Daily Archives: Juli 14, 2012

Puasa Bersama Pemerintah ? Jika Penguasa Mengakhirkan Shalat Haruskah Ibadah Bersama Pemerintah ?

Penulis: Abu Isma’il Muhammad Rijal (Sumber: Majallah Asy Syariah Ed.84)

عن أبي ذر قال : قال لي رسول الله r : يا أبا ذر إنه سيكون عليكم أمراء يؤخرون الصلاة عن مواقيتها فإن أنت أدركتهم فصل الصلاة لوقتها وربما قال في رحلك ثم ائتهم فإن وجدتهم قد صلوا كنت قد صليت وإن وجدتهم لم يصلوا صليت معهم فتكون لك نافلة

Dari Abu Dzarr t,: Rasulullah r berkata kepadaku: Wahai Abu Dzarr, sungguh akan muncul atas kalian penguasa-penguasa yang mengakhirkan shalat dari waktu-waktunya. Jika engkau dapatkan mereka, shalatlah engkau pada waktunya.” -atau beliau mengatakan- :”Shalatlah dirumahmu- kemudian datangilah mereka, jika kalian dapatkan mereka sudah shalat, engkau telah tunaikan shalat sebelumnya, seandainya engkau dapatkan mereka belum shalat, maka shalatlah bersama mereka dan shalat itu bagimu nafilah ( sunnah).”

Takhrij Hadits

Hadits Abu Dzarr Al-Ghifari t dengan lafadz diatas diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad (5/169) melalui jalan Isma’il bin Ibrahim bin Miqsam yang dikenal dengan Ibnu ‘Ulaiyyah, dari Sholih bin Rustum, Abu ‘Amir Al-Khozzaz dari Abu ‘Imran Al-Jauni dari Abdullah bin Shomit dari Shahabat Abu Dzarr Ra.

Hadits Abu Dzarr t diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (1/448 no.648),  Abu Dawud dalam Kitab Shalat bab Idza Akhkhoro Al-Imam Ashshalah ‘anil waqti (Jika Imam mengakhirkan Shalat dari waktunya) no. 431, At-Tirmidzi (1/232 no.176), An-Nasai no.858, Ibnu Majah no.1257, Ad-Darimi no. 1229 bab Ash-Shalah Kholfa man Yuakhkhiru Ash-Shalah ‘An Waqtiha (Bab tentang shalat dibelakang orang yang mengakhirkan shalat dari waktunya), dan At-Thahawi (1/263), semua meriwayatkan melalui jalan Abu Imran Al-Jauni dari Abdullah bin Ash-Shomit dari Abu Darr Ra.

Tentang hadits ini berkata At-Tirmidzi: “Haditsun Hasanun.” (Hadits ini hasan).

Beliau juga berkata: “Dan dalam bab ini diriwayatkan pula dari Abdullah bin Mas’ud dan ‘Ubadah bin Ash-Shomit t.”

Hadits Abu Dzarr t memiliki banyak syawahid sebagaimana disebutkan At-Tirmidzi diantaranya:

Pertama: Hadits Ubadah bin Shamit t. Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud, An-Nasai dan Ibnu Majah secara marfu’, diriwayatkan pula secara mauquf oleh Imam Ahmad dan Muslim. Abdullah bin Mas’ud t. berkata:

قال لي رسول الله r: كيف بكم إذا أتت عليكم أمراء يصلون الصلاة لغير ميقاتها ؟”. قلت: فما تأمرني إن أدركني ذلك يا رسول الله ؟ قال: “صل الصلاة لميقاتها، واجعل صلاتك معهم سبحة.

Rasulullah r bertanya kepadaku: Apa yang kalian lakukan seandainya datang pada kalian penguasa-penguasa yang mengakhirkan shalat, tidak pada waktunya \? Aku jawab: “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan padaku seandainya zaman itu menjumpaiku? Rasulullah r bersabda: Shalatlah engkau pada waktunya, dan jadikanlah shalatmu bersama mereka sebagai amalan sunnah.” (Dashahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Kedua: Hadits Ubadah bin Ash-Shamit Ra. Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud dan Ibnu Majah.

عن عبادة بن الصامت ؛ قال: قال رسول الله r: إنها ستكون عليكم بعدي أمراء تشغلهم أشياء عن الصلاة لوقتها حتى يذهب وقتها، فصلوا الصلاة لوقتها. فقال رجل: يا رسول الله ! أصلي معهم ؟ قال: نعم؛ إن شئت  .

Dari Ubadah bin Shamit Ra berkata: Rasulullah r bersabda: Sungguh sepeninggalku akan ada ditengah kalian penguasa yang mereka disibukkan oleh perkara-perkara dari shalat pada waktunya hingga pergi waktunya, maka shalatlah kalian pada waktunya. Salah seorang shahabat bertanya: Wahai Rasulullah apakah aku shalat bersama mereka? Rasul bersabda: Ya, jika engkau suka. (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)

Ketiga: Hadits Syaddad bin Aus RA. Dalam hadits Syaddad Rasulullah r bersabda:

سيكون من بعدي أئمة يميتون الصلاة عن مواقيتها فصلوا الصلاة لوقتها واجعلوا صلاتكم معهم سبحة

Akan ada sepeninggalku penguasa-penguasa yang mematikan shalat dari waktu-waktunya, maka shalatlah kalian pada waktunya dan jadikanlah shalat kalian bersama mereka sebagai shalat sunnah. HR. Ahmad (4/124).

Berita Ghaib Yang Terwujud

Perkara ghaib adalah mutlak milik Allah. Tidak ada yang mengetahui sedikitpun dari perkara ghaib di antara makhluk-makhluknya, baik malaikat, nabi dan Rasul apalagi selain mereka. Allah Ta’ala berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Al-Lauh Al-mahfuz). Al-An’am: 59

Adapun apa yang diberitakan para Rasul tentang perkara ghaib, bukan karena mereka mengetahui perkara ghaib, namun mereka kabarkan berdasar wahyu Allah ta’ala yang Allah wahyukan kepada mereka. Allah berfirman:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا # إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Al-Jin: 26-27

Hadits Abu Dzarr Ra termasuk berita-berita ghaib yang Rasulullah r kabarkan sebagai salah satu mukjizat dan tanda kenabian. Beliau kabarkan munculnya penguasa-penguasa yang mengakhirkan shalat, berita itu pun terjadi.

Apa makna mereka Mengakhirkan Shalat?

Apa maksud sabda Rasulullah Saw:”Mereka “mengakhirkan shalat”?

Apakah maknanya mereka mengakhirkan shalat hingga keluar dari waktunya secara keseluruhan, seperti mengakhirkan shalat ashar hingga tenggelam matahari dan masuk waktu Maghrib? Atau maknanya mengakhirkan shalat dari awal waktu (waktu ikhtiyar) dan menunaikannya diakhir waktu (waktu idhthiror)?

Sebagaimana diketahui bahwa waktu shalat ada dua, pertama waktu ikhtiyar, yaitu awal waktu dimana seorang muslim seharusnya melaksanakan shalat diwaktu tersebut. Waktu kedua adalah waktu Idhthiror yaitu waktu yang masih diperbolehkan seseorang menunaikan shalat dalam keadaan darurat (memiliki udzur).

Shalat isya’ dan ashar misalnya, keduanya memiliki dua waktu tersebut. Waktu ikhtiyar untuk shalat Isya adalah sejak masuk waktu isya’ hingga pertengahan malam, adapun selepas pertengahan malam hingga terbit fajar adalah waktu idhthirar. Waktu ikhtiyar untuk shalat ashar dimulai semenjak bayangan sesuatu sama dengan dirinya[1] hingga bayangan sesuatu tersebut menjadi dua kali lipat dirinya. Adapun waktu idhtiror dimulai sejak bayangan sesuatu dua kali dirinya hingga tenggelam matahari.

Kita kembali kepada hadits Abu Dzarr Ra, dalam hadits ini Rasulullah r mensifati para penguasa yang akan datang dengan sebuah sifat:

سيكون عليكم أمراء يؤخرون الصلاة عن مواقيتها

“Sungguh akan muncul dihadapan kalian penguasa-penguasa yang mengakhirkan shalat dari waktu-waktunya.

Maksud dari sabda Rasulullah saw: “Mereka mengakhirkan shalat.” adalah mengakhirkan shalat dari waktu ikhtiyar dan melakukannya di waktu idhtirar, bukan maknanya mengakhirkan hingga keluar waktu shalat dan masuk waktu shalat berikutnya.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menerangkan bahwasannya maksud sabda beliau dalam hadits-hadits ini (يؤخرون الصلاة عن وقتها) “mereka mengakhirkan shalat dari waktunya.” yakni waktu ikhtiyar dan bukan maksudnya mereka mengakhirkan setelah semua waktu habis. Riwayat-riwayat yang dinukilkan tentang penguasa-penguasa yang telah lalu, yang mereka lakukan adalah mengakhirkan shalat dari waktu yang mukhtar dan tidak ada satupun dari mereka mengakhirkannya hingga habis semua waktu. Oleh karena itu berita berita-berita Rasul tentang penguasa yang mengakhirkan shalat ini dibawa kepada kenyataan yang telah terjadi.” (Al-Minhaj dan Al-Majmu’ (3/48))

Apa Yang Kita Lakukan Jika Penguasa Mengakhirkan Shalat dari waktu ikhtiyar? (lebih…)

Iklan