Menghiasi Qalbu Dengan Iman Kepada Rasul

Abu Ismail Muhammad

 “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad-jasad kalian dan tidak juga kepada rupa-rupa kalian akan tetapi Allah melihat kepada qalbu-qalbu kalian dan amalan-amalan kalian”

Demikian Rasulullah saw bersabda dalam Hadits Abu Hurairah Ra yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahihnya.

Kalbu dan amalan, inilah dua perkara yang Allah lihat atas hamba-Nya. Oleh karena itu, keduanya selalu menjadi perhatian wali-wali Allah. Mereka selalu berupaya membersihkan kalbu dari penyakit dan kotoran berupa syirik, takabbur, ‘ujub, hasad, wali-wali Allah juga berupaya memperbaiki amalan, demi meraih kemuliaan di dunia dan akhirat.

يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ * إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Pada hari tidak bermanfaat harta dan anak keturunan, kecuali orang yang datang dengan membawa qolbun salim.” [QS. Asy-Syu’ara:88-89]

Di alam barzakh, setiap orang, mukmin atau kafir  akan ditemani amalannya di dunia. Begitu seorang mukmin menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir, terdengarlah seruan dari langit: “Hamba-Ku benar, hamparkanlah untuknya dari hamparan dari jannah, berilah pakaian dari jannah dan bukakan untuknya pintu menuju jannah. (Di tengah kesendirian) datanglah seorang yang sangat indah wajah dan bajunya, sangat harum aromanya. Ia berkata: “Bergembiralah dengan apa yang membahagiakanmu, inilah hari yang dahulu dijanjikan.” Maka berkatalah mayyit: “Siapa kamu, wajahmu tampak datang dengan kebaikan?” dia menjawab: Aku adalah amalan shalihmu. Berkatalah mayyit: “Ya Rabb, tegakkanlah hari kiamat agar aku kembali kepada keluarga dan hartaku.

Demikian penggalan Hadits Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad (4/287-288) dan  Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/93-94).

 

Iman, perkara asas dalam kehidupan kehidupan.

Iman adalah perkara terpenting yang dengannya Qalbu menjadi hidup, lapang dan dipenuhi kebahagiaan. Dengan iman pula manusia terbebas dari kerugian. Allah berfirman:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ  إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. [Al-Ashr:1-3]

Iman adalah sebab kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, sebagaimana iman adalah syarat diterimanya amalan. Allah berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl:97]

Ayat-ayat Al-Qur’an tegas menunjukkan bahwa bani Adam harus selalu menghiasi Qolbunya dengan Iman dan dibuktikan dengan amalan shaleh dalam mengarungi samudera hidup menuju negeri keabadian.

Iman memiliki rukun-rukun dan cabang-cabang yang harus ditunaikan, Iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan taqdir.

Pembaca rahimakumullah, dengan memohon bimbingan Allah, mari kita mentadabburi beberapa ayat Al-Quran dan sabda Rasulullah saw, tentang iman terhadap Rasul, semoga Allah hiasi kalbu kita dengan kecintaaan yang tulus kepada nabi dan Rasul-Nya, karena hanya melalui merekalah manusia mengerti jalan yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan, yaitu Shirotol Mustaqim, yang Allah pancangkan di hadapan hamba-hamba-Nya, adapun jalan-jalan yang menyelisihi para nabi dan rasul adalah jalan-jalan syaiton.

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. [Al-An’am:153]

Nas-nas tentang Iman kepada Rasul-rasul Allah

Setiap mukalaf, jin maupun manusia wajib beriman bahwa Allah telah memilih diantara hamba-Nya para nabi dan rasul. Allah pilih mereka sebagai washithah (perantara) antara Allah dengan manusia dalam penyampaian risalah. Mereka adalah hamba-hamba pilihan, mereka adalah manusia-manusia terbaik di muka bumi.

Ayat-ayat Al-Quran dan sabda rasulullah saw memerintahkan kita untuk beriman kepada nabi dan rasul Allah. Diantara nas-nas tersebut adalah firman Allah:

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al Qur’an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [At-Taghabun:8]

Ketika Jibril bertanya kepada Rasulullah saw, Kabarkan kepadaku tentang Iman, beliau menjawab:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

”Hendaklah engkau beriman kepada Alloh, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk.”

Karena pentingnya iman kepada Nabi dan Rasul, kita dapatkan Rasulullah saw mengajarkan banyak dzikir dan doa harian terkandung di dalamnya pokok iman tersebut.

Di antara dzikir adalah bacaan di waktu pagi dan petang, dalam sebuah hadits:

عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ حِينَ يُمْسِي رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

Dari Tsauban berkata: Rasulullah saw bersabda: Barang siapa ketika sore hari membaca: “ Aku Ridha Allah sebagai Rabb, islam sebagai agama, Muhammad saw sebagai nabi.” Maka Allah pasti meridhoinya. Hadits ini diriwayatkan At-Tirmidzi beliau mengatakan: Hadits ini hasan gharib

Dalam doa istiftah, diriwayatkan dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas bahwasanya Rasulullah saw, ketika berdiri shalat di tengah malam beliau membaca doa istiftah yang cukup panjang, ditengah doa tersebut beliau berkata:

(Wa lakal Hamdu, Antal Haq, wa wa’dukal Haq….)

“Dan segala puji adalah milik-Mu, Engkau adalah Al-Haq, janji-Mu adalah benar, firman-Mu adalah benar, perjumpaan dengan-Mu adalah benar, Al-Jannah adalah perkara yang haq, neraka adalah perkara yang haq, seluruh nabi adalah haq, dan Muhammad saw adalah haq…” Al-Hadits

Dalam dzikir sebelum tidur, ketika seorang berada di peraduannya disyareatkan membaca doa:

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

Ya Allah, aku tundukkan wajahku kepada-Mu, dan aku serahkan segala urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dengan penuh harap dan rasa takut kepada-Mu, Tidak ada tempat kembali dan tempat keselamatan dari kemurkaan-Mu kecuali dengan mendekat kepada-Mu, Aku beriman dengan kitab-Mu yang engkau turunkan dan aku beriman dengan nabi-Mu yang engkau utus, [HR. Bukhari][1]

Rasulullah saw juga mengajarkan agar di waktu malam kita membaca dua ayat akhir surat Al-Baqarah, dan beliau menjanjikan barang siapa membaca kedua ayat ini Allah akan memberikan kecukupan kepadanya.[2]

Dua ayat di akhir surat Al-Baqarah ini mengandung pokok-pokok yang harus kita yakini, termasuk keimanan kepada seluruh nabi dan Rasul. Allah berfirman:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. [Al-Baqarah 285]

Subhanallah, di awal dan akhir hari kita diajarkan untuk selalu mengingat pokok-pokok iman, termasuk iman kepada nabi dan Rasul-rasul Allah.

Betapa indah hidup seorang muslim, kalbunya dihiasi dengan iman, lisannya dihiasi dengan iman, anggota tubuhnya dihiasi dengan iman. Ya Allah, kokohkanlah hati ini di atas iman, dan janganlah Engkau palingkan hati kami sesudah Engkau anugerahkan kepada kami keimanan, sesungguhnya Engkaulah Dzat yang membolak-balikkan kalbu.

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الإيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ

“Akan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan.[Al-Hujurat:7]

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ

Ya Allah hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami tauladan yang membimbing dan mendapatkan bimbingan. Amin.

Baca Artikel Terkait:

1- Makna Iman Kepada Nabi dan Rasul Menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaah


[1] Diriwayatkan dari shahabat Bara bin ‘Azib, diawal hadits Rasul bersabda: Jika engkau hendak tidur berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat kemudian tidurlah dengan sisi tubuhmu yang kanan kemudian berdoalah dengan doa ini, di akhir hadits Rasul bersabda:

فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ

Jika engkau mati di malam itu, engkau mati di atas fitrah (yakni islam), dan jadikanlah kalimat ini akhir perkataanmu.

[2] Hadits diriwayatkan Al-Bukhari (9/55, 87) dengan Fathul Bari, dan Muslim (6/91-92) dengan Syarah An-Nawawi.

Posted on Desember 1, 2012, in Aqidah and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.