Daily Archives: April 28, 2013

Diskusi Terbuka Tentang Tawassul Dengan Kuburan Wali – Bag 1

Setiap muslim pasti mengharapkan kebaikan untuk diri dan saudaranya. Kaum muslimin ibarat satu tubuh, jika salah satu anggauta tubuhnya sakit niscaya semua bagian tubuh merasakannya.

Banyak perdebatan mengenai boleh tidaknya seorang mendatangi kuburan orang saleh dengan maksud menjadikan mereka (para penghuni kubur) sebagai perantara (wasithah) dalam berdoa.

Pertikaian, perdebatan terus bergulat. Apakah perbuatan ini dikategorikan syirik atau justru bentuk pemuliaaan kepada orang shaleh yang disyareatkan?

Orang yang mengatakan boleh memiliki alasan: “Mereka adalah para wali yang dekat dengan Allah, sementara kami ini banyak dosa sehingga pantas seandainya kami mendatangi mereka sebagai perantara dalam kita berdoa kepada Allah. Jika kita berdoa mungkin kurang terkabul, namun jika mereka yang berdoa niscaya akan dikabulkan karena kedekatan mereka dengan Allah.”

Inilah dalil yang mereka pegang.

Apa yang akan kita ketengahkan adalah upaya menjembatani diskusi tersebut menuju titik temu. Dipersilahkan bagi saudara-saudaraku muslim untuk memberikan tanggapan, tentu beserta dalil dari Al-Quran dan Al Hadits, agar kita yang membacanya mendapatkan ketenangan. semoga Allah menganugerahkan hidayah kepada kita semua. Amin Ya Rabbal ‘alamin.

————- Makalah  1 ———-

Syareat islam datang dari Allah, oleh karena itu tidak mungkin terjadi kontradiksi di dalamnya. Allah ta’ala berfirman:

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. An-Nisa: 82

Demikianlah ajaran islam, tidak mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa suatu perbuatan termasuk bentuk kesyirikan, sementara di kesempatan lain beliau mengatakan bahwa perbuatan itu bukan kesyirikan.

Termasuk masalah yang sedang kita bicarakan, bolehkah seorang menjadikan wali yang telah meninggal sebagai perantara kita dalam meminta kepada Allah ?

Salah seorang peziarah makam Sunan Kali Jogo di Kadilangu Demak bercerita kepad penulis tentang apa yang ia saksikan dalam ziarahnya. Para peziarah berbondong-bondong antre masuk ke dalam ruangan makam. Ketika kami mendapat kesempatan memasuki ruangan, seluruh yang memasuki ruangan terisak menangis, dan terdengar masing-masing mereka menyampaikan hajat dan kebutuhannya kepada sunan Kalijogo. Fenomena menyedihkan ini terjadi di banyak tempat.

Apakah perbuatan ini bagian dari ajaran islam? Ataukah perkara ini termasuk perbuatan syirik?

Sebagian masyarakat mengatakan bahwa perbuatan ini adalah bentuk penghormatan kepada orang shaleh !

Sementara yang lain mengatakan bahwa perbuatan ini adalah perbuatan syirik besar.

Dua pendapat yang bertentangan. Mungkinkah dua pendapat ini semuanya benar dan berasal dari Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam?

Tentulah suatu hal yang mustahil. Tidak mungkin dua perkara yang saling bertentangan ini bersatu sebagaimana siang dan malam tidak mungkin bersatu.

Lalu manakah diantara dua perkataan ini yang benar?

Ayat-ayat Al-Quran, Hadits-hadits Nabi demikian pula ijmak (kesepakatan ulama) menunjukkan bahwa perbuatan mendatangi kubur orang shaleh untuk meminta bantuan kepada mereka atau menjadikan mereka sebagai perantara dalam memohon kepada Allah Ta’ala adalah termasuk perbuatan syirik akbar (Syirik Besar).

Kenapa dikatakan syirik Besar?

Dikatakan syirik besar, karena hakekat yang dilakukan sebagian dari mereka terhadap kuburan wali adalah memberikan doa kepada selain Allah, mereka berdoa kepada para penghuni kubur yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat dan madhorot.

Padahal doa adalah ibadah, dan semua jenis ibadah hanyalah hak Allah semata, bukan hak makhluk. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka (beribadah) menyembah-Ku. Adz-Dzariyat: 56

Adapun mereka yang beranggapan amalan ini sebagai bentuk pengagungan kepada orang shaleh adalah pendapat yang batil. Allahu ta’ala a’lam.

————- Makalah  2 ———-

Sejenak kita melihat sejarah jahiliyah. Diantara sesembahan orang-orang jahiliyah adalah berhala yang mereka sebut dengan “Latta”. Berasal dari kata bahasa arab yang artinya membuat adonan.

Allah sebutkan beberapa sesembahan orang jahiliyah dalam firman-Nya:

أَفَرَأَيْتُمُ اللاتَ وَالْعُزَّى

Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, QS. An-Najm

Berhala Lata dinamai Lata, karena pada asalnya dia adalah seorang dermawan yang biasa mengadoni (latta-yaluttu) adonan gandum untuk dibuat roti dan dihidangkan kepada jamaah haji.

Dia dianggap solih. Ketika lata telah mati, manusiapun kehilangan. Ramailah kuburnya dikunjungi, dijadikan tempat beri’tikaf, ngalap berkah hingga jadilah latta sesembahan musyrikin Arab sebagai perantara mereka dalam berdoa kepada Allah.

Diantara sesembahan Musyrikin arab jahiliyah adalah berhala yang bernama: Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.

Nama-nama berhala ini sesungguhnya adalah nama orang-orang saleh dari kaum nabi Nuh, yang dikemudian hari menjadi berhala orang arob. Allah sebtkan nama-nama ini dalam firman-Nya:

وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”. Nuh: 23

Disebutkan oleh Ibnu Abbas dalam Shahih Al-Bukhari bahwa, Wadd, Suwa’ dst adalah nama-nama orang solih dari kaum nabi Nuh. Ketika orang-orang saleh tersebut meninggal, syaiton membisiki untuk dibuat gambar/patung orang-orang saleh ini dengan tujuan mengenang, kemudian dilanjutkan dengan berlebihan terhadap kubur mereka hingga datang generasi yang mengibadahinya dengan menjadikan mereka sebagai perantara dalam berdoa.

Saudaraku, Para penyembah Latta, Wadd dst bukanlah orang-orang yang tidak mengimani Allah sebagai pencipta. Mereka meyakini itu. Orang-orang Quraisy tahu betul bahwa pencipta alam adalah Allah, yang mengirim burung-burung dengan membawa batu-batu yang membakar tentara Abrohah saat penyerangan Ka’bah – mereka meyakini Allahlah yang mengirim. Bukan Latta atau Uzza dst.

Kesyirikan mereka diantaranya adalah menjadikan berhala atau wali-wali yang mereka anggap wali sebagai tempat curhat, sebagai perantara, mengungkapkan kebutuhan.

Namun ketika mereka terus diajak Rasulullah saw untuk memeluk Islam sebagai agama tauhid, meninggalkan ketergantungan kepada para penghuni kubur  ternyata mereka punya jawaban: “Kami tidak syirik, kami hanya mengharapkan mereka sebagai pemberi syafaat, kita doa kepada mereka untuk disampaikan kepada Allah ???)

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Az-Zumar: 3