Ingatlah Ketika Gunung Diangkat diatas kepala Bani Israil

Abu Ismail Muhammad Rijal

Duduk santai di depan rumah, ditemani secangkir kopi panas dan potongan-potongan singkong goreng tentulah satu kenikmatan. Apalagi sambil kedua mata menatap gunung yang gagah dan kokoh menampakkan keelokannya diiringi hembusan angin gunung yang demikian segar. Subhanallah.

Cobalah sesekali kita tanyakan, apa yang akan kita lakukan jika dengan tiba-tiba sang gunung terangkat ke atas langit, tepat di atas kepala-kepala kita. Apa yang akan kita lakukan? Lari ? berteriak ? atau apa yang kita perbuat ??

Jangan ada yang berkata: “Mustahil !”

Sungguh bukan hal yang susah bagi Allah untuk mengangkat gunung dan menjatuhkannya pada suatu kaum. Seandainya Allah menghendaki sebagaimana pernah terjadi pada umat-umat sebelum kita.

Bukan pula hal yang mustahil bagi Allah untuk menenggelamkan seseorang atau suatu kaum ke dalam bumi dengan sebab dosa merekasebagaimana pernah terjadi dimasa lalu seperti apa yang menimpa Qarun beserta harta dan keluarganya.

Gunung diangkat? Di masa Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam hampir-hampir sebuah gunung diangkat untuk mengadzab penentang Rasulullah saw.

Ketika beliau disakiti kaumnya, diusir dan dilempari batu. Allah utus malaikat penjaga gunung untuk mengangkatnya dan menjatuhkan pada kaum yang durjana. Suatu hari, ketika Rasulullah bercengkerama dengan Ummul Mukminin Aisyah, beliau bersabda:

لقد لقيت من قومك. وكان أشد ما لقيت منهم يوم العقبة. إذ عرضت نفسي على ابن عبد يا ليل بن عبد كلال. فلم يجبني إلى ما أردت. فانطلقت وأنا مهموم على وجهي. فلم أستفق إلا بقرن الثعالب. فرفعت رأسي فإذا أنا بسحابة قد أظلتني. فنظرت فإذا فيها جبريل. فناداني. فقال: إن الله عز وجل قد سمع قول قومك لك وما ردوا عليك. وقد بعث إليك ملك الجبال لتأمره بما شئت فيهم. قال: فناداني ملك الجبال وسلم علي. ثم قال: يا محمد! إن الله قد سمع قول قومك لك. وأنا ملك الجبال. وقد بعثني ربك إليك لتأمرني بأمرك. فما شئت؟ إن شئت أن أطبق عليهم الأخشبين. فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم : بل أرجو أن يخرج الله من أصلابهم من يعبد الله وحده، لا يشرك به شيئا

 “Wahai Aisyah, sungguh Aku telah mendapatkan gangguan dari kaummu. Dan peristiwa yang sungguh menyakitkan aku adalah peristiwa hari Aqabah, ketika aku menyeru Ibnu Abdi Yalil bin Abdu Kulal masuk Islam namun ia tidak menyambut apa yang kuhendaki.” Aku pun beranjak pergi dengan hati yang sedih, dan tidaklah aku tersadar kecuali setelah tiba di Qornu Tsa`alib[1]. Aku tengadahkan kepalaku ke langit, tiba-tiba tampak segumpal awan menaungiku. Aku angkat kepalaku, ternyata Jibril berada di sana dan berseru kepadaku,: “Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan jawaban mereka terhadapmu. Dan Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung kepadamu untuk engkau perintah ia apa yang menjadi kehendakmu atas mereka (orang-orang kafir).” Kemudian malaikat gunung berseru kepadaku serta mengucapkan salam, lalu berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan aku adalah malaikat gunung yang telah diutus Rabbmu kepadamu agar kamu memerintahkan kepadaku sesuai dengan perintahmu. ‘(Wahai Muhammad) apa yang kamu inginkan?’. Jika kamu menginginkan, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung itu[2]. Rasulullah saw. menjawab: Tidak, bahkan aku berharap semoga Allah melahirkan dari keturunan mereka orang-orang yang akan menyembah Allah semata serta tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun.”

Kisah malaikat penjaga gunung ini diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya.

Diangkatnya Gunung Kepada Bani Israil

Diangkatnya gunung pernah terjadi diwaktu silam. Tepatnya di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam. Kisah menakjubkan tersebut Allah sebutkan di beberapa tempat dalam Al-Qur’an. Gunung Thursina[3] diangkat diatas kepala-kepala bani isroil sebagai ancaman atas kedurhakaan mereka karena tidak mau mengambil At-Taurot.

Kisah ini disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Qur’an. Dalam Surat Al-Baqarah Allah berfirman::

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah dengan kuat apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu  bertakwa”. Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi. Al-Baqarah: 63-64

Dalam Ayat ke 93, masih dalam surat Al-Baqarah Allah berfirman:

وَلَقَدْ جَاءَكُم مُّوسَى بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ  وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُواْ مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُواْ قَالُواْ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُواْ فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهِ إِيمَانُكُمْ إِن كُنتُمْ مُّؤْمِنِينَ

Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang lalim. Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “Kami mendengarkan tetapi tidak menaati”. Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: “Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat)”. Al-Baqarah: 93

Kisah diangkatnya gunung di atas kepala-kepala bani Israil juga Allah sebutkan pula dalam Surat Al-A’raf:

وَإِذْ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ وَظَنُّوا أَنَّهُ وَاقِعٌ بِهِمْ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka): “Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa”. Al-A’raff: 171

Inilah Ayat-ayat Al-Quran, berita-berita ghaib mengisahkan berita Bani Israil di  zaman Musa ‘alaihissalam.

Mengapa Allah Angkat Gunung kepada Mereka?

Al-Imam Al-Baghowi dalam Tafsirnya mengisahkan sebab diangkatnya gunung kepada bani Israil sebagaimana diriwayatkan Shahabat Abdullah bin Abbas Ra.

Disebutkan dalam riwayat bahwa Allah memerintahkan salah satu gunung dari gunung-gunung di Palestina, maka terangkatlah gunung tersebut seakar-akarnya, diangkat hingga berada di atas kepala bani israil.

Allah angkat gunung karena kedurhakaan Bani Israil. Ketika Allah turunkan At-Tauroh kepada Musa ‘Alaihis salam dan beliau perintah kaumnya untuk segera menerima dan mengamalkan hukum-hukum At-taurot, mereka enggan dan menolaknya. Mereka enggan karena beratnya hukum yang ada di dalamnya, dan syariat Musa memang syareat yang berat.

Karena penolakan itulah, Allah perintah Jibril ‘Alaihis salam mengangkat gunung di atas seluruh bani Isroil berjarak setinggi manusia menaungi mereka. Lalu Musa berkata: Jika kalian tidak mau menerima taurot akan dijatuhkan gunung ini atas kalian.

Gunung apa yang diangkat di atas kepala-kepala bani Israil ?

Imam Ahlu Tafsir, Abu Ja’far Ath-Thabari menyebutkan beberapa perkataan ahli tafsir mengenai gunung yang dimaksud dalam firman Allah:

وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ

“..dan Kami angkatkan Ath-Thur di atasmu..”

Gunung apa yang diangkat di atas kepala-kepala bani Israil ?

Ada diantara ahlu tafsir yang mengatakan Ath-Thur maknanya gunung, yakni tidak ditentukan gunung apa yang dimaksud, yang jelas salah satu dari gunung-gunung yang ada.

Ibnu Abbas Ra menjelaskan bahwa Ath-Thur  adalah gunung dimana Allam mengajak bicara Musa Alaihis salam. Allahu ta’ala A’lam.


[1] Qornu Ats-Tsa’alib adalah Qornu Al-Manazil, miqat bagi penduduk Nejed untuk melakukan ibadah haji atau Umrah, berjarak sekitar 94 km dari Makkah, saat ini bernama As-Sailul Kabir.

[2] Dua gunung yang dimaksud adalah gunung Abu Qubais dan gunung yang dihadapannya.

[3]Ada beberapa pendapat ulama tentang gunung gunung yang diangkat di atas kaum nabi Musa.

Posted on Juni 10, 2012, in Kisah dan Ibroh and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: