3 Soal Mustholah Bersama Syaikh Al-Albani

Dalam sebuah majelis, Syaikh Al-Albani rahimahullah mendapatkan beberapa pertanyaan seputar ilmu hadits (Mustholah dan Jarh Wat Ta’dil). Mungkin sebagian pembaca belum begitu besar mengambil manfaat dari pertanyaan-pertanyaan dan jawaban beliau, namun insyaallah faedah tersebut tetap ada yang bisa kita peroleh.

Soal 1:

Apa pendapat Syaikh tentang seorang tolibul ilmu (Penuntut ilmu) yang mendapatkan sebuah hadits dalam Sunan Ad-Daruquthni atau lainnya dimana hadits tersebut telah dishahihkan atau didha’ifkan oleh Al-Hafidz ibnu Hajar rahimahullah. Dalam hukum tersebut Ibnu Hajar bersendiri –yakni tidak diketahui selain beliau dari ahlul hadits yang memberikan hukum atas hadits tersebut- bolehkah bagi seorang tholibul ilmi untuk memberikan hukum yang berbeda dengan hukum Ibnu Hajar rahimahullah?

 

Jawab:

Jawaban bagi soal ini tergantung dari siapa tholibul ilmi tersebut. Jika dia adalah seorang yang melihat dirinya  seorang yang memiliki tamakkun (kekokohan) dalam jarh wa ta’dil, dan tashih (pensahihan) dan tadh’if  (pendhaifan), artinya dia benar-benar seorang yang berilmu dalam bidang ini, bukan karena tertipu dengan ilmunya atau ujub dengan ilmunya, ketika itu boleh bagi ia memberikan hokum dengan  hokum yang  menyelisihi (berbeda dengan) Ibnu Hajar rahimahullah.

Soal 2:

Bagaimana Keadaan beberapa Rawi berikut: (1) Umar bin Ali Al-Muqaddami, (2) Baqiyyah bin Al-Walid  dan (3) Al-Walid bin Muslim.

Jawab:

(1) ‘Umar bin ‘Ali Al-Muqoddami: Dia seorang Mudallis[1] rawi ini dikeluarkan dalam shohihain. [2]

Tadlis diluar shahihain yutawaqqof (artinya harus diteliti sampai jelas keadaan hadits yang ia riwayatkan –red).

(2) Walid bin Muslim Ad-Dimasyqi: Mudallis Tadlis Taswiyah.[3]  Riwayat Walid bin Muslim tidak dijadikan hujjah kecuali jika semua rawi-rawi dalam sanadnya terang-terangan mengambil hadits dari gurunya sampai kepada shahabat.[4]

(3) Baqiyah bin Walid, (terjadi perbedaan pendapat tentang tadlis yang ia lakukan). Jumhur (mayoritas) muhadditsin berpendapat bahwa tadlisnya bukan taswiyah seperti walid bin muslim, sebagian berpendapat bahwa ia sama dengan walid: Tadlisnya tadlis taswiyah

Soal 3:

Bagaimana nilai hukum Jarh dan Ta’dil beberapa ulama berikut: (1) Ibnu Sa’d, (2) Al-‘ijli, (3) Ad-Daruquthni, (4) Ibnu ‘Asakir, (5) Al-Baihaqi, (6) Khothib Al-Baghdady, (7) Abu Nu’aim Al-Ashbahani ?

Jawab:

(1) Muhammad bin Sa’d (230 H), Mutasahil[5]. Jika dia bersendiri (dalam menghukumi rawi), hukumnya diterima jika tidak ada yang menyelisihinya. Ibnu Sa’d (walaupun tergolong sama dengan Ibnu Hibban yang mutasahil dalam hukum rawi) namun berbeda dengan Ibnu Hibban. Perbedaannya: Ibnu Hibban mempunyai kaedah yang menyelisihi jumhur sehingga kesendiriannya tidak diterima.

(2) Al-‘Ijli: Mutasahil, tapi berbeda dengan tasahulnya Ibnu Hibban.

(3) Ad-Daruquthni: Imam

(4) Ibnu ‘Asakir: Sedikit nukilan darinya tentang Jarh Wa ta’dil dan saya tidak punya ro’yu (pandangan) tentangnya.

(5) Al-Baihaqy sepertu Ad-Daruquthny: Imam

(6) Khothib: Mu’tadil (orang yang adil/obyektif dalam menilai Rawi)

(7) Abu Nu’aim Al-Ashbahani: Saya tidak punya Ro’yu/pandangan.


[1] Mudallis, sebutan bagi orang yang biasa melakukan tadlis, yaitu menggelapkan rawi hadits dengan menggugurkannya dari sanad atau menggelapkan rawi dengan menyamarkan jatidirinya. Rincian tentang mudallis dapat dilihat dalam kitab-kitab musthalah seperti Muqaddimah Ibnu Shalah rahimahullah.

[2] Al-Bukhari dan Muslim terkadang mengeluarkan hadits orang yang melakukan tadlis, namun keduanya telah memilih dengan sangat bahwa hadits tersebut bukan termasuk hadits yang telah digelapkan rawinya (mudallas).

[3] Tadlis Taswiyah adalah tadlis yang paling berat. Karena seorang mudallis menggugurkan seorang rawi dhaif (lemah) diantara dua rawi tsiqat, dengan itu pembaca menyangka hadits tersebut shahih -karena semua rawi yang tampak adalah orang-orang tsiqah- padahal di dalamnya tersembunyi cacat yang melemahkan hadits yaitu digelapkannya rawi yang lemah.

[4] Ini madzhab Syaikh Al-Albani dalam mensikapi rawi mudallis tadlis taswiyah beliau berpendapat bahwa semua rawi dalam sanad harus terang-terangan mengambil hadits dari gurunya.

[5] Mutasahil artinya Longgar dalam memberikan hukum kepada Rawi

Posted on Mei 14, 2012, in Fiqh - Tanya Jawab Fiqh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: