Sikap Ketika Mendapatkan Dua Ulama Berbeda dalam Fatwa

Soal: Bagaimana sikap seseorang ketika mendapatkan fatwa yang berbeda dari para ulama ?

Masalah ini, yakni kenyataan adanya perbedaan fatwa sebenarnya menyebabkan kebingungan pada diri seorang yang tidak kokoh diatas manhaj (jalan) ilmu yang shohih, yaitu manhaj (jalan) nya salafus sholeh.

Di antara manhaj salafus sholih adalah apa yang diucapkan Al-imam Malik rahimahullah: “Maa min ahadin illa yukhodzu wa yutroku qouluhu illa shohib hadza Al Qobr”  (Tidak ada seorangpun –dari umat ini- melainkan ucapannya bisa diambil bisa pula di tolak, kecuali ucapan orang yang telah dikubur dalam kubur ini (sembari menunjuk makam Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam).

Ucapan Imam Malik adalah hakekat yang harus diyakini oleh setiap muslim, yang mengandung makna tidak ada seorangpun yang ma’shum kecuai Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam.

Jika seorang meyakini hakekat ini, niscaya yang dijadikan pegangan adalah ucapan Allah dan ucapan Rosululloh r. Adapun ucapan manusia biasa selalu dicerminkan ke pada Al-Quran dan As-Sunnah.

Kemudian ada hakikat lain yang harus diyakini yaitu hakikat syariyyah quraniyah, bahwa sudah menjadi sunnatulloh khilaf itu harus terjadi sebagaimana Allah berfirman dalam surat Hud : 118, yang maknanya:

“Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.”

Apakah Jalan yang harus ditempuh ketika ada khilaf di antara dua alim atau lebih ?

(2) Hendaknya kita bertanya atau melihat dalil-dalil dari kedua alim tadi, sebagaimana Allah telah perintahkan kita apabila berselisih untuk mengembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya, yakini kepada dalil Al-Quran dan As-Sunnah.

(2) Setelah ia mendengar dalil-dalil, harus dia ketahui bahwa dirinya tidak mukallaf (dituntut) untuk harus mengikuti fulan atau fulan (semata-mata taqliid/membebek). Akan tetapi kita dituntut untuk melihat dalil-dalil seluruhnya kemudian memilih yang paling tenang dalam hati. Mungkin salah satu dari kedua dalil ada yang Dha’if, mungkin mansukh (terhapus hukumnya) atau lainnya. Dan inilah mungkin salah satu yang dimaksud dalam hadits nabi wallahu a’lam istafti qolbaka. (Disarikan dari kaset Syaikh Al-Albani Rahimahullah oleh: Abu Ismail Muhammad Rijal Lc, dengan beberapa perubahan) (Lihat pula pembahasan: Benarkah Khilaf adalah Rahmat ?)

Posted on Juni 16, 2012, in Fiqh - Tanya Jawab Fiqh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: