula wajib bagi kita mengagungkan sunnah Rasul r karena Allah menjadikan ittiba’ (mengikuti) sunnah beliau sebagai bukti cinta kepada-Nya, Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah (wahai Nabi): “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ali Imron:31

Bahkan Allah bersumpah dengan diri-Nya, bahwa seorang tidaklah beriman hingga menjadikan Rasulullah r sebagai hakim (pemutus perkara) atas segala yang diperselisihkan,[4] Allah berfirman:

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” An-Nisa: 65

Jika telah jelas kemuliaan dan keagungan sabda-sabda Rasulullah r, maka semua yang beliau sabdakan adalah syareat yang wajib diagungkan, dan wajib diamalkan meskipun tidak tersebut dalam Al-Qur’an.

Mari kita kembali pada hadits Miqdam t. Beliau beritakan bahwa Rasulullah r mengharamkan daging himar pada perang khaibar. Pengharaman ini wajib diterima meskipun tidak terdapat dalam Al Qur’an. Demikian pula beliau haramkan semua yang bertaring dari hewan buas seperti singa, harimau, dan sejenisnya. Maka pengharaman inipun wajib diagungkan dan diterima meskipun Al-Qur’an tidak menyebutkannya, karena apa yang Rasul r haramkan sama dengan apa yang Allah haramkan dalam Kitab-Nya, sebagaimana ditegaskan sendiri oleh Rasulullah r:

ألا و إن ما حرم رسول الله r فهو مثل ما حرم الله عز وجل

Ketahuilah sungguh apa yang diharamkan Rasulullah r seperti apa yang diharamkan Allah.”

 

Pengagungan Salaf Terhadap Sunnah Rasul r

Sahabat adalah tauladan dalam mengagungkan sunnah Rasulullah r, baik dimasa hidup beliau atau sesudah wafatnya. Demikian pula generasi terbaik berikutnya, tabi’in, atba’ut tabi’in dan orang-orang yang  berjalan diatas jalan mereka.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Dan sungguh generasi pendahulu (salaf) umat ini, amat sangat pengingkaran dan kemarahan mereka pada orang yang menolak hadits Rasulullah r dengan ro’yu (akal), qiyas, istihsan, atau ucapan manusia -siapapun orangnya-, … bahkan mereka menghajr (memutuskan hubungan) dengan pelakunya, bahkan generasi pendahulu (salaf) dari umat ini tidaklah membenarkan kecuali: wajibnya tunduk, berserah, serta mendengar dan taat kepada Rasulullah r.

Tidak pernah terbetik dalam benak-benak salaf untuk tawaqquf (menunda menerima sunnah) hingga ada pengamalan atau qiyas atau ucapan fulan dan fulan yang mencocoki sunnah (Rasulullah r), bahkan yang mereka lakukan adalah mengamalkan firman Allah ta’ala:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” Al-Ahzab: 36[5]

Suatu hari –sebagaimana dikisahkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri t- Rasulullah r salat dengan mengenakan alas kaki. Ditengah shalatnya beliau melepasnya, seketika itu pula para shahabat ikut melepas sandal-sandal mereka. Seusai shalat, Rasulullah r bertanya: “Apa gerangan yang membuat kalian melepas sandal-sandal kalian? Mereka berkata: Wahai Rasulullah, kami melihat engkau lepas alas kaki, kamipun melepas alas kaki-alas kaki kami.”[6]

Demikianlah sahabat, dengan segera mereka ikuti Rasul r dalam segala gerak geriknya, karena pengagungan mereka terhadap sunnah, dan karena keimanan bahwasannya tidak ada kebahagiaan dan keselamatan kecuali dengan mengikuti segala apa yang dibawa Rasulullah r.

Akibat yang Allah timpakan bagi pengingkar Sunnah Rasulullah r.

Mengingkari sunnah adalah alamat kebinasaan dan petaka, Rasulullah r bersabda:

مَثَلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهَا جَعَلَ الْفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِي فِي النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا وَجَعَلَ يَحْجُزُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَتَقَحَّمْنَ فِيهَا قَالَ فَذَلِكُمْ مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ أَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنْ النَّارِ هَلُمَّ عَنْ النَّارِ هَلُمَّ عَنْ النَّارِ فَتَغْلِبُونِي تَقَحَّمُونَ فِيهَا

Permisalan diriku seperti orang yang menyalakan api, ketika api telah menyinari apa yang ada disekelilingnya berdatanganlah serangga-serangga berterbangan mendekati api, sementara orang ini berusaha menghalangi dari api namun hewan-hewan itu tidak menghiraukan, hingga mereka berjatuhan ke dalamnya. Rasulullah r bersabda: Itulah permisalan diriku dan diri kalian, aku mengambil ikat-ikat pinggang kalian untuk menyelamatkan dari neraka, Jauhilah neraka! Jauhilah dari neraka! tetapi kalian (kebanyakan umatku) tidak menghiraukanku, dan kalian berjatuhan kedalam neraka.[7]  

Saudaraku, meskipun apa yang Rasulullah  r sampaikan adalah perkara yang mustahab seperti puasa senin kamis, siwak, atau perkara mustahab lainnya … namun yang harus selalu kita ingat, dan kita tanyakan pada diri kita adalah: “Siapa yang mengucapkan sabda ini dan dari mana sabda ini bersumber?” Jawabnya adalah: “Ini adalah sabda Rasulullah r yang bersumber dari wahyu Allah!”

Seorang yang selalu sadar hakekat ini dia akan jauh dari sikap mengolok-olok ajaran Rasulullah r meskipun itu perkara yang mustahab dan meskipun dia belum mampu melaksanakannya karena lemahnya iman yang ada padanya.

Namun kini, kita menyaksikan perkara yang menyedihkan. Bukan perkara mustahab saja yang dilecehkan. Bahkan perkara wajibpun menjadi bahan cemoohan. Wanita berkerudung –belum lagi yang bercadar- diejek dan ditertawakan. Sementara wanita-wanita fasiq yang tidak berbaju –bahkan diantara mereka wanita-wanika kafir kafir- justru menjadi pujaan. Allahul musta’an, kepada Allah sajalah kita mengadu dan hanya kepada-Nyalah kita merintih kepedihan ini.

Pelecehan kain diatas mata kaki dan Jenggot adalah lembaran lain dari sejumlah kesedihan kita akan jauhnya umat dari ajaran Rasulullah r. Meskipun terkadang kita masih memberikan udzur pada kebanyakan kaum muslimin … mungkin mereka tidak tahu bahwa nabi mereka berjenggot lebat, mungkin mereka tidak faham tatkala membaca Al-Qur`an bahwa jenggot adalah sunnah nabi-nabi sebelum Rasulullah r. Seperti firman Allah tatkala mengisahkan Musa dan Harun:

قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلا بِرَأْسِي إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي

“Harun menjawab: “Hai putra ibuku janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”. Toha: 94

Hanya doa dan permohonan kepada-Nya semoga Allah beri hidayah atas umat ini, dan semoga Allah muliakan negeri ini dengan mengagungkan sunnah Rasulullah r.

Wahai orang-orang yang meremehkan sunnah Rasulullah r, hendaknya kalian takut akibat buruk yang akan menimpa kalian jika tidak segera bertaubat dan kembali pada jalan yang lurus. Berkata Imam Ahmad rahimahullah: “Aku heran pada satu kaum yang mengerti sanad hadits dan kesahihannya, akan tetapi mereka lebih mengutamakan pendapat Sufyan, padahal Allah berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“… maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa azab yang pedih. An-Nur: 63

Kemudian Imam Ahmad rahimahullah  berkata: “Tahukah kalian apa itu fitnah?” Fitnah itu adalah Syirik, bisa jadi dengan sebab dia menolak sebagian sabda Rasulullah r, muncul dalam hatinya penyimpangan hingga dia binasa, karenanya.[8]

Slogan-slogan Yang Dengannya Sunnah Rasul r dicampakkan!

Berpegang pada sunnah Rasul di zaman yang penuh fitnah ini ibarat seorang menggenggam bara api, sebagaimana digambarkan dalam hadits Abu Dzar Al-Ghifari t.

Pengingkaran terhadap sunnah banyak disaksikan disekitar kita, Qur’aniyun atau kelompok Inkarus sunnah adalah salah satu model para pengingkar sunnah yang jauh-jauh hari telah diperingatkan Rasulullah r dalam Hadits Al-Miqdam bin Ma’dikarib t.  

Model pengingkaran sunnah sangat beragam. Ada yang terang-terangan sebagaimana mereka yang tersebut dalam hadits Miqdam t. Ada pula pengingkaran terselubung berupa syubhat (kerancuan) dan slogan yang di hembuskan di tengah umat untuk menjauhkan sunnah Rasulullah r dari sanubari kaum muslimin.

Tetapi anehnya pengingkaran tersebut seringkali justru terucap dari orang-orang islam  yang ditokohkan atau melalui institusi-institusi yang membawa bendera islam.

Sesungguhnya, banyak faktor yang mendorong mereka menjatuhkan dirinya ke dalam fitnah yang berbahaya ini, boleh jadi karena kebodohan terhadap sunnah, atau mereka telah terbelenggu dalam penjara fanatisme madzhab, atau sengaja mereka korbankan sunnah demi perjuangan politik, atau bahkan ada di antara mereka yang memang menjadi corong orang-orang kafir dan munafiq, pengagung-pengagung orientalis yang dengan gencar berusaha menjauhkan ummat islam dari sunnah Rasulullah r,

Saudaraku, di kesempatan ini mari kita simak beberapa slogan atau syubhat yang bertujuan  mengikis pengagungan sunnah dari diri seorang muslim yang berujung pada meninggalkan sunnah Rasul. Dengan memohon taufiq dari Allah syubhat-syubhat tadi akan kita sebut beserta sebagian dari bantahannya semoga Allah selamatkan kita dari makar dan tipu daya syaiton.

Pertama: Mencela sahabat Rasulullah r sebagai pembawa risalah Rasulullah r.

Cara ini ditempuh orang-orang rafidhah (syi’ah), munafiq, dan yang berjalan di belakang mereka. Mereka gentar dan takut mencela langsung Rasulullah r, tetapi mereka punya makar yang sangat busuk ditengah-tengah umat yaitu melunturkan kepercayaan umat kepada generasi terbaik, pembawa     Al-Quran dan Al-Hadits.

Celaan demi celaan pun dilontarkan kepada para sahabat, terlebih sahabat yang banyak meriwayatkan hadits seperti Abu Hurairah t. Jika kepercayaan pada pembawa risalah telah luntur niscaya muncul keraguan akan apa yang mereka bawa, Al-Quran dan Al-Hadits.

Untuk menjawab syubhat ini cukup kita katakan: sahabat adalah generasi terbaik yang telah Allah ridhai dengan nash Al-Quran, demikian pula sabda-sabda Rasul r. Adapun pencacatan kalian, ini adalah kebatilan. Bacalah ayat berikut, dan silahkan kalian memilih untuk beriman atau kafir kepada firman Allah:

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” At-Taubah: 100

Kedua: Mengedepankan fanatisme kelompok/madzhab daripada hadits Rasulullah r (taqlid).

Penyakit fanatisme kelompok/madzhab seringkali membawa seorang menolak sabda Rasulullah r yang terang-terangan menyelisihi kelompok dan madzhabnya. Dia enggan atau bahkan risih mengamalkan hadits Rasulullah r yang telah jelas kesahihannya hanya karena tidak ada dalam madzhab atau ucapan imam-imam madzhabnya.

Diantara bantahan kita katakan bahwa tidak ada seorangpun yang maksum kecuali para nabi dan rasul. Adapun Imam-imam madzhab, mereka tidak maksum. Bahkan mereka sendiri telah mengingatkan umat agar membuang pendapat-pendapat mereka jika menyelisihi sunnah Rasul r.[9]

Ketiga: Membuat umat ragu akan kebenaran sanad[10] dan keoutentikan kitab-kitab Hadits seperti Shahih Al-Bukhari.

Orientalis atau pengikut hawa nafsu yang kagum pada mereka memunculkan syubhat ditengah umat bahwasanya sanad hadits adalah buatan orang belakangan di abad kedua atau ketiga seperti Al-Bukhari dan yang sezaman dengan beliau. Adapun rawi-rawi antara Al-Bukhari dan Rasul hanyalah tokoh-tokoh fiktif.

Studi-studi kritis tentang Shahih Bukhari pun digelar tidak lain untuk membawa umat ini meragukan hadits-hadits Rasulullah r. Jika Shahih Bukhari saja dijatuhkan lalu bagaimana dengan kitab-kitab hadits lainnya??

Cukup sebagai bantahan kita katakan bahwa Umat islam telah bersepakat akan kesahihan Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Adapun para akademisi yang mencoba-coba mengkritisi kedua kitab ini adalah anak-anak jahil. Siapa mereka siapa Al-Bukhary? Siapa mereka siapa Asy-Syafi’i? …

Adapun sanad,  ketahuilah sesungguhnya sejak zaman sahabat masih hidup –dimasa tabi’in- sanad telah dipakai untuk menyaring berita yang bersumber dari orang-orang yang jujur atau pendusta. Berkata Muhammad bin Sirin rahimahullah: “Dahulu mereka tidak menanyakan sanad, namun ketika fitnah telah terjadi (yaitu pembunuhan ‘Utsman bin ‘affan di tahun 35 H-pen) mereka bertanya: sebutkan rawi-rawi kalian ! untuk dilihat, jika ahlus sunnah maka haditsnya diterima adapun jika yang meriwayatkan ahlul bid’ah maka hadits mereka tidak diambil.”[11] 

Kelima: Perkataan mu’tazilah, ahli kalam (filsafat) dan yang sefaham dengan mereka bahwasannya hadits ahad[12]  tidak dipakai untuk menetapkan aqidah.

Demikian syubhat ini dilontarkan mu’tazilah dan orang-orang yang mengadopsi kesesatan itu di zaman kita. Berkata Al-Albani rahimahullah: “(Bahkan) sebagian “da’i-da’i islam” pada hari ini, dengan terang-terangan menyatakan tidak bolehnya mengambil perkara aqidah dari hadits-hadits Ahad bahkan (mereka nyatakan) haram hukumnya.!!” [13]

Tidak diragukan dengan syubhat ini, puluhan ribu hadits akan ditolak karena tergolong hadits-hadits ahad. Syubhat ini ibarat rumah laba-laba yang tidak memiliki kekuatan sedikitpun. Cukuplah sebagai bantahannya Rasulullah r mengutus Muadz bin Jabal t seorang diri ke Yaman untuk mendakwahkan islam, baik aqidah, ibadah muamalah atau akhlaq.[14] Apakah kalian akan katakan bahwa Rasulullah r telah menghianati risalah karena hanya mengutus Muadz seorang diri? Apakah kalian juga akan katakan bahwa Rasul gegabah dengan mengutus Muadz seorang diri berdakwah aqidah ditengah-tengah komunitas ahlul kitab?.

Keenam: Perkataan yang sering terlontar dari mulut sebagian juhhal ketika disampaikan padanya sebuah hadits, dia berkata: “Ini kan hanya masalah furu’ (cabang), bukan ushul (pokok)” atau berkata: “Ini hanyalah kulit dan bukan  inti/buah.”

Sangat disayangkan ucapan dengan nada meremehkan sunnah ini muncul dari orang-orang yang katanya sudah belajar islam, menyandang titel dan gelar akademik Doktor atau Profesor.

Hendaknya mereka mengaca kepada sahabat ketika mereka dengan serta merta melepas sandal-sandal mereka tatkala melihat Rasul r melepasnya. Demi Allah! tidak terbetik sedikitpun dalam diri sahabat perkataan: “Ini furu’ bukan ushul !”

Keempat: Menolak hadits Rasul dengan kaedah-kaedah muhdatsah, seperti mengedepankan Qiyas dari hadits-hadits ahad. [15]

Kaum muslimin semoga Allah merahmati kita, demikian sebagian syubhat yang dihembuskan syaiton untuk menggeserkan kaki-kaki manusia dari ittiba’ (mengikuti) sunnah Rasul r. Maka berhati-hatilah dari jerat-jerat syaiton tersebut, dan sabarlah dalam menegakkan sunnah Rasul r dalam dada-dada ini … sesungguhnya saat berjumpa dengan Allah telah dekat. !! dan masing-masing kita akan ditanya sudahkah kita penuhi seruan Rasul ?

وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ

Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata: “Apakah jawabanmu kepada para rasul?” Al-Qashash: 65

و الحمد لله رب العالمين

و صلى الله على محمد و على آله  و صحبه و سلم 

 

 

Asysyariah@gmail.com

 


[1] Beliau adalah Abu Muhammad, Abdullah bin Abdirrahman bin Al-Fadhl bin Bahram, Ad-Darimi, nisbat kepada Bani Darim bin Malik, lahir 181 H wafat 255 H, setahun sebelum wafatnya Al-Bukhari.

[2] Dalam Sunan Abi Dawud  (5/12 no. 4605). Al-Musnad (6/8)

[3] Beliau adalah ‘Imran bin Hushoin bin ‘Ubaid Al-Khuza’i, Abu Nujaid t. Masuk islam tahun khaibar (7 H.) Meninggal tahun 52 H di Bashrah.

[4] Menjadikan Rasulullah  r sebagai hakim terwujud dengan mendatangi beliau di kala hidupnya dan kembali kepada sunnahnya sesudah wafatnya.

[5] Lihat: I’lamul Muwaqi’in (3/46)

[6] Shahih, diriwayatkan Abu Dawud dalam As-Sunan Kitab Ash-Shalah no. 650

[7] HR. Muslim dalam As-Shahih Kitabul Fadhail, no. 2284 dan Ahmad dalam Al-Musnad no 2733 dari Abu Hurairah RA

[8] Ucapan Imam Ahmad ini dinukil Syaikhul Islam dalam Kitabut Tauhid alladzi Huwa Haqulloh ‘alal ‘Abid.

[9] Faedah: Silakan lihat riwayat-riwayat Imam Abu Hanifah, Malik, Asy-syafi’i dan Ahmad di Muqaddimah Shifat Shalat Nabi r karya Syaikh Al-Albani rahimahullah hal. 45-55.riwayat-riwayat Imam abu Hanifah, Malik, Asy-syafi’eriman atau kafir kepada firman Allah-berupa

[10] Sanad adalah: Rantai periwayat-periwayat hadits yang menghubungkan kepada nash hadits.

[11]Diriwayatkan Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya  (1/13)

[12] Yaitu hadits yang diriwayatkan satu orang, dua, tiga atau lebih selama tidak mencapai derajat mutawatir.

[13] Al-Hadits Hujjatun Binafsihi Fil ‘Aqoidi Wal Ahkam. Al-Albani hal 38.

[14] HR. Al-Bukhari no.1395 dan Muslim no. 19

[15] Syaikh Al-Albani rahimahullah memiliki risalah yang sangat bermanfaat dalam masalah ini berjudul Al-Hadits Hujjatun Binafsihi Fil ‘Aqoidi Wal Ahkam. Beliau sebutkan beberapa kaedah-kaedah yang dengannya hadits-hadits Rasul r yang shahih ditinggalkan. Rujuklah padanya.

About salafartikel

bismillah

Posted on Februari 2, 2012, in Aqidah, Syarah Hadits. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: