Maha Suci Allah, Betapa Indahnya Qishash

Semua syareat Allah, termasuk didalamnya qishah, hudud dan jihad fi sabilillah adalah keindahan dan bukti kebesaran Allah ta’ala sebagai Dzat yang Maha sempurna.

Dari sisi manapun syareat Islam ditinjau, seorang berakal pasti akan bersimpuh menyaksikan cahaya keindahannya, sebagaimana  akan bersimpuh mengagumi kesempurnaan dan keindahan penciptaan semesta. Allah berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. Al-Mulk

Hanya orang-orang yang tidak berakal lagi angkuh sajalah yang memandang syareat Allah dengan pandangan sinis, sembari membusungkan dadanya bahkan mencoba-coba menjelekkan islam dengan hawa nafsunya, sungguh mereka terancam tidak akan masuk jannah karena takabbur yang ada pada mereka berupa penolakan terhadap al-haq sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam hadits Ibnu Mas’ud Ra:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk jannah orang yang dalam kalbunya seberat dzarrah kesombongan. Seorang bertanya: “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju yang bagus dan alas kaki yang bagus (apakah ini termasuk kesombongan)? Rasul saw bersabda: Sesungguhnya Allah Maha indah dan menyukai keindahan, kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. HR Muslim

 

Qishosh dalam sorotan Musuh Allah

Qishosh, demikian pula syareat hudud dan jihad fi sabilillah, seringkali dipakai kaum zindiq, munafik dan musuh-musuh Allah untuk menyudutkan islam. Dengan syareat ini mereka gambarkan islam sebagai agama yang sadis, kasar atau tidak berperikemanusiaan.

Propaganda-propaganda tersebut membuat orang-orang yang dungu atau lemah iman mengatakan bahwa islam adalah agama yang kejam, atau setidaknya mengatakan bahwa hukum qishah, huhud tidak lagi relevan di masa-masa ini dan lebih pas jika Qishash dan hudud lalu diganti dengan hukuman lain, seperti denda atau kurungan.

Wahai orang yang masih sedikit memiliki akal jawablah dengan jujur: “Seorang pembunuh yang ditegakkan qishosh atasnya, yang dengan itu dirinya diampuni Allah, dan dengan itu keluarga korban terobati dari kedzaliman, dan dengan Qishash itu pula menghalangi terjadinya pembunuhan berikutnya, yang seperti ini lebih baik ataukah vonis bagi pembunuh dengan kurungan sekian tahun yang kemudian bisa diganti dengan denda, kemudian dia beraksi kembali melakukan pembunuhan, keluarga korban juga tidak terobati dari kedzaliman tersebut, jawablah dengan sisa akalmu manakah yang lebih baik …?

Sebagai jawaban cukup kita bacakan ayat Allah yang menunjukkan keindahan Qishash:

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الألْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” Qs. al-Baqarah:179

Bagi yang beriman dengan firman Rabbul ‘Alamin ini ia akan mendapatkan kemuliaan. Namun siapa mencoba-coba menyimpangkan ayat atau mengingkarinya bersiaplah menikmati adzab Allah, dan berilah kabar gembira kepadanya berupa jahannam, wal ‘iyadzubillah.

Pengertian Qishash dan Dalil Pensyareatan

Secara bahasa, “qishash” (قصاص) berasal dari bahasa Arab yang berarti “mencari jejak”, seperti “al-qashash“. Sedangkan secara istilah, qishash adalah: Membalas pelaku kejahatan seperti perbuatannya, apabila ia membunuh maka dibunuh dan bila ia memotong anggota tubuh maka anggota tubuhnya juga dipotong.Seperti ditunjukkan firman Allah Ta’ala:

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالأَنفَ بِالأَنفِ وَالأُذُنَ بِالأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ

Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Al-Maidah:45

Qisas disyariatkan dalam al-Quran dan as-sunnah, serta ijma‘. Di antara dalil dari al-Quran adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالأنْثَى بِالأنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ  وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الألْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, qisas diwajibkan atasmu berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka, barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabbmu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” Qs. al-Baqarah:178-179.

Juga firman Allah ta’ala:

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالأَنفَ بِالأَنفِ وَالأُذُنَ بِالأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أنزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barang siapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang lalim. Al-Maidah:45

Sedangkan dalil dari as-Sunnah, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

مَنْ قُتِلَ لَهُ قَتِيلٌ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ إِمَّا أَنْ يُفْدَى وَإِمَّا أَنْ يُقْتَ

Siapa menjadi keluarga korban terbunuh maka ia memilih dua pilihan, bisa memilih diyat dan bisa juga dibunuh (qisas).” (HR. al-Jama’ah).

At-Tirmidzi meriwayatkan dengan lafadz:

لَمَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مَكَّةَ قَامَ فِي النَّاسِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ وَمَنْ قُتِلَ لَهُ قَتِيلٌ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ إِمَّا أَنْ يَعْفُوَ وَإِمَّا أَنْ يَقْتُلَ

 Ketika Allah membukakan kemenangan atas Rasulnya atas kota Makkah, beliau berdiri memuji Allah dan menyanjungnya lalu bersabda: “Siapa menjadi keluarga korban terbunuh maka ia diberi dua pilihan, memaafkannya dan atau membunuhnya.” HR. at-Tirmidzi, no. 1409.

Betapa indahanya Qishash

Di antara nama-nama Allah yang maha indah (Al-Asmaul Husna) adalah  Al-Hakim. Nama ini menunjukkan bahwa Dialah Allah Dzat yang memiliki hukum, dialah yang menetapkan dan memutuskan, dan Dialah yang menetapkan segala sesuatu dengan sempurna dan penuh hikmah.

Maka diantara bukti keimanan kita terhadap nama Allah Al-Hakim, kita meyakini bahwasannya semua hukum yang Allah tetapkan penuh dengan maslahat, kebaikan-kebaikan di dunia dan akhirat juga diliputi hikmah yang sangat sempurna.

Termasuk Qisas, syareat ini penuh dengan hikmah, sebagian kecilnya diketahui manusia dan banyak yang menjadi rahasia Allah Subhanahu wa Ta’ala, diantara hikmah-hikmah qishahs:

Pertama: Dengan ditegakkannya Qishash, masyarakat akan terjaga dari kejahatan. Karena hukuman ini menahan setiap orang yang akan berbuat dzalim dan menumpahkan darah orang lain. Dengan demikian terjagalah kehidupan manusia dari pembunuhan. Hikmah ini Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya,

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الألْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (Qs. al-Baqarah: 179).

Kedua: Dengan Qishash tegaklah keadilan, dan tertolonglah orang yang dizalimi, dengan memberikan kemudahan bagi wali korban untuk membalas kepada pelaku seperti yang dilakukan kepada korban. Allah berfirman,

وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُورًا

“Dan Barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” Qs. al-Isra`: 33ز

Ketiga: Qishash adalah kebaikan bagi pelaku kejahatan dimana dengan ditegakkannya qishash atas dirinya, Allah jadikan hukuman tersebut sebagai kafarah (penghapus dosa), sehingga di akherat tidak lagi dituntut, tentunya jika dia seorang muslim.

Berkata Imam Ahmad bin Hanbal: Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan telah ditegakkan had di dunia atas dosa yang ia lakukan, maka had tersebut adalah kafarat (penebus dosanya) sebagaimana telah sahih berita dari Rasulullah saw. (Ushulus Sunnah)

Diantara hadits yang dimaksudkan Imam Ahmad adalah hadits Ubadah bin Shamit Ra beliau berkata:

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ فَقَالَ تُبَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا تَزْنُوا وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَعُوقِبَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَسَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ

Suatu hari Kami bersama dengan Rasulullah saw di sebuah majelis. Beliau bersabda:“Berbai’atlah kalian kepadaku untuk tidak mensekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak pula kalian berzina, tidak pula tidak mencuri, dan jangan kalian membunuh jiwa yang Allah haramkan melainkan dengan hak. ‘Barangsiapa di antara kalian yang menunaikannya maka pahalanya ada pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan barangsiapa melanggar sebagiannya lalu dihukum (seperti Qishash, potong tangan –pen) maka hukuman itu sebagai penghapus dosa baginya. (Adapun) barangsiapa melanggarnya lalu Allah tutupi dirinya maka urusannya diserahkan kepada Allah, jika Dia berkehendak maka Dia mengampuninya dan bila Dia menghendaki maka Dia akan mengadzabnya.” (Muttafaqun ‘alaihi dan ini lafadz Imam Muslim).

Demikian pula hadits Khuzaimah bin Tsabit Ra, Rasulullah saw bersabda:

مَنْ أَصَابَ ذَنْبًا أُقِيمَ عَلَيْهِ حَدُّ ذَلِكَ الذَّنْبِ فَهُوَ كَفَّارَتُهُ

Barangsiapa melakukan dosa yang telah ditegakkan had dosa tersebut, itu menjadi penebus baginya. Diriwayatkan Imam Ahmad (5/214-215) dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah (5/408 no.2317).

Keempat: Terwujudnya kemakmuran dan barokah bagi negeri yang menegakkan qishash atau hadd. Sebagaimana ini ditunjukkan dalam hadits Abu Hurairah Ra Rasulullah saw bersabda:

حد يعمل به في الأرض خير لأهل الأرض من أن يمطروا أربعين صباحا

Satu hukuman hadd yang ditegakkan di muka bumi lebih baik bagi penduduk bumi itu daripada hujan yang menimpa mereka empat puluh hari. (HR. Ibnu Majah (2/111) dishahihkan Al-Albani dengan syawahidnya dalam Ash-Shahihah (1/461 no.231)

 

Qishash ada aturannya.

Disamping keindahan qishash yang tampak dalam hikmah-hikmahnya, syareat ini juga indah dari sisi aturan-aturannya.

Qishash tidak sembarang diterapkan seperti dibayangkan atau dituduhkan orang-orang yang jahil. Qishosh tidak sembrono tanpa aturan, namun ia adalah hukum Allah dengan tatanan yang indah dan penuh kesempurnaan.

Diantara aturannya, Qishosh tidak ditegakkan kecuali jika terpenuhi syarat-syaratnya. Syarat-syarat tersebut adalah:

Pertama: Semua wali korban yang berhak menuntut Qishosh adalah mukallaf. Jika ada diantara mereka anak kecil atau orang gila, maka hak penuntutan Qishosh tidak bisa diwakilkan oleh walinya, sebab pada Qishosh terdapat tujuan memuaskan (keluarga korban) dengan pembalasan. Dalam keadaan ini, pelaksanaan Qishosh wajib ditangguhkan, dengan memenjarakan pelaku pembunuhan hingga anak kecil tersebut baligh atau orang gila tersebut sadar, untuk kemudian mendengarkan dari mereka apakah Qishosh akan ditegakkan atau memaafkannya. Hal ini dilakukan Mu’awiyah bin Abi Sufyan Ra yang memenjarakan Hudbah bin Khasyram dalam Qishosh, hingga anak korban menjadi baligh.

إن معاوية حبس هدبة بن خشرم في قصاص حتى بلغ ابن القتيل

“Sesungguhnya Mu’awiyah memenjarakan Hudbah bin Khasyram dalam kasus Qishosh hingga anak korban mencapai umur baligh.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Irwaul Ghalil (7/276)

Amalan Mu’awiyah bin Abi Sufyan Ra ini dilakukan di zaman para sahabat dan tidak ada satupun yang mengingkarinya, sehingga seakan-akan menjadi ijma’ di masa beliau.

Apabila anak kecil atau orang gila keduanya membutuhkan nafkah dari para walinya, maka hanya wali orang gila saja yang boleh memberi pengampunan Qishosh kepada pembunuh dengan meminta diyat, karena orang gila tidak jelas kapan sembuhnya, berbeda dengan anak kecil. Al-Mulakhosh Al-Fiqh (2/476)

Syarat Kedua: Adanya kesepakatan dari para wali korban untuk ditegakkannya qishosh dan tidak dimaafkan. Apabila sebagian mereka -walaupun hanya seorang- memaafkan si pembunuh dari Qishosh, maka gugurlah Qishosh tersebut. (Asy-Syarhull Mumti’ (14/38)

عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ الْجُهَنِىِّ : أَنَّ رَجُلاً قَتَلَ امْرَأَتَهُ اسْتَعْدَى ثَلاَثَةُ إِخْوَةٍ لَهَا عَلَيْهِ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ فَعَفَا أَحَدُهُمْ فَقَالَ عُمَرُ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ لِلْبَاقِيَيْنِ خُذَا ثُلُثَىِ الدِّيَةِ فَإِنَّهُ لاَ سَبِيلَ إِلَى قَتْلِهِ.

Dari Zaid bin Wahb Al-Juhani, (di masa Umar) seorang membunuh istrinya, maka Umar memanggil tiga saudara wanita tersebut. Lalu salah seorang dari ketiganya memaafkan, berkatalah Umar: Ambilah oleh kalian berdua dua pertiga diat, karena sungguh tidak ada lagi jalan untuk membunuhnya. (Diriwayatkan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro (8/60) dengan sanad Shahih)

Syarat Ketiga: Aman dalam pelaksanaan Qishosh dari melampaui batas kepada selain pelaku pembunuhan, dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُورًا

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara lalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan. Al-Isra’: 33

Apabila Qishosh menyebabkan sikap melampaui batas, maka hal tersebut terlarang, sebagaimana dijelaskan dalam ayat di atas. Dengan demikian, apabila ada kasus wanita hamil akan di-Qishosh misalnya, maka di-Qishosh tidak ditegakkan hingga ia melahirkan anaknya, karena membunuh wanita tersebut dalam keadaan hamil akan menyebabkan kematian janinnya. Padahal janin tersebut tidakberdosa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ وَلا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلا عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.  Kemudian kepada Rabbmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan”. (Qs. al-An’am: 164).

Rasulullah saw menunda ditegakkannya rajam atas wanita Al-Ghamidiyah karena ia dalam keadaan hamil. Rasulullah saw perintahkan wanita ini menanti kelahiran anaknya dan menyusuinya hingga sang anak tidak lagi tergantung dengan susu ibunya.

Posted on Mei 27, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: