Takbir Sujud Tilawah, JIka beda pendapat apakah kita ikut imam?

Soal: Jika Imam Melakukan Sujud Tilawah dan Mengucapkan Takbir, apakah Makmum Ikut Mengucapkan Takbir?

 Jawab:

Pertanyaan ini mengandung dua masalah, pertama tentang hukum takbir dalam sujud tilawah, kedua tentang makmum apakah mengikuti takbir apabila dia tidak berpendapat disyareatkannya takbir dalam sujud tilawah.

Masalah pertama, apakah disyareatkan takbir untuk sujud tilawah ? Ketahuilah bahwasannya tidak ada riwayat/keterangan yang tegas dari Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam bahwa beliau bertakbir (saat sujud tilawah). akan tetapi datang keterangan dari atsar Ibnu masud Radhiyallohu’anhu bahwa ibnu mas’ud mengucapkan takbir ketika sujud tilawah.

Dalam masalah ini terjadi khilaf dikalangan ulama, Sebagaian berpendapat tidak adanya takbir ketika sujud tilawah dengan alasan tidak ada riwayat shahih dari Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam. Dan ini pendapat Syaikh Al-Albani. Sebagian ulama berpendapat bahwa setiap gerakan imam membaca takbir termasuk ketika akan sujud tilawah dan bangun dari sujud tilawah. Guru kami Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah menguatkan pendapat kedua ini.

Masalah kedua  yang terkandung dalam pertanyaan adalah: Apabila imam sujud tilawah dan bertakbir, apakah kita sebagai makmum wajib mengikuti imam bertakbir jika pendapat kita berbeda dengan pendapat Imam ?

Karena tidak ada riwayat shahih dari Rasulullah tentang takbirnya beliau  maka kita tidak bertakbir walaupun imam bertakbir.

Jika ada yang bertanya, bukankah imam wajib diikuti? maka jawababannya: Ya wajib diikuti dan tidak boleh diselisihi dalam perkara-perkara yang tampak (Dzahir). Adapun dalam perkara yang tidak tampak (khofy) kita melakukan apa yang kita yakini sesuai dengan dalil syar’i.

Takbir termasuk perkara yang khofiyah (samar) dimana tidak tampak penyelisihannya makmum jika menyelisishi imam, sehingga kita tetap mengikuti yang rajih yang sesuai dengan hadyur rasul (bimbingan Rasulullah ) shallalohu’alaihi wasallam dalam masalah ini yaitu tidak bertakbir.

Berbeda dengan perkara yang dzohir yang tampak penyelisihannya. Jika yang dilakukan imam adalah perkara yang dzohir (tampak) maka kita mengikuti imam, seperti meletakkan tangan di dada, duduk iftirosy atau tawaruk dan yang semisalnya. Adapun takbir sujud tilawah sebagaimana yang ditanyakan, ini termasuk perkara yang khofiy. Maka kita tidak ikut takbir karena tidak tampak mukholafah dan mutaba’ah. Allahua’lam.

Posted on Juni 17, 2012, in Fiqh - Tanya Jawab Fiqh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: