Suran – Bersihkan Muharram dari Tathayyur Dan Tradisi Leluhur

Abu Ismail Muhammad Rijal — Sumber Artikel: Majallah Asysyariah

عن عبد الله بن مسعود t عن رسول الله  r  قال: الطيرة شرك، الطيرة شرك، ثلاثا، و ما منا إلا. . . ولكن الله يذهبه بالتوكل

Dari Abdullah bin Mas’ud t Rasulullah r bersabda: Tathayyur itu syirik, tathayyur itu syirik, -tiga kali beliau ucapkan- dan tidak ada di antara kita melainkan (pernah terbersit dalam hatinya sesuatu dari tathayyur)[1], akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakkal.

 

Kisah Negeri Yang Menyedihkan.

“Sura” dalam bahasa jawa adalah sebutan lain bagi bulan Muharram, bulan pertama dalam tahun hijriyah. Bulan ini sesungguhnya termasuk empat bulan-bulan haram yang mulia yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Allah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram… At-Taubah:36

Namun kemuliaan bulan ini ternodai oleh keyakinan dan tradisi yang sangat jauh dari nilai-nilai islam. Banyak penyimpangan akidah dilakukan di bulan Muharram berupa keyakinan atau amalan mungkar yang telah mendarah daging, bahkan turun menurun menjadi sebuah tradisi dan budaya yang demikian kental hingga masyarakatpun menganggapnya sebagai satu hal biasa.

Tetapi tentunya sebagai seorang muslim, yang menjadi tolok ukur kebenaran adalah syariat, bukan adat dan tradisi leluhur. Seorang muslim –yang jujur dengan keislamannya- tidak boleh begitu saja mengikuti arus tradisi yang sudah menjadi keumuman banyak manusia, akan tetapi wajib baginya menanyakan setiap perbuatan atau perkataan yang hendak ia lakukan, apakah perbuatan itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw? Apakah perbuatan itu halal atau haram? Apakah yang dia lakukan tauhid atau syirik? Sunnah atau bid’ah? demikian seterusnya. Allah ta’ala berfirman:

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. An-Nisa:65

“Suran” adalah salah satu tradisi kesyirikan di bulan sura yang begitu merebak di tengah masyarakat negeri ini, khususnya jawa.

Tradisi yang kita maksud adalah tradisi sedekah bumi dan sedekah laut. Penduduk satu desa bergotong-royong membeli kerbau atau sapi untuk “disedekahkan” ke bumi, disembelih dan ditanam kepalanya guna keselamatan desa dan kemakmuran rakyatnya, kalau tidak mampu merekapun menggelar acara selamatan ala kadarnya.

Sementara di tepi pantai selatan, sekelompok lain melakukan upacara sedekah laut  atau dikenal dengan acara “larung” memberikan persembahan atau sembelihan untuk “Nyi Roro Kidul” konon dia adalah penguasa pantai selatan –padahal hanya Allah sajalah yang menguasai alam semesta.

Seorang dari pesisir pantai selatan bercerita bahwa ketika penduduk kampung tidak mampu lagi membeli sapi, mereka membeli walau seekor ayam untuk disembelih dan dipersembahkan pada acara larungan itu.

Tradisi suran dengan sedekah bumi dan sedekah lautnya yang diyakini mencegah berbagai petaka itu bukan sekadar tradisi, tetapi perbuatan itu adalah bentuk kesyirikan kepada Allah ta’ala. Menyembelih adalah ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah, adapun penyembelihan untuk selain Allah perbuatan ini terlaknat dan termasuk syirik akbar, mengeluarkan pelakunya dari islam,  menggugurkan semua amalan, menghalalkan darah dan hartanya dan ia akan kekal di dalam neraka jika tidak bertaubat sebelum matinya. Rasulullah Saw bersabda:

لعن الله من ذبح لغير الله

“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.”[2]

Masih di bulan Muharram, orang-orang beragama rafidhah (syi’ah), menjadikan sepuluh muharram sebagai hari berkabung dan bersedih. Mereka lakukan “niyahah” atau meratapi kematian, mengingat peristiwa Karbala, terbunuhnya Al-Husain bin Ali Ra, dengan cara menangis histeris, menyiksa diri melukai badan atau memukul-mukulnya dan merobek-robek baju, diantara mereka ada yang membawa rantai berbandul besi berduri dipukul-pukulkan ke tubuhnya hingga bersimbah darah. Mereka hidupkan tradisi jahiliyah dengan meratapi mayyit yang telah diancam pelakunya dengan adzab dalam sabda Rasulullah saw:

النائة إذا لم تتب قبل موتها، تقام يوم القيامة وعليها سربال من قطران، ودرع من جرب

“Orang yang melakukan niyahah jika tidak bertaubat sebelum matinya akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaaan memakai baju dari baja yang meleleh dan tubuhnya berpenyakit kusta.”[3]

Berbeda dengan rafidhah, sebagian manusia menjadikan bulan muharram –khususnya sepuluh muharram- sebagai hari raya. Semua ini sungguh tidak dilakukan Rasulullah saw dan generasi awal umat ini.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: “Rasulullah saw, demikian pula Al-khulafaur rasyidin tidak pernah mengajarkan sedikitpun perkara-perkara ini (yakni perayaan rafidhah atau menjadikannya sebagai hari raya ‘asyura) pada tanggal sepuluh muharram, tidak mengajarkan syiar kesedihan tidak pula syiar kebahagiaan (hari raya)…  (Majmu’ Fatawa (25/310)

Hanyalah yang beliau tuntunkan di bulan Muharram adalah puasa pada hari ‘Asyura (sepuluh muharram), sebagaimana dalam sabda-Nya:

وصيام يوم عاشوراء، أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله

“…Dan siyam di hari asyura’ (sepuluh Muharram) aku berharap kepada Allah mengampuni dosa-dosa setahun sebelumnya.” [4]

Sisi lain dari penyimpangan di bulan Muharram adalah keyakinan kebanyakan masyarakat bahwa bulan sura adalah bulan yang mendatangkan kesialan, hingga menjadi rahasia umum bahwa bulan sura adalah bulan pantangan bagi banyak lapisan masyarakat untuk “Nyambat” atau “Nduwe gawe” seperti hajatan nikah, sunatan, membangun rumah dan sebagainya. Terkadang rencana pernikahan dua calon mempelai batal hanya gara-gara satu pihak keluarga tidak mau menikahkan anaknya di bulan sura sebagai bulan yang dianggap sebagai bulan yang tidak baik. Mereka tidak menyadari bahwa keyakinan ini sesungguhnya termasuk kesyirikan. Allahul musta’an.

Anggapan bulan muharram sebagai bulan kesialan, inilah yang diistilahkan dalam syareat dengan At-tathayyur.

Mengingat banyaknya manusia terjatuh dalam tathayyur dan jauhnya kebanyakan kaum muslimin dari ilmu ini, maka dengan memohon pertolongan Allah kita manfaatkan majelis ini dengan pembahasan hadits Ibnu Mas’ud Ra tentang tathayyur, semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua untuk senantiasa kembali kepada petunjuk Rasulullah saw dan bukan kepada tradisi kebanyakan manusia.

Takhrij hadits

Hadits Abdullah bin Mas’ud t diriwayatkan Abu Dawud dalam As-Sunan Kitab Ath-Thib (10/405 no. 3892 dengan ‘Aunul Ma’bud), At-Tirmidzi no. 1614, Ibnu Majah no. 3687, Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 909, Ath-Thahawi dalam Syarh Ma’anil Atsar (4/312), Ibnu Abi Ad-Dunya dalam At-Tawakkul no. 41, 42, dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/64, 65).

Semua meriwayatkannya melalui jalan Salamah bin Kuhail dari ‘Isa bin ‘Ashim dari Zirr bin Hubaisy dari ‘Abdullah bin Mas’ud t.

Hadits ini shahih, semua perawinya tsiqah. Walhamdulillah.

Berkata At-Tirmidzi: “Hadza haditsun hasanun shahih la na’rifuhu illa min haditsi Salamah bin Kuhail.” (Hadits ini hasan shahih kami tidak mengenal hadits ini kecuali dari haditsnya Salamah bin Kuhail.)

Berkata Al-Hakim “Hadza haditsun shahihun sanaduhu, tsiqatu ruwatuhu wa lam yukhrijaahu.” (Hadits ini shahih sanadnya, terpercaya rawi-rawinya akan tetapi Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkan -dalam Shahih keduanya).

Asy-Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits Ibnu Mas’ud Ra dalam ta’liq (komentar) beliau terhadap Musnad Imam Ahmad (5/253)

Demikian pula Asy-Syaikh Al-Imam Muhammad Nashirudin Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi (2/121) dan Ash-Shahihah (1/2/791) no. 429.

 

Mudraj[5]-nya Sebagian Lafadz Hadits Ibnu Mas’ud Ra.

Ada perbedaan pendapat dikalangan ahlul hadits mengenai sebagian lafadz hadits, apakah lafadz tersebut ucapan Rasulullah SAW, atau mudraj (tersisip) dari ucapan Ibnu Mas’ud t.

Lafadz yang dimaksud adalah ucapan:

و ما منا إلا… ولكن الله يذهبه بالتوكل

“Dan tidak ada di antara kita melainkan… (pernah terbersit dalam hatinya sesuatu dari tathayyur) akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakkal”.

Sebagian ulama -di antaranya Ibnul Qathan sebagaimana dinukil Al-Munawi dalam Faidhul Qadir- berpendapat bahwa semua lafadz hadits Abdullah bin Mas’ud t marfu’ kepada Rasulullah SAW, tidak ada yang mudraj. Pendapat ini dirajihkan Asy-Syaikh Al-Albani, rahimahullah.

Sebagian lagi berpendapat bahwa ucapan Rasulullah SAW hanya sampai pada kalimat:

الطيرة شرك، الطيرة شرك ،

Tathayyur itu syirik, tathayyur itu syirik.

Adapun perkataan sesudahnya bukan lagi ucapan Rasulullah SAW akan tetapi mauquf kepada Ibnu Mas’ud t yang tersisip pada sabda Rasulullah SAW.

Berkata At-Tirmidzi dalam As-Sunan menukilkan ucapan Al-Bukhari: “Saya mendengar Muhammad bin Isma’il[6] berkata: Sulaiman bin Harb mengatakan tentang hadits ini -yaitu ucapan “wa ma minna illa walakinnallaha yudzhibuhu bittawakkul.” Berkata Sulaiman, “Ucapan ini menurut saya adalah ucapan ‘Abdullah bin Mas’ud t.

Al-Mundziri rahimahullah menguatkan pendapat Al-Bukhari, beliau berkata: “Yang benar adalah apa yang dikatakan Al-Bukhari dan lainnya bahwa perkataan: “Wa Maa Minna illa … walakinnallaha yudzhibuhu bittawakkul” adalah ucapan Ibnu mas’ud yang mudraj (tersisip). At-Tarhib wat Targhib (4/647)

Pendapat terakhir inilah yang kemudian dirajihkan Al-Hafidz Ibnu Hajar sebagaimana beliau nyatakan dalam Fathul Bari (10/213).

Makna Ath-Thiyarah dan At-Tathayyur.

Menurut ahli lughah, sejarah dan tarikh, asal kata tathayyur diambil dari kebiasaan orang jahiliyah menghardik burung  (الطير ) dan melihat arah terbangnya ke arah kanan atau kiri[7], dari sini mereka mengambil kata tathayyur demikian Ibnu Abdil Barr rahimahullah mengatakan dalam At-Tamhid (9/282)

At-Tathayyur dan Ath-thiyarah, kedua kalimat tersebut datang dalam hadits Rasulullah SAW . Hadits Ibnu Mas’ud Ra di atas datang dengan lafadz Ath -Thiyarah, adapun lafadz tathayyur diantaranya terdapat dalam hadits Ibnu Abbas Ra tentang 70.000 orang dari ummat Rasulullah saw yang masuk jannah tanpa hisab tanpa adzab. Rasulullah saw bersabda tentang sifat mereka:

هم الذين لا يَسْتَرقون، ولا يكتوون، ولا يتطيرون، وعلى ربهم يتوكلون.

“Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak pula meminta untuk dikay tidak pula bertathayyur dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal.”[8]

Al-Qarafi rahimahullah membedakan makna dua lafadz tersebut, beliau berkata: At-Tathayyur adalah persangkaan jelek yang muncul pada hati, adapun Ath-Thiyarah adalah perbuatan yang dilakukan sebagai akibat dari persangkaan itu berupa larinya dia dari perkara yang akan ditempuhnya atau perbuatan yang lain. Al-Furuq (4/238)

Misalnya ada seorang hendak melakukan safar. Ditengah perjalanan dia melihat burung gagak bertengger disebuah pohon dengan suaranya. Munculah ketika itu rasa takut dan khawatir dalam hatinya, jangan-jangan akan menimpanya kesialan dalam perjalanan yang hendak ia lakukan. Menurut Al-Qarafi, perasaan takut dalam hati inilah yang disebut tathayyur, dan seandainya dia kemudian mengurungkan niatnya untuk safar dan kembali ke rumahnya karena rasa takut itu, perbuatannya membatalkan perjalanan sebagai akibat dari perasangka buruknya disebut Ath-thiyarah.

At-Tatayyur Tidak Terbatas Pada Burung.

Ath-Thiyarah atau At-tathayyur tidak terbatas pada keyakinan terhadap burung, akan tetapi lebih luas dari itu, bisa jadi seorang bertathayyur dengan benda-benda, suara, kejadian, tempat , waktu bahkan dengan manusia.

Berkata Ibnu Abdil Barr rahimahullah: “… kemudian tathayyur mereka gunakan untuk semua jenis hewan (bukan hanya burung), merekapun kemudian menganggap sial dengan orang yang buta, cacat telinganya atau segala perkara buruk lainnya (yang dilihat atau didengar) … At-Tamhid (9/282).

Sebagai contoh, sebagian masyarakat kita meyakini bahwa suara burung gagak adalah pertanda akan matinya seseorang atau datangnya musibah.

Ada lagi yang berkeyakinan bahwa lewatnya ular di jalan yang hendak ia lalui atau jatuhnya cicak pada dirinya adalah pertanda kejelekan.

Tidak ketinggalan pula sebuah keyakinan yang sangat masyhur, bahwa menabrak kucing adalah petaka bagi pengendara kendaraan dan pertanda kesialan hidupnya. Rasa kawatir meliputi, ketakutan pun menguasai dirinya saat menabrak hewan satu ini. Saking takutnya, segera kucing tersebut diambil, dikubur kemudian diadakan acara selamatan. Sementara jika yang ia tabrak adalah saudaranya, ia kabur dan tinggalkan jasadnya tidak terurus. Subhanallah, sejauh inikah tingkat ketergantungan manusia kepada seekor kucing ?

Sebagian pedagang ketika mereka mendapatkan pembeli pertamanya adalah seorang yang buta atau cacat segera ia tutup kedainya, karena kedatangan si cacat dan si buta sebagai pembeli pertama adalah pertanda kerugian di hari itu.

Termasuk tathayyur adalah prasangka bahwa hari atau bulan tertentu adalah bulan dan hari sial seperti bulan muharram, bulan shafar, hari kamis, tanggal 13 dan sebagainya.

Sungguh penyakit tathayyur banyak menjangkiti hati kebanyakan manusia dalam menentukan nasibnya, terlebih di zaman ini, di saat tauhid tidak lagi dikenal, di saat islam menjadi asing. Sadar atau tidak mereka menjauh dari Rabbul ‘Alamin. Subhanallahi ‘amma yusyrikun.

 

Hukum Tathayyur

Hadits Abdullah bin Mas’ud Ra menunjukkan haramnya tathayyur, dan perbuatan ini termasuk perbuatan syirik sebagaimana nas hadits.

الطيرة شرك، الطيرة شرك، الطيرة شرك،

Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik

Syirik yang dimaksud adalah syirik asghar (kecil), jika ia tetap meyakini bahwa segala manfaat dan madharat di Tangan Allah, adapun burung hanyalah sebab dan pertanda. Adapun jika keyakinannya mencapai tingkatan bahwa burung itulah yang mendatangkan manfaat dan madharat, berubahlah menjadi syirik Akbar.

Berkata Syaikh Shalih Fauzan: Tathayyur adalah syirik. Karena adanya ketergantungan pada selain Allah dan adanya keyakinan akan datangnya kejelekan dari makhluk yang tidak mampu mendatangkan untuk dirinya sendiri bahaya atau manfaat, (Al-Irsyad ila shahihil i’tiqad).

 

Bersitan Yang Tidak Dipedulikan

Lalu bagaimana dengan bersitan yang muncul dalam hati? Seorang terkadang tidak kuasa menghindari bersitan hati berupa rasa khawatir saat melihat sebuah kejadian dihadapannya. Dalam hadits di atas dikatakan:

و ما منا إلا. . . ولكن الله يذهبه بالتوكل

Dan tidak ada di antara  kita melainkan (pernah terbersit dalam hatinya), akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakkal.

Bersitan itu terkadang muncul, akan tetapi jika kemudian dia tidak hiraukan lalu ia serahkan semua urusannya kepada Allah, dia terus melakukan aktifitasnya dengan bertawakal kepada-Nya dan tidak mempedulikan sama sekali bersitan yang muncul, yang seperti ini Allah maafkan insyaallah, Rasulullah SAW bersabda:

إن الله تجاوز عن أمتي الخطأ والنسيان وما حدَّثتْ بها أنفسها ما لم تتكلّم أو تعمل

“Sungguh Allah mengampuni atas umatku apa yang mereka lakukan tidak sengaja, atau lupa, juga apa yang terbersit dalam jiwanya, selama tidak ia ucapkan atau ia lakukan.” Lihat I’anatul Mustafid (2/13)

Tathayyur adalah Penyakit Umat terdahulu

Tathayyur atau thiyarah bukan penyakit baru yang menimpa umat di akhir zaman, bahkan penyakit ini sesungguhnya peninggalan kaum musyrikin terdahulu.

Allah kisahkan umat-umat kafir seperti Fir’aun dan pengikutnya, mereka bertathayyur bahkan dengan manusia terbaik yaitu para nabi dan kaum mukminin, Allah berfirman:

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ

Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Ini adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu[9] kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” Al-A’raaf:131

Demikian pula penduduk sebuah negeri yang Allah utus kepada mereka rasul-rasul-Nya justru bertathayyur dengan rasul-rasul yang Allah utus. Allah berfirman:

قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ

Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami”. Yasin : 18

Mengobati Tathayyur dengan Bimbingan Rasul r

Tathayyur benar-benar merusak aqidah, ia tidak memiliki pengaruh sebagaimana yang disangkakan pelakunya, ia hanyalah khayalan dan suudzon (prasangka buruk) kepada Allah. Setiap hamba yang menginginkan keselamatan wajib membersihkan dirinya dari tathayyur, Saudaraku rahimakumullah, ada beberapa perkara yang harus ditempuh sebagai memupus keyakinan tathayyur. Diantara hal itu adalah:

a. Menguatkan Tauhid, dan bertawakal kepada Allah.

Obat ini ditunjukkan dalam hadits Ibnu Mas’ud:

الطيرة شرك، الطيرة شرك، ثلاثا، و ما منا إلا. . . ولكن الله يذهبه بالتوكل

Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik –Rasulullah r mengucapkannya tiga kali- . Dan tidak ada di antara kita melainkan … (pernah terbersit dalam hatinya) akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakkal.

Seorang hamba harus yakin bahwa tidak ada manfaat dan madharat kecuali di tangan Allah, bukan pada burung, atau kejadian dan suara yang ada dihadapannya. Abdullah bin Abbas Ra beliau berkata: Suatu hari aku berada di belakang Nabi saw lalu beliau bersabda , “Wahai anakku, aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, Niscaya Dia akan senantiasa menjagamu. Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan telah kering.”[10]

Inilah aqidah seorang muslim. Jika ia yakin bahwa kejelekan apapun tidak akan menimpanya jika Allah tidak berkehendak meskipun seluruh makhluk menghendakinya, ia akan tenang hanya kepada Allah dan tidak mungkin takut dengan suara burung yang didengarnya. Keyakinan bahwa di tangan Allahlah segala manfaat dan madharrat menepis segala bentuk tathayyur.

b. Mengingat bahaya Syirik.

Dengan mengetahui bahaya syirik seorang hamba akan mudah meninggalkan tathayyur dengan izin Allah. Semakin faham seseorang terhadap syirik dan akibatnya yang buruk di dunia dan akherat semakin besar takutnya untuk terjatuh ke dalamnya dan semakin mudah meninggalkannya.

Syirik adalah sebesar-besar kedzaliman dan dosa yang tidak diampuni. Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw penuh dengan keterangan akan bahaya, kejelekan dan kebusukannya. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. An-Nisa : 48

Sebagian ulama berpendapat bahwa kesyirikan dalam ayat ini bersifat umum, kecil atau besar, semuanya tidak diampuni. Syirik besar pelakunya akan kekal dalam neraka, adapun syirik kecil jika tidak ada kebaikan yang menutupnya dia harus dibakar di neraka jahannam hingga bersih dosa itu dari pelakunya, wal’iyadzubillah.

c.Shalat Istikharah.

Islam mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Dahulu kaum musyrikin menghardik burung untuk menimbang pekerjaan yang akan dilakukan, menggantungkan nasibnya pada burung. Saat cahaya islam menyelimuti bumi, disyareatkanlah Istikharah yang memadamkan tathoyyur ahlu jahiliyah.

Jabir bin Abdullah Ra. berkata, “Rasulullah mengajarkan kepada kami istikharah (minta dipilihkan Allah) dalam seluruh urusan, sebagaimana beliau mengajarkan surah Al-Qur’an kepada kami. Beliau bersabda, ‘Apabila salah seorang di antara kamu bermaksud akan sesuatu, hendaklah ia shalat dua rakaat selain fardhu. Kemudian hendaklah ia berdoa :’Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada Mu dari anugerah Mu yang agung. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa dan aku tidak kuasa. Engkau mengetahui dan aku tidak mengetahui, dan Engkaulah Zat Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (kemudian ia sebutkan hal itu) baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibat urusanku, (dunia atau akhiratku) maka tetapkanlah untukku, mudahkanlah bagiku, kemudian berkahilah bagiku padanya. Namun Jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (kemudian ia sebutkan hal itu) buruk bagiku dalam hal agama, kehidupan, dan kesudahan urusanku (atau dunia dan akhiratku), maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya. Dapatkanlah bagiku kebaikan di mana saja ia berada, kemudian ridhailah aku dengannya.”

Demikian seharusnya seorang mukmin, ketika dihadapkan pada sebuah permasalahan, memilih pekerjaan, memilih wanita yang akan dinikahi atau urusan lainnya hendaknya ia serahkan urusannya kepada Allah, memohon Allah memilihkan untuknya yang terbaik dengan shalat dan doa yang diajarkan Rasulullah SAW.

Demi Allah, sungguh tidak  akan menyesal seorang yang meminta pilihan kepada Allah dan menggantungkan urusan kepada-Nya. Adapun mereka yang meminta pilihan dengan tathayyur tidaklah yang ia peroleh melainkan kehinaan.

 

d.Berdoa agar diselamatkan dari syirik secara umum dan dari tatayyur secara khusus.

Di antara obat dari tathayyur  adalah berdoa kepada Allah. Doa adalah pintu segala kebaikan dan keselamatan dari segala kejelekan. Suatu saat Rasulullah saw bersabda kepada Abu Bakr Ash-Shiddiq Ra: “Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, sungguh syirik itu lebih lembut dari langkah semut, maukah aku ajari engkau (doa) jika engkau ucapkan akan diselamatkan dari syirik, sedikit atau banyak? ucapkanlah:

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari aku mensekutukanmu dalam keadaan aku mengetahuinya dan aku memohon ampunan-Mu atas apa yang aku tidak mengetahuinya.” (Al-Adabul Mufrad no. 716, dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Tauladan terbaik adalah para nabi dan Rasul, lihatlah nabi Ibrahim As berdoa kepada Allah untuk diri beliau dan keturunannya agar dijauhkan dari kesyirikan. Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ibrahim:35

Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Artikel Terkait:

  1. Puasa Muharram  dan Puasa Asyura

[1] Kalimat dalam tanda kurung adalah kalimat yang sengaja tidak dilafadzkan karena tidak disukai. Lihat: Aunul Ma’bud (10/406 )

[2] HR.Muslim (3/1567 no.1978) dari hadits Ali bin Abi Thalib Ra.

[3] HR.Muslim (2/644 no.934) dari Abu Malik Al-Anshari Ra

[4] HR. Muslim (2/818  no.1162) dari hadits Abu Qatadah Ra.

[5] Mudraj dalam istilah ahlul hadits adalah ucapan perawi baik shahabat atau orang sesudahnya yang tersisip pada matan hadits baik di awal, tengah atau akhir hadits tanpa adanya pembeda antara lafadz Rasulullah Saw dengan lafadz rawi, sehingga dianggap sebagai satu kesatuan dengan hadits.

[6] Yakni Al-Bukhari rahimahullah

[7] jika ia terbang ke arah kanan berarti pertanda kebaikan namun jika ia terbang ke kiri artinya pertanda kesialan

[8] HR. Al-Bukhari no.5705 dan Muslim no.220 dari Abdullah bin Abbas Ra.

[9] Yakni bertathayyur dengan Musa dan pengikutnya.

[10] Hr. At-tirmidzi, beliau berkata Hadits ini hasan shahih.

About salafartikel

bismillah

Posted on Maret 13, 2012, in Aqidah, Syarah Hadits. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: