Manusia dan Jin DIcipta untuk Mentauhidkan Allah Ta’ala

Muhammad bin Barjo, Lc

Tauhid dan Pembagiannya

Allah adalah Al-Hakim, tidaklah Allah menciptakan manusia sia-sia. Allah ciptakan mereka untuk mentauhidkan-Nya. Rasulullah shalallohu’alaihi wasallam bersabda kepada Muadz bin jabal ketika mengutusnya ke negeri Yaman:

فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى

“Hendaknya yang pertamakali engkau seru mereka adalah agar mereka mentauhidkan Allah ta’ala.” HR.Al-Bukhori: 6832

Mentauhidkan Allah maknanya: Mengesakan Allah dalam rububiyyah, uluhiyyah dan dalam Nama-nama serta sifat-sifat-Nya.

Ayat-ayat Al-Quran demikian pula hadits-hadits Ar-Rasul menunjukkan bahwa tauhid terbagi menjadi tiga jenis ini, rububiyyah, uluhiyyah, asma wash-shifat.

Tauhid Rububiyyah, maknanya: Mengetahui, meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan, memberikan rizki, dan mengatur Alam semesta. Dialah Robbul`alamin. Allah berfirman:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam,

Tauhid Uluhiyyah, maknanya: Mengesakan/menyendirikan Allah dalam beribadah. Artinya wajib bagi setiap manusia hanya beribadah kepada Allah ta’ala dalam semua jenis ibadah seperti doa, Nadzr, menyembelih dan ibadah-ibadah lainnya. Allah berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Tauhid Asma dan Shifat, Meyakini dan menetapkan bahwa Allah memiliki Al-Asmaul Husna (nama-nama yang maha indah) dan sifat-sifat yang maha tinggi. Seorang menetapkan semua yang Allah tetapkan dalam Al-Quran dan ditetapkan Rasulullah saw dalam As-Sunnah tanpa menyerupakan dengan sifat makhluk.

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Hanya milik Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Al-A’rof: 180

Tauhid Uluhiyyah, Kewajiban Terpenting.

Tauhid uluhiyyah adalah kewajiban terpenting, ia adalah asas bagi semua amalan, sebaliknya Syirik dalam uluhiyyah adalah sebesar-besar perkara haram.

Dalil-dalil dalam masalah ini sangat banyak baik dalam Al-Qur’an atau hadits-hadits Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam. Diantara Firman-firman Allah adalah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (menyembah)-Ku. Adz-Dzariyat:56

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). An-Nahl:36

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Al-Isra:23

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, An-Nisa: 36

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).  Al-An’am: 151

Demikian pula hadits-hadits Ar-Rasul menunjukkan wajibnya manusia menurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala. Al-Bukhari dan Muslin dalam Shahihain meriwayatkan:

عن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال: كنت رديف النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ على حمار، فقال لي: “يا معاذ، أتدري ما حق الله على العباد، وما حق العباد على الله؟” ، قلت: الله ورسوله أعلم، قال: “حق الله على العباد: أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئاً، وحق العباد على الله: أن لا يعذب من لا يشرك به شيئاً” ، قلت: أفلا أبشّر الناس؟، قال: “لا تبشرهم فَيَتَّكِلُوا” أخرجاه في الصحيحين.

Dari Muadz bin Jabal semoga Allah meridhoinya: Pernah aku diboncengkan Nabi shallalohu’alaihi wasallam di atas keledai lalu beliau bertanya kepadaku: Wahai Muadz tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah ? Aku jawab: Allah dan Rasul-Nya yang paling mengetahui. Rasul bersabda: Hak Allah atas hamba : Mereka beribadah hanya kepada-Nya dan tidak mensekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dan hak hamba atas Allah adalah Allah tidak akan mengadzab orang yang tidak mensekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” …. Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim.

Sumber: www.ibnuljazari.wordpress.com dengan sedikit perubahan.

Posted on September 13, 2012, in Aqidah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: