Daily Archives: Agustus 6, 2012

Atsar Salaf Tentang Halawatul Iman – Jalan Meraih Manisnya Iman (Bag-2)

Pembaca rahimakumullah, sebagai generasi terbaik, para shahabat telah merasakan lezatnya iman. Kebahagiaanpun mereka raih bersama bimbingan Rasulullah r. Mari kita simak beberapa atsar shahabat tentang halawatal iman.

Abdullah bin Al-Abbas bin Abdil Muththalib t berkata:

من أحب في الله ، وأبغض في الله ، ووالى في الله ، وعادى في الله ، فإنما تنال ولاية الله بذلك ، ولن يجد عبد طعم الإيمان- وإن كثرت صلاته وصومه- حتى يكون كذلكوقد صارت عامة مؤاخاة الناس على أمر الدنيا ، وذلك لا يجدي على أهله شيئا

Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, membela karena Allah dan memusuhi karena Allah, dengan itu ia peroleh kecintaan Allah, dan seorang hamba tidak akan mendapatkan manisnya iman meskipun banyak sholat dan puasanya hingga ia memiliki sifat-sifat itu. Dan sungguh kebanyakan persaudaraan manusia karena urusan dunia (bukan lagi karena Allah) dan yang seperti itu tidaklah memberi manfaat sedikitpun padanya. (HR. Abu Dawud Kitab As-Sunnah no. 4681 dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 380)

Shahabat Ubadah bin Ash-Shamit t pernah berwasiat kepada putranya:

يَا بُنَىَّ إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الإِيمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :« إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ قَالَ رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ ». يَا بُنَىَّ إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :« مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّى ».

Wahai anakku, sungguh engkau tidak akan mendapatkan kelezatan hakekat iman hingga engkau meyakini bahwasannya apa yang telah Allah takdirkan menimpamu tidak akan luput darimu dan apa yang ditakdirkan tidak menimpamu tidak mungkin mengenai dirimu. Aku mendengar Rasulullah r bersabda: Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah qalam (pena) lalu Allah berfirman kepadanya: “Tulislah!” Pena berkata: Wahai Rabbku apa yang aku tulis?” Allah berfirman: “Tulislah takdir-takdir segala sesuatu hingga tegak hari kiamat. Kemudian Ubadah berkata: Wahai anakku sungguh aku mendengar Rasulullah r bersabda: Barangsiapa mati tidak diatas keimanan kepada takdir, ia bukan dari golonganku.” (Sunan Abu Dawud no. 4078 dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Ammar bin Yasir t salah seorang sahabat peraih janji surga berkata:

ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان الإنفاق من الإقتار وإنصاف الناس من نفسك وبذل السلام للعالم

Tiga perkara barang siapa tiga perkara itu ada padanya ia akan merasakan manisnya iman, berinfak di masa sempit, bertindak adil kepada manusia, dan menebarkan salam kepada manusia. ( HR. Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf no. 19439 dari Ma’mar dari Abu Ishaq dari Shilah bin Zufar dari Ammar bin Yasir t)

Berkata Abdullah Ibnu Mas’ud Al-Hudzali t:

ثلاث من كن فيه يجد بهن حلاوة الإيمان : ترك المراء في الحق ، والكذب في المزاحة ، ويعلم أن ما أصابه لم يكن ليخطئه ، وأن ما أخطأه لم يكن ليصيبه.

Tiga perkara barangsiapa tiga perkara itu ada padanya niscaya ia akan mendapatkan manisnya iman: Meninggalkan perdebatan sementara ia berhak, meninggalkan dusta meskipun dalam gurauan, dan ia yakin bahwa apa yang ditakdirkan pasti tidak akan luput darinya, dan apa yang tidak ditakdirkan tidak akan menimpanya (Diriwayatkan Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (9/157 no.8790) Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf no.20082).

Berlomba Meraih Manisnya Iman

Hadits-hadits dan atsar shahabat yang telah lalu menunjukkan bahwa manisnya iman adalah perkara yang bisa dirasakan seorang mukmin. Tentu keledzatan dan manisnya iman tersebut bertingkat-tingkat antara seorang mukmin dengan mukmin lainnya.

Kelezatan iman dalam kalbu seorang mukmin yang kokoh adalah kenikmatan yang agung, melebihi kenikmatan-kenikmatan dunia, bahkan tidak bisa dibandingkan. Bisa jadi seorang kurang dari sisi dunianya namun sesungguhnya ia orang yang berada dalam puncak-puncak kebahagiaan karena iman yang tertanam dalam kalbunya.

Suatu saat Ibrahim bin Adham[1] rahimahullah –salah seorang ulama ahlul hadits dan ahli zuhud di zamannya- berjalan dalam sebuah safar bersama sahabat-sahabatnya. Dalam perjalanan tersebut mereka beristirahat untuk menikmati bekal berupa potongan roti-roti kering –bukan daging dan roti-roti basah dari tepung gandum halus yang biasa dihidangkan di meja para raja- lalu Ibrahim turun ke sungai, dia ambil air dengan tangannya, meneguknya dengan menyebut Asma-Allah, kemudian berkata:

لو علم الملوك وأبناء الملوك ما نحن فيه لجالدونا عليه بالسيوف.

Seandainya para raja dan anak-anak para raja mengetahui (kebahagiaan dan kelezatan) yang sedang kita rasakan niscaya mereka akan mencambuk kita dengan pedang-pedang (karena iri dan tidak mendapatkan kebahagiaan itu –pen) (Hilyatul Auliya (7/370)

Subhanallah, demikianlah kebahagiaan meliputi kalbu manakala iman telah mendarah daging, kebahagiaan yang tidak dicapai penguasa-penguasa dunia.

Sebagian salaf mengungkapkan kelezatan iman dalam perkataannya:

مساكين أهل الدنيا ، خرجوا منها وما ذاقوا أطيب ما فيها ، قيل : وما أطيب ما فيها ؟ قال : محبة الله ومعرفته وذكره ” .

Sesungguhnya orang-orang miskin dari ahli dunia adalah mereka yang meninggalkan dunia namun belum merasakan apa yang paling lezat di dunia,” Ditanya: Kenikmatan apakah yang paling lezat di dunia? Dijawab: “Kenikmatan itu adalah kecintaan kepada Allah, mengenalnya dan mengingat-Nya. 

Kelezatan iman  adalah surga di dunia ini. Sebagian ulama berkata:

إن في الدنيا جنة ، من لم يدخلها لا يدخل جنة الآخرة .

Sungguh, di dunia ada syurga, siapa yang belum memasuki surga di dunia itu ia tidak akan masuk surga di akhirat,” (Surga yang dimaksud adalah keledzatan iman berupa kecintaan Allah –pen)

Manusia di muka bumi ini, ada yang mencapai puncak-puncak keimanan hingga kelezatan iman ia rasakan, ada yang hanya memiliki iman seberat dzarrah atau lebih ringan bahkan kebanyakan manusia tidak mau masuk ke dalam keimanan. Wal‘iyadzubillah.

BagaimanaMeraih Manisnya Iman.

Dalam Hadits Anas bin Malik Ra Rasulullah r menyebutkan tiga sifat dengannya seorang mukmin memperoleh manisnya iman. Tiga sifat inilah yang seharusnya setiap insan muslim memohon kepada Allah dan berlomba menggapainya, Allah berfirman:

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.Al-Muthaffifin:26

Sifat pertama untuk meraih manisnya iman adalah mencintai Allah dan rasul-Nya, dan mendahulukan keduanya atas kecintaan yang lain. Rasulullah r bersabda:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين

Tidak akan sempurna iman salah seorang diantara kalian sehingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia.

Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya bukan sekedar pengakuan, akan tetapi harus dibuktikan sebagaimana Allah firmankan:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ali Imran: 31

Dusta seorang yang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya namun ia tidak mengikuti aqidah Rasulullah r, justru yang dia ikuti adalah kesyirikan atau khurafat. Dusta seorang yang mengakui dirinya lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya dari segala sesuatu namun dalam beribadah lebih memilih kebid’ahan-kebid’ahan. Demikian pula dusta seorang yang mengaku cinta Allah dan Rasul namun berpaling dari ilmu syareat.

Kecintaan kepada Allah demikian pula sebaliknya kecintaan Allah kepada hamba-Nya hanya diperoleh dengan ittiba’ Rasulullah r.

Barangsiapa mentadabburi ayat ini niscaya ia akan sadar bahwa cinta kepada Allah demikian pula sebaliknya  kecintaan Allah kepadanya akan diperoleh manakala seorang terus menapaki jejak Rasulullah r dalam segala sisi kehidupan. (lebih…)