Qabil dan Habil, Kisah Dua Putera Adam

Berita pembunuhan pertama di muka bumi demikian masyhur dan diyakini ahlul iman. Dihamparkan dihadapan kita kisah kedengkian seorang anak manusia kepada saudaranya hingga berakhir dengan pertumpahan darah.

Allahu akbar, demikianlah Hasad ketika dibiarkan membakar kalbu, mata menjadi buta untuk menilai kemungkaran, jiwa pun tertutup untuk menimbang jeleknya kemaksiatan.

Kisah dua anak Adam, tertera dalam surat Al-Maidah, diantara sebaik-baik kisah untuk dibacakan kepada manusia dan diambil ibrahnya.

Di awal kisah Allah perintahkan Nabi dan Rasul-Nya Muhammad bin Abdillah saw membacakan lembar sejarah ini kepada manusia dengan haq, jauh dari kedustaan, dengan penuh kesungguhan, agar mereka mengambil ibrah. Allah berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ

“Ceriterakanlah (wahai Nabi) kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya,

 

Siapa kedua anak Adam?

Mayoritas ahlu tafsir menyatakan bahwa keduanya adalah anak kandung Adam ‘alaihissalam sebagaimana dzahir ayat.

Mengenai nama kedua putera Adam tidak disebutkan dalam Al-Qur’an, tidak pula termaktub dalam hadits-hadits shahih. Adapun  yang masyhur bahwa keduanya bernama Habil dan Qabil, nama ini dinukil dari berita-berita Bani Israil, kita tidak mendustakan tidak pula memastikan kebenarannya selama tidak ada pembenaran atau penolakan dari syareat.

Kita sebutkan dua nama ini sebagaimana masyhur dalam kitab-kitab tafsir dan untuk memudahkan kita dalam memahami rangkaian kisah. Allahua’lam

 

Sebab Terjadinya Pembunuhan

Pembunuhan bermula ketika kedua anak Adam masing-masingnya mengeluarkan kurban untuk bertaqarrub kepada Allah.

Allah hanya menerima kurban yang dikeluarkanHabil, dan tidak menerima kurbah Qabil. Diterimanya kurban diketahui dengan turunnya wahyu Allah dari langit atau datangnya api yang membakar kurban yang diterima sebagaimana ini ketetapan Allah atas umat terdahulu.

Qabil, ketika melihat kurban saudaranya diterima sementara kurbannya tertolak munculah kedengkian bahkan tekad untuk membunuh saudaranya. Demikian Allah sebutkan dalam firman-Nya:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لأقْتُلَنَّكَ

“Ceriterakanlah (wahai Nabi) kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya, Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): “Aku pasti membunuhmu!”

 

Nasehat Yang Tulus

Bukan sekedar bersitan hati, tekad Qabil membunuh saudaranya terucap. Habil tidak tinggal diam, nasehat yang tulus terucap dari seorang yang arif dan penuh ketakwaan.

قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Dalam perkataannya ini Habil mengingatkan saudara kandungnya akan kewajiban takwa kepada Allah, Allah wajibkan keduanya bahkan seluruh manusia untuk bertakwa. Inilah sebab diterimanya amalan.

Seakan-akan Habil berkata: “Wahai Saudaraku, apa salahku, apa dosaku sehingga engkau bertekad membunuhku ? Pantaskah engkau membunuhku hanya karena kurbanku Allah terima? Pantaskah aku dibunuh karena aku beribadah kepada Allah? Bukankah seharusnya engkau memperbaiki diri agar kuban dan ibadahmu diterima Allah?

Habil melanjutkan nasehatnya sebagaimana Allah firmankan:

لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لأقْتُلَكَ 

“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu.

Tidak ada bersitan sedikitpun pada diri Habil untuk membunuh saudaranya. Bukan karena lemah bukan pula sifat penakut, sebabnya tidak lain adalah takut kepada Allah Ta’ala. Habil berkata:

إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ

Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb seru sekalian alam.” “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang lalim.” 28-29

Nasehat ternyata tidak bermanfaat bagi Qabil. Dia lebih senang memuaskan keinginan hawa nafsu buruknya. Membunuh saudara kandungnya.

 

فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Maka hawa nafsu Kabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.

Benar, jadilah ia orang yang rugi di dunia dan di akherat.  Dia raih kemurkaan Allah Benar, Jadilah dia orang yang rugi karena dialah orang pertama yang mengajarkan pembunuhan di muka bumi, membuat sunnah sayyi’ah yang diikuti manusia setelahnya.

Bukan hanya memikul dasanya, namun dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, Rasulullah saw bersabda:

وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

Dan siapa yang melakukan satu sunnah yang buruk lalu diamalkan (orang lain) sepeninggalnya, maka dia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sunnah itu sepeninggalnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”

Telah Shahih pula dari Rasulullah saw beliau bersabda:

مَا مِنْ نَفْسٍ تُقْتَلُ ظُلْمًا إِلاَّ كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ اْلأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا، ذَلِكَ بِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ

Tidak ada satu pun jiwa yang terbunuh secara zalim melainkan atas Ibnu Adam yang pertama bagian dari darahnya. Karena dialah yang mula-mula melakukan sunnah (tuntunan/ contoh)pembunuhan.”

 

 

Dia telah tiada…

Jasad saudaranya terbujur kaku, dia telah tiada. Kebingungan menimpa Qabil.tidak tahu apa yang harus ia perbuat terhadap jasad saudaranya karena ialah jenazah pertama di muka bumi dari bani Adam.

Ditengah kebingungan, Allah mengajarkan bagaimana seharusnya jenazah diperlakukan dengan diutusnya seekor burung gagak.

فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الأرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْأَةَ أَخِيهِ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْأَةَ أَخِي

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?”

Pembunuhan ternyata tidak memberikan manfaat. Hanyalah penyesalan dan kehinaan di dunia dan akhirat. Demikianlah akibat kemaksiatan. Allah berfirman:

فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ

Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.

Di akhir kisah Allah ta’ala berfirman:

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فِي الأرْضِ لَمُسْرِفُونَ

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.

Pembaca rahimakumullah, dalam kitab-kitab tafsir cukup panjang disebutkan detail kisah dua anak Adam.

Disebutkan perebutan istri antara Qabil dan Habil. Adam menjodohkan Qabil dengan saudara kembar Habil yang jelek rupa bernama Labuda sementara saudara kembarnya yang cantik bernama Iqlima dijodohkan dengan Habil, hasad membakar kalbu Qabil, dan semakin membakar ketika Allah menolak kurbannya.

Disebutkan pula bahwa Qabil adalah petani dan ia keluarkan kurbannya berupa hasil panen yang paling jelek, sementara Habil adalah penggembala dia keluarkan ternaknya yang paling gemuk dan bagusnya.

Disebutkan pula bahwa Qabil dan saudara kandungnya dilahirkan di syurga, Qabil adalah anak pertama Adam. Sementara Habil dan saudaranya dilahirkan di dunia, bahkan disebut jarak kelahiran antara Qabil dan Habil. Proses pembunuhanpun dinukilkan.

Semua berita tersebut tidak ada landasan dari dalil shahih. Kebanyakannya bersumber dari berita-berita israiliyat.

Kita cukupkan kisah dua anak adam seperti apa yang Allah beritakan, dan beribu faedah akan kita petik dari kisah dua anak Adam di atas, Insyaallah.

Sungguh seandainya detail kisah memberikan manfaat niscaya Allh sebutkan dalam Al-Quran dan Rasulullah saw rinci dalam sabda-sabdanya. Allahua’lam.

 

Faedah Kisah

 

  1. Orang yang membuka jalan kejelekan, dia akan memikul dosanya dan dosa orang-orang yang mengikutinya.
  2. Betapa buruknya Hasad dan betapa besar akibat dari penyakit ini.

Hasad inilah yang menyebabkan Qabil membunuh Habil, hasad pula yang mengantarkan saudara-saudara Yusuf melemparkannya ke dalam sumur dan menelantarkannya, hasad inilah yang mendorong ahlul kitab memusuhi Rasulullah saw dan lebih memilih kesesatan daripada iman, bahkan hasad itu pulalah yang mendorong mereka menghalangi manusia dari jalan Ar-Rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا ءَاتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ فَقَدْ ءَاتَيْنَا ءَالَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَءَاتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا

Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.” (An-Nisa’: 54)

Karena besarnya bahaya hasad Rasulullah saw melarang umatnya dari sifat ini seperti dalam sabda beliau:

لا تحاسدوا

  1. Hasad mungkin saja terjadi di antara dua orang yang bersaudara sebagaimana terjadi pada salah satu anak Adam.
  2. Karena besarnya bahaya hasad, sudah sepantasnya setiap jiwa berupaya memadamkan bara hasad dari kalbunya, sebagaimana bersihnya kalbu Habil dari penyakit yang ada pada diri Qabil.

Diantara obat penyakit hasad adalah memperbesar rasa takut kepada Allah ta’ala, memohon kepada Allah agar membersihkan kalbu dari hasad dan penyakit-penyakit hati lainnya,

Termasuk upaya selamat dari hasad adalah melihat saudara kita yang lebih rendah dalam urusan dunia sehingga menjadi besarlah rasa syukur kepada Allah karena melihat Allah telah lebihkan dirinya atas kebanyakan manusia.

  1. Takut kepada Allah adalah pokok kebaikan. Dengan rasa takut inilah seorang bersemangat melakukan kebaikan agar selamat dari adzab Allah. Rasa takut ini pula yang menghalangi seorang melanggar batasan-batasan Allah. Betapa indah perkataan Habil dan betapa kuat azamnya untuk tidak membalas saudaranya dia katakana:

مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لأقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

“….. aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb seru sekalian alam.”

  1. Pentingnya nasehat kepada pelaku kedzaliman, sebagaimana upaya yang dilakukan Habil kepada saudaranya.

About salafartikel

bismillah

Posted on Oktober 6, 2013, in Kisah dan Ibroh and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: