Sualat Haromain (Beberapa Faedah dari Dua Kota Suci) Bag-3

Apa hukum mengulang-ulang umroh dalam satu safar (perjalanan) ?

Jawab: Mengulang-ulang umroh, jika dilakukan dalam safar yang berbeda maka ini adalah amalan yang memiliki keutamaan seperti sabda Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam: “Antara umroh dengan umroh berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya.”

Adapun mengulang-ulang umroh dalam satu safar seperti dilakukan banyak manusia saat ini, seusai mereka menunaikan umrah di Makkah, mereka mengulang-ulang umroh berkali-kali dari tan’im atau Ji’ronah, empat, lima, sepuluh kali dan demikian seterusnya. Umrah yang seperti ini belum pernah dilakukan Rasulullah saw, tidak pula dilakukan shahabat-shahabatnya yang mulia.

Bahkan amalan seperti ‘abats (main-main), umrahh adalah ibadah yang memiliki kehormatan dan tidak dilakukan sebagaimana dilakukan sebagian muslimin.

Seorang tua, berhadats dalam tawaf dan berat bagianya untuk menahan hingga selesai thawaf apakah dia berwudhu dan mengulangi dari awal thawafnta?

Jawab: Dia berwudhu dan menlanjutkan tawafnya yang terputus.

Sebagaimana dimaklumi bahwa Mas’a (tempat untuk sa’i) telah diperluas dari yang sebelumnya, apa hukum sa’i di tempat tersebut?

Jawab: Yang benar dalam masalah ini adalah bolehnya sa’i di tempat perluasan sebagaimana pahala shalat juga diberikan pada perluasan masjidil harom.

Sebagaimana diketahui bahwa perluasan Masjidil Harom untuk menampung orang yang shalat adalah perkara yang jelas diperbolehkan. Shalat adalah perkara yang lebih besar dari sa’i, seandainya perluasan untuk shalat diperbolehkan lebih-lebih lagi tempat untuk sa’i. Allahua’lam.

Seorang thawaf, kemudian di tengah thawafnya dia dapatkan kesempatan untuk masuk ke hijr ismail melakukan shalat sunnah, bolehkah hal ini dilakukan?

Jawab: Tidak boleh. Adapun jika dikumandangkan iqamah untuk shalat wajib maka seorang yang thawaf menghentikan thawafnya untuk shalat bersama dengan imam dan dia lanjutkan thawafnya seusai shalat. Adapun berhenti untuk shalat sunnah di hijr isma’il tidak diperbolehkan.

Saya sudah ingin menikah, bolehkah saya menikah dengan meminjam uang dari BANK ribawi ?

Jawab: Tidak boleh engkau menikah dengan meminjam uang dari BANK, karena engkau berarti memasukkan diri ke dalam laknat Allah, dan pernikahan tersebut tidak dibarokahi.

Posted on Maret 13, 2012, in Fiqh - Tanya Jawab Fiqh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: