Tarbiyatul Aulad – Bagaimana Bimbingan serta penjagaan Yang Baik Untuk Anak ?

Abu Isma’il Muhammad Rijal

Di antara sebab keberhasilan pendidikan anak adalah baiknya orang tua dalam membimbing dan menjaga mereka. Bagaimanakah Bimbingan serta penjagaan Yang Baik Untuk Anak ?

Penjagaan dan bimbingan sangat banyak bentuknya. Tapi dapat disimpulkan bahwa setiap orang tua harus melakukan 3 perkara dalam bimbingan dan penjagaannya  terhadap anak:

(1) Bimbingan dan penjagaan kedua orang tua dari sisi ilmu.

(2) Bimbingan dan Penjagaan dari sisi amalan sholih.

(3) Terus-menerus serta kekontinyuan  bimbingan dan penjagaan tersebut.

Bimbingan dan penjagaan kedua orang tua dari sisi ilmu.

Sebagaimana jasad membutuhkan makan dan minum, demikian pula ruh, membutuhkan Ilmu sebagai makanan bagi ruh, ilmu yang dimaksud adalah ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah, ilmu yang menuntun seseorang mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya  shallallohu’alaihi wasallam dan mengenal agama islam.

Bahkan kebutuhan ruh terhadap ilmu melebihi kebutuhan jasad terhadap makanan dan minuman. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: Kita butuh makan dalam sehari sekali atau dua kali, namun kebutuhan kita kepada ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah adalah setiap nafas yang kita hembuskan.”

Maka sudah seharusnya bagi orang tua, sebagaimana mereka memperhatikan makan dan minum anaknya, mereka juga harus memperhatikan Ilmu yang didapatkan untuk anaknya.

Sudahkah anak kita mengenal Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya yang Allah kabarkan dalam Al-Quran dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sabdakan dalam haditsnya ?? Sudahkah mereka memiliki rasa takut kepada Allah dan pengharapan kepada-Nya ?? sudahkah mereka mengenal Rasulullah dan sejarah kehidupannya, sudahkah mereka mengenal islam sebagai agama yang Allah ridhai, dan satu-satunya jalan yang mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan dunia dan akhirat ??

Sebagaimana badan akan mati ketika ia kehilangan makanan, demikian pula ruh bisa sakit atau mati ketika kehilangan makanannya, yaitu Ilmu. Demikianlah, kalbu dan ruh bisa hidup dan mati, hidup dengan cahata ilmu dan mati dengan kejahilan dan ketidakmengertian terhadap ilmu. Allah Ta’ala berfirman:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. Al-An’am : 122

Bimbingan dan Penjagaan dari sisi amalan sholih.

Disamping bimbingan dan penjagaan dari sisi ilmu, kewajiban lain bagi orang tua adalah membimbing dan menjaga mereka dari sisi amalan sholih. Wajib bagi orang tua untuk mendidik anak-anaknya amalan sholih dengan senantiasa memasukkan kepada jiwa-jiwa mereka kecintaan untuk beramal sholih, kecintaan untuk beribadah kepada Alloh SWT. Kecintaan terhadap ibadah tentu akan terwujud jika kita sebagai orang tua mengajarkan amal-amal sholih kepada anak sejak dini. Marilah kita renungkan, bagaimana nabi Ibrohim ’Alaihissalam melakukan ibadah bersama dengan putranya, Isma’il, membangun Ka’bah. Allah berfirman:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Al-Baqarah: 127

 Di antara rahmat Alloh dan kasih sayang-Nya, Dia memerintahkan kita mendidik anak-anak kita agar beramal dalam usia dini. Disebutkan dalam sebuah hadits shohih, Rasul SAW bersabda:

“Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan sholat dalam keadaan mereka berumur 7 tahun, dan pukullah mereka ketika berumur 10 tahun.”  Dan di akhir hadits , Rasul mengatakan “ Dan pisahkan anak-anak kalian dalam tempat tidur mereka ketika berumur 10 tahun.”

Hadits ini memiliki faedah yang sangat banyak.

Pertama: Rasulullah menetapkan batasan umur dimana wajib (fardhu ‘ain) atas orang tua untuk mengajarkan anak-anak kita syari’at Alloh SWT di antaranya sholat. Usia tersebut adalah 7 tahun.[1]

Faedah kedua, hadits ini menetapkan usia anak dimana kita bersikap tegas kepada mereka dalam pengajaran, yaitu ketika usia 10 tahun. Ketika mereka tidak mau melakukan sholat dalam usia tersebut boleh bagi wali untuk memukulnya –tentu dengan pukulan pendidikan bukan penyiksaan- jika tidak ada jalan lain selain memukul.

Apa hikmah penetapan umur-umur dalam tahapan pendidikan ini?  Hikmahnya, Allahua’lam, adalah karena sebelum 7 tahun anak belum mumayiz, belum membadakan yang baik dan buruk. Adapun saat anak menginjak usia 7 tahun ia sudah mumayiz sehingga tepat untuk diperintah menegakkan sholat.

Adapun kenapa pada umur 10 tahun kita diperintahkan untuk bersikap tegas kepada anak, karena umur 10 tahun anak-anak sudah memiliki tamyiz dan juga fahm (pemahaman). Oleh karenanya, kita dizinkan untuk bersikap tegas. Apalagi umur itu adalah umur mendekati masa-masa baligh.

Jika bimbingan Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam ini dilakukan, maka diharapkan ketika ia mencapai umur baligh,  anak-anaknya telah tumbuh dalam keadaan mencintai amalan sholih dengan kecintaan yang sangat, kecintaan kepada amal sholih telah mendarah daging.

Ketika pendidikan berhasil, sang anak ketika mencapai baligh dan ia tertidur hingga meninggalkan sholat, ketika dia bangun dia akan mengatakan kepada dirinya:  “Saya belum sholat”. Kenapa pernyataan ini muncul?? Karena anak itu telah mencintai amal sholih dengan kecintaan yang sangat.

Faedah Ketiga: Hadits ini berisi perintah dari Rasul SAW untuk memisahkan anak-anak kita dari tempat tidur mereka, laki-laki dan perempuan dipisahkan dari tempat tidur mereka.

Dari hadits ini, ada peringatan dari Rasul SAW kepada orang tua untuk berhati-hati dan memperhatikan faktor-faktor yang membahayakan anak-anaknya (membahayakan akhlaq, dll). Dan kalau dalam hadits ini kita diperintahkan untuk memisahkan anak dalam tempat tidur, maka lebih-lebih lagi bagi orang tua hendaknya memperhatikan apa yang dibaca oleh anak, apa yang disaksikan oleh anak, ke mana anak ini pergi, dari mana anak ini datang. Sungguh kebanyakan kerusakan terjadi adalah pada umur –umur tersebut.

Terus-menerus dalam membimbing dan membina anak.

Yang menjadi pokok pembahasan pendidikan anak bukan masalah apakah orang tua sudah mendidik atau belum dalam waktu tertentu (1 hari, 2 hari, 1 bulan, 1 tahun) bukan itu yang dimaksud. Tapi yang diperintahkan di dalam syari’at adalah hendaknya orang tua menjaga dan membimbing anak-anaknya sampai mati, terus menerus setiap setiap waktu.

Kalau boleh dimisalkan, pendidikan dan pemeliharaan orang tua terhadap anak-anaknya ibarat penggembala yang menggelmalakan kambing-kambingnya. Seandainya penggembala kambing di tengah-tengah penggembalaannya ia tidur di bawah pohon. Kemudian datang serigala memakan kambingnya atau kambingnya memakan racun hingga mati atau tertimpa mudharat. Apakah si penggembala ini telah melakukan penjagaan yang baik tehadap kambing-kambingnya??? Tentu tidak. Karena penjagaannya tidak dia lakukan sepanjang penggembalaan, tidak terus-menerus, ada saat dia lengah.

Oleh karena itu, wajib bagi orang tua untuk menjaga dan mendidik bukan pada waktu-waktu tertentu saja sehari dua hari, tapi yang diperintahkan adalah terus-menerus.

Terlebih jika kita ingat dengan apa yang ada di tengah-tengah masyarakat kita berupa kerusakan, sekian banyak fitnah berada di hadapan anak-anak kita.  Maka hendaknya bagi kita semua untuk memeriksa catatan-catatan anak-anak kita, dan memperhatikan perbuatan-perbuatan serta ucapan anak-anak kita. Kalau kita mendengar satu kalimat yang asing/aneh yang terucap dari anak kita, dari kalimat-kalimat yang kotor dan yang semisalnya, hendaknya orang tua bertanya: Dari mana engkau dapatkan ucapan ini???

Demikian seterusnya, tidak bosan mengiringi buah hati hingga mereka meraih kemuliaan di dua negeri…..


[1] Ini dalam hal perintah adapun dalam hal larangan sejak dini anak harus dilarang dari kemungkaran seperti makan dengan tangan kiri atau mengambil barang orang atau kemungkaran lainnya.


 

Posted on Mei 13, 2012, in Lembar Keluarga. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: