Jalan Meraih Manisnya Iman

Abu Isma’il Muhammad Rijal

عن أنسٍ t عن النَّبيّ  r قَالَ : ثَلاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاوَةَ الإيمانِ : أنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سَوَاهُمَا، وَأنْ يُحِبّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إلاَّ للهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أنْ يَعُودَ في الكُفْرِ بَعْدَ أنْ أنْقَذَهُ الله مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أنْ يُقْذَفَ في النَّارِ

Dari Anas bin Malik t, Nabi r bersabda: “Tiga sifat barangsiapa sifat itu ada padanya, ia akan mendapatkan manisnya iman. (Pertama) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (Kedua) ia mencintai seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah, (ketiga) ia membenci untuk kembali kepada kekafiran -setelah Allah selamatkan darinya- sebagaimana ia benci dilempar dalam api.

Takhrij Hadits.

Hadits Anas bin Malik t Muttafaqun ‘Alaihi. Al-Bukhari meriwayatkan dalam  Kitabul Iman Bab Halawatil Iman (Manisnya iman) (1/60 no.16), dan dalam Kitab Al-Ikroh Bab Man ikhtaaro Adh-Dhorb wal Qotl wal hawaan ‘alal Kufri (Orang Yang lebih memilih pukulan, bunuh atau kebinasaan daripada kufur) (16/315 no. 6941).

Imam Muslim mengeluarkan hadits Anas t dalam Kitabul Iman, bab Khishol Man Ittashofa bihinna wajada halawatal iman (Sifat-sifat yang dengannya seorang merasakan manisnya Iman) no. 163.

Hadits Anas t diriwayatkan pula oleh imam-imam ahlul hadits lain dengan beberapa perbedaan lafadz.

Al-Baihaqi dalam Al-Kubro demikian pula An-Nasai meriwayatkan dengan lafadz:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَطَعْمَهُ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ فِي اللَّهِ وَأَنْ يَبْغُضَ فِي اللَّهِ وَأَنْ تُوقَدَ نَارٌ عَظِيمَةٌ فَيَقَعَ فِيهَا أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يُشْرِكَ بِاللَّهِ شَيْئًا

“Tiga perkara barangsiapa ketiganya ada padanya, ia akan merasakan manisnya iman dan lezatnya iman. Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, Ia mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, dan seandainya api yang sangat besar dinyalakan lalu ia dilemparkan kedalamnya lebih ia sukai daripada mensekutukan Allah.

Iman Pokok Kebahagiaan

Kebahagiaan adalah sesuatu yang dicari setiap manusia. Mereka siap mengorbankan apapun yang berharga –termasuk jiwa- demi memperoleh kebahagiaan itu.

Banyak manusia mendefinisikan kebahagiaan namun yang pasti kebahagiaan hakiki bukan pada banyaknya harta, tingginya kedudukan atau status sosial, walaupun kebanyakan manusia menilai kebahagiaan dengan banyaknya dunia yang dikumpulkan.

Dunia memang dijadikan indah pada pandangan manusia, hingga banyak manusia tertipu dengan hijau dan gemerlapnya dunia. Allah Ta’ala berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).Ali Imran: 14

Dunia memang indah  namun benarkah anggapan kebanyakan manusia bahwa dunia adalah kebahagiaan dan puncak keberuntungan? Mari kita tadabburi firman Allah berikutnya:

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ (15) الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (16)

Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.  (Yaitu) orang-orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” Ali Imron: 15-16

Ayat ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sesungguhnya adalah dengan Iman dan amalan sholih, dengan bertakwa kepada-Nya. Dalam ayat lain Allah ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.An-Nahl: 96

Dalam ayat lain Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.Ar-Ra’d:28

Apa Hakekat Iman?

Iman bukan sekedar keyakinan atau pengakuan semata. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

ليس الإيمان بالتحلي و لا بالتمني و لكن ما وقر في القلب و صدقته الأعمال

Sesungguhnya Iman bukanlah angan-angan atau pengakuan semata, namun iman adalah keyakinan yang tertancap dalam hati dan dibuktikan dengan amalan-amalan. (Diriwayatkan Ibnul Mubarok dalam Az-Zuhd dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (1/80))

Ya, iman bukan sekedar angan-angan, akan tetapi iman adalah: Keyakinan yang kokoh dalam hati yang dibuktikan dengan ucapan lisan dan amal perbuatan. Sebagaimana hal ini ditunjukkan dalam nas-nas Al-Kitab dan As-Sunnah. Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya,dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,dan orang-orang yang menunaikan zakat,dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya,dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,(yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. Al-Mukminun 1-11

Saudaraku rahimakumullah, Iman dimisalkan sebagai sebuah pohon yang sangat indah sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ  تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Ibrohim

Asy-Syakh Abdurrahman Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: Allah ta’ala dalam ayat ini memisalkan kalimat iman, kalimat yang paling indah, dengan sebuah pohon yang paling indah dengan sifat-sifatnya yang terpuji, akar-akarnya kokoh, tumbuh dengan sempurna, terus-menerus mengeluarkan buah-buahnya di setiap saat dan waktu, manfaat-manfaatnya terus dirasakan pemiliknya juga orang lain.  Pohon ini berbeda-beda keadaannya dengan perbedaan yang sangat besar dalam kalbu orang-orang yang beriman, sesuai perbedaan sifat-sifat yang Allah sebutkan. Maka seorang hamba yang mendapatkan taufik seharusnya terus berupaya mengenali pohon iman itu, mengenali sifat-sifat dan sebab-sebabnya, pokok-pokok dan cabang-cabangnya kemudian mencurahkan segala kemampuannya untuk mewujudkan pohon iman itu dengan ilmu dan amal. Sesungguhnya bagian kebaikan dan keberuntungannya di dunia dan akhirat sesuai dengan bagaimana keadaan pohon iman tersebut.  (At-Taudhihul Wal-Bayan Lisyajarotil Iman)

Manisnya Iman.

Iman jika terus dipupuk dengan amalan sholih kemudian dijaga dari segala perkara yang merusaknya berupa syirik, bid’ah dan maksiat[1] sebagaimana seorang memelihara pohon kurma yang sangat ia sayangi, setiap pagi dan sore ia sirami, tidak lupa ia memupuknya dan menjauhkannya dari hama dan penyakit, sungguh orang tersebut senantiasa mendapatkan kebahagiaan, kedamaian, ketentraman yang tidak bisa dilukiskan, dan ia akan mendapatkan manisnya iman sebagaimana hadits Anas bin Malik t

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ

“Ada tiga perkara barangsiapa tiga perkara itu ada pada dirinya, dia akan merasakan manisnya iman. Al-Hadits”

Asy-Syaikh Al-Allamah Abdurrahman Nashir As-Sa’di berkata: “Dalam hadits ini Rasulullah r mengabarkan bahwa iman memiliki rasa manis dalam kalbu. Jika seorang hamba telah merasakan manisnya iman, manisnya iman akan menghiburnya dari segala kesenangan-kesenangan duniawi (yang tidak ia peroleh-pen) dan (menyelamatkannya dari) dorongan-dorongan hawa nafsu, dan akan mewujudkan kehidupan yang tayyibah (penuh kebahagiaan). Karena seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya pastilah ia akan selalu berdzikir kepada Allah –demikianlah keadaan orang yang mencintai sesuatu pasti akan banyak menyebutnya –  ia juga akan bersungguh-sungguh dalam mengikuti Ar-Rasul r dan lebih mendahulukan ketaatan kepada beliau daripada ucapan orang lain, lebih mendahulukan beliau dari kehendak hawa nafsunya. Orang yang demikian keadaannya, akan tentram dan selalu dihiasi dengan ketaatan, dadanya menjadi lapang untuk islam, ia pun berada di atas cahaya dari Rabbnya. Namun kebanyakan orang yang beriman belum mencapai derajat yang sangat tinggi ini. Allah berfirman:

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Rabbmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Al-An’am:132 (At-Taudhih wal Bayan Lisyajarotil Iman hal.56)

Dalam hadits lain Rasulullah r juga menyebutkan tentang manisnya iman. Al-Abbas bin Abdil Muththalib Ra meriwayatkan dari Nabi r beliau bersabda:

ذاق حلاوة الإيمان من رضى بالله رباً وبالإسلام ديناً ومحمد رسولاً

Akan merasakan manisnya iman, seorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad r sebagai rasul (Muslim no. 150 dan At-Tirmidzi no.2623)


[1] Termasuk perkara wajib atas setiap muslim mempelajarinya adalah mengenali kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan, agar tidak terjatuh pada perkara yang Allah murkai dan merusak pohon imannya.

 

 

 

Posted on Agustus 6, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: