Sejelek-jelek Manuaia adalah Pembunuhmu wahai Ali bin Abi Thalib

Abu Ismail Muhammad Rijal Isnain

Wafatnya khalifah ‘Utsman bin ‘Affan t bukan akhir dari musibah yang menimpa umat. Rantai fitnah terus bersambung menimpa umat sebagai ujian dari Allah, sebagaimana Rasulullah r kabarkan dalam sabdanya:

و إذا وقع عليهم السيف لم يرفع إلى يوم القيامة

Dan jika pedang telah dijatuhkan atas muslimin, pedang itu tidak akan diangkat hingga hari kiamat.[1]

 “Berita Ini terjadi seperti apa yang Rasul kabarkan, ketika khalifah Ar-Rasyid, Amirul Mukminin ‘Utsman t terbunuh, sejak saat itulah peperangan terus berlangsung ditengah kaum muslimin, dan akan berlanjut hingga hari kiamat –laa haula walaa quwata illa billah– …[2]

Setelah wafatnya ‘Ustman t, menjadi besarlah dua firqah sesat yang saling bertolak belakang, Khawarij dan Rafidhah. Rafidhah melampaui batas dalam mengagungkan Ali t dan ahlul bait hingga mengatakan bahwa Ali adalah pencipta dan sesembahan, sementara khawarij, mereka kafirkan khalifah, hingga darah beliau pun mereka halalkan.

Khawarij yang dulunya bermula dari pemikiran sebagaimana tampak dalam kisah Dzul Khuwaishiroh[3], kini muncul sebagai sebuah firqah sesat yang memiliki akar dan kekuatan.

Sekilas Biografi dan Keutamaan Ali Bin Abi Thalib t

Beliau adalah Ali bin Abi Thalib bin ‘Abdil Muthalib bin Hasyim Al-Qurasyi t, putera paman Rasulullah r. Sahabat yang termasuk sepuluh orang yang dijamin jannah ini lahir sebelum kerasulan, tercatat sebagai sahabat pertama yang masuk islam dimasa kecilnya.[4]

Tersohor sebagai sosok pemberani, hingga Rasulullah r menugaskannya tidur di rumah beliau saat hijrah ke Madinah, ditengah kepungan pemuda-pemuda Quraisy yang siap dengan pedang-pedang tajam yang terhunus.

Ramadhan, 2 Hijriyah beliau membawa panji perang Badr[5], peperangan dahsyat yang telah mengukir kejayaan Islam.  Janji Allahpun beliau raih bersama seluruh ahlu Badr, berupa jaminan ampunan-Nya. Allah berfirman tentang Ahlu Badr :

اعملوا ما شئتم فقد وجبت لكم الجنة

“Berbuatlah sekehendak kalian, sungguh telah pasti atas kalian Al-Jannah.”[6]

7 Hijriyah, Rasulullah r kembali memberi kepercayaan kepadanya memegang bendera perang Khaibar. Dalamperang itu Ali mendapat jaminan bahwa Allah dan Rasul-Nya r telah mencintainya. Malam hari sebelum perang Rasul r bersabda:

لأعطين الراية غدا رجلا يحب الله و رسوله و يحبه الله و رسوله , يفتح الله على يديه

“Sungguh aku akan berikan esok hari bendera perang pada seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan Allah serta Rasul-Nya mencintainya, dengan tangannya Allah bukakan kemenangan.”[7]

Ali bin Abi Thalib t adalah sosok yang masyhur dalam kefasihan dan ketajaman bicara, hingga Rasulullah r mempercayainya untuk menyampaikan ayat-ayat dari awal surat At-Bara`ah (At-Taubah) kepada orang-orang kafir Quraisy di musim haji tahun  9  H[8]

Ali bin Abi Thalib menyertai Rasulullah r dalam semua peperangan, kecuali perang Tabuk, beliau tidak mengikutinya karena Rasulullah r memberi kepercayaan mengganti posisi Rasulullah r di Madinah, satu amanah yang besar tentunya. Sempat beliau bersedih karena tidak bisa menyertai Rasul r dalam perang tersebut, namun sekali lagi justru Rasul r memberikan berita yang menyejukkan, sabda yang menunjukkan keutamaan beliau. Rasul r berkata:  “Engkau denganku seperti kedudukan Harun dari Musa, hanya saja tidak ada nabi sesudahku.”[9]

Cukuplah sebagian berita di atas sebagai hujjah yang menggambarkan keutamaan beliau di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Profil Pembunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib r.

Pernahkah terbayang bahwa sahabat semulia beliau dan orang yang sangat dekat darahnya dengan Rasulullah r akan dibunuh oleh seorang yang dzahirnya ahli ibadah?

Abdurrahman bin Muljam Al-Muradi, bukan orang jalanan yang terkenal peminum khamr, penzina atau seorang fasik. Bukan ! Justru orang akan heran ketika mendengar bahwa Ibnu Muljam adalah seorang ahli ibadah, ahli shalat, shoum dan penghafal Al-Quran.

Akan tetapi demi Allah!, kecerdasan dan semangat ibadahnya tidak disertai dengan kesucian jiwa. Dia tenggelam dalam fitnah khawarij.

Khawarij memiliki sekian sifat sebagaimana Rasulullah r sabdakan, yang seluruhnya ada pada diri Ibnu Muljam. Diantaranya mereka adalah kaum yang banyak membaca Al-Quran tetapi tidak memahami apa yang dibaca, bahkan memahami dengan pemahaman yang menyimpang dari kebenaran, bacaannya hanya sekedar melewati kerongkongan. Di antara sifat khawarij mereka biarkan para penyembah berhala dan mengkafirkan serta memerangi ahlul islam, cukuplah sebagai bukti mereka perangi para shahabat generasi terbaik dari ummat ini.

 

Rencana Pembunuhan Ali bin Abi Thalib t

Gambaran kerusakan fikrah (pemikiran) khawarij tampak dalam pertempuran Nahrawan (39 H). Peperangan besar antara Amirul Mukminin Ali bin Abi thalib t dan firqah khawarij tersebut menyisakan api fitnah dan bara kebencian di dada-dada khawarij.

Dalam perang ini Ali bin Abi Thalib t menumpas habis sebagian besar khawarij. Dan apa yang beliau lakukan sesuai dengan perintah Rasulullah r dimasa hidup beliau. Ali bin Abi thalib t berkata di hari Nahrawan:

أمرت بقتال المارقين وهؤلاء المارقون 

Aku diperintah (Rasulullah) untuk memerangi Al-Mariqin, dan mereka  adalah Al-Mariqin.[10]

Sisa-sisa khawarij dalam perang Nahrawan lari dengan meninggalkan kebencian pada Amirul mukminin Ali bin Abi thalib t,  hingga kemudian mereka melakukan pembicaraan rahasia merancang pembunuhan terhadap Ali t.

Demikian sunnatullah atas hamba-Nya yang beriman, Allah menetapkan cobaan sesuai kadar keimanan mereka. Allah telah catat wafatnya Ali bin Abi Thalib t dengan musibah yang mengangkat beliau kepada derajat tinggi dan mulia di sisi-Nya.

Kabar Rasulullah r dan Rencana Pembunuhan

Jauh-jauh hari, Rasulullah r telah mengabarkan kepada  Ali t musibah yang akan menimpanya. Beliau bersabda:

أشقى الأولين عاقر الناقة وأشقى الآخرين الذي يطعنك يا علي ! وأشار حيث يطعن

Orang yang paling binasa dari umat terdahulu adalah penyembelih unta (dari kaum nabi Shalih), dan manusia paling celaka dari umat ini adalah orang yang membunuhmu wahai ‘Ali! seraya Rasulullah r  menunjuk letak tubuh dimana Ali ditikam. Hadits ini diriwayatkan Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqatul Kubra (3/35) dengan sanad mursal[11], akan tetapi memiliki syawahid (penguat-penguat) dari hadits lain. (Lihat pembahasan hadits ini dalam Ash-Shahihah 3/78 no 1088.)

Hadits di atas adalah kabar akan wafatnya Ali bin Abi Thalib t dalam keadaan syahid, sekaligus hukum kesesatan bagi mereka yang membunuh beliau.

Jika Kesesatan telah Masuk Ke Relung Hati

Kesesatan telah melingkupi hati-hati khawarij hingga timbangan kebenaranpun terbalik. Menilai manusia paling mulia di muka bumi saat itu sebagai orang yang pantas ditumpahkan darahnya.

Abdurrahman bin Muljam Al-Muradi, Al-Burak bin Abdillah At-Tamimi dan ‘Amr bin Bukair At-Tamimy, mereka -tiga orang khawarij- berkumpul di Makkah membuat kesepakatan bersama, dan tekad bulat untuk membunuh tiga sahabat mulia, Ali bin Abi thalib, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ‘Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhum.

Demikian ketika hati telah keras, dan hidayah telah jauh dari seseorang. Tidakkah mereka renungkan kemuliaan sahabat Rasulullah r? Tidak sadarkah mereka bahwa Rasulullah r telah menjamin jannah bagi Ali bin Abi thalib t ? Kalau memang Ali kafir, mengapa Allah memberikan jaminan jannah? Apakah Allah tidak tahu?

قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ

Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, Al-Baqarah:140

Makar busuk itu mereka mulai, segala jalan mereka tempuh untuk menyudahi orang-orang mulia yang telah Allah ridhai dan Allah cintai.

Dalam pertemuan rahasia tersebut, berkata Abdurrahman bin Muljam: “Serahkan pembunuhan Ali padaku.”

Al-Burak berkata, “Serahkan Muawiyah kepadaku.”

Lalu ‘Amr bin Bukair berkata: “Aku akan bunuh Al-Ash untuk kalian.”

Demikian pembicaraan mereka di Makkah, kota haram. Kekejian telah mereka sepakati, tekad bulat telah mereka tetapi,dan semua berjanji untuk tidak saling berkhianat dalam menuju sahabat-sahabat yang akan dibunuh hingga berhasil membunuhnya atau harus terbunuh dalam menunaikan makar ini.

Pembaca rahimakumullah, pembunuhan berencana itu apakah mereka anggap sebagai dosa? Ternyata tidak. Justru pembunuhan itu mereka yakini sebagi ibadah, jihad dan taqarrub kepada Allah. Maha suci Allah! kemana akal-akal mereka? di mana hati mereka? tidakkah mereka membaca ayat-ayat Al-Quran yang telah mereka hafal dalam dada-dadanya tentang keutamaan sahabat? tidakkah mereka cermati sabda Rasulullah r dan wasiat beliau.

Namun hati telah terkunci, akal telah diliputi kesesatan, pergilah mereka bertiga melangkahkan kaki menuju negeri kediaman tiga sahabat tersebut untuk sebuah tekad, pembunuhan orang-orang terbaik di muka bumi!.

Kita tinggalkan kisah Al-Burak dan ‘Amr  bin Bukair… dan kita ikuti perjalanan Ibnu Muljam Al-Muradi.

Ibnu Muljam menginjakkan kakinya di Kufah, dia tampakkan kebaikan dan ibadah dan menyembunyikan rencana jahatnya untuk membunuh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib t.

Dengan rahasia, dia temui kawan-kawan khawarijnya. Dalam waktu yang cukup lama di Kufah dia matangkan rencana, dia siapkan pedang, dia rendam dalam racun, untuk menegakkan “jihad” membunuh Amirul Mukminin t. Demikian Syaiton membisikkan kesesatan di relung hatinya.

Detik-detik Wafatnya Ali bin Abi thalib t

Malam jum’at, 17 Ramadhan[12] adalah waktu yang direncanakan Ibnu Muljam untuk membunuh Ali t, keluarlah orang yang paling celaka ini untuk mewujudkan kebinasaanya.

Di tengah keheningan akhir malam, dia dapati Amirul Mukminin Ali bin Abi thalib t berjalan.

Dengan penuh ketawadhu’an kepada Allah dan penuh kecintaan pada Rabbul ‘alamin Ali bin Abi Thalib t keluar menuju shalat shubuh, untuk berdiri di hadapan Allah. Wajah bersinar dan hati yang hidup tampak dari sosok mulia menantu Rasulullah r, putera paman Rasulullah r. Beliau berjalan menuju saat-saat yang telah Allah tetapkan.

Dengan tiba-tiba Ibnu Muljam menebaskan pedangnya dengan penuh kekuatan ke arah Ali bin Abi Thalib t, tepat mengenai kening yang diisyaratkan Rasulullah r dengan telunjuk beliau yang mulia. Innalillahi wa inna ilaihi Raji’un!

Pedang beracun tepat mengenai kening Ali bin Abi thalib t. Bukan sekedar goresan, namun  luka yang demikian dalam hingga mencapai ubun-ubunnya –semoga Allah meridhai Ali t. Kening yang senantiasa bersujud kepada Allah, kening yang dipandang Rasulullah r dengan penuh cinta dan kasih sayang,  kening yang telah penuh dengan debu jihad bersama Rasul, kening yang telah dijamin selamat dari Api neraka, kini disambar pedang Ibnu Muljam.

Darahpun bersimbah…. awan kelabu meliputi Kufah, menorehkan kesedihan dalam catatan sejarah.

Allah tetapkan syahadah bagi beliau radhiyallahu ‘anhu, dan Allah tetapkan kecelakaan bagi Ibnu Muljam Al-Khariji, sebagaimana sabda Rasulullah r:

وأشقى الآخرين الذي يطعنك يا علي

Dan manusia paling celaka dari umat ini adalah orang yang membunuhmu wahai ‘Ali!

Ketika pedang mengenai Ali, beliau berseru: “Jangan biarkan orang ini lepas.! Orang-orang yang mendengar seruan Ali bergegas menangkap Ibnu Muljam. Saat itu datanglah Ummu Kultsum, putri Ali bin Abi thalib t.

Berkata Ummu Kultsum: “Wahai musuh Allah engkau telah membunuh Amirul Mukminin.!”

Ibnu Muljam berkata: “Dia hanya sekedar bapakmu.” (bukan Amirul mukminin-pen).

Kata Umu Kultsum: “Demi Allah, aku benar-benar berharap semoga Amirul Mukninin tidak apa-apa.” … Tetes-tetes air mata cinta dan kesedihan pun mengalir membasahi pipi Umu Kultsum, putri Ali bin Abi Thalib.” Ya..tetes air mata rahmah…

Dengan ketus Ibnu Muljam berkata: “Kenapa kau menangis? Demi Allah aku telah rendam pedangku ini dalam racun selama sebulan, sungguh tidak mungkin dia akan hidup setelah aku mati, aku pasti berhasil membunuhnya!”

Malam Ahad, sebelas hari tersisa dari bulan Ramadhan tahun 40 H, wafatlah Amirul Mukminin Ali bin Abi thalib t. Beliau dimandikan kedua putranya,  Al-Hasan dan Al-Husain -semoga Allah ridhoi keduanya- dua cucu Rasulullah r dan Abdullah bin ja’far t, dan dikafani dengan tiga lembar kain tanpa memakai gamis, sebagaimana Rasulullah r dikafani. [13]

Ali t dibunuh dalam keadaan menuju shalat shubuh dan mengajak manusia untuk shalat. Meninggal setelah 4 tahun 8 bulan 22 hari masa kekhilafahan, di umur beliau yang ke-63. Hasbunallahu wani’mal Wakil.

(Sumber: Majalah Asysyariah, Lihat Asysyariah.com)


[1] HR. Abu Dawud no. 4252 dan Ibnu Majah no. 3952 dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no.1773

[2] I’anatul Mustafid (1/337)  Syaikh Sholih bin Fauzan.

[3] Kisah Dzul Khuwashirah dapat dilihat dalam Shahih Al-Bukhari no. 3610

[4] Terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang umur beliau saat masuk islam, dikatakan ketika lima tahun, delapan tahun, atau sepuluh tahun.

[5]Al-Mustadrak (3/111). Berkata Al-Hakim: Hadits ini shahih sesuai syarat Syaikhain. Disepakati oleh Adz-Dzahabi dalam At-Talkhish.

[6] Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.438. Dishahihkan Al-Albani.

[7] Muttafaqun ‘Alaihi dari hadits Sahl bin Sa’d t

[8] Sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al-Musnad (1/156) dan (2/32) dan dishahihkan Asy-Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah.

[9] Shahih Muslim kitab Fadhail Ash-shahabah no. 2404

[10] Shahih Lighairihi, lihat Fi dzilalil Jannah hadits no. 907 dari ‘Alqamah rahimahullah.

[11] Terputus sanadnya antara tabi’in dan Rasulullah

[12] Demikian Ibnu Sa’d menyebutkan dalam Ath-Thabaqat pada juz ketiga.

Faedah: Ibnu Hajar dalam At-Tahdzib pada biografi ‘Utsman bin Afan menyebutkan adanya perbedaan pendapat mengenai tanggal terjadinya pembunuhan, berkata Ibnu Hajar: “Dia (Ibnu Muljam) membunuh Ali t pada malam jumat 13 hari berlalu, atau dikatakan 13 hari tersisa dari bulan Ramadhan tahun 40 H. Dikatakan pula awal malam sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.

[13] Ath-Thabaqatul Kubro (3/33), dan dinukil Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis.

About salafartikel

bismillah

Posted on Maret 19, 2013, in Aqidah, Kisah dan Ibroh and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: