Ilmu Yang Bermanfaat, dan Jalan keselamatan adalah Kembali Kepada Pemahaman Shahabat

Soal: [1]

Betapa kebingungan menimpa umat ini kala harus berhadapan dengan pendapat-pendapat dan keyakinan-keyakinan yang berbeda. Berikan nasehat kepada kami bagaimana jalan keluar dari fitnah firqoh (kelompok-kelompok sesat) yang demikian banyak?

 

Jawab:

Jalan keluar dari kesesatan adalah memohon pertolongan dan bimbingan kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya hidayah di Tangan-Nya. Berdoalah kepada Allah dengan ketulusan, ketundukan, penuh harap dann cemas kepada-Nya. Berdoalah di waktu-waktu yang mustajab seperti di sepertiga malam yang terakhir, atau ketika sujud, ketika hujan dan waktu-waktu mustajab lainnya.

Disamping berdoa kepada Allah, wajib bagi kita menempuh jalan keselamatan, dan yang terpenting adalah menuntut ilmu Syariat. Rasulullah Shallallohu’alaihi wasallam bersabda:

Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, dengan itu Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Al-Jannah.

Ya… keselamatan tidak akan diperoleh kecuali dengan menuntut ilmu nafi’ dan amalan salih.[2]

Soal:

Saat ini banyak tempat kita mencari ilmu Agama, banyak pula media-media untuk memperoleh ilmu agama. Tetapi kami masih mendapatkan kesulitan karena kita dapatkan perbedaan-perbedaan. Manakah ilmu yang benar-benar menyelamatkan kita dari kesesatan?

Yang dimaksud dengan ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat) adalah : Ilmu yang diambil dari Al-Kitab dan As-Sunnah bersandar pada apa yang difahami shahabat radhiyallahu ‘anhum.

Mengapa harus disandarkan pada pemahaman shahabat?  Karena mereka adalah generasi yang telah mengambil keduanya dengan kuat; tanpa penambahan dan pengurangan dari sisi riwayat, dan tanpa adanya inhirof (penyelisihan/penyimpangan) dalam pemahaman.

Kenapa harus dengan pemahaman shahabat? Yang demikian itu untuk menjaga Al-Kitab dan As-Sunnah dari inhirof (penyimpangan).

Oleh karenanya, dakwah yang diserukan ahlus sunnah waljamaah kepada umat adalah: Menyeru manusia kepada Al-Kitab dan sunnah di atas manhaj (pemahaman/jalan) salaf as-shalih (shahabat radhiyallahu ‘anhum).

Soal:

Apakah kembali kepada pemahaman salaf adalah perkara yang wajib dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah?

Jawab:

Ya, wajib bagi kita kembali kepada pemahaman Salaf dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah.

Menyimpang dari manhaj (jalan) shahabat adalah sebab terjadinya perpecahan dan munculnya firoq (kelompok-kelompok sesat) yang demikian banyak, sebagaimana dikabarkan dalam kabar kenabian Rasulullah, dalam hadits shahih:

Yahudi tercerai berai menjadi 71 golongan, nashoro tercerai berai menjadi 72 golongan dan ummatku tercerai berai menjadi 73 golongan, semuanya di dalam neraka kecuali satu. Beliau ditanya siapakah mereka wahai Rasulullah ? Mereka adalah orang-orang yang berjalan di atas jalanku dan jalan shahabat-shahabatku,[1]

Kelompok yang selamat adalah Firqoh najiyah. Mereka hanya satu, tidak ada yang keduanya. Bagaimana sifat mereka? Rasulullah mensifati firqotun najiyah bahwasannya mereka adalah orang-orang yang berjalan di atas jalan Rasulullah dan shahabatnya.


[1] Syaikh Abdul Karim Murad memiliki pembahasan hadits iftiroq umat, demikian pula Asy-Syaikh Al-Albani membahas rinci dari sisi sanad dan makna hadits pada Silsilah As-Shahihah (1/404-414) no.204


[1] Asal dari risalah ini adalah kaset muhadharah Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, no. 161/1 dengan perubahan-perubahan dan penambahan. Download

[2]Karena pentingnya ilmu nafi’ dan Amal salih, Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam mengajarkan kita untuk memintanya di setiap pagi selepas shalat subuh: Allahumma inni asaluka ‘ilman nafi’a wa rizqon Thoyyiba wa ‘amalan mutaqabbala.

Posted on Juni 24, 2012, in Aqidah, Fiqh - Tanya Jawab Fiqh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: