Rahasia Meraih Umrah dan Haji Mabrur

Segala puji hanya milik Allah, Rabbul ‘Alamin. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Sayyidul Mursalin, Muhammad bin ‘Abdillah Al-Qurasyi Al-Hasyimi n, keluarga, para shahabat serta orang-orang yang senantiasa mengikuti jejak mereka dengan baik. Amma ba’du.
Saudaraku, perjalanan ibadah menuju Baitullah untuk menunaikan ibadah haji dan umrah selalu menjadi dambaan dan cita-cita seorang muslim. Perjalanan nan agung ini akan menjadi indah dan penuh barokah Allah Ta’ala apabila sesuai dengan bimbingan syariat. Dalam sebuah wasiatnya, Rasulullah n bersabda:

خُذُوا عُنِّي مَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah dariku manasik kalian.” [HR. Muslim (2/943 no.310) dari Jabir bin ‘Abdillah c].
Hadits ini semestinya mendorong setiap muslim untuk terus berupaya menuntut ilmu agar ia bisa menunaikan haji dan umrah sesuai dengan tuntunan Rasululah n. Hanya dengan jalan beliaulah ibadah akan diterima disisi Allah. Hanya dengan mengikuti jejak beliau sajalah kita akan meraih ridha dan cinta-Nya.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali Imran : 31]
Semua meyakini bahwa Rasulullah n adalah satu-satunya tauladan dalam menunaikan ibadah, termasuk haji dan umrah, namun kenyataannya masih banyak kita jumpai praktek ibadah yang diada-adakan, tidak ada contoh dari Rasulullah n dalam ibadah haji dan umrah. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan karena Rasulullah n pernah bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيسَ عَلَيهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim dari Aisyah x].
Orang yang beribadah tanpa ilmu, beramal tanpa bimbingan, ibarat pencari kayu bakar di tengah gulita, semua yang diraba diambilnya, tidak peduli apakah ia memungut ranting pepohonan atau ular berbisa yang membinasakan, sehingga ibadahnya tercampur dengan perkara-perkara yang merusak berupa kemaksiatan, kebid’ahan bahkan kesyirikan. Wal’iyadzubillah.
Kita yakin, tidak ada seorang muslim pun yang mencintai Sayyidul Mursalin n dengan sengaja menyelisihi petunjuk beliau n. Namun ketika kebodohan melingkupi, hawa nafsu diikuti, diperparah dengan semakin banyaknya manusia yang berbicara agama tanpa ilmu, berfatwa tanpa landasan Al-Kitab dan As-Sunnah saat itulah langkah-langkah kaki mulai keluar dari jalan Rasulullah n.
Allahu akbar, betapa benar sabda Rasulullah n beliau pernah bersabda :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِن الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sungguh, Allah tidak mencabut ilmu sertamerta dari hamba-hamba-Nya, akan tetapi Allah cabut ilmu dengan diwafatkannya ulama, sehingga ketika tidak ada lagi seorang ‘alim, manusia menjadikan orang-orang jahil sebagai pemuka, mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu, mereka pun sesat dan menyesatkan.” [HR. Al-Bukhari (1/186) Muslim 4828 dari Shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash c]
Saudaraku fillah, Ibadah haji sebagai rukun islam yang hanya diwajibkan sekali seumur hidup pantaskah disia-siakan dengan kejahilan? Ibadah haji dan umrah yang bernilai jihad fisabilillah, dan membutuhkan banyak pengorbanan harta dan tenaga itu pantaskah ditempuh tanpa bekal ilmu yang sahih?
Kita semua tentu berlindung dari kerugian, bahkan setiap kita pasti mendambakan haji dan umrah yang mabrur, dan meraih janji Allah dalam sabda Rasul-Nya n:

وَ الحْجُّ الْمَبْرُورُ لَيسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّة

“Dan Haji Mabrur itu tidak ada balasan baginya melainkan Al-Jannah. [HR. Al-Bukhari no. 1521 dan Muslim no.1350 dari Abu Hurairah z]
Saudaraku fillah, meraih haji dan umrah yang mabrur bukan dengan angan-angan. Haji dan umrah yang mabrur harus terkumpul padanya beberapa perkara :
Pertama: Ibadah tersebut ditunaikan dengan penuh keikhlasan.
Kedua: Ibadah tersebut sesuai dengan bimbingan Rasulullah n , tidak dicampuri dengan kebid’ahan yaitu perkara-perkara baru dalam agama.
Ketiga: Ditunaikan dengan harta yang halal dan tidak dikotori dengan cercaan, perdebatan atau kemaksiatan-kemaksiatan. Allah ta’ala berfirman:

فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

“Maka siapa yang telah menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, tidak boleh rafats , tidak boleh berbuat fasik dan tidak boleh berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” [Al-Baqarah : 197]
Dalam sebuah kesempatan Rasulullah n bersabda:

مَنْ أَتَى هَذَا الْبَيتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barang siapa datang ke Baitullah ini lalu tidak berbicara kotor tidak pula berbuat maksiat, maka ia akan kembali seperti ketika dilahirkan oleh ibunya. [HR.Muslim no.1350]

About salafartikel

bismillah

Posted on April 9, 2013, in Fiqh - Artikel and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: