Dibalik Topeng Teori Evolusi

Abu Muhammad, Muhammad Rijal Lc

Dari kebebasan berfikir berlandas kekufuran munculah teori evolusi. Hak-hak Allah I, rasul-rasul-Nya, bahkan seluruh manusia dilecehkan dengan teori ini. Berita Allah dan Rasul-Nya r tentang penciptaan Adam dan Hawa pun ditolak. Anehnya, teori ini tetap eksis dan disebarkan di tengah kaum muslimin melalui kurikulum-kurikulum pendidikan. Sabda Rasulullah r berikut perlu kita renungkan sebagai timbangan syariat yang memutuskan kebatilan teori ini.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ t عَنِ النَّبِيِّ r قَالَ: خَلَقَ اللهُ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّوْنَ ذِرَاعًا ثُمَّ قَالَ : (( اذْهَبْ فَسَلِّمْ عَلَى أُولَئِكَ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ فَاسْتَمِعْ مَا يُحَيُّوْنَكَ تَحِيَّتَكَ وَتَحِيَّةَ ذُرِّيَّتكَ )) فَقَالَ: (( السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ )) فَقَالُوْا: (( السَّلاَمُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللهِ )) فَزَادُوهُ وَرَحْمَةُ اللهِ فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ فَلَمْ  يَزَلِ الْخَلْقُ يَنْقُصُ حَتَّى الآنَ

Artinya: “Dari Abu Hurairah t dari Nabi r beliau bersabda: Allah menciptakan Adam, dan tingginya enam puluh dzira’ (hasta), kemudian Allah berfirman kepada Adam: “Pergilah, ucapkan salam kepada mereka para malaikat, lalu dengarlah salam mereka kepadamu, sebagai salammu dan salam keturunanmu!” Maka Adam berkata: “Assalamu’alaikum.” Malaikat-malaikat Allah menjawab: “Assalaamu’alaika warahmatullah” -mereka menambahnya dengan “Warahmatullah”. Maka semua orang yang masuk jannah (ketinggiannya) seperti Adam. Dan manusia terus menerus berkurang (ketinggiannya) hingga saat ini.”

Takhrij Hadits.

Hadits Abu Hurairah t yang mulia di atas  shahih dan tergolong hadits-hadits muttafaqun ‘alaihi. Imam Abdurrazaq bin Hammam Ash-Shan’ani mengeluarkannya dalam Al-Mushannaf, Kitabul Jami’ Bab Kaifa As-Salam war Radd (10/384) (no. 19435) dari jalan Ma’mar bin Rasyid dari Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah t.[1]

Melalui jalan Abdurrazaq, imam-imam ahlul hadits mengeluarkan hadits Abu Hurairah t, di antara mereka adalah Imam Ahmad bin Hanbal dalam Al-Musnad (2/315), demikian pula Imam Al-Bukhari di dua tempat dalam Shahih-nya, Kitab Al-Anbiya ‘Alaihimush Shalatu was Salam, Bab Khalqu Adam Shalawatullahi ‘alaihi wa Dzurriyatihi (no. 3326) dan dalam Kitab Al-Isti`dzan, Bab Bad`us Salam (11/3) (no. 6227) dengan syarah Ibnu Hajar Al-Asqalani, juga dalam Al-Adabul Mufrad (no. 978). Adapun Imam Muslim, beliau mengeluarkannya dalam Ash-Shahih Kitab Al-Jannah wa Shifatu Na’imiha wa Ahliha (17/178) dengan syarah An-Nawawi, juga dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Kitab At-Tauhid (1/93-94), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (no. 6162), Ibnu Mandah dalam Ar-Radd ‘alal Jahmiyah (hal.41-42) dan Al-Baihaqi dalam Al-Asma wash-shifat (hal.289-290).

Selain dari jalan Abdurrazaq, hadits ini juga diriwayatkan At-Tirmidzi dalam As-Sunan (no. 3368), An-Nasa`i dalam ‘Amalu Al-Yaum wal Lailah (no.218 & 220), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (no. 6167), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/64) dan Al-Baihaqi dalam Al-Asma wash-shifat (hal. 324-325), semuanya dari jalan Al-Harits bin Abi Dzubab dari Sa’id bin Abi Sa’id Al-Maqburi dari Abu Hurairah t.

Hadits dengan jalan-jalan di atas diriwayatkan dengan beberapa perbedaan lafadz, adapun lafadz hadits yang kita sebutkan adalah lafadz Al-Imam Al-Bukhari dalam Ash-Shahih Kitab Al-Anbiya. Wallahu ta’ala a ‘lam.

 

Makna Hadits

Hadits ini memberikan faedah kepada kita tentang penciptaan Adam u dalam bentuk yang sempurna, fisik dan akalnya. Dari sisi fisik, Allah ciptakan beliau dengan kesempurnaan badan dan anggota tubuh. Allah ciptakan Adam u dengan tinggi enampuluh hasta, sebagaimana sabda Rasulullah r:

خَلَقَ اللهُ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّوْنَ ذِرَاعًا

“Allah menciptakan Adam, dan tingginya enam puluh dzira’ (hasta).

Adapun dari sisi akal dan rohani, Allah ciptakan beliau dalam keadaan memiliki akal yang sempurna, mampu mengenal dan memahami sebagaimana ditunjukkan hadits Abu Hurairah t ini, dimana Allah memerintahkan Adam u untuk pergi menuju sekelompok malaikat untuk mengucapkan salam kepada mereka dan diperintahkan untuk memperhatikan jawaban malaikat atas salam yang diucapkannya.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa Adam u tidak seperti keturunannya dalam proses penciptaan. Allah ciptakan dengan ketinggian enam puluh hasta tanpa tahapan yang dilalui sebagaimana anak turunnya, dimana mereka mengalami perkembangan dimulai dari nutfah (air mani) kemudian ‘alaqah (segumpal darah) kemudian mudhghah (segumpal daging), sebagaimana hal ini Allah firmankan di awal surat Al-Mu’minun[2], dan Rasulullah r sabdakan dalam hadits Abdullah bin Mas’ud t tentang proses terbentuknya manusia dalam rahim ibunya.[3]

Rasulullah r mengabarkan bahwa ketinggian Adam tidak berlanjut pada seluruh keturunannya, akan tetapi sebagaimana dinyatakan dalam hadits bahwa keturunan Adam u akan terus berkurang tinggi tubuhnya hingga ketinggian yang kita saksikan pada ummat Nabi Muhammad r.[4]

Perkara lain yang bisa kita ambil faedahnya adalah kabar Rasulullah r bahwa ahlul jannah akan masuk ke dalamnya dengan ketinggian enam puluh hasta, serupa dengan bapak mereka Adam u. Dalam hadits lain Rasulullah r bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ عَلَى صُوْرَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَالَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ عَلَى أَشَدِّ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَة لاَ يَبُوْلُونَ وَلاَ يَتَغَوَّطُونَ وَلاَ يَتْفُلُوْنَ وَلاَ يَمْتخطون أَمْشَاطُهُمُ الذَّهَبُ وَرشحهم الْمِسْكُ وَمَجَامِرُهُم الألوة وَأَزْوَاجُهُمْ الْحُوْرُ الْعِينُ عَلَى خَلْقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ عَلىَ صُورَةِ أَبِيهِ آدَمَ سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي السَّماءِ

“Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk jannah seperti bulan di malam purnama, dan rombongan berikutnya bercahaya seperti bintang-bintang yang sangat gemerlap laksana mutiara di langit, mereka tidak kencing, tidak buang air besar, tidak meludah tidak pula membuang ingus, sisir-sisir mereka dari emas, keringat mereka misik dan pengasapan mereka adalah al-aluwwah (kayu gaharu), istri-istri mereka Al-Hurul ‘iin (bidadari-bidadari bermata jeli) dengan perawakan yang serupa, sama dengan bapak mereka Adam, setinggi enampuluh hasta.”[5]

 

Ayat-ayat Al Qur’an Tentang Kesempurnaan Penciptaan Adam.

Pembaca rahimakumullah (semoga Allah merahmati Anda), disamping hadits Abu Hurairah t di atas, ayat-ayat Al-Quran telah menerangkan kesempurnaan penciptaan Adam dan keturunannya. Allah I berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنا الإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.QS. At-Tiin :4

Asy-Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di berkata tentang ayat ini: Maksudnya Allah telah ciptakan manusia dengan penciptaan yang sempurna, serasi susunan anggota badannya, memiliki tubuh tegak, tidak terluput sedikitpun dari apa yang dibutuhkan, baik perkara zhahir atau batin. (Taisir Al-Karimir Rahman (7/648))

Dari Ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits-hadits Rasulullah r tentang Adam baik berkaitan dengan proses penciptaan, bentuk fisik atau waktu penciptaannya[6] dapat difahami bahwa Allah menciptakan Adam dengan sempurna, dan Allah muliakan beliau dengan berbagai kemuliaan, di antara kemuliaan tersebut:

Pertama: Allah I ciptakan Adam dengan kedua tangan-Nya sebagaimana ditunjukkan dalam firman Allah:

قَالَ يَإِبْلِيْسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِيْنَ

Allah berfirman: “Hai Iblis apa yang menghalangimu sujud kepada (Adam) yang Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” QS. Shad : 75.

Kedua: Allah ajarkan ilmu nama-nama segala sesuatu kepada Adam, sebagaimana Allah berfirman:

وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya. Kemudian mengemukakannya kepada Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah (oleh kalian) kepada-Ku nama benda-benda itu jika kalian memang orang-orang yang benar!”  QS.Al Baqarah: 31

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah: “Dalam ayat ini ada kemuliaan Adam atas malaikat, dengan apa yang Allah khususkan untuknya berupa ilmu nama-nama segala sesuatu yang tidak (diberikan) untuk malaikat.” (Tafsir Ibnu Katsir (1/94))

Ketiga: Allah perintahkan malaikat untuk sujud kepadanya. Allah berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآَدمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الكَافِرِيْنَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam.” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabbur dan adalah dia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” QS. Al Baqarah: 34

Tiga kemuliaan ini disebutkan Rasulullah r dalam hadits syafa’at yang masyhur, ketika manusia berada di mahsyar mendatangi Adam u, mereka berkata kepadanya:

خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِ وَأَسَجَدَ لَكَ مَلاَئِكَتَهُ وَعَلَّمَكَ أَسْمَاءَ كُلَّ شَيءٍ

Artinya: “Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk sujud kepadamu dan mengajarkan kepadamu nama-nama segala sesuatu.”[7]

Keempat: Allah tempatkan Adam dan Hawa di jannah-Nya, sebelum Allah turunkan ke muka bumi karena dosa yang dilakukan keduanya. Allah I berfirman:

وَقُلْنَا يَاآدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ   

Artinya: “Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu jannah ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS.Al Baqarah: 35)

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin: “Di antara faedah-faedah ayat ini adalah Allah memberikan nikmat kepada Adam dan Hawa, dimana Allah tempatkan keduanya dalam jannah.” (Tafsir Surat Al-Baqarah (1/130))

Jannah yang ditempati Adam u adalah Jannatul khuldi yang akan dimasuki anak turunnya dari kalangan orang-orang yang beriman setelah hari kebangkitan, sesudah mereka melewati Ash-Shirat (jembatan), bukan jannah yang lain. Inilah yang ditunjukkan dzahir Al Kitab dan As-Sunnah. Berkata Ibnul Qayyim dalam Mimiyah-nya[8]:

   فحيَّ على جنات عدنٍ فإنها  *  منازلك الأولى وفيها المخيم

Maka kemarilah menuju jannah ‘Adn! Sesungguhnya dia adalah * Tempat tinggalmu pertama, dan di dalamnya ada kemah-kemah

Maksud ucapan Ibnul Qoyyim: “Tempat tinggalmu pertama” dalam bait sair, bahwasannya jannah yang akan dimasuki kaum muslimin setelah hari kebangkitan adalah jannah yang pertama kali dahulu ditempati Adam u  bapak manusia.

 

Teori Darwin Pelecehan Terhadap Hak Rasul-rasul Allah dan Manusia.

Di tengah maraknya kampanye hak asasi manusia, ada hal yang seharusnya kita tanyakan kepada mereka para pejuang HAM dan tentunya pertanyaan ini juga untuk kita masing-masing, sudahkah hak Allah dan rasul-rasul-Nya terpenuhi ? Atau justru slogan hak asasi manusia dijadikan sebagai alat untuk mengesampingkan hak Allah dan Rasul-Nya r?.

Ketika kita tilik, ternyata HAM telah disalahgunakan untuk mengeser hak-hak Allah dan Rasul-Nya r. Sebagai misal, di saat Allah telah menetapkan syareat berkaitan dengan hukum waris, dimana Allah menentukan bahwa bagian anak perempuan separuh dari anak laki-laki, dengan dalih pembelaan hak dan keadilan, sebagian manusia menyalahkan hukum Allah dan Rasul-Nya r seraya mengatakan bahwa hukum waris islam tidak adil, hukum waris islam tidak lagi relevan di zaman emansipasi, tidak lagi cocok untuk masyarakat modern dan berkembang seperti saat ini.

Kebebasan berfikir tanpa batasan syareat adalah contoh lain dari bentuk pelecehan terhadap hak-hak Allah dan Rasul-Nya r. Kebebasan ini menghasilkan pemikiran dan teori-teori yang menyelisihi syareat Allah dan menolak kabar dari Allah dan Rasul-Nya r. Penyelisihan ini tidak boleh dibela atau dibiarkan dengan dalih kebebasan berfikir dan berekspresi, bahkan sebaliknya teori-teori ini harus diperangi dan dihukumi dengan timbangan syar’i.

Para pembaca rahimakumullah, hadits Abu Harairah t dan ayat-ayat di atas menunjukkan kemuliaan Adam u yang wajib kita yakini. Demikian kewajiban seorang mukmin ketika mendengar ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah r. Akan tetapi kemuliaan Adam u telah dilecehkan dengan kelancangan manusia yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya r. Bukan hanya Adam u bahkan seluruh nabi dan bani Adam dilecehkan dengan teori evolusi yang dicetuskan pemikirnya seorang kafir Charles Darwin dalam tulisannya “On The Origion of Species by Means of Natural Selection” (th. 1859), dan pendahulu-pendahulunya. Dalam teorinya ini dia nyatakan bahwa manusia pertama bukanlah sosok manusia sempurna yang memiliki kesempurnaan akal dan badan.

Kita tidak terlalu heran jika teori ini berasal dari orang kafir yang tidak mau mengenal Allah dan Rasul-Nya r bahkan berpaling dari al-haq dan merasa bangga dengan ilmu yang ada pada mereka. Akan tetapi yang sangat disedihkan jika ada seorang muslim menganggap teori ini sebagai perkara biasa dan tidak menyangkut soal akidah. Lebih ironis lagi ketika teori evolusi dan pemikiran yang dibangun di atasnya dimasukkan dalam kurikulum-kurikulum pendidikan yang notabene dikonsumsi kaum muslimin tanpa adanya penyaringan dan pengingkaran. Akankah hal ini juga dibiarkan dengan dalih kebebasan berfikir dan perlindungan hak asasi atau hak intelektual dan intelegensi manusia ?

Berikut kita nukilkan bagaimana pemikiran Darwin dipaparkan dalam mata pelajaran biologi sebagai kurikulum pendidikan yang diajarkan kepada generasi muslim tanpa adanya pengingkaran bahkan terkesan memberi penghormatan pada tokoh-tokoh pencetus teori ini dan mentolerir pemikiran yang dibawanya. Dikatakan dalam buku tersebut: “Charles Robert Darwin (1809-1882) adalah seorang ilmuwan Inggris. Dalam mengemukakan teori evolusinya ia bertumpu pada sejumlah data yang didapatnya dari penelitian antara lain dari pulau Galapagos. Data yang dikemukakannya jauh lebih lengkap dari tokoh evolusi sebelumnya seperti Lamarck, Buffon, maupun Erasmus Darwin. Oleh karena itu, Darwin digelari sebagai “Bapak Evolusi” …… teori evolusi menyatakan bahwa semua spesies yang ada di bumi ini berasal dari spesies-spesies sebelumnya, sehingga manusia pun mestinya berasal dari spesies yang sudah ada sebelum manusia. …… Gorila, dan Simpanse diduga merupakan primata yang paling erat hubungan kekerabatannya dengan manusia, berdasarkan kenyataan bahwa susunan Hb (haemoglobin) kedua primata hanya mempunyai sedikit perbedaan dengan manusia. Primata primitif diduga telah ada kira-kira 75 juta tahun yang lalu. Dari primata primitif radiasi evolusinya mengarah ke berbagai macam bentuk, dan dari salah satu di antara jalur evolusinya dihasilkan manusia.[9]

Tanpa ada pengingkaran, baik dalam buku ini atau dari para pemangku mata pelajaran biologi, siswa dipersilahkan mencerna teori ini dan menikmatinya sebagai sebuah ilmu !. Para pembaca, semoga Allah rahmati kita semua, tidakkah kita merasa iba kepada generasi muslim yang dijejali teori-teori kufur seperti ini? Sesungguhnya telah menjadi kewajiban bagi kita untuk membela hak-hak Allah dan Rasul-Nya r sebagaimana salafus saleh dan ulama-ulama ahlus sunnah bangkit mengungkapkan kecemburuan mereka ketika musuh-musuh Allah berusaha memadamkan syareat-Nya.

Berkata Asy-Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di Rahimahullah : “Kisah (Adam u) yang sangat agung ini Allah I sebutkan dalam kitab-Nya di banyak tempat dengan sangat jelas tanpa keraguan. Kisah ini termasuk seagung-agung kisah yang disepakati seluruh rasul, diturunkan dalam kitab-kitab samawi, dan diyakini  seluruh pengikut para nabi baik dari orang-orang yang telah lalu atau yang akan datang, hingga munculah pada zaman-zaman terakhir sekelompok orang zindiq yang mengingkari semua apa yang dibawa oleh para rasul, bahkan mengingkari keberadaan pencipta. Mereka tidak menetapkan ilmu kecuali ilmu-ilmu alam yang telah dicapai pikiran-pikiran mereka yang sangat picik.

            Dibangun di atas madzhab yang sangat jauh dari hakikat syareat dan akal sehat inilah, mereka mengingkari (Adam dan Hawa) dan apa yang diberitakan Allah I dan Rasul-Nya r tentang keduanya. Mereka meyakini bahwa manusia dahulu adalah sesosok hewan kera atau yang semisal dengannya hingga berkembanglah (berevolusi) menjadi manusia seperti keadaan  saat ini. Mereka tertipu dengan teori-teori rusak yang dibangun di atas sangkaan-sangkaan akal yang menyimpang.

Demi mengagungkan teori ini mereka tinggalkan semua ilmu-ilmu yang shahih, lebih khusus ilmu-ilmu yang datang kepada mereka dari jalan rasul-rasul Allah I. Benarlah atas mereka apa yang dikabarkan Allah I:

فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ 

Artinya: “Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.”QS. Ghafir : 83

            Perkara mereka sangatlah jelas bagi kaum muslimin dan semua orang-orang yang menetapkan adanya Al-Bari (Dzat yang menciptakan yaitu Allah I), semua mengetahui bahwa mereka adalah sesesat-sesatnya kelompok. (Qashashul Anbiya` (hal.22-23))

Para pembaca rahimakumullah, apa yang tertuang dalam teori evolusi benar-benar penyelewengan dan pengingkaran atas semua kabar Allah dan Rasul-Nya r. Dalam teori evolusi, manusia pertama digambarkan sebagai sosok yang sangat jelek, makhluk kera yang tidak mampu tegak berdiri. Penggambaran ini jelas telah melecehkan hadits-hadits Rasulullah r yang mengabarkan kesempurnaan penciptaan Adam u. Teori evolusi menggambarkan manusia pertama sebagai manusia purba atau kera yang primitif, tidak mampu bicara dan tidak mengenal ilmu karena akal yang belum berkembang, baru kemudian berevolusi (berkembang) seiring dengan berjalannya waktu dan berlalunya masa.

Dia terwujud dan tinggal di dunia –bukan di jannah- memperjuangkan nasibnya, bertarung melawan alam dengan segala kekurangannya, badan yang bungkuk, otak yang bebal, mulut yang gagap tak pandai bicara hingga dia mati. Kemudian keturunannya melanjutkan perjuangan bapaknya berjuang di tengah kerasnya alam hingga kesempurnaan tubuh diperoleh dengan bertahap, mulailah badannya tegak, akalnya mampu berfikir dan mulutnya pun berbicara dengan bahasa yang difahami. Para pembaca rahimakumullah, bandingkanlah teori ini dengan kabar-kabar Allah dan Rasul-Nya r yang demikian gamblang. Adakah seorang muslim ridha hak-hak Allah dan Rasul-Nya r dihinakan dengan teori-teori seperti ini?

Di Antara Pengaruh Teori Darwin terhadap Sebagian Kaum Muslimin.

Seorang muslim seharusnya mengetahui sejauh mana teori evolusi menyimpang dari syariat yang maha agung. Teori ini telah melecehkan Adam u dan seluruh keturunannya. Lebih dari itu, teori ini jelas-jelas menentang Allah rabbul’alamiin. Akan tetapi yang sangat mengherankan justru ketika seorang muslim terpengaruh dengan teori ini, menjadikannya sebagai bahan kajian, padahal berita Allah dan Rasul-Nya r berkenaan dengan penciptaan Adam sangat jelas. Menyedihkan memang, ketika seorang muslim terpengaruh dengan teori ini, sementara kabar Allah dan Rasul-Nya r tidak diketahui atau bahkan dipertentangkan dan disejajarkan dengan teori nyleneh evolusi.

Tentang hal ini berkata Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di: Akan tetapi (beberapa pengaruh) madzhab dahriyin[10] telah masuk kepada sebagian kaum muslimin, dimana muncul sekelompok (muslimin) di zaman ini menafsirkan sujudnya malaikat kepada Adam (dengan penafsiran yang menyelisihi syareat), makna (sujud menurut mereka) adalah: Allah I menundukkan alam ini kepada Adam, demikian pula hasil bumi, bahan tambang dan sejenisnya telah Allah I tundukan untuk bani Adam. Inilah makna sujudnya Malaikat (kepada Adam).

Seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir  tidak meragukan bahwa penafsiran ini berakar dari teori (evolusi) yang jahat, penafsiran ini adalah bentuk penyelewengan terhadap kitab Allah, tidak ada bedanya antara penyelewengan ini dengan penyelewengan kaum bathiniyah dan qaramithah, dan seandainya kisah (sujudnya malaikat kepada Adam) dita’wilkan (diselewengkan maknanya) kepada makna ini, sungguh penyimpangan serupa akan ditujukan pula kepada kisah-kisah lain dalam Al-Quran.

Dengan sebab (penafsiran sesuai hawa nafsu) ini, berubahlah Al-Quran yang sebelumnya penjelas bagi segala sesuatu menjadi sekedar simbol-simbol yang memungkinkan bagi musuh-musuh islam melakukan apa saja terhadap Al-Quran (berupa penyimpangan-penyimpangan makna), maka Al-Quran pun ditolak dan hidayahnya pun berubah menjadi penyesat dan rahmatnya berubah menjadi adzab, Maha suci Engkau (Ya Allah) sesungguhnya ini adalah kedustaan yang nyata. (Qashashul Anbiya` (hal. 23))

Wahai Manusia ! Tunaikanlah Hak Allah dan Rasul-Nya r

Pengingkaran terhadap syariat Allah dan Rasul-Nya r, baik berupa perintah dan larangan atau berita dan kabar, adalah bentuk pengingkaran hak-hak Allah dan Rasulullah r. Teori evolusi dan pemahaman yang di bangun di atasnya adalah contoh pengingkaran syariat yang wajib kita ingkari, bukan malah dibela dan dipelihara dengan dalih kebebasan berfikir dan berkreasi, apalagi dijadikan sebagai kurikulum yang dikonsumsi generasi muslim tanpa pengingkaran. Wallahul musta’an.

Para pembaca rahimakumullah, manusia rame-rame mengusung slogan hak asasi manusia, akan tetapi mereka melupakan hak Allah dan Rasul-Nya r disadari atau tidak disadari. Lihatlah, kesyirikan dengan berbagai jenis dan ragamnya begitu marak, merebak bak jamur di musim hujan, dibiarkan bahkan dilindungi undang-undang dengan dalih budaya yang harus dilestarikan atau menghormati hak leluhur dan alasan-alasan lainnya. Tempat-tempat keramat yang sarat dengan penyimpangan dijadikan sebagai cagar budaya, kesyirikanpun tumbuh subur dan berkembang bak jamur di musim hujan. Mereka lupa dengan hak Allah yang sangat agung di saat mereka kumandangkan pemenuhan hak asasi manusia. Tidakkah mereka ingat untuk apa mereka diciptakan? Rasulullah r bersabda kepada Mu’adz bin Jabal t:

حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا

Artinya: “Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka beribadah kepada Allah saja dan tidak mensekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Al-Bukhari)

Allah memiliki hak atas seluruh manusia, demikian pula manusia memiliki hak-hak yang wajib kita penuhi, sesuai dengan manzilah (kedudukan) mereka. Rasul-rasul Allah memiliki hak, kedua orang tua memiliki hak, tetangga memiliki hak, demikian pula manusia seluruhnya, bahkan hewan-hewan juga memiliki hak. Akan tetapi haruslah diyakini bahwa hak-hak tersebut hanya syariat Allah-lah yang menjamin dan menjaganya, bukan undang-undang buatan manusia atau ketentuan adat yang menguasai tatanan sebuah masyarakat.

Pembaca rahimakumullah, di akhir pembahasan ini kita memohon kepada Allah semoga Allah mengembalikan kaum muslimin  kepada shiratal mustaqim. Teriring sebuah nasehat kepada kaum muslimin terutama para pendidik untuk memperhatikan apa yang diucapkan dan disampaikan, apakah sesuai dengan syariat atau justru berseberangan dengannya. Hal ini tidaklah terwujud kecuali dengan menuntut ilmu syariat dan bertanya kepada ulama yang benar-benar berjalan di atas jalan Rasulullah r dan shahabat-shahabat beliau. Wallahua’lam bishshawab[11]

 

و صلى الله على محمد و على آله  و صحبه و سلم  و الحمد لله رب العالمين


[1] Faedah: Rantai sanad ini terkenal dengan shahifah Hammam bin Munabbih, yaitu shahifah (lembaran) yang semua hadits-haditsnya diriwayatkan dari jalannya Abdurrazaq bin Hammam Ash-Shan’ani dari Ma’mar bin Rasyid dari Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah t. Sanad ini disepakati keshahihannya oleh Al-Bukhari dan Muslim.  Imam Ahmad bin Hanbal mengeluarkan semua hadits-hadits shahifah dalam Musnad beliau. lihat : Musnad Imam Ahmad (2/312-319), sementara Syaikhain, Al-Bukhari dan Muslim hanya meriwayatkan sebagian dari hadits-hadits shahifah, termasuk di dalamnya hadits tentang penciptaan Adam.

[2] Lihat Q.S. Al-Mukminun Ayat: 13-14

[3] Al-Imam An-Nawawi menyebutkan hadits ini dalam kitab beliau Al-Arba’in hadits keempat.

[4] Hadits Abu Hurairah t menunjukkan kepalsuan hadits yang bercerita tentang kisah seorang bernama ‘Auj bin ‘Unuq anak Adam yang hidup hingga zaman nabi Nuh u yang memiliki ketinggian 3333 sepetiga hasta. Kisah ini dikeluarkan Abu Syaikh dalam kitab beliau Al-‘Adhamah, dan tentang kepalsuannya diterangkan Ibnul Qoyyim dalam kitab beliau Al Manarul Munif.

[5] HR. Al Bukhari (no.3327) dan Muslim (8/146) dan Ibnu Majah (no. 4333). Dari hadits Abu Hurairah t. Lihat takhrij hadits ini dalam Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah  (7/3/1472) no.3519

[6] Tentang waktu penciptaan Adam, Rasulullah r bersabda:

(( وَخُلِقَ آدَمُ u فِي آخِرِ سَاعَةٍ مِنْ سَاعَاتِ الْجُمْعَةِ فِيْمَا بَيْنَ الْعَصْرِ إِلَى اللَّيلِ ))

Artinya: “Dan Allah ciptakan Adam u di penghujung waktu dari waktu-waktu Jum’at, diantara ‘Ashar dan malam hari.”  HR. Muslim (4/2149)

[7] Hadits di atas adalah bagian dari hadits syafaat yang panjang diriwayatkan Al-Bukhari (4/404) dan Ahmad (3/166) dari hadits Anas bin Malik t.

[8] Qashidah mimiyah disebutkan Ibnul Qayyim di awal kitab Hadil Arwah hal. 23, Thariq Al-Hijratain hal. 50-55 dan kitab Madarijus Salikin (3/200-201)

[9] Dari buku pelajaran Biologi untuk SMP, Drs.Slamet Prawirohartono dan Prof.Dr.Ir.Siti Sutarmi, M.Sc. edisi ketiga Th.1991 penerbit Erlangga hal.106-111.

[10] Yaitu orang-orang yang mengingkari adanya pencipta. Mereka menganggap bahwa hidup dan mati terjadi karena perputaran masa semata, sebagaimana Allah berfirman tentang mereka dalam Surat Al-Jatsiyah ayat 24

[11] Faedah-faedah hadits Abu Hurairah t:  (1) Hadits ini menetapkan sifat Al-Kalam bagi Allah. (2) Orang yang berjalan mengucapkan salam kepada orang yang duduk, sebagaimana Adam mengucapkan salam kepada malaikat (3) Boleh dalam menjawab salam dengan ucapan: “Assalaamu’alaikum” (mendahulukan kata As-Salam) dan tidak disyaratkan untuk mengakhirkannya dengan ucapan “Wa’alaikumus salam” (4) Disunnahkan dalam menjawab salam dengan jawaban yang lebih sempurna. Sebagaimana jawaban Malaikat kepada Adam. (5) Penduduk jannah masuk kedalamnya dalam keadaan sempurna dan hilang semua sifat kurang mereka di dunia seperti cacat, buta, pendek tubuh, hitam kulit dan sifat-sifat kurang lainnya, Dengan rahmat Allah kita memohon kepada-Nya semoga Allah masukkan kita ke dalam Firdaus-Nya yang kekal dan mengalir dibawahnya sungai-sungai. Faedah-faedah lain dari hadits dapat dilihat pada beberapa maraji’ di antaranya Fathul Bari (11/3-7) dan Syarah Shahih Muslim (17/178) Imam An-Nawawi. Wallahu a’lam bishshawab.

Posted on April 3, 2012, in Aqidah, Syarah Hadits. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: