Faroidh, Mengenal Hukum Waris Islam (Buah dan manfaat yang diharapkan dari ilmu faraidh)

Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

Tidak diragukan bahwa semua syariat Allah mengandung hikmah yang sangat besar dan faedah yang tidak terkira di dunia atau akhirat, termasuk ilmu faroidh, Di antara buah yang diharapkan dengan mempelajarinya antara lain:

(1) Menyampaikan bagian harta waris kepada yang berhak sesuai dengan syareat Allah Ta’ala Yang Maha Adil.

(2) Selamat dari kedzaliman dalam pembagian harta waris.

Kedholiman adalah kegelapan pada hari kiamat, maka masing-masing kita hendaknya takut kepada Allah seandainya di akhir hayat melakukan kedzoliman dengan membagikan waris atau membuat wasiat yang menyelisihi kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya r. Imam Ahmad bin Hambal dalam Al-Musnad meriwayatkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْخَيْرِ سَبْعِينَ سَنَةً فَإِذَا أَوْصَى حَافَ فِي وَصِيَّتِهِ فَيُخْتَمُ لَهُ بِشَرِّ عَمَلِهِ فَيَدْخُلُ النَّارَ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الشَّرِّ سَبْعِينَ سَنَةً فَيَعْدِلُ فِي وَصِيَّتِهِ فَيُخْتَمُ لَهُ بِخَيْرِ عَمَلِهِ فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَالَ ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ إِلَى قَوْلِهِ عَذَابٌ مُهِينٌ

Dari Abu Hurairah t Rasulullah r bersabda: Sesungguhnya seorang beramal dengan amalan kebaikan selama tujuh puluh tahun, kemudian dia berwasiat (di akhir hayatnya) dan berbuat dzolim dalam wasiatnya maka amalnya ditutup dengan kejelekan maka diapun masuk neraka, dan ada seorang yang melakukan amalan kejelekan selama tujuh puluh tahun kemudian dia berwasiat dengan keadilan (diakhir hayatnya) maka amalannya ditutup dengan kebaikan maka masuklah ke dalam jannah. Kemudian Abu Hurairah berkata: “Bacalah firman Allah: beliu membaca Q.S An-Nisa 13-14[1]

(3) Menjaga hak-hak manusia yang telah Allah tetapkan.

Berikut kita nukilkan sebuah hadits sebagai pelajaran akan indahnya islam dalam menjaga hak-hak manusia:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ جَاءَتْ امْرَأَةُ سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ بِابْنَتَيْهَا مِنْ سَعْدٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ r فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَاتَانِ ابْنَتَا سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ قُتِلَ أَبُوهُمَا مَعَكَ يَوْمَ أُحُدٍ شَهِيدًا وَإِنَّ عَمَّهُمَا أَخَذَ مَالَهُمَا فَلَمْ يَدَعْ لَهُمَا مَالًا وَلَا تُنْكَحَانِ إِلَّا وَلَهُمَا مَالٌ قَالَ يَقْضِي اللَّهُ فِي ذَلِكَ فَنَزَلَتْ آيَةُ الْمِيرَاثِ فَبَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ r إِلَى عَمِّهِمَا فَقَالَ أَعْطِ ابْنَتَيْ سَعْدٍ الثُّلُثَيْنِ وَأَعْطِ أُمَّهُمَا الثُّمُنَ وَمَا بَقِيَ فَهُوَ لَكَ

Dari Jabir bin Abdillah t berkata: Istri Sa’d bin Rabi’t mendatangi Rasulullah r dengan membawa kedua anak perempuan dari Sa’d t, dia berkata: “Wahai Rasulullah, kedua anak perempuan ini adalah anak Sa’d bin Rabi’ yang terbunuh syahid ketika perang Uhud bersama engkau, dan paman keduanya (saudara laki-laki Sa’d bin Rabi’-pent) mengambil harta keduanya dan tidak meninggalkan untuk keduanya harta, dan keduanya tidak bisa dinikahkan kecuali jika memiliki harta. (mendengar pengaduan ini) Rasulullah r bersabda: “Allah akan memutuskan perkara ini.” Kemudian turunlah ayat-ayat tentang waris maka Rasulullah r mengutus kepada paman kedua anak ini dan memerintahkan agar memberi kedua anak perempuan Sa’d bin Rabi duapertiga, dan memberi ibunya seperdelapan dan apa yang tersisa adalah untukmu.[2]

(4) Menjaga syareat Allah dan menyebarkannya di tengah-tengah ummat,

Ilmu faraidh adalah ilmu yang banyak dilupakan dan ditinggalkan oleh kebanyakan kaum muslimin. Dengan mempelajarinya dan menyebarkannya di tengah-tengah umat, berarti menghidupkan syariat Allah dan memberikan contoh yang baik. Rasulullah bersabda:

من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها و أجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيء

Barangsiapa memberikan contoh yang baik dalam islam, dia akan mendapat pahalanya dan pahala orang-orang yang melakukankebaikan tadi tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun


[1] Diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam Musnad-nya no.7742 dan Ibnu Majah dalam As-Sunan “Bab Al-khaif fil washiyyah” no.2704 Abu Dawud dalam As-Sunan no.2864 dan Tirmidzi dalam Sunan-nya secara ringkas no.2117. Berkata At-Tirmidzi: “Hasan gharib” hadits ini dishahihkan syaikh Ahmad Syakir dalam ta’liq beliau terhadap Al-Musnad (14/162-163). Adapun  Syaikh Al-Albani beliau mendhaifkan hadits ini.

[2] Hadits Hasan – Dikeluarkan oleh imam Tirmidzi (3/179) hadits No. 2092 dan Abu Dawud (3/80) hadits No.2891 Dan Ibnu Majah Hadits No.2726 dan Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnad (3/352) dan Al Hakim (4/333-334) semuanya dari jalan Abdullah bin Muhammad bin Aqil bin Abi Tholib, berkata Ibnu Hajar tentangnya dalam Taqrib : “Shoduq fii haditsihi liin” wa yuqoolu “Taghoyyaro bi Aahirihi” Hadits ini dishahihkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak berkata Al Hakim: “Shahihul Isnad”  dan disepakati oleh Adz Dzahabi. Berkata Tirmidzi : “Hadits ini Hasan Shohih” Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Bani dalam Irwaul Ghalil (6/122) No.1677 dan Syaikh muqbil menyebutkannya dalam kitab beliau Ash Shahih Al Musnad min Asbaab An Nuzul Hal. 41. Hadist ini sekaligus sebagai sebuah misal bagi permasalahan faroidh yaitu.

Masalah: Seorang mati meninggalkan istri, dua anak perempuan dan seorang saudara laki-laki kandung. Maka istri mendapat 1/8 harta, dua anak perempuan mendapat 2/3 adapun sisanya maka diberikan kepada saudara laki-laki kandung. Sebagaimana qodho’ (keputusan) yang ditetapkan Rasulullah r untuk dua anak Sa’d bin Rabi’ Ra.

 

Posted on Mei 10, 2012, in Fiqh - Artikel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: