Apakah Yang Disyareatkan Ketika Setan Menjelma?

Soal: Benarkah ada Syaiton yang dinamai Ghul yang biasa menjelma dirinya kepada musafirin dengan berbagai macam bentuk untuk menyesatkan mereka dan membinasakan dalam perjalanan? Dan apa yang seharusnya dilakukan seorang muslim ketika mendapatkan gangguan dari syaiton dalam perjalanannya?

Jawab:

Tentang makna Ghul berkata Ibnu Hajar dalam Fathul Bari:

وَأَمَّا الْغُول فَقَالَ الْجُمْهُور : كَانَتْ الْعَرَب تَزْعُم أَنَّ الْغِيلَان فِي الْفَلَوَات ، وَهِيَ جِنْس مِنْ الشَّيَاطِين تَتَرَاءَى لِلنَّاسِ وَتَتَغَوَّل لَهُمْ تَغَوُّلًا أَيْ تَتَلَوَّن تَلَوُّنًا فَتَضِلّهُمْ عَنْ الطَّرِيق فَتُهْلِكهُمْ ، وَقَدْ كَثُرَ فِي كَلَامهمْ ” غَالَتْهُ الْغُول” أَيْ أَهْلَكَتْهُ أَوْ أَضَلَّتْهُ

Adapun Ghul, jumhur ulama berkata: “Dahulu orang-orang arab berkeyakinan bahwa ghoilan berada di padang pasir, ghaoilan adalah jenis setan yang menjelma dan menampakkan dirinya dihadapan manusia dengan beragam bentuk untuk menyesatkan mereka dari jalan sehingga terjatuh pada kebinasaan, dalam pembicaraan mereka sering terucap: “غَالَتْهُ الْغُول“ artinya “Setan telah membinasakannya.”

Dalam sebuah hadits Shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam menafi’kan yakni meniadakan ghul ini. Yang beliau nafi’kan adalah keyakinan orang arab tentang ghailan dan bukan keberadaan ghaoilan itu sendiri –Allahua’lam.

Berkata Syaikh Sholih Fauzan: “Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam bersabda:

ولا غول

“Tidak ada ghul”

“Ghul” adalah kata tunggal dari “Ghoilan”. Ghaoilan termasuk perbuatan-perbuatan syayatin dimana mereka menjelma dihadapan manusia di padang pasir (atau semisalnya) terlebih ketika manusia memiliki rasa takut, setan menjelma dengan bentuk-bentuk yang menyesatkannya dari jalan, bisa jadi menjelma dihadapan manusia dalam bentuk api yang berpindah-pindah, atau suara yang tersengar atau menjelma dalam bentuk lain, oleh karenanya Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam bersabda:

إذا تغوّلت الغيلان فبادروا بالأذان

“Jika Syaiton menampakkan (gangguannya) maka berseberalah kalian adzan”

Makna hadits ini, jika setan ghul menjelma  dihadapanmu segeralah berdzikir kepada Allah sebab dzikir kepada-Nya mengusir syaiton, maka jika engkau berdzikir kepada Allah atau engkau membaca Al-Quran hilanglah perbuatan setan tersebut.

Nabi Shallallohu’alaihi wasallam dalam hadits ini juga meniadakan adanya ghul. (Maksudnya meniadakan keyakinan orang jahiliyah tentang ghul), mereka di masa jahiliyah meyakini bahwasannya ghailan membuat kejelekan untuk mereka (dengan sendirinya) kemudian Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam meniadakan keyakinan tersebut dan berkata: Sesungguhnya ghul tidak ada, apa yang tampak berupa gangguan-gangguan adalah amalan-amalan syaitan yang tidak membahayakan seorang pun kecuali dengan idzin Allah, lalu beliau menyebutkan obat ketika melihat gangguan-gangguan tersebut yaitu dzikir kepada Allah. (I’anatul Mustafid (2/11)

Ketika seorang mendapat gangguan dalam perjalanannya maka hendaknya dia berdzikir kepada Allah dan berlindung kepadanya. Seperti doa yang diajarkan Rasulullah shalallaohu’alaihi wasallam: A’udzubikalimatillahittamati min syarri ma kholaq.

Soal: Bagaimana Derajat Hadits: “Idza Taghowwalatil Ghailan Fabadiru bil Adzan” ? Apa makna Adzan dalam hadits tersebut ?

Jawab:

Dzahirnya ada perbedaan pendapat tentang derajat hadits ini. Dari tinjauan sanad, hadits ini dhaif. Allahu ta’ala a’lam. Syaikh Al-Albani Rahimahullah melemahkan hadits ini karena inqitho’ (keterputusan sanad) antara Al-Hasan Al-Bashri dan Jabir bin Abdillah, dimana Al-Hasan tidak mendengar dari Jabir. Hadits ini memiliki syawahid namun tidak bisa menguatkan riwayat Hasan dari Jabir karena kelemahannya yang sangat. Silahkan rujuk pembahasan takhrij hadits ini dalam Silsilah Dhaifah. (III/ 227 no.1140).

Jika hadits ini shahih maka makna adzan adalah dzikir kepada Allah ta’ala, sebagaimana disebutkan Ibnu Atsir dalam An-Nihayah, Ibnu Muflih dalam Al-Adab Asy-Syar’iyyah dan lainnya. Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Baz tentang hadits ini:

والمعنى: أن ذكر الله يطردها، وهكذا التعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق، يقي من شرها وشر غيرها، مع الأخذ بالأسباب التي جعلها الله أسبابا للوقاية من كل شر.

Maknanya: Dzikir kepada Allah akan mengusirnya, demikian pula berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan makhlukNya melindungi dari kejelekan syaiton dan makhluk lainnya, tentu diiringi dengan menempuh sebab-sebab yang Allah jadikan sebagai sebab yang melindunginya dari semua kejelekan. (Majmu’ Fatawa bin Baz (25/93)

Sebagian ulama berpendapat disyareatkannya adzan ketika melihat Ghaoilan. Diantara mereka adalah Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’idalam Al-Adzkar. Allahuta’ala a’lam.

 

 

 

Posted on Juli 19, 2012, in Aqidah, Fiqh - Tanya Jawab Fiqh and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: