Titian Menuju Kesabaran dikala Musibah

Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

Siapa sih yang tidak terkena musibah? Tidak ada seorangpun lepas dari musibah, bahkan para nabi dan Rasul merasakannya. Perang Uhud di tahun 3 Hijriyah salah satu contoh yang perlu kita renungkan, lebih dari 70 shahabat terbunuh syahid dalam perang itu, diantara mereka paman Rasulullah saw  Hamzah bin Abdil Muththalib dan Mush’ab bin Umair.Rasulullah saw pun tidak luput dari luka, darah bercucuran dari kepala beliau yang mulia sementara gigi taring beliau pecah…

Yang menjadi inti permasalahan adalah bagaimana kita menghadapi mushibah apabila menimpa? bukan yang menjadi masalah bagaimana kita terbebas sama sekali dari musibah. Musibah pasti akan dirasakan setiap jiwa sebagaimana Allah ta’ala firmankan:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar [Al-Baqarah:155]

Titian menuju kesabaran. Setiap kita memerlukan pembahasan ini, setiap kita pasti bertanya Apa yang harus ditempuh agar kita sabar menghadapi mushibah?

Ikhwati fillah, Ada beberapa perkara yang perlu seorang muslim menempuhny agar ia bisa sabar –biidznillah- dalam menempuh ujian dan mendapatkan kemuliaan dari Allah ta’ala.

Diantara langkah-langkah tersbut adalah:

Pertama: Memohon kepada Allah agar melimpahkan kesabaran:

Semua kebaikan di Tangan Allah, Dia sajalah satu-satunya dzat yang menganugerahkan kebaikan , termasuk sabar. Maka sudah seharusnyalah seorang mukmin selalu memohon kepada Allah. Coba sejenak kita renungkan apa yang Allah kisahkan tentang wali-wali-Nya, di saat-saat genting mereka terus memohon kesabaran, Allah berfirman tentang perang dimasa Nabi Dawud ‘Alaihissalam:

وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdo`a: “Wahai Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. [Al-Baqarah: 250]

Kedua: Selalu melihat orang yang lebih rendah darinya dalam urusan dunia.

Diantara perkara yang membantu seorang untuk sabar dalam menghadapi musibah adalah selalu melihat orang yang lebih rendah darinya, orang yang lebih besar musibahnya. Dengan cara ini akan menjadi ringanlah musibah dan semakin mudahkah ia bersabar, bahkan bersyukur kepada Allah.

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ؛ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ.

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu karena hal itu lebih patut agar engkau sekalian tiak menganggap rendah nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” [Muttafaq Alaihi.]

Ketiga: Mengingat nikmat Allah yang sangat banyak dan tidak terhingga.

Titian ini sangat bermanfaat. Manakala seorang duduk merenungkan nikmat Allah ia akan dapatkan samudera luas yang tidak mungkin lisan mengibaratkan betapa banyaknya anugerah Allah. Seperti apa yang Allah kabarkan:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Ibrahim:34

Lihatlah nikmat-nikmat Allah yang sangat besar, terlebih nikmat islam dan iman, Lalu bandingkanlah dengan mushibah yang tengah menimpamu, sungguh mushibah tersebut tidak ada seujung kuku jika di bandingkan nikmat Allah yang demikian banyak

Keempat: Melihat perjalanan orang-orang yang sabar, seperti para nabi dan Rasul.

Nabi dan rasul adalah tauladan bagi umat manusia, Allah timpakan kepada mereka berbagai macam ujian sebagai tauladan bagi umat manusia. Mereka terus bersabar di atas mushibah hingga kemuliaan datang menyongsong.

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا

Dan sesungguhnya telah didustakan rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, hingga datang pertolongan Kami kepada mereka. [Al-An’am 34]

Terlebih nabi kita Mumammad saw, salah seorang ulul azmi dari rasul-rasul Allah, semua kehidupan beliau adalah tauladan bagi umat manusia dalam bersabar meniti kehidupan.

Kelima: Mengingat hikmah di balik musibah

Diantara nama Allah adalah Ar-Rahman, Ar-Rahim, dan Al-Hakim. Allah sangat penyayang tidak mungkin menimpakan musibah yang seorang hamba tidak mampu memikulnya, bersamaan dengan itu Allah telah sediakan pahala besar dan hikmah di balik musibah.

Rasulullah saw pernah bersabda:

لا ييصيب المؤمن من هم ولا غم ولا اذى إلا كفر الله به عنه حتى الشوكة

“Tidaklah menimpa seorang mukmin kesedihan,kesusahan atau gangguan melainkan Allah menjadikannya penghapus dosa, sampai pun hanya duri yang menusuk.”

Dari Anas bin Malik Rasulullah saw bersabda: Jika Allah menghendaki kebaikan atas hamba-Nya Allah segerakan balasan (kejelekan hamba-Nya) di dunia, jika Allah menghendaki kejelekan atas hamba-Nya Allah biarkan hambanya dengan dosa hingga Allah balas nanti di hari kiamat

Keenam: Mengingat Pahala Allah dan keutamaan sabar

Nas-nas Al-Kitab dan As-Sunnah banyak menyebutkan keutamaan sabar dan pahalanya yangtidak terhingga. Satu saja dari keutamaan ketika seorang mukmin merenungkannya dikala mushibah, meyakini dan mengharapkannya di sisi Allah akan sangat berpengaruh dalam seorang menghadapi mushibah.

Ketujuh: Iman kepada taqdir dan mengembalikan semua perkara kepada Allah

Rasulullah saw mengajarkan kepada umatnya untuk bersemangat menempuh segala sesuatu yang bermanfaat baik dalam urusan agama atau dunia. Namun terkadang ada musibah yang menghalangi terwujudnya usaha tersebut.

Di saat terjadinya musibah, berupa kegagalan atas apa yang kita usahakkan  kita diperintahkan untuk mengembalikan semua yang terjadi kepada Allah dan mengingat taqdir-Nya dengan mengucapkan:

قدر الله وما شاء فعل

“Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Allah takdirkan pasti terjadi.”

Pada waktu yang sama Rasul melarang seorang mengatakan: “Seandainya dulu aku demikian niscaya tidak akan demikian  dan demikian.” Karena ucapan ini justru membuka pintu-pintu amalan syaiton.

Ikhwati, mushibah adalah sunnatullah yang pasti datang menerpa. Orang yang berakal akan selalu menyiapkan diri menghadapi mushibah dengan iman, dan menempuh segala sebab serta mencurahkan daya dan upaya untuk meraih kesabaran.

(Dipersilahkan Copas Artikel ini dengan menyertakan Link ke Blog kami,semoga Allah memberkahi antum)

Posted on Desember 10, 2012, in Aqidah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: