Daily Archives: Juli 18, 2012

Shahihkah Hadits Ibnu ‘Abbas Tentang Bolehnya Nyanyian dan Alat Musik?

Abu Ismail Muhammad Rijal

عَنْ ابنِ عباسٍ أنَّ رسولَ الله r خَرَجَ وقَدْ رشَّ حسَّانُ فِناءَ أطمِهِ وأصحابُ رسولِ اللهِ r سِمَاطَين وبينهم جاريةٌ لحسَّانَ يقال لها سيرين  ومعها مِزْهَرٌ لها تغنِّيهم وهي تقول في غِنَائها : ( هل عليَّ وَيْحَكم * إنْ لهوتُ من حَرَجٍ ) فتبسّم رسول الله r  وقال  : (( لا حرج ))

Artinya: “Dari Ibnu ‘Abbas t bahwasanya Rasulullah r keluar ketika Hassan[1] t telah menyirami halaman tempat tinggalnya, sementara para shahabat radhiyallahu‘anhum duduk dua saf, di tengah-tengah mereka budak perempuan milik Hassan t  bernama Sirin membawa mizhar-nya (sejenis alat musik berdawai seperti kecapi) berdendang untuk para shahabat. Dalam nyanyiannya dia mengatakan: “Celaka! apakah ada atasku * dosa jika aku berdendang?” Maka Rasulullah r tersenyum seraya bersabda: “Tidak mengapa (tidak ada dosa atasmu).”

Sepintas, siapapun yang membaca hadits ini akan mengambil kesimpulan bahwa nyanyian dan alat musik adalah sesuatu yang wajar dan boleh-boleh saja. Demikian difahami dari zhahir hadits ini. Rasulullah r memberikan hukum atas perbuatan budak Hassan bin Tsabit t dengan sabda beliau r: “Laa haraj” (tidak mengapa), yang menunjukkan kebolehan apa yang dilakukan Sirin, budak perempuan Hassan bin Tsabit t.

Dalam hadits juga terdapat taqrir (persetujuan) Nabi r kepada para shahabat t yang menikmati mizhar dan mendengarkan alunan suara Sirin,  sehingga difahami bahwa perbuatan tersebut adalah perkara mubah, sebagaimana telah ditetapkan dalam ilmu ushul bahwasannya persetujuan Nabi r atas perbuatan yang dilakukan di hadapan beliau menunjukkan bolehnya perbuatan tersebut.

Para pembaca rahimakumullah, sesungguhnya hadits ini adalah sekian dari syubhat-syubhat yang dijadikan sandaran oleh hati-hati berpenyakit untuk membolehkan nyanyian dan alat musik. Akan tetapi benarkah hadits ini adalah dalil untuk mereka? Sahihkah penyandaran hadits ini kepada Rasulullah r? (lebih…)

Iklan