Memakai Baju Impor dari Negara Kafir Tasyabbuhkah? (Beberapa Kaedah Tentang Tasyabbuh)

Soal: Bolehkah kita memakai baju impor dari negeri-negri kafir semacam Amerika, Australia, China dan selainnya? Apakah itu bukan bentuk tasyabbuh?

Jawab: Perlu diketahui bahwasannya pakaian-pakaian dan perkara lainnya terbagi menjadi tiga. Pertama: Pakaian yang khusus bagi laki-laki, kedua: Pakaian yang khusus untuk wanita. Ketiga: pakaian yang musytarok (berserikat untuk laki-laki dan wanita).

Jika telah diketahui pembagian ini maka bukan termasuk tasyabbuh apabila seorang lelaki memakai baju atau sesuatu yang juga biasa dipakai wanita jika baju atau sesuatu tersebut musytarok (berserikat penggunaannya). Contoh yang mudah, sandal jepit yang biasa digunakan baik untuk laki-laki atau wanita.

Serupa dengan kasus di atas, jika ada pakaian yang biasa dipakai kaum kafir (karena memang dibuat di negeri kafir), namun model baju tersebut bukan khusus untuk mereka (tidak menunjukkan kekhususan kaum kuffar) atau mereka sudah berpaling dari pakaian tadi, memakainya bukan termasuk tasyabbuh, tentunya dengan tetap memenuhi persyaratan syar’i berupa menutup aurat. Maka tidak mengapa jika kita memakai baju-baju impor dari Negara kafir selama baju-baju tersebut bukan baju khusus kuffar atau menjadi ciri khas kuffar.

Dalil yang menunjukkan apa yang kita sebutkan ini adalah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dalam Shohihain, suatu saat Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam dalam safar (perjalanan), di tengah perjalanan beliau pergi bersama Mughiroh bin Syu’bah untuk menuanaikan hajat. Ketika Mughiroh hendak menuangkan air wudhu, ketika Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam hendak mencuci tangan beliau, beliau memakai Jubbah Ruumiyah yang pergelangan tangannya sempit beliaupun megeluarkan tangan dari balik jubah.

Dalam kisah ini kita dapatkan beliau memakai baju dari romawi. Dan ketika itu Romawi adalah Negara nasrani, yakni negri kafir. Dengan memakainya jubah romawi ini, Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam tidak dikatakan mutasyabih dengan mereka. Karena baju tersebut bukan kekhususan mereka Allahu a’lamز

Seperti zaman sekarang, misalnya seorang memakai sandal dari negeri kafir, jika sandal tersebut bukan kekhususan mereka maka bukanlah ini termasuk tasyabbuh.

Seandainya suatu zaman, suatu pakaian sudah bukan kekhususan wanita baik dari sisi warna atau jenis misalnya maka tidak mengapa bagi laki-laki memakainya.

Demikian pula jika suatu zaman pakaian khusus orang kafir sudah bukan lagi kekhususan mereka maka memakainya bukan tasyabbuh dengan wanita atau kuffar. Kita tidak melihat asal baju tersebut, akan tetapi yang kita lihat adalah Waqi’ (kenyataan) Sekarang apakah itu menjadi kekhususan kaun kafir atau bukan. Sebagaimana dikatakan dalam kaedah: Al-Hukmu Yaduru ma’a illatihi wujudan wa ‘adaman.

Posted on Juni 17, 2012, in Fiqh - Tanya Jawab Fiqh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: