Syarah Hadits Samurah, Tentang Zakat ’Urudh Tijarah (Zakat Perdagangan)

Berkata Al-Imam Abu Dawud rahimahullah:

حدثنا محمد بن داود بن سفيان، حدثنا يحيى بن حسان، حدثنا سليمان بن موسى -أبو داود-، حدثنا جعفر بن سعد بن سمرة بن جندب، حدثني خبيب بن سليمان، عن أبيه –سليمان- عن سمرة بن جندب t قال: أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ r كَان يَأمُرُنا أَن نُخْرِجَ الصَّدَقَةَ مِن الَّذِي نُعِدُّ للبيع

Berkata kepada kami Muhammad bin Dawud bin Sufyan, berkata kepada kami Yahya bin Hassan, berkata kepada kami Sulaiman bin Musa -Abu Dawud- berkata kepada kami Ja’far bin Sa’d bin Samurah bin Jundub, berkata kepadaku Khubaib bin Sulaiman dari bapaknya –Sulaiman- 

Dari Samurah bin Jundub[1], beliau berkata: “Amma ba’du, Sesungguhnya Rasulullah r memerintahkan kami untuk mengeluarkan sedekah (zakat) dari apa yang kita siapkan untuk diperdagangkan.”

Takhrij Hadits.

Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan hadits ini dalam kitabnya As-Sunan, Kitab Az-Zakat (2/95) no. 1562, beliau diamkan hadits ini tanpa memberikan komentar.

Melalui jalan Abu Dawud, Al-Baihaqi meriwayatkan hadits Samurah t dalam As-Sunan (4/146-147).

Dikeluarkan pula oleh Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya (2/309 cet-Dar Al-Ma’rifah) dari jalan Ja’far bin Sa’d dari Khubaib bin Sulaiman dari bapaknya dari Samurah t. dengan lafadz yang berbeda dengan riwayat Abu Dawud, diakhirnya dikatakan:

(… وَ كَانَ يَأمُرُنا أَن نُخْرِجَ مِن الرَّقِيقِ الذي يُعَدُّ لِلْبيع )

“… dan Rasulullah r memerintahkan kita mengeluarkan zakat dari budak yang dipersiapkan untuk diperdagangkan.”

Sanad hadits Samurah t ini dha’if (lemah), padanya ada Ja’far bin Sa’d, Khubaib bin Sulaiman dan bapaknya, Sulaiman.

Rawi pertama, dia adalah Ja’far bin Sa’d bin Samurah bin Jundub Al-Fazari, berkata Ibnu Hajar: “Laisa bil qawi.” (Dia bukan orang yang kuat).

Rawi kedua Khubaib, dia adalah Khubaib bin Sulaiman bin Samurah bin Jundub Abu Sulaiman Al-Kufi, berkata Ibnu Hajar: “Majhul.” (tidak dikenal).

Adapun rawi ketiga dia adalah Sulaiman bin Samurah bin Jundub Al-Fazari. Ibnu Hajar berkata tentangnya: “Maqbul.”[2]

Ibnu Hibban rahimahullah menyebutkan ketiganya dalam Ats-Tsiqat (6/137), (6/274) dan (4/312), namun penyebutan itu tidak bisa dijadikan hujjah untuk menguatkan hadits ini, mengingat manhaj (metode) beliau yang tasahul (bermudah) dalam menguatkan rawi-rawi yang majhul (tidak dikenal).[3]

Hadits Samurah t didha’ifkan Ibnu Hazm sebagaimana dalam Al-Muhalla, demikian pula Al-Hafidz Ibnu Hajar, dan Adz-Dzahabi.

Berkata Al-Hafidz: “Wa isnaduhu Layyin” (Dan sanad haditsnya lemah) Bulughul Maram (no.623). Juga berkata: “Fi isnadihi Jahalah.” (Dalam sanadnya ada rawi-rawi yang majhul) At-Talkhish (2/179)

Berkata Adz-Dzahabi: “Dia (yakni Ja’far bin Sa’d) memiliki hadits tentang zakat dari anak pamannya (yakni Khubaib). Ibnu Hazm menolak hadits ini dan berkata: Keduanya Majhul … kesimpulannya (hadits Samurah) sanadnya gelap ” Mizanul I’tidal (1/407).

Asy-Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani rahimahullah mendha’ifkannya dalam Irwaul Ghalil (3/310) no. 827. Wallahu ta’ala A’lam.

Makna Hadits

Hadits Samurah bin Jundub t menunjukkan kewajiban zakat atas barang-barang yang diperjualbelikan. Zakat inilah yang diistilahkan dengan zakat ‘urudh tijarah (barang-barang yang diperjualbelikan) –selanjutnya kita katakan zakat ‘urudh tijarah-.

Hadits Samurah t -seandainya sahih- tegas menunjukkan kewajiban tersebut karena adanya perintah dari Rasulullah r, dan asal dari perintah adalah wajib selama tidak ada dalil lain yang memalingkannya dari kewajiban.

Berkata Ash-Shan’ani (1182 H) rahimahullah: Hadits ini dalil atas diwajibkannya zakat pada barang dagangan. Dan dijadikan dalil pula atas wajibnya (zakat ‘urudh tijarah) firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ

Wahai orang-orang yang beiriman belanjakanlah sebagian hasil usahamu yang baik-baik  Al-Baqarah: 267

Berkata Mujahid: “Ayat ini turun berkenaan harta perdagangan.” Subulus Salam (2/136)

 Menjadikan hadits Samurah t sebagai dalil wajibnya zakat ‘urudh tijarah bisa diterima bagi mereka yang melihat keabsahan hadits ini, Ibnu Abdil Barr misalnya, beliau menghasankan hadits Samurah t, sebagaimana dinukilkan oleh Al-Imam Az-Zaila’i Al-Hanafi dalam Nashbur-Rayah (2/376).

Akan tetapi hadits ini dha’if, sehingga untuk membangun sebuah hukum dibutuhkan dalil lain yang menetapkan adanya zakat ‘urudh tijarah.

Ulama kita -semoga Allah merahmati mereka- telah berbeda pendapat dalam masalah zakat ‘urudh tijarah dengan perbedaan yang cukup kuat, sebagaimana pula mereka bersilang pendapat dalam beberapa masalah zakat lainnya.

Pembaca rahimakumullah, pada kesempatan yang berbahagia ini dengan mengharap rahmat Allah sejenak kita simak pendapat yang disebutkan dalam masalah zakat ‘urudh tijarah, semoga Allah memberi rahmat dan taufik kepada kita semua.

 

Pendapat Jumhur Ulama Tentang Zakat Tijarah

Jumhur ulama, diantaranya Imam empat, Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad melihat kewajiban zakat Tijarah, bahkan Ibnul Mundzir dalam Al-Ijma’ menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan ulama) akan kewajiban tersebut.

Pendapat ini dinisbatkan kepada sahabat Umar bin Al-Khaththab, puteranya dan juga Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhum.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: “Dan adapun barang-barang yang diperdagangkan, maka padanya ada zakat, berkata Ibnul Mundzir: Telah menjadi Ijma’ (kesepakatan) dikalangan ahlul ilmi bahwa pada barang-barang yang dimaksudkan untuk diperdagangkan ada atasnya zakat, jika telah genap satu tahun (haul).  

Pendapat ini diriwayatkan dari Umar dan puteranya, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum dan ini pula pendapat tujuh fuqoha’, Al-Hasan, Jabir bin Zaid, Maimun bin Mihran, Thawus, An-Nakha’i, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Abu Hanifah, Ahmad, Ishaq, dan Abu ‘Ubaid …” Majmu’ Fatawa (23/15)

Di atas pendapat jumhur tersebut, banyak ulama kini mengikutinya, seperti Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazz, Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin, Asy-Syaikh Sholeh Fauzan dan Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad, sebagaimana tampak pada beberapa fatwa mereka yang akan kita nukilkan insyaallah.

Dalil-dalil Jumhur

Pendapat jumhur, disandarkan pada dali-dalil di antaranya:

Pertama: Firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأرْضِ

“Wahai orang-orang yang beriman belanjakanlah sebagian hasil usahamu yang baik-baik , dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu…” Al-Baqarah: 267

Mujahid menafsirkan firman Allah (مَا كَسَبْتُم) dengan  tijarah (perdagangan).

Al-Bukhari membuat bab dalam Shahih-nya untuk ayat ini dengan judul, “Bab Sadaqatu Al-Kasbi Wat Tijarah.” (Bab zakat usaha dan perdagangan).

Kedua: Hadits Samurah bin Jundub t yang sedang kita bahas:

كان يأمرنا أن نخرخ الصدقة من الذي نعد للبيع

Sesungguhnya Rasulullah r memerintahkan kami untuk mengeluarkan sedekah (zakat) dari barang-barang yang kita siapkan untuk diperdagangkan.

Ketiga: Hadits Abu Dzarr Al-Ghifari t Rasulullah r bersabda:

… في الإبل صدقتها و في الغنم صدقتها و في البز صدقتها

“… Pada onta ada zakat, pada kambing ada zakat, dan pada baju/kain (yang diperdagangkan) ada zakat [4]

Keempat: Jumhur juga berdalil dengan Ijma’ (kesepakatan ulama) tentang zakat ‘urudh tijarah. Ijma’ (kesepakatan) ulama tersebut dinukilkan Abu ‘Ubaid Al-Qosim bin Sallam  (157-224 H) dan Ibnul Mundzir –Abu Bakr Muhammad bin Ibrahim- (242-318 H).

Abu ‘Ubaid rahimahullah berkata: “…kaum muslimin bersepakat bahwa zakat adalah fardh dan, wajib padanya (yakni pada ‘urudh tijarah).”  Al-Amwal (hal.434 no. 1202).

Ibnul Mundzir  rahimahullah berkata: “Dan mereka bersepakat (ijma’) bahwa barang-barang yang di perdagangkan ada zakat padanya jika genap satu tahun.” Al-Ijma’  (hal.85 no.137).

Berkata Ibnu Hubairah rahimahullah: “Dan mereka bersepakat bahwa dalam barang-barang yang diperdagangkan –apapun barangnya- ada zakat jika nilai/harganya telah mencapai nishab emas atau perak –padanya ada zakat seperempatpuluh.” Al-Ifshoh (1/208).

Kelima: Jumhur juga berdalil dengan beberapa atsar mauquf dan maqthu’ diantaranya:

a) Atsar Umar bin Al-Khaththab t. Dari Abu ‘Amr bin Himas Al-Laitsi dari bapaknya dia berkata:

مر بي عمر فقال: يا حماس أد زكاة مالك !  ما لي مال إلا جعاب و أدم فقال: قومها قيمة ثم أد زكاتها

Umar berjumpa denganku lalu berkata: “Wahai Himas, Keluarkan zakat hartamu!” Maka kukatakan: “Aku tidak memiliki harta kecuali kecuali Ji’ab[5] dan kulit. Berkata Umar: Hargailah barangmu kemudian keluarkan zakatnya.[6]

b) Atsar Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu’anhuma:

لَيْسَ فِي العُرُوضِ زَكَاةٌ إِلَّا مَا كَانَ لِلتِّجَارَةِ

Tidak ada zakat pada barang-barang kecuali apa yang diperjualbelikan.[7]

c) Atsar Umar bin Abdul Aziz rahimahullah beliau berkata pada sebagian amil-nya:

انظر من مر بك من المسلمين فخذ مما ظهر من أموالهم مما يديرون من التجارات من كل أربعين دينارا …

“Lihatlah siapa yang kau jumpai dari kalangan muslimin, ambilah apa yang tampak dari harta-harta mereka yang mereka kelola dalam perdagangan, dari masing-masing empatpuluh dinar diambil zakatnya satu dinar… [8]

Keenam: Sabda Rasulullah r dalam hadits Umar bin Al-Khaththab t:

إنما الأعمال بالنيات و إنما لكل امرء ما نوى

“Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan dari amalannya sesuai apa yang dia niatkan.” Muttafaqun’alaih

Sisi pendalilan, dikatakan: Orang yang berdagang tidak menjadikan barang dagangannya sebagai maksud, tetapi tujuan dan niat sesungguhnya adalah uang (mencari laba). Maka barang-barang itu sesungguhnya uang yang diharapkan labanya. Demikian apa yang ada pada niatan para pedagang.

Dan dikatakan, seandainya uang yang disimpan oleh orang-orang biasa -tanpa ada harapan tambahan- itu saja ada zakatnya jika telah mencapai nishap dan genap satu tahun, lebih-lebih lagi harta orang-orang kaya para pedagang yang terus berkembang dan diniatkan labanya tentu masuk dalam zakat.

Demikian beberapa dalil yang dikemukakan Jumhur. Allahu a’lam.

 

Bagaimana Menghitung Zakat Yang Dikeluarkan dari Harta Perdagangan?

Jika telah genap satu tahun (haul) sejak meniatkan atas suatu barang untuk diperdagangkan hendaknya dilihat barang dagangannya untuk ditetapkan berapa nilai/harganya saat itu. Nilai/harga barang dagangannya ini kemudian ditambahkan dengan uang tunai yang ada. Jika jumlah konversi barang dan uang tunai yang dimilikinya telah mencapai salah satu nishab emas atau perak maka dikeluarkan zakatnya (1/40) atau 2,5 persen.

Beberapa keterangan penting mengenai haul dan perhitungan zakat uang termasuk ‘urudh tijarah dapat dilihat kembali pada Majalah kita Vol.IV/No.45/1429H/2008 hal 55-59, rubrik Problem Anda, dengan judul Zakat Uang.

Ditanya Syaikh Abdul Aziz bin Bazz rahimahullah tentang seorang yang memiliki usaha berbagai jenis perdagangan, seperti baju-baju, bejana-bejana atau lainnya, bagaimana tatacara dia mengeluarkan zakatnya?

Beliau menjawab: Wajib atasnya mengeluarkan zakat atas barang-barang yang diperdagangkan jika telah sempurna haul-nya (genap satu tahun) dan (nilai/harga barang dagangannya) mencapai nishab emas atau perak, berdasarkan hadits-hadits dalam masalah ini, diantaranya hadits Samurah bin Jundub dan Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhuma. Fatawa Bin Bazz (14/159)

Dalam kesempatan lain beliau ditanya tentang bagaimana cara mengeluarkan zakat atas tanah atau sejenisnya (yang diperdagangkan), cukupkah zakat dikeluarkan sekali saat terjualnya barang setelah beberapa tahun sebelumnya tidak terjual?

Beliau menjawab: “Jika tanah atau sejenisnya seperti  rumah, mobil atau lainnya diperdagangkan, maka diwajibkan zakat setiap tahunnya sesuai nilai/harga barang tersebut saat sempurnanya haul, dan tidak boleh mengakhirkan zakat kecuali bagi yang tidak mampu mengeluarkan zakatnya karena tidak ada harta kecuali barang dagangan, (dalam keadaan ini) boleh baginya menunda zakat hingga terjualnya barang, dan (jika terjual) dia tunaikan zakat-zakat  dari semua tahun (yang belum dia bayarkan zakatnya), masing-masing tahun dikeluarkan zakatnya sesuai nilai/harga barang di tahun itu …”  Fatawa Bin Bazz (14/161)

Ditanya Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. tentang seorang yang membeli sebidang tanah untuk tempat tinggal. Tiga tahun kemudian dia berniat untuk memperdagangkan tanah tersebut, apakah ada zakat atas tanah pada tiga tahun yang telah berlalu (yang tidak dia niatkan untuk diperdagangkan)?

Beliau menjawab: “Tidak wajib zakat padanya karena pada tiga tahun yang telah lalu dia menghendaki tanahnya untuk ditinggali, akan tetapi sejak dia niatkan tanah tersebut untuk diperdagangkan dan mengembangkan harta mulailah dihitung haulnya, jika telah sempurna haulnya (sejak dia niatkan) maka saat itulah wajib atasnya zakat.” (Fatawa Arkanil Islam hal. 433)

Pendapat Tidak Wajibnya Zakat ‘Urudh Tijarah dan Dalil-Dalilnya.

Setelah kita melihat dalil-dalil jumhur dalam masalah zakat ‘urudh tijarah, tiba saatnya kita melihat dalil-dalil ulama yang melihat tidak wajibnya zakat tersebut. Pendapat ini diikuti oleh Dawud Adz-Dzahiri, Ibnu Hazm, dan diriwayatkan dari Imam Malik.[9]

Kepada jumhur ulama dikatakan, bagaimana kalian mewajibkan zakat atas ‘urudh tijarah? Bukankah Rasulullah r telah membatasi zakat pada jenis-jenis harta tertentu yaitu: emas, perak, hewan ternak (onta, sapi, kambing, dan hasil bumi (gandum dan kurma)? Bukankah Rasulullah r bersabda:

ليس فيما دون خمسة أوسق صدقة، و ليس فيما دون خمس ذود من الإبل صدقة

“Tidak ada zakat atas (gandum dan kurma) yang kurang dari lima wasaq, dan tidak ada zakat atas onta yang kurang dari lima ekor.[10]

Dalam hadits ini Rasulullah r telah membatasi jenis-jenis harta yang diwajibkan atasnya zakat, oleh karenanya tidak ada zakat pada jenis-jenis lain seperti kuda atau budak. Bahkan ini adalah nash dari sabda Rasulullah r yang lain:

ليس على المسلم في فرسه و غلامه صدقة

“Tidak ada atas seorang muslim zakat bagi kuda dan budaknya.” [11]

Jumhur menjawab: Kami memandang bahwa hadits-hadits di atas tidak meniadakan adanya zakat ‘urudh tijarah.

Hadits-hadits tersebut hanya menunjukkan pembatasan wajibnya zakat dilihat dari dzat (jenis harta) yaitu onta, sapi, kambing dan hasil panen berupa kurma dan gandum, dan tidak menafikan zakat yang melihat nilai/harga barang dan bukan jenis barangnya.

Sebagai contoh, seorang memiliki jenis hewan ternak yaitu onta sebanyak empat ekor, maka pada onta ini tidak ada kewajiban zakat meskipun nilai/harganya melebihi nishab emas atau perak, karena dalam zakat hewan ternak, yang dilihat adalah dzat (jenis) dan bukan nilai/harga barang.

Demikian pula seandainya seorang memiliki hewan-hewan ternak kambing ternak 25 ekor, onta 3 ekor, dan sapi 10 ekor, tidak ada zakat atasnya, meskipun jika semuanya digabung tentu melebihi nilai nishab emas dan perak.

Berbeda dengan zakat ‘urudh tijarah, zakat ini tidak melihat dzat/jenis barangnya akan tetapi melihat nilai/harga dari barang dagangan tersebut. Sehingga difahami bahwa zakat ‘urudh tijarah adalah bentuk zakat lain. Maka zakat ‘urudh tidak termasuk yang dinafikan hadits-hadits di atas. Allahu a’lam.

Zakat ‘urudh ditetapkan dengan dalil-dalil lain yang telah kami (jumhur) kemukakan, oleh karena itu zakat ‘urudh tijarah tidak masuk dalam penafian. Berkata Abdullah bin Umar t:

لَيْسَ فِي العُرُوضِ زَكَاةٌ إِلَّا مَا كَانَ لِلتِّجَارَةِ

Tidak ada zakat pada barang-barang (dari selain yang ditetapkan nash) kecuali apa yang diperjualbelikan.[12]

Tentang hadits tidak adanya zakat pada kuda jumhur berkata: Maksud dari kuda yang tidak ada zakatnya adalah kuda yang disiapkan untuk dipakai –dan ini tidak ada khilaf- berbeda dengan kuda yang diperjual belikan, maka zakat ‘urudh tijarah ditetapkan pada kuda-kuda tersebut dengan dalil lain di antaranya ijma’, dan di atas inilah ahlul ilmi berpendapat.

Berkata At-Tirmidzi (209-279 H): “Hadits Abu Hurairah Hadits Hasan Shahih, dan di atas inilah Ahlul ilmu beramal, bahwasannya tidak ada zakat atas kuda peliharaan, demikian pula budak-budak jika digunakan untuk khidmah, adapun jika untuk tijarah (diperjualbelikan) maka ada zakat atas harga mereka jika telah genap haulnya.” Sunan At-Tirmidzi (3/15)

Demikian perkataan At-Tirmidzi setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah t :

لَيْسَ عَلَى الْمُسْلِمِ فِي فَرَسِهِ وَ لَا فِي عَبْدِهِ صَدَ قة

“Tidak ada atas seorang muslim zakat bagi kuda dan budaknya.”

Dalil Kedua: Kami tidak menetapkan zakat ‘urudh tijarah, berpegang pada Baro`ah Ashliyyah, yaitu pada asalnya harta seorang muslim terjaga dan tidak boleh diambil kecuali dengan dalil syar’i.

Sementara itu kita tidak temukan adanya dalil shahih yang marfu’ dari Rasulullah r secara sarih (jelas) mewajibkan zakat ‘urudh tijarah.

Hadits Samurah bin Jundub t demikian pula hadits abu Dzarr t yang merupakan nash dalam masalah zakat ‘urudh tijarah, keduanya lemah dan tidak sah dari Rasulullah r.

Maka seharusnya dalam masalah harta kaum mukminin, kita kembali kepada asal (pokok) yaitu maksum/terjaganya harta mereka sebagaimana ditunjukkan dalam khutbah Rasulullah r saat haji wada’, beliau bersabda:

فإن دماءكم و أموالكم و أعراضكم بينكم حرام كحرمة يومكم هذا في شهركم هذا في بلدكم هذا، ليبلغ الشاهد الغائب …

“Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, kehormatan-kehornatan kalian, diantara kalian haram,  sebagaimana haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, di negeri kalian ini. Hendaknya yang hadir menyampaikan pada yang tidak hadir… “ Muttafaqun ‘Alaih

Jumhur menjawab bahwa dalil-dalil yang kami kemukakan cukup untuk menetapkan disyareatkannya zakat ‘urudh tijarah.

Demikian beberapa dalil pendapat kedua dan munaqasyah (tanggapan) jumhur. Jawaban-jawaban atas dalil-dalil jumhur dapat dilihat lebih lanjut pada munaqasyah Ibnu Hazm atas dalil-dalil jumhur dalam kitabnya Al-Muhalla.

Khatimah

Adalah Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Hafidzahullah, beliau merajihkan pendapat jumhur, diantara yang sering beliau ucapkan dalam majelis beliau bahwa zakat tijarah adalah ijma’ (kesepakatan) tujuh fuqaha’ Madinah di masa tabi’in mereka adalah: Sa’id bin Al-Musayyab, ‘Urwah bin Az-Zubair, Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash-Shiddiq, ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah, Kharijah bin Zaid, Sulaiman bin Yasar dan Abu Salamah bin Abddirrahman bin ‘Auf.

Pembaca rahimakumullah, ada kecenderungan hati untuk menguatkan pendapat jumhur, pendapat yang diikuti kibarut tabi’in sebagai generasi terbaik sesudah sahabat, terlebih ini adalah pendapat Umar bin Al-Khattab, Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum, dan sepertinya tidak ada riwayat shahabat lain yang menyelisihinya –wal ‘ilmu ‘indallah- bahkan dinukilkan ijma’.

Adapun bagi mereka yang tidak berpendapat akan wajibnya zakat perdagangan, hendaknya memperbanyak sedekah tanpa ukuran yang ditetapkan.

Sedekah tersebut dikeluarkan sesuai dengan kerelaan sebagaimana ditunjukkan sabda Rasulullah r yang memerintahkan para pedagang mengeluarkan sedekah -secara mutlak (bebas)- dari harta perdagangannya, sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Sunan-nya dari sahabat Qais bin Abi Gharzah t bahwasannya Rasulullah r bersabda:

يَا مَعْشَرَ التُّجَّار إِِنَّ الشَّيْطَانَ وَ الإثم يَحْضُران البيع فشوبوا بيعكم بالصدقة

“Wahai sekalian pedagang, sesungguhnya setan dan dosa menghadiri jual-beli, maka padukanlah jual beli kalian dengan bersedekah.” (Shahih, diriwayatkan At-Tirmidzi dalam As-Sunan (3/514), beliau berkata: “Hadits Qais bin Abi Gharzah t adalah hadits yang hasan shahih.”) [13]

Peringatan Penting.

Apa yang kita bahas mengenai zakat ‘urudh tijarah, mengingatkan kita akan satu pendapat aneh yang dibanggakan sebagian manusia saat ini. Mereka mewajibkan zakat atas seluruh barang kekayaan yang dimiliki seorang meskipun bukan barang dagangan.

Mereka datangi pemilik harta lalu menghitung semua kekayaan yang dimiliki berupa rumah tempat tinggal, mobil, motor, sepeda, bahkan perabot rumah tangga berupa karpet, perkakas dapur, gelas, panci, dan semua yang dimiliki dari barang-barang yang digunakan sehari-hari tidak luput dari perhitungan. Barang-barang tersebut didata lalu di hargai dengan nilai uang untuk kemudian dikeluarkan zakatnya sebanyak 2.5 persen.

Subhanallah, ketahuilah sesungguhnya zakat yang seperti ini tidak dikenal dalam islam.

Mereka berdalil dengan keumuman dalil seperti firman Allah ta’ala:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”  At-Taubah 103

 Mereka berkata: “Perabot rumah tangga dan seluruh yang dimiliki juga termasuk harta yang disebutkan secara umum dalam ayat ini, maka wajib juga diambil zakatnya.”

Kepada mereka kita katakan, bahwa pendapat ini menyelisihi sabda-sabda Rasulullah r  seperti:

ليس على المسلم في فرسه و غلامه صدقة

“Tidak ada atas seorang muslim zakat bagi kuda dan budaknya.”  Dan sabda-sabda lainnya.

Dan sesungguhnya pendapat ini telah keluar dari kesepakatan kaum muslimin dalam masalah zakat, dan pelakunya telah mengambil harta yang makshum tanpa hak. Allahul Musta’an.

Berbeda dengan zakat ‘urudh tijarah, zakat ini adalah zakat yang masyhur dikalangan ahlus sunnah dan ulama mereka, dan masyhur ditengah salaf, yakni sahabat, tabi’in dan atba’ut tabi’in.

Wallahu ta’ala a’lam, washalallahu ‘ala Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.


[1] Beliau adalah sahabat yang mulia, Samurah bin Jundub bin Hilal Al-Fazari abu Sa’id t meninggal tahun 58 H.

[2] “Maqbul” menunjukkan dha’ifnya rawi- ini adalah istilah ibnu Hajar dalam At-Taqrib. maksud ucapannya “Maqbul” yaitu: “Maqbulun Haitsu Yutaba’ wa illa fa layyinul Hadits.” (Diterima jika diikuti, jika tidak dia lemah)

[3] Tetapi perlu disini kita ingatkan bahwa bukan berarti semua hukum Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqah tidak bisa dipakai dan dinyatakan beliau tasahul. Ada rincian sebagaimana dapat dilihat dalam pembahasan ilmu musthalah, diantaranya apa yang disebutkan Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimi rahimahullah dalam kitabnya At-Tankil (1/437-438) rujuklah kepadanya.

[4] HR. Al-Hakim  (1/388), dan dihasankan Ibnu Hajar dalam Ad-Diroyah (1/260). Tapi yang benar, sanad hadits ini dha’if di dalamnya ada Musa bin ‘Ubaidah, Dha’if.. Dalam sanad Al-Hakim memang tidak tertulis Musa bin ‘abidah, kesalahan ini dari Al-hakim atas dasar sanad Al-Hakim inilah –wallahu a’lam- Al-Hafidz menghasankannya. Dan beliau memiliki udzur dalam penghasanan hadits. (Lihat Silsilah Adh-Dha’ifah (3/323-326) no. 1178)

[5] (جعاب ) bentuk jamak dari  (جعبة) yaitu busur yang digunakan untuk melempar anak panah. Lihat: An-Nihayah (1/274)

[6] Diriwayatkan Asy-Syafi’i dalam Al-Musnad no. 633, Ad-Daruquthni dalam As-Sunan (2/125), Al-Baihaqi dalam Al-Kubro (4/247). Atsar ini dha’if, karena Abu ‘Amr bin Himas dan bapaknya, Himas, keduanya majhul (tidak dikenal).

[7] Diriwayatkan Asy-Syafi’I dalam Al-Umm juga Al-Baihaqi  (4/147) dan dishahihkan Al-Albani dalam Tamamul Minnah hal 364.

[8] Atsar Maqthu’ ini dikeluarkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ (1/205-206) dengan sanad yang shahih.

[9] Pendapat ini diikuti dan dikuatkan Asy-Syaukani (Lihat Ad-Durarul Bahiyah hal. 50), Siddiq Hasan Khan (lihat Ar-Raudhah An-Nadiyah (1/192), Al-Albani (lihat Tamamul Minnah). Dan Syaikh Muqbil Al-Wadi’I rahimahumullah.

[10] HR. Al-Bukhari dalam Kitab Zakat (3/326-327) dengan syarah Fathul Bari. dan Muslim (2/65) no. 982.

[11] HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah t

[12] Lihat catatan kaki no 7

[13] Dikeluarkan pula oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (18/357) no. 913 dan disahihkan Al-Albani dalam Al-Misykah no. 2798

Posted on Maret 17, 2012, in Syarah Hadits. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: