Konspirasi Mencabik Kehormatan Mu’awiyah bin Abi Sufyan Ra

Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

Shahabat Rasulullah r adalah kaum yang telah mengorbankan harta, jiwa dan segala yang dimiliki fi sabilillah disaat kebanyakan manusia memerangi agama Allah. Sepeninggal Rasulullah r mereka tidak menghentikan langkah dalam menegakkan kalimat Allah. Pengorbanan, keberanian dan sikap kesatria terus menghiasi lembaran-lembaran tarikh.

Mengikuti jejak shahabat dan mencintai mereka adalah bagian penting aqidah dan salah satu pokok keyakinan ahlus sunnah wal jama’ah. Dengannya ummat mencapai kemuliaan dan selamat dari kesesatan. Dalam sebuah hadits Rasulullah r bersabda:

فإنه من يعش منكم فسيري اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة

“Sungguh diantara kalian yang hidup sesudahku akan melihat berbagai perselisihan, maka berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk. Peganglah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah ajaran-ajaran yang baru (dalam agama) karena semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini Hasan Shahih”)

Ketika Rasulullah r bercerita tentang perpecahan ummat, beliau ditanya siapakah golongan yang selamat. Beliau menjawab dalam sabdanya:

ما انا عليه اليوم وأصحابي

“(Yaitu mereka yang berjalan pada) jalan yang aku berada di atasnya hari ini dan juga shahabat-shahabatku.”

 Imam Malik rahimahullah berkata:

لن يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها

“Akhir dari umat ini tidak akan baik melainkan dengan menempuh jalan yang dengannya generasi awal (shahabat) menjadi baik.”

Musuh-musuh islam mengerti faktor kejayaan ini. Mereka faham bahwa menjadikan shahabat sebagai suri tauladan adalah pokok mendasar bagi ummat islam untuk meraih kejayaan. Maka tidaklah mengherankan jika mereka dengan gigih berusaha menjauhkan kaum muslimin dari generasi shahabat.

Segala cara ditempuh, manipulasi sejarah, celaan dan cercaan tak kunjung henti tertuju kepada sahabat-sahabat Rasul r. Makar musuh islam merusak citra shahabat telah dipraktikkan pemimpin kaum munafik di zaman Rasulullah r, Abdullah bin Ubai bin Salul. Dia menebarkan fitnah seputar tuduhan zina atas Aisyah Ra. [1]

Konspirasi menggulung kemuliaan shahabat adalah makar besar musuh-musuh islam: Yahudi, Syiah Rafidhah, Orientalis dan sekutunya. Demi Allah, tidak sedikit shahabat menjadi sasaran celaan dan caci maki termasuk shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra.

Demikian kenyataan yang harus kita hadapi. Mereka membuat makar, kita pun harus berjuang membela kehormatan generasi mulia yang telah berjasa atas ummat ini.  Jangan berputus asa dalam menegakkan prinsip yang agung ini sesungguhnya Allah ta’ala pasti membalas makar mereka.

وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.Ali Imran 54

وَقَدْ مَكَرُواْ مَكْرَهُمْ وَعِندَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ

Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. . Ibrahim: 46

Kedengkian Musuh Allah Menyaksikan Kejayaan Islam

Pada masa shahabat, kekuatan daulah islamiyah kokoh di muka bumi, kekuatan politik islam dan tentara-tentara Allah ta’ala menjadi kekuatan yang sangat ditakuti. Kerajaan Romawi dan Persia pun harus bertekuk lutut di hadapan tentara-tentara Allah.  Futuhat islamiyah (perluasan wilayah-wilayah islam) tidak bisa dibendung di masa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin, termasuk di zaman pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra yang telah memimpin kaum muslimin dengan penuh keadilan selama 20 tahun (Sejak 41 H hingga 60 H). 

Cahaya tauhid terus menyebar ke seluruh penjuru barat dan timur dunia, berjalan pasti bersama langkah kaki generasi paling mulia, mewujudkan kabar gembira Ar-Rasul saw dalam sabdanya:

إن الله زوى لي الأرض، فرأيت مشارقها ومغاربها، وإن أمتي سيبلغ ملكها ما زوي لي منها، وأعطيت الكنزين: الأحمر والأبيض،

Sesungguhnya Allah mengumpulkan bumi untukku hingga aku bisa melihat timur dan baratnya, dan sungguh kekuasaan umatku akan mencapai bagian bumi yang digulungkan di hadapanku, dan aku diberi Allah dua perbendaharaan, emas dan perak, (Yakni Romawi dan Persia-pen) HR Muslim (4/2215  no.2889) dari Shahabat Tsauban Ra.

Kejayaan Islam tentu bukan perkara yang diharapkan musuh-musuh islam. Kedengkian merasuki dada-dada mereka. Perjuangan shahabat semakin bersinar, sementara musuh-musuh islam semakin geram dan sesak dada mereka menyaksikkan kemuliaan islam, sesuai dengan permisalan shahabat yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir… Al-Fath:29

Mereka tidak berdaya memerangi muslimin dengan kekuatan fisik. Upaya yang mereka anggap bermanfaat adalah bagaimana merusak aqidah islam dalam dada para pemeluknya, memperburuk citra islam di tengah manusia dan berusaha mencerai-beraikan barisan muslimin dan mewujudkan keragu-raguan tentang agama yang mulia ini.

Makar demi makar muncul. Diantara makar besar yang pengaruhnya masih tampak hingga saat ini adalah makar Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi. Pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan ra adalah buah makar Ibnu Saba’, demikian pula fitnah-fitnah berikutnya termasuk munculnya sekte Rafidhah tidak lepas dari sosok Ibnu Saba’ Al-Yahudi.[2]

Hadits-hadits Rasulullah saw dan tarikh islam tidak luput dari makar, mereka menebarkan hadits-hadits palsu dan memasukkan kedustaan demi kedustaan terutama terkait dengan tarikh shahabat Rasulullah saw.

Demikianlah kaum zindik membuat makar, mereka menyusup di tengah kaum muslimin menyebarkan berita-berita dusta dalam aqidah, ibadah, akhlak, mu’amalah atau urusan halal haram, semuanya dengan tujuan merusak agama dan memecah belah barisan kaum muslimin.

Riwayat-riwayat Maudhu’ bagian Makar Musuh-musuh Islam

Makar musuh islam menyebarkan riwayat-riwayat Maudhu’ (palsu) untuk merusak syareat dan prinsip-prinsip islam sangat banyak, hingga para ulama berkepentingan mengumpulkan hadits-hadits Maudhu’ tersebut dalam buku-buku khusus seperti kitab Al-Maudhu’at karya Al-Imam Ibnul Jauzi dan kitab-kitab lain yang sangat banyak, sebagai peringatan bagi ummat. Walhamdulillah.

Perhatikan contoh hadits palsu berikut, sebagai bukti makar kuffar. Diriwayatkan:

إن الله خلق خيلا فأجراها فعرقت فخلق نفسه من ذلك العرق

Allah menciptakan kuda, lalu kuda itu dijalankan hingga berkeringat. Maka Allah ciptakan diri-Nya dengan keringat itu.

A’udzubillahi minasysyaitanirrajim! Demi Allah, kalimat ini adalah kalimat kekafiran yang sengaja diembuskan kaum zindiq untuk merusak aqidah muslim tentang Rabb-Nya.

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Hadits ini tidak diragukan kepalsuannya, dan tidak mungkin seorang muslim pun memalsukan hadits seperti ini.” Al-Maudhu’at (1/105)

Mereka juga membuat kedustaan tentang kerasulan. Muhammad bin Sa’id Asy-syaami Al-Mashlub, misalnya.[3] Pendusta ini telah memalsukan riwayat yang merusak salah satu pokok islam tentang Rasul terakhir.

Melalui jalan Humaid dari Anas Ra, Muhammad bin Sa’d Al-Mashlub meriwayatkan sabda Rasulullah saw:

أنا خاتم النبيين لا نبى بعدى إلا أن يشاء الله

“Aku penutup para nabi tidak ada nabi sesudahku, kecuali kalau Allah menghendaki.” Hadits ini dikeluarkan Ibnul Jauzi dalam Al-Mudhu’at (1/279).

Kalimat “kecuali kalau Allah menghendaki” yang ia dustakandari Nabi sawmembuka celah adanya nabi sesudah Rasulullah saw.

Saudaraku Muslim, Jika musuh-musuh islam berani merusak aqidah tentang Allah dan Rasul-Nya maka lebih tidak mustahil lagi, mereka menebarkan kedustaan untuk mencoreng kehormatan sahabat dan merusak tarikh mereka yang gemilang, baik kedustaan itu tertuju pada shahabat secara umum atau individu-individu sahabat seperti Abu Bakr Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khoththob, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Aisyah Ra, Abu Hurairah, Amr bin Al-Ash, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abu Sufyan, Kholid bin Al-Walid, Abu Musa Al-Asyary atau lainnya.

Setan manusia dan setan jin dalam makar ini bahu membahu menebar dusta seperti Allah firmankan dalam Al-Qur’an:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Al-An’am:112

Mu’awiyah bin Abu Sufyan Ra target makar musuh Allah.

Di antara hadits palsu yang dimaksudkan mencerca beberapa individu shahabat adalah hadits-hadits tentang Mu’awiyah Ra. Diriwayatkan Rasulullah saw bersabda:

إذا رأيتم معاوية على منبري فاقتلوه

“Apabila kalian melihat Mu’awiyah berada di atas mimbarku, bunuhlah ia.”

Teks hadits ini dzahirnya berisi celaan atas Mu’awiyah Ra, bahkan tidak berlebihan seandainya sebagian manusia mengafirkan Mu’awiyah dengan hadits ini. Namun ternyata hadits ini dusta atas nama Rasul saw.

Tentang hadits ini dan beberapa hadits lain yang ditebarkan musuh-musuh islam untuk mencela Mu’awiyah Ra sebagai jembatan mencela generasi shahabat bisa kita khususkan pembahasannya dalam rubrik Hadits kali ini: “Benarkah hadits-hadits Rasulullah SAW menghujat Mu’awiyah Ra?”

Pentingnya pembahasan Mu’awiyah bin Abi Sufyan

Mu’awiyah bin Abi Sufyan Ra menjadi topik pembahasan  penting, diantara sebabnya karena musuh-musuh islam baik kuffar maupun munafikin banyak mengupas sejarah Mu’awiyah bin Abi Sufyan Ra dengan tidak adil dan jauh dari kaedah-kaedah ahlus sunnah wal jamaah bahkan menyelisihi ijma’ (kesepakatan) ulama.

Membahas aqidah Ahlus Sunnah tentang Shahabat Mu’awiyah Ra sangatlah mendesak, terlebih zaman kita, di saat media-media semakin maju. Di dunia maya, musuh-musuh islam dengan leluasa berbicara seenaknya mencaci-maki Muawiyah bin Abi Sufyan Ra. Racun-racun yang ditebarkan menyebabkan banyak debu menutupi benak sebagian muslim tentang sahabat ini, hingga beliau dipandang sebelah mata atau bahkan benar-benar menjadi bahan cemoohan dan ajang caci maki.

Syiah Rafidhah termasuk makhluk buruk yang paling doyan mencerca shahabat. Kenyataan ini tidak bisa mereka pungkiri, karena bukti-bukti celaan itu nyata tertera dalam rujukan-rujukan mereka, termasuk tulisan-tulisan dan ucapan tokoh-tokoh terdepan mereka semacam Khomeini. Mereka kafirkan Abu Bakr Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khoththob bahkan seluruh shahabat kecuali hitungan jari.

Tidak lupa pula kita ingatkan kepada pembaca, bahwa mereka –rafidhah- juga mencela Aisyah ra dan menuduhnya berbuat keji (zina), padahal ulama telah bersepakat kafirnya orang yang menuduh Aisyah dari perbuatan itu karena hakekatnya ia mengingkari Al-Qur’an yang dengan tegas membebaskan Aisyah dari tuduhan.

Maka jangan heran ketika kita saksikan rafidhah bersama barisan yahudi, orientalis dan munafiqin berupaya keras mencabik kehormatan Mu’awiyah Ra. Jangankan sosok Mu’awiyah Ra. Aisyah binti Abu Bakr ibunda kaum mukminin saja mereka berani mengobok-obok kehormatannya. Wal ‘iyadzubillah.

Sebelum kita memasuki pembahasan shahabat Mu’awiyah ra lebih dalam, perlu disadari bahwa pembelaan kehormatan Mu’awiyah Ra adalah pembahasan yang sangat penting di zaman ini karena aqidah tentang shahabat menjadi perkara yang asing pada kebanyakan kaum muslimin.[4]

Adapun pemilihan tema Pembelaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, banyak perkara yang mendasari pemilihan tema tersebut seperti apa yang telah kita isyaratkan, juga beberapa hal lain diantaranya:

Pertama: Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, Ahlul Hadits, mereka menjadikan sikap terhadap Muawiyah bin Abi Sufyan Ra sebagai salah satu barometer akidah seorang muslim tentang sahabat Nabi saw.

Artinya, sikap jelek yang ditampakkan seseorang terhadap Mu’awiyah adalah pertanda buruk akan sikapnya yang tidak baik kepada shahabat secara umum. Demikianlah kebiasaan yang berlaku, jika ada seorang mencela Mu’awiyah Ra, ia akan berani mencela shahabat lainnya karena Mu’awiyah bin Abi Sufyan Ra bagian dari shahabat, generasi terbaik yang Allah telah ridhai.

Berkata Ar-Rabi’ bin Nafi’ rahimahullah:

معاوية بن أبي سفيان ستر أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فإذا كشف الرجل الستر اجترأ على ما وراءه

“Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah tirai bagi sahabat-sahabat Rasulullah saw, siapa berani menyingkap tirai itu, niscaya ia akan berbuat lancang atas apa yang di baliknya.”(yakni dia akan lancing mencela shahabat lainnya) (Khotib Al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad(1/209)dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimask (59/209)

Kedua: Kehormatan Muawiyah bin Abi Sufyan Ra. banyak dicemarkan dalam kajian–kajian, kurikulum pendidikan atau perkuliahan sejarah. Sehingga kita harapkan para pelajar demikian pula guru-guru dan dosen sejarah takut kepada Allah ta’ala membicarakan Shahabat yang mulia dan segera kembali kepada jalan salafus shalih.

Beliau dituduh sebagai raja yang dzalim, suka menumpahkan darah, nepotisme, ahli maksiat dan sebagainya. Bahkan sebagian orang yang celaka dengan berani mengeluarkan beliau dan bapaknya dari keislaman.

Sungguh jauh penilaian ini dengan penilaian Ahlul hadits dan ahli sejarah islam yang lurus aqidahnya.  Para shahabat, tabi’in dan ulama ahlus sunnah bersepakat bahwa beliau dan bapaknya adalah shahabat Rasulullah saw dan orang yang mulia.

Ketiga: Banyak kaum muslimin –dengan sebab kejahilan- lebih menempatkan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah sebagai khalifah kelima –setelah Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin- dan melupakan Muawiyah bin Abi Sufyan Ra seolah-olah tidak ada di alam ini terlahir seorang bernama Muawiyah bin Abi Sufyan Ra.

Penilaian tersebut tentu tidak benar. Keutamaan Mu’awiyah Ra sebagai shahabat Rasulullah saw tidak bisa dibandingkan dengan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, seorang tabi’in. Bahkan pemerintahan Mu’awiyah jauh lebih adil dan lebih sentausa dibanding pemerintahan Umar bin Abdul Aziz rahimahulah.

Keempat: Syiah Rafidhah sangat gencar melancarkan makarnya untuk menjatuhkan keutamaan Muawiyah Ra, demikian pula seluruh shahabat Rasulullah saw.

Muawiyah divonis kafir oleh mereka, pengikut agama Syiah Rafidhah. Mu’awiyah dituduh sebagai pemberontak, tokoh yang selalu mencaci-maki Ali, bahkan dalang pembunuhan shahabat Ali, peminum khomr, ahli maksiat dan sekian tuduhan-tuduhan buruk tertuju pada beliau.

Semua tuduhan itu dihiasi dengan pemutarbalikan fakta, berita-berita palsu, penafsiran ngawur tentang kejadian-kejadian tarikh bahkan dalil-dalil dari hadits yang sebagiannya akan kita bahas dalam rubrik hadits. Semua mereka lakukan untuk merobek kehormatan Mu’awiyah dan seluruh shahabat Rasulullah saw.

Kelima: Adanya beberapa tokoh pergerakan islam, yang sangat tersohor, mereka melontarkan pernyataan-pernyataan miring tentang shahabat, termasuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan Ra dengan sebab kebodohan. Sebut saja sebagai misal Sayyid Quthb .

Dalam tulisannya “Al-‘adalah Al-Ijtima’iyah hal: 206 ia mencela shahabat Utsman bin Affan dengan perkataannya: “Dan kami condong kepada penetapan bahwa kekhilafahan Ali adalah perpanjangan dari kekhilafahan syaikhain (yakni Abu bakar dan Umar) sebelumnya, adapun kekhilafahan Utsman bin Affan hanyalah celah (kekosongan) antara keduanya.”

Lihatlah kaum muslimin, kekhilafahan Utsman bin Affan Ra sejak tahun 23 H hingga 35 H tidak dianggap oleh seorang Sayyid Quthb. Padahal pemerintahan beliau adalah mata rantai yang tidak bisa dilepas dalam sejarah perjuangan islam.

Ia juga berbicara tentang Mu’awiyah bin Abi Sufyan Ra, menyematkan sifat dusta, khiyanat dan kemunafikan dalam tulisannya: “Kutub wa Syakhshiyat” hal. 242: “…dan ketika Mu’awiyah dan temannya (yakni Amr bin Al-‘Ash) telah condong kepada kedustaan, penipuan, penghianatan, kemunafikan, risywah, dan menjual tanggung jawab (amanah-amanah), …”

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Bazz rahimahullah mengomentari ucapan Sayyid Qutb: “Ini ucapan kotor, ini ucapan yang kotor, mencela Mu’awiyah dan mencela Amr bin Al-Ash.” (Dari kaset: Aqwal Al-Ulama fi Muallafati Sayyid Qutb – Tasjilat Minhajus Sunnah – Riyadh)

Lebih menyedihkan ketika Sayyid berbicara tentang Abu Sufyan bin Harb, ia berkata meragukan keislaman Abu Sufyan: “keislamannya, islam di bibir dan lisan, bukan keimanan dalam hati, keislaman belumlah masuk ke dalam kalbu laki-laki itu.. ucapannya ini terlontar di Majalah Al-Muslimun edisi ketiga tahun 1371 H.

Lihat betapa bahaya ucapan Sayyid Quthb. Anehnya tokoh seperti Sayyid Qutb ini justru sangat dielu-elukan sebagian firqah (kelompok sempalan) seperti Ikhwanul Muslimin.

Sungguh aneh, ketika Sayyid Qutub dikritik mereka marah namun ketika shahabat Utsman bin Affan ra, Dzunnurain, penyandang janji jannah dicela oleh Sayyid Qutb demikian pula Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra dan bapaknya, mereka duduk manis tidak bergeming. Demikian parahkah kerusakan Al-Wala’ wal Baro’ yang ada dalam timbangan Ikhwanul Muslimin ??. Allahul musta’an. (Sumber: Majalah Asy-Syariah)


[1] Ibnu Salul mencemarkan nama baik keluarga Rasulullah saw dengan menebar berita dusta (haditsul Ifk) bahwa Ummul Mukminin Aisyah Ra melakukan perbuatan keji dengan shahabat Shofwan ibnu Mu’aththal Ra. Berita dusta diterbarkan seusai perang Bani Musthaliq bulan Sya’ban 5 H. Kedustaannya tersingkap dengan diturunkan surat An-Nur membebaskan Aisyah dari tuduhan.

[2] Keberadaan Ibnu Saba’ dan makarnya dapat dilihat kembali pada Majalah Asy-Syariah Edisi Meluruskan Sejarah Memurnikan Aqidah No. 57/V/1431 H/2010 Kajian Utama berjudul: “Kontroversi Ibnu Saba’ Al-Yahudi.”

[3] Berkata Ats-Tsauri dan Ahmad bin Hanbal: “Muhammad bin sa’id kadzdzab (pendusta)”. Dalam sebagian riwayat, berkata Ahmad: “Ia dibunuh Abu Ja’far karena kezindikannya, dan hadits-haditsnya hadits maudhu’.

[4]Alhamdulilah pembahasan tentang Shahabat telah banyak diangkat di Majalah Asy-Syareah pembaca dapat merujuk pada edisi-edisi yang telah lalu.

Posted on April 12, 2012, in Aqidah. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Alhamdulillah..
    saya mendapatan pencerahan dari artikel ini..
    terimakasih atas posting’a..

  2. Di akhir zaman, islam semakin asing. Termasuk pemahaman kaum muslimin terhadap prinsip ahlus sunnah wal jamaah tentang shahabat.
    Banyak aliran-aliran sesat mendeskriditkan shahabat, mencaci maki atau bahkan mengkafirkan shahabat, seperti agama syiah rafidhah, yang belakangan ini mulai menampakkan giginya di bumi Indonesia.
    Maka untuk menghadapi hal ini wajib bagi setiap insan muslim terus menuntut ilmu dan mengenal generasi terbaik ummat ini -yakni para shahabat- yang melalui tangan merekalah islam sampai kepada kita. (Admin Pustaka Ibnul Jazari)

  3. di akhir zaman fitnah sangat banyak. Termasuk syiah rafidhoh yang mencela habis habisan para sahabat. Kalau bisa kami dikasih informasi soal perkembangan aliran sesat. Syukron.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: