Perayaan Maulid Nabi, Siapa bilang tidak boleh?

Soal

Sebagian kaum muslimin memperingati kelahiran Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam, dengan suatu keyakinan bahwa ini adalah bagian dari hari raya Islam, dan termasuk amal ibadah mulia yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.

Sebagian muslimin lainnya tidak merayakan hari tersebut karena memandang amalan ini tidak ada dasarnya. Kelompok kedua ini banyak dituduh tidak mencintai Rasulullan shallallohu’alaihi wasallam karena tidak mau merayakan kelahiran beliau.

Ditengah perbedaan ini kita mengharap adanya keterangan yang menyejukkan dan terang dalam masalah mauled nabi Muhammad Shallallohu’alaihi wasallam. Atas penjelasannya saya ucapkan jazakumullohukhoiron.

Jawab:

Bulan Rabi’ul Awwal dikenal dengan bulan maulid (kelahiran), karena pada bulan itulah, tepatnya pada hari senin tanggal 12, junjungan kita nabi besar Muhammad shallallohu’alaihi wasallam dilahirkan, menurut pendapat jumhur ulama. Dan dalam penentuan tanggal kelahiran ada perbedaan pendapat di kalangan ulama siroh.
Tidak diragukan bahwa hari kelahiran Nabi mempunyai keutamaan di sisi Allah. Berkata Ibnu Qayyim Al Jauziyyah: “Nabi Muhammad dilahirkan pada tahun gajah (tahun dimana Allah hancurkan tentara bergajah yang dipimpin oleh Abrahah ketika hendak menyerang Ka’bah. Peristiwa ini adalah sebagai bentuk pemuliaan Allah kepada Nabi-Nya dan Baitullah Ka’bah.” (Zaadul Ma’ad: 1/74)
Akan tetapi apakah dengan kemuliaan tersebut disyari’atkan bagi kita untuk memperingatinya, menggelar acara maulid nabi, menjadikan hari raya, mengisi bulan maulid secara khusus dengan membaca semacam Maulid Barzanji ? Bahkan kaum muslimin yang tidak memperingatinya dinyatakan tidak setia dan tidak cinta dengan Rasulullah Shallallohu’alaihi wasallam?

Para pembaca yang budiman, masalah boleh tidaknya peringatan maulid nabi terus menjadi perketahuilah bahwa tolok ukur suatu kebenaran adalah Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah dari kalangan sahabat Nabi . Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisaa’: 59)

Tentu sebagai seorang muslim yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan beriman dengan Al-Qur’an. Ayat di atas akan menjadi pegangan hidupnya. Setiap persoalan, perselisihan dan perbedaan pendapat selalu dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam.

Maulid Nabawi Bid’ah Syiah Rafidhoh

Sebelum lebih jauh kita berbicara sejenak kita melihat Asal Muasal Maulid Nabawi, siapa yang mempelopori kali pertama?

Para ulama ahlus sunnah, ahli sejarah dan tarikh islam menjelaskan bahwa asal muasal perayaan maulid nabi adalah Kebidahan yang dipelopori orang-orang yang beragama Syiah Rafidhoh.

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitabnya Al Bidayah Wan Nihayah (11/172) menyatakan bahwa yang pertama kali mengadakan peringatan maulid Nabi adalah para raja kerajaan Fathimiyyah -Al ‘Ubaidiyyah yang dinisbatkan kepada ‘Ubaidullah bin Maimun Al Qaddah Al Yahudi-

Kerajaan Rafidhah ini dikafirkan para ulama karena penyimpangan mereka dari pokok-pokok islam, mereka (Para Raja Dinasti Fathimiyyah) beragama Syi’ah Isma’iliyyah Rafidhiyyah. Dinasti fathimiyyah berkuasa di Mesir sejak tahun 357 H hingga 567 H. Para raja Dinasty Fathimiyyah ini beragama.

Semisal dengan perkataan Ibnu Katsir dinyatakan pula oleh Al-Imam Al Miqrizi dalam kitabnya Al Mawaa’izh Wal I’tibar (1/490).[1]

Salah seorang ulama Al-Azhar, Asy Syaikh Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ Fi Mazhahiril Ibtida’ , hal. 126 berkata: “Di antara pakar sejarah ada yang menilai, bahwa yang pertama kali mengadakan peringatan maulid Nabi ialah para raja kerajaan Fathimiyyah di Kairo, pada abad ke-4 H. Mereka membuat enam perayaan maulid, yaitu maulid Nabi, maulid Imam Ali, maulid Sayyidah Fathimah Az Zahra, maulid Al Hasan dan Al Husain, dan maulid raja yang sedang berkuasa. Perayaan-perayaan tersebut terus berlangsung dengan berbagai modelnya, hingga akhirnya dilarang pada masa Raja Al Afdhal bin Amirul Juyusy. Namun kemudian dihidupkan kembali pada masa Al Hakim bin Amrullah pada tahun 524 H, setelah hampir dilupakan orang.

Maulid Nabi Tidak ada dalilnya dalam Al-Quran Dan As-Sunnah

Telah menjadi kesepakatan kita di awal majelis, dan inilah keharusan seorang muslim yang jujur dalam keimanan dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya untuk selalu kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam setiap perkara yang diperselisihkan.

Termasuk masalah di hadapan kita, apakah perayaan maulid Nabawi memiliki landasan dari Al-Quran dan As-Sunnah?

Saudaraku, Subhanallah! ketika kita kembali kepada Al Qur’an ternyata tidak ada satu ayat pun yang memerintahkannya, demikian pula di dalam As Sunnah tidak ada satu haditspun menyatakan beliau Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam melakukan perayaan tersebut atau memerintahkannya. Apalagi ayat atau hadits yang menjelaskan tata cara perayaan dan ubo rampe yang demikian banyak kita saksikan saat ini dalam perayaan maulid nabi.

Adakah Rasulullah melakukan peringatan kelahiran beliau di bulan Rabiul Awwal, adakah setiap tahun beliau mengundang shahabat untuk makan-makan sembari mendendangkan syair-syair dan menabuh rebana memperingati kelahiran beliau ? Ternyata beliau tidak melakukannya.

Kalau seandainya hal ini suatu kebaikan, sangat mustahil beliau menyembunyikan kebaikan tersebut kepada umat. Dan Sungguh kaum muslimin sepakat bahwa tidak ada sesuatu pun dari agama ini yang belum disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallohu’alaihi wasallam. Nabi bersabda:

مَا بَعَثَ اللهُ مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلىَ خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرُهُمْ شَرَّ ماَ يَعْلَمُهُ لَهُمْ

“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali wajib baginya untuk menunjukkan kepada umatnya segala kebaikan yang diketahuinya, dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang diketahuinya.” (HR. Muslim)

Maulid Nabi bukan Jalannya Para Shahabat
Telah lalu pembahasan bahwa Maulid nabi berasal dari bid’ah kaum syiah rafidhah yang mengadakan enam perayaan maulid. Bagaimanakah dengan para sahabat Nabi , apakah mereka memperingati hari kelahiran seorang yang paling mereka cintai ini?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Merayakan hari kelahiran Nabi tidak pernah dilakukan oleh Salaf (yakni para sahabat demikian pula tabiin dan atbaut tabi’in), meski ada peluang dan tidak ada penghalang tertentu bagi mereka untuk melakukannya. Kalaulah perayaan maulid ini murni suatu kebaikan atau lebih besar kebaikannya, pastilah kaum Salaf  orang yang lebih berhak merayakannya daripada kita. Karena kecintaan dan pengagungan mereka kepada Rasul lebih besar dari yang kita miliki, demikian pula semangat mereka dalam meraih kebaikan lebih besar daripada kita. (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim: 2/122). Namun itu semua tidak mereka lakukan.
Dimasa Umar bin Al-Khoththob, negeri islam meluas. Baitul Maqdis dikuasai, romawi dan persia tumbang, perbendaharaan kaisar dan kisra memenuhi baitul mal muslimin. Lalu kenapa umar tidak mengadakan perayaan Maulid, kenapa beliau sebagai khalifah tidak perintahkan para gubernur untuk mengadakan acara maulid di wilayah-wilayah islam ? Apakah kita akan katakan bahwa Umar dan seluruh shahabat telah mengkhianati agama? Tidak cinta Rasul? Demikian pula sebelumnya Abu Bakr Ash-Shiddiq dan khalifah sesudahnya, Utsman dan Ali ?

Bagaimana dengan tabi’in, tabi’ut tabi’in dan Imam-Imam yang empat (Al Imam Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i dan Ahmad), apakah mereka merayakan maulid Nabi ? Jawabnya adalah bahwa mereka sama sekali tidak pernah merayakannya. Cobalah kita buka kitab Al-Umm karya Asy-Syafi’i, adakah beliau sebutkan perayaan Maulid Nabi Muhammad Shallallohu’alaihi wasallam. Juga kitab-kitab ahlus sunnah lainnya.

Maulid Nabi Tasyabbuh dengan yahudi dan nasrani

Dan bila kita renungkan lebih dalam, ternyata peringatan Maulid Nabi ini merupakan bentuk tasyabbuh (penyerupaan) terhadap orang-orang Nashrani. Karena mereka biasa merayakan hari kelahiran Nabi Isa u. Rasulullah bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (H.R Ahmad)
Saudaraku, mungkinkah suatu amalan yang tidak ada perintahnya di dalam Al Qur’an dan As Sunnah, tidak pernah dilakukan atau diperintahkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, tidak pernah pula dilakukan oleh tabi’in, tabi’ut tabi’in, imam-imam madzhab yang empat bahkan amaliah ini hasil rekayasa para raja kerajaan Fathimiyyah dari keturunan Yahudi, dan juga mengandung unsur penyerupaan terhadap orang-orang Nashrani, tergolong sebagai amal ibadah dalam agama ini?

Rasulullah bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengada-adakan sesuatu hal yang baru dalam agama kami ini yang bukan bagian darinya, maka amalannya akan tertolak.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Alhamdulillah telah jelas jalan Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam dan jalan salaf dalam masalah ini, mari kita renungi firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Barangsiapa yang menyelisihi Rasul setelah jelas baginya kebenaran dan mengikuti selain jalan orang-orang mukmin (yakni sahabat Nabi), maka Aku akan palingkan ke mana mereka berpaling dan Kami masukkan mereka ke dalam Jahannam.” (An Nisaa’: 115)


[1] Lihat Ash Shufiyyah karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah hal. 43

Posted on Juni 1, 2012, in Fiqh - Tanya Jawab Fiqh, Sekte-Aliran-Bid'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: