Diskusi Terbuka Tentang Tawassul Dengan Kuburan Wali – Bag 1

Setiap muslim pasti mengharapkan kebaikan untuk diri dan saudaranya. Kaum muslimin ibarat satu tubuh, jika salah satu anggauta tubuhnya sakit niscaya semua bagian tubuh merasakannya.

Banyak perdebatan mengenai boleh tidaknya seorang mendatangi kuburan orang saleh dengan maksud menjadikan mereka (para penghuni kubur) sebagai perantara (wasithah) dalam berdoa.

Pertikaian, perdebatan terus bergulat. Apakah perbuatan ini dikategorikan syirik atau justru bentuk pemuliaaan kepada orang shaleh yang disyareatkan?

Orang yang mengatakan boleh memiliki alasan: “Mereka adalah para wali yang dekat dengan Allah, sementara kami ini banyak dosa sehingga pantas seandainya kami mendatangi mereka sebagai perantara dalam kita berdoa kepada Allah. Jika kita berdoa mungkin kurang terkabul, namun jika mereka yang berdoa niscaya akan dikabulkan karena kedekatan mereka dengan Allah.”

Inilah dalil yang mereka pegang.

Apa yang akan kita ketengahkan adalah upaya menjembatani diskusi tersebut menuju titik temu. Dipersilahkan bagi saudara-saudaraku muslim untuk memberikan tanggapan, tentu beserta dalil dari Al-Quran dan Al Hadits, agar kita yang membacanya mendapatkan ketenangan. semoga Allah menganugerahkan hidayah kepada kita semua. Amin Ya Rabbal ‘alamin.

————- Makalah  1 ———-

Syareat islam datang dari Allah, oleh karena itu tidak mungkin terjadi kontradiksi di dalamnya. Allah ta’ala berfirman:

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. An-Nisa: 82

Demikianlah ajaran islam, tidak mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa suatu perbuatan termasuk bentuk kesyirikan, sementara di kesempatan lain beliau mengatakan bahwa perbuatan itu bukan kesyirikan.

Termasuk masalah yang sedang kita bicarakan, bolehkah seorang menjadikan wali yang telah meninggal sebagai perantara kita dalam meminta kepada Allah ?

Salah seorang peziarah makam Sunan Kali Jogo di Kadilangu Demak bercerita kepad penulis tentang apa yang ia saksikan dalam ziarahnya. Para peziarah berbondong-bondong antre masuk ke dalam ruangan makam. Ketika kami mendapat kesempatan memasuki ruangan, seluruh yang memasuki ruangan terisak menangis, dan terdengar masing-masing mereka menyampaikan hajat dan kebutuhannya kepada sunan Kalijogo. Fenomena menyedihkan ini terjadi di banyak tempat.

Apakah perbuatan ini bagian dari ajaran islam? Ataukah perkara ini termasuk perbuatan syirik?

Sebagian masyarakat mengatakan bahwa perbuatan ini adalah bentuk penghormatan kepada orang shaleh !

Sementara yang lain mengatakan bahwa perbuatan ini adalah perbuatan syirik besar.

Dua pendapat yang bertentangan. Mungkinkah dua pendapat ini semuanya benar dan berasal dari Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam?

Tentulah suatu hal yang mustahil. Tidak mungkin dua perkara yang saling bertentangan ini bersatu sebagaimana siang dan malam tidak mungkin bersatu.

Lalu manakah diantara dua perkataan ini yang benar?

Ayat-ayat Al-Quran, Hadits-hadits Nabi demikian pula ijmak (kesepakatan ulama) menunjukkan bahwa perbuatan mendatangi kubur orang shaleh untuk meminta bantuan kepada mereka atau menjadikan mereka sebagai perantara dalam memohon kepada Allah Ta’ala adalah termasuk perbuatan syirik akbar (Syirik Besar).

Kenapa dikatakan syirik Besar?

Dikatakan syirik besar, karena hakekat yang dilakukan sebagian dari mereka terhadap kuburan wali adalah memberikan doa kepada selain Allah, mereka berdoa kepada para penghuni kubur yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat dan madhorot.

Padahal doa adalah ibadah, dan semua jenis ibadah hanyalah hak Allah semata, bukan hak makhluk. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka (beribadah) menyembah-Ku. Adz-Dzariyat: 56

Adapun mereka yang beranggapan amalan ini sebagai bentuk pengagungan kepada orang shaleh adalah pendapat yang batil. Allahu ta’ala a’lam.

————- Makalah  2 ———-

Sejenak kita melihat sejarah jahiliyah. Diantara sesembahan orang-orang jahiliyah adalah berhala yang mereka sebut dengan “Latta”. Berasal dari kata bahasa arab yang artinya membuat adonan.

Allah sebutkan beberapa sesembahan orang jahiliyah dalam firman-Nya:

أَفَرَأَيْتُمُ اللاتَ وَالْعُزَّى

Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, QS. An-Najm

Berhala Lata dinamai Lata, karena pada asalnya dia adalah seorang dermawan yang biasa mengadoni (latta-yaluttu) adonan gandum untuk dibuat roti dan dihidangkan kepada jamaah haji.

Dia dianggap solih. Ketika lata telah mati, manusiapun kehilangan. Ramailah kuburnya dikunjungi, dijadikan tempat beri’tikaf, ngalap berkah hingga jadilah latta sesembahan musyrikin Arab sebagai perantara mereka dalam berdoa kepada Allah.

Diantara sesembahan Musyrikin arab jahiliyah adalah berhala yang bernama: Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.

Nama-nama berhala ini sesungguhnya adalah nama orang-orang saleh dari kaum nabi Nuh, yang dikemudian hari menjadi berhala orang arob. Allah sebtkan nama-nama ini dalam firman-Nya:

وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”. Nuh: 23

Disebutkan oleh Ibnu Abbas dalam Shahih Al-Bukhari bahwa, Wadd, Suwa’ dst adalah nama-nama orang solih dari kaum nabi Nuh. Ketika orang-orang saleh tersebut meninggal, syaiton membisiki untuk dibuat gambar/patung orang-orang saleh ini dengan tujuan mengenang, kemudian dilanjutkan dengan berlebihan terhadap kubur mereka hingga datang generasi yang mengibadahinya dengan menjadikan mereka sebagai perantara dalam berdoa.

Saudaraku, Para penyembah Latta, Wadd dst bukanlah orang-orang yang tidak mengimani Allah sebagai pencipta. Mereka meyakini itu. Orang-orang Quraisy tahu betul bahwa pencipta alam adalah Allah, yang mengirim burung-burung dengan membawa batu-batu yang membakar tentara Abrohah saat penyerangan Ka’bah – mereka meyakini Allahlah yang mengirim. Bukan Latta atau Uzza dst.

Kesyirikan mereka diantaranya adalah menjadikan berhala atau wali-wali yang mereka anggap wali sebagai tempat curhat, sebagai perantara, mengungkapkan kebutuhan.

Namun ketika mereka terus diajak Rasulullah saw untuk memeluk Islam sebagai agama tauhid, meninggalkan ketergantungan kepada para penghuni kubur  ternyata mereka punya jawaban: “Kami tidak syirik, kami hanya mengharapkan mereka sebagai pemberi syafaat, kita doa kepada mereka untuk disampaikan kepada Allah ???)

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Az-Zumar: 3

About salafartikel

bismillah

Posted on April 28, 2013, in Aqidah. Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. “Salah seorang peziarah makam Sunan Kali Jogo di Kadilangu demak bercerita kepada penulis tentang apa yang ia saksikan dalam ziarahnya. Para peziarah berbondong-bondong antre masuk ke dalam ruangan makam. Ketika kami mendapat kesempata memasuki ruangan, seluruh yang memasuki ruangan terisak menangis, dan terdengar masing-masing mereka menyampaikan hajat dan kebutuhannya. Ya.. kepada sunan Kalijogo…”

    Dari mana ia/anda tahu bahwa peziarah itu meminta kepada orang mati (Sunan Kalijogo)? Setahu saya kalo berziarah orang2 memohon hanya kepada Allah SWT, bukan kepada kuburan.

  2. Mungkin anda tidak mengetahui apa yang dikisahkan sahabat saya, namun apa yang tidak anda ketahui bukan berarti sesuatu itu tidak terjadi. Betapa banyak kejadian yang kita tidak mengetahuinya.

    Contoh lain yang menunjukkan adanya fenomena menjadikan penghuni kubur sebagai tempat curahan isi hati bahkan doa kepada mereka, Mungkin mas cahyo menyaksikan betapa banyak dimasyarakat ketika mereka hendak melakukan hajatan, mereka sempatkan untuk mengunjungi kuburan orang tuanya untuk meminta restu dari mereka.

    Demikian pula banyak momen-momen yang dianggap genting seperti ujian nasional, para pelajar mempersiapkan ujian dengan mendatangi makam-makam yang dianggap mulia. Walaupun tidak berbicara, namun kedatangan mereka ke kuburan mengandung unsur ghuluw (melampaui batas) dalam mengagungkan kuburan.
    Sangat banyak contoh kuburan yang diagungkan dan dikeramatkan, tawafmengelilingi kuburan, memberikan sesaji kepada kuburan, berdoa dan meminta kepada penghuni kubur yang dikatakan sebagai wali. Dan seterusnya.
    Sungguh, fenomena ghuluw (melampaui batas)atau bahkan penyembahan kubur bukan perkara yang asing kita saksikan di banyak tempat.

    Apa yang kita sampaikan bukan berarti mengingkari syareat ziarah kubur. Tidak sama sekali.

    Ziarah kubur sesungguhnya perkara yang disyareatkan, namun dengan syarat: Dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw

    Ziaroh kubur yang syar’i adalah ziarah yang terpenuhi padanya beberapa perkara, diantaranya:

    1- Ziarah kubur dimaksudkan untuk mengingat kematian, sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallohu’alaii wasallam dari Jabir bin Abdillah Ra: “…berziarah kuburlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur mengingatkan hari akhir,”

    2-Ziarah Kubur dimaksudkan untuk mendoakan mayyit, Sebagaimana doa yang diajarkan Rasulullah saw kepada Aisyah jika seorang berziarah kubur berdoa: Assalamu ‘alaikum ya ahlad Diyar minal muslimin wal mukminin wa inna in syaallahu bikum lahiqun, nas`alullaha lana wa lakum al’afiyah.
    Bukan berdoa kepada mayyit atau menjadikannya perantara dalam berdoa yang ini adalah bentuk syirik akbar. Karena doa adalah ibadah, dan ibadah itu hak khusus bagi Allah Ta’ala.

    3-Menetapi adab-adab yang diajarkan Rasulullah saw saat seseorang ziarah. Diantaranya: tidak duduk diatas makam, dilarang pula kencing atau hajat besar pada makam, dan beberapa adab lain.

    4-Tidak menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, seperti shalat di kuburan, menyembelih kurban di kuburan, membaca al-Quran dan kataman di kuburan. Tidak ada satu dalilpun yang menunjukkan kebolehannya. Bahkan yang ada adalah sebaliknya, Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam bersabda: “Jangan kalian shalat menghadap kuburan …”

  3. apa yang anda
    tahu tentang wali ALLAH?

  4. Dalam semua pertanyaan hendaknya selalu kita kembalikan kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Termasuk pertanyaan mas indra, siapa wali Allah ?

    Seandainya masing-masing manusia dipersilahkan menjawab pertanyaan ini sesuai dengan akalnya – dan tidak dikembalikan kepada Al-Quran dan As-Sunnah- niscaya akan kita dapatkan jawaban yang berbeda dan saling kontradiksi.

    Ada diantara manusia yang mendefinisikan bahwa wali adalah orang yang sakti, tidak mempan bacokan, tidak mlepuh terbakar api.
    Ada lagi yang mengatakan wali adalah mereka yang sudah mencapai drajat makrifat, tidak lagi terikat dengan syareat, tidak perlu lagi shalat, cukup dalam hatinya seperti keyakinan sufi ekstreem.
    Ada lagi yang mendefinisikan wali adalah mereka yang bisa menebak apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
    Ada lagi mereka yang mengatakan wali adalah orang yang telah melalui tirakat panjang, lulus dalam syarat yang telah ditentukan pak kiyai untuk puasa mutih setahun atau melakukan amalan-amalan tertentu.
    Bahkan konon, sunan Kalijaga mendapat kewaliannya setelah bertapa di pinggir kali sampai badannya berlumut dan bahkan dililit ular… waktu yang luar biasa dilalui Sunan Kali Jaga.
    Demikian seterusnya…

    Mas indra dan kita semua tentu menginginkan jawaban sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.
    Tentang siapa wali Allah, Allah berfirman dalam Surat Yunus, yang Maknanya: Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Yunus: 62-63

    Dari ayat ini diambil sebuah kesimpulan bahwa Patokan seorang menjadi wali Allah mereka adalah orang-orang beriman dan bertakwa.
    Maka wali-wali Allah adalah orang yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya. Rasul-rasul-Nya, Hari akhir dan taqdir.
    Berusaha menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangannya. Bersemangat menunaikan perkara yang wajib seperti shalat lima waktu berjamaah di masjid, shalat jumat, zakat, puasa ramadhan, haji ke baitulah Al-Haram.
    Kemudian, setelah mereka perhatikan amalan yang wajib. mereka terus berupaya memperbanyak amalan-amalan sunnah. Menjauhkan diri dari ksyirikan dan kemaksiata kepada Allah. Kemudian Istiqamah dalam iman dan ketaqwaannya hingga akhir hayat. Dan terus berusaha mentauladani Rasulullah saw dalam segala aspek kehidupan.

    Coba perhatikan dengan pengertian-pengertian menyimpang yang telah saya sebutka diatas. Betapa banyak orang yang menyandang gelar kiyai, dia dianggap wali karena kesaktiannya. Padahal kesaktian tersebut dia peroleh dengan bekerjasama denga jin dengan sekian banyak kesyirikan yang dilakukan.

    Wahai kaum muslimin yang demikian mengkultuskan Sunan Kali Jaga, demikiankah kewalian didapatkan? Apakah kewalian diperoleh dengan bertapa dipinggir kali sampai lumutan. Kapan dia shalat jamaah, jika mimpi basah apa dia tidak mandi ? Apa dia tidak shalat jumat ? dan apakah Rasulullah saw mengajarkan ibadah dengan cara yang demikian?

    Allahul musta’an betapa banyak manusia terbuai dan dibutakan dengan kisah-kisah khurafat semacam ini.

  5. “Tentulah suatu hal yang mustahil. Tidak mungkin dua perkara yang saling bertentangan ini bersatu sebagaimana siang dan malam tidak mungkin bersatu.”

    Tidak baik bila memperdebatkan masalah, tanpa memberikan sebuah solusi, mohon kroscek bila menulis artikel yang justru akan menimbulkan perdebatan lagi.

    Bagaimana dengan ini,
    “Wahai kaum muslimin yang demikian mengkultuskan Sunan Kali Jaga, demikiankah kewalian didapatkan? Apakah kewalian diperoleh dengan bertapa dipinggir kali sampai lumutan. Kapan dia shalat jamaah, jika mimpi basah apa dia tidak mandi ? Apa dia tidak shalat jumat ? dan apakah Rasulullah saw mengajarkan ibadah dengan cara yang demikian?”

    saya akan berbalik ke jawaban yang anda berikan
    “Mungkin anda tidak mengetahui, namun apa yang tidak anda ketahui bukan berarti sesuatu itu tidak terjadi. Betapa banyak kejadian yang kita tidak mengetahuinya.”

  6. Ibu Hamida semoga Allah merohmati kita semua dan seluruh kaum muslimin.
    Apa yang saya ucapkan bahwa: “Mungkin anda tidak mengetahui, namun apa yang tidak anda ketahui bukan berarti sesuatu itu tidak terjadi. Betapa banyak kejadian yang kita tidak mengetahuinya.”

    Demikianlah kenyataannya.

    Namun tidak begitu saja kalimat ini digunakan untuk mentolelir atau membenarkan sebuah kesalahan, atau perkara yang masih diragukan.
    Sebagai contoh, ada seorang membuat berita palsu tentang kejadian perang kemerdekaan, dia buat dengan sedemikian menariknya (padahal berdusta). Ketika kita meminta bukti, karena sejarah memang membutuhkan bukti otentik sebagai sesuatu yang akan diyakini, Dengan enaknya dia mengatakan: “Mungkin anda tidak mengetahui, namun apa yang tidak anda ketahui bukan berarti sesuatu itu tidak terjadi. Betapa banyak kejadian yang kita tidak mengetahuinya.”
    Apakah hanya dengan perkataan ini kemudian seorang ahli sejarah membenarkan dan menerima beritanya ?
    Tentu tidak.

    Taruhlah apa yang saya kisahkan dari seorang teman tentang kejadian yang dia alami di makam sunan kalijogo adalah berita yang saya buat-buat.

    Namun yang menjadi titik berat pembahasan adalah: Bolehkah seseorang berdoa menyampaikan hajatnya kepada Sunan Kalijogo yang diyakini dekat dengan Allah dan Akan menyampaikan hajat kita kepada Allah ? ini sebenarnya inti pembahasannya.

    Jawaban tentang masalah ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an:

    Ayat-ayat Al-Quran dengan tegas menjelaskan kewajiban kita berdoa hanya kepada Allah. seperti firman Allah:

    وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

    Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu berdoa (menyembah) seseorang di samping berdoa (menyembah) kepada Allah.

    Terkait dengan kisah wali songo yang demikian melegenda, apakah tidak boleh bagi saya yang masih terus belajar meminta bukti ilmiyah tentang kisah ini? Terlebih untuk kemudian kita yakini sebagai keyakinan.

    Para ulama kita seperti Imam Syafi’i, dan ulama ahlul hadits lainnya mengingatkan untuk kita benar-benar melihat sumber berita tentang sesuatu yang akan kita yakini atau amalkan dalam agama.

    Legenda Walisanga demikian terkenal di tanah Jawa. Semua kisah tentang wali sanga tidak memiliki kejelasan dan bukti ilmiyah yang bisa diterima.

    Padahal Allah subhanahu wata’la memerintahkan agar kita memiliki sikap tatsabbut “teliti” dalam menerima berita, terlebih berita yang dijadikan sandaran untuk berkeyakinan dan beribadah. Allah berfirman:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

    Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Al-Hujurat: 6

    Berdasarkan ayat ini dan juga dalil-dalil lain dari Al-Kitab dan As-Sunnah, para ulama Islam dari kalangan shahabat, tabi’in, at-baut tabi’in termasuk ulama sesudahnya semisal Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Al Bukhari, Imam Muslim dan seterusnya terus meneliti semua berita yang disandarkan kepada Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam.

    Bahkan riwayat-riwayat shahabat, tabi’in dan sesudahnya dinukilkan dengan menyebutkan sanad, rantai perawi.

    Dengan itulah diketahui benar tidaknya sebuah berita, Tersaringlah antara hadits yang shahih dengan hadits yang palsu. [Lihat tulisan dalam blog ini tentang hadits-hadits Palsu seputar keutamaan Al-Quran].

    Para ulama Ahlus sunnah ketika mendengar nukilan berita tentang Rasulullah, atau shahabat atau tabi’in seandainya dalam sanad (rangkaian perawi) ada yang terputus, atau ada seorang yang lemah hafalannya berita tersebut ditolak dan menyatakannya sebagai berita Dhaif (lemah). Bahkan mungkin ada yang divonis dusta karena ada pendusta dalam rangkaian sanadnya.

    Allahuakbar !! Allah telah jaga agama ini, diantaranya dengan dinukilkannya berita melalui orang-orang yang adil lagi terpercaya.

    Demikianlah seharusnya seorang bersikap terhadp berita.

    Cerita khurofat wali sanga. Adakah diantara yang bercerita mampu menyebutkan sanad, sumber berita yang terpercaya untuk kita cek kebenaran beritanya ??? sehngga hati-hati kita tenang dalam meyakininya. Ataukah berita tersebut berita tanpa sanad, katanya dan katanya. Jika demikian Apa bedanya berita tentang walisongo dengan legenda malinkundang? kisah terjadinya gunung tangkuban perahu?

    Dikisahkan bahwa sunan kali jaga bisa menghidupkan anak yang telah mati ? Sunan Bonang punya ilmu olah kanuragan dan semisalnya? Bolehkah kemudian kita meyakini hal ini ? Sunan Kalijogo bisa menghidupkan anak, dan boleh kita belajar ilmu olah kanuragan (kesaktian)?

    Sisi lain yang menunjukkan ketidak ilmiyahan berita adalah banyak versi dan penafsiran kisah-kisah sunan kalijogo.

    Sebelum kita melanjutkan pembicaraan. Adakah diantara pembaca atau penulis artikel wali Sanga mendatangkan bukti-bukti otentik yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiyah ? Agar nantinya bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. ??

  7. Jazakkumulloh khoron. Dalam urusan dunia saja, soal duit, soal kerjaan kita mesti cari kebenaran berita tidak begitu saja percaya. Coba kita lihat berapa banyak orang tertipu lantaran berita-berita gelap melalui sms.
    Dalam soal dunia kita sangat teliti memilah dan memilih berita apalagi menyangkut soal akherat. Kebenaran kisah-kisah wali songo harus ada bukti ilmiah, tidak cukup kita katakan: “Apa yang tidak kau tahu belum tentu tidak ada”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: