Faroidh, Mengenal Hukum Waris Islam (Pengertian, Pokok Bahasan) Bag-1

Abu Isma’il Muhammad Rijal

Secara bahasa faraidh (فرائض) adalah bentuk jamak/plural dari kalimat faridhah (فريضة) yang di antara maknanya adalah: suatu yang tertentu.

Adapun secara istilah, banyak definisi yang disebutkan ulama faraidh, diantaranya:

علم بأصول مأخوذة من الكتاب و السنة و إجماع الأمة يعرف بها أحوال الورثة ومن يرث ومن لا يرث وكيفية ميراثهم من التركة

Ilmu mengenai pokok-pokok yang bersumber dari Al-Quran, As-Sunnah dan Ijma’, dengannya diketahui keadaan-keadaan ahli waris, siapa yang berhak mewarisi dan yang tidak berhak, juga bagaimana penyampaian tarikah kepada mereka.

Dari pengertian di atas bisa diambil kesimpulan bahwa pokok-pokok pembahasan yang dipelajari dalam ilmu faroidh antara lain:

(1) Mempelajari siapa yang berhak mendapat warisan dan siapa yang tidak berhak.

Ilmu faraidh mempelajari ahlu waris (orang-orang yang berhak mendapat harta pusaka) baik dari laki-laki atau perempuan, dipelajari pula sebab-sebab mendapatkan warisan, dan penghalang-penghalang (mawani’) warisan seperti perbedaan agama, demikian pula permasalahan hajb yang dengannya diketahui siapa yang terhalangi (mahjub) dari mendapat warisan dan siapa yang tidak terhalangi.

(2) Mempelajari keadaan-keadaan ahli waris:

Seorang ahli waris tidak berada pada satu keadaan. Keadaan-keadaan tersebut dipelajari dalam ilmu faraidh. Istri yang ditinggal mati suaminya misalnya, ia memiliki beberapa keadaan. Terkadang istri berhak mendapatkan seperempat (1/4) harta jika suami tidak meninggalkan keturunan, dalam keadaan lain ia hanya berhak memperoleh 1/8 dari harta warisan jika suami meninggalkan keturunan.

(3) Tata cara penyampaian harta waris:

Yaitu dengan mempelajari hisab (perhitungan), dengan kaedah-kaedah yang telah ditetapkan syareat sehingga diketahui hak masing-masing ahli waris.

Posted on Mei 10, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: