Hukum Tupai atau Bajing

Berburu tupai atau bajing memang sangat asyik, apalagi di tempat kami para pemburu bajing dibayar petani durian untuk setiap ekor yang berhasil diburu. Para petani durian memang banyak diganggu hewan yang satu ini. Lalu bagaimana dengan hukum memakan daging tupai? Apakah ia termasuk hewan buruan yang halal?

Jawab:

Sebelum membahas hukum Bajing (Tupai), ada baiknya kita membahas kaedah penting dalam masalah Ath-`imah (makanan). Kaedah penting yang kita maksud adalah: “Bahwasannya Hukum Asal Segala Sesuatu adalah Mubah dan Halal.”

Maksudnya, asal hukum segala sesuatu dari berbagai jenis makanan dan minuman adalah halal. Hal ini adalah kaidah yang telah disepakati oleh para ulama.

Di antara dalil kaidah ini adalah firman Allah Ta’ala,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا

Dia-lah Allah, yang telah menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.(al-Baqarah: 29)

Demikian pula firman Allah Ta’ala:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

 “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (al-Mulk: 15)

Rasulullah Shallallohu’alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

“Sesungguhnya kaum muslimin yang paling besar dosanya adalah yang bertanya tentang sesuatu yang tidak diharamkan,[1] lalu diharamkan dengan sebab pertanyaannya.” (Muttafaq ‘alaihi dari hadits Sa’d bin Abi Waqqash ٌRadhiyallohu’anhu)

Rasulullah Shallallohu’alaihi wasallam bersabda,

الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah Ta’ala dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang Allah Ta’ala haramkan dalam kitab-Nya, dan apa yang Ia diam darinya, maka itu termasuk yang dimaafkan.” (HR. at-Tirmidzi no. 1726, al-Baihaqi 10/12, al-Hakim 4/129, dari Salman  ٌRadhiyallohu’anhu. Hadits ini dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’)

Berdasarkan kaedah ini kemudian tupai bukanlah hewan buas bertaring, bukn pula hewan yang khobits seperti pemakan bangkai, hanyalah ia hewan pemakan buah-buahan seperti kelapa, durian dan semisalnya maka tupai termasuk binatang buruan yang halal insyaallahu ta’ala.


[1] Maksudnya pertanyaan yang diajukan pada zaman Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, saat wahyu belum terputus, di saat masih mungkin terjadi nasikh dan mansukh atau tambahan hukum.

Posted on Februari 7, 2012, in Fiqh - Tanya Jawab Fiqh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: