Meniti Jejak Kerajaan Ratu Saba` !!

Abu Ismail Muhammad

Dalam surat an-naml Allah kisahkan kerajaan Nabi Sulaiman dan Ratu Saba’ serta bagaimana Nabi Sulaiaman menundukkan negeri Saba. Kebesaran Allah Subhanahu wa ta’ala tampak dalam kisah yang agung ini. Barangsiapa membaca kisah-kisah Al-Quran dengan dada yang lapang, sungguh ia akan melihat sebagian kebesaran Allah dan ia akan mendapat petunjuk beserta faedah-faedah yang sangat banyak.

Sulaiman alaihissalam, adalah putera Nabi Dawud ‘alaihis salam. Allah anugerahkan kepadanya kerajaan besar yang terletak di bumi Syam, Palestina saat ini.[1] Tidak ada dalam sejarah manusia kerajaan melebihi kerajaan Sulaiman ‘as

Allah Ta’ala benar-benar telah melimpahkan karunia kepada Sulaiman as berupa kerajaan yang sangat menakjubkan. Beliau tidak hanya berkuasa atas manusia, tetapi Allah juga kuasakan atasnya burung-burung, hewan-hewan, jin bahkan angin. Allah berfirman:

وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُدَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ

“Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”(an-naml:16)

Dalam Surat Saba Allah juga berfirman:

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَمَنْ يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ * يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ اعْمَلُوا آلَ دَاوُدَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Rabbnya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Beramalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih. Saba’ 12-13

Suatu ketika beliau bersama pasukannya yang besar melewati sebuah lembah, lembah semut. Seekor semut melihat bahaya yang akan menimpa kaumnya, ia mengkhawatirkan nasib kaumnya, khawatir kaumnya terinjak sulaiman dan bala tentaranya. Dengan lantang ia segera berseru sebagaimana Allah kisahkan:

حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”;

Subhanallah, betapa seekor semut memiliki kasih sayang kepada kaumnya. Dan inilah sebagian keutamaan semut atas hewan-hewan lainnya bahkan atas sebagian besar manusia. Dengan tulus, nasehat ia sampaikan kepada kaumnya, berbeda dengan kebanyakan manusia yang justru menindas dan mendzalimi sesamanya.

Mendengar perkataan semut, Nabi Sulaiman tersenyum. Bersyukur atas karunia Allah yang sangat besar berupa mukjizat memahami bahasa hewan dan tersenyum tertawa karena melihat kecerdasan sang semut dan kasih sayangnya kepada sesama. Betapa indah pemandangan yang beliau saksikan, betapa besar nikmat yang Allah anugerahkan kepada beliau, beliau pun bersyukur dan berdoa kepada Allah :

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

 “Wahai Rabbku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.an-naml:19

Nabi Sulaiaman benar-benar memperoleh anugerah besar berupa kerajaan, berupa tentara dari kalangan manusia, jin hewan serta keutamaan lainnya. Semua itu tidak menyebabkan nabi Sulaiman takabbur dan membanggakan diri. Justru sebaliknya, beliau semakin tawadhu’ (merendahkan diri) dan syukur kepada Allah.

Nabi Sulaiman dan Kerajaan Saba`

Nun jauh di sana, sejauh dua bulan perjalanan dari kerajaan Sulaiman as, tepatnya di negeri yaman terdapat sebuah kerajaan. Saba`, demikian nama negeri yang Allah kabarkan dalam Al-Quran.

Penguasa negeri Saba saat itu adalah seorang ratu. Al Qur’an tidak menyebut nama Ratu maupun bagian mana dari Yaman yang dikuasainya. Al Qur’an hanya menyebutkan bagian penting dari cerita yang menjadi petunjuk bagi manusia.  Pada riwayat-riwayat israiliyat Ratu Saba tersebut bernama Balqis.

Al-Imam Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa Saba adalah gelar bagi raja-raja dari Yaman. Ratu Saba adalah salah satunya. Kerajaan saba` cukup besar, Namun sayang, ideology mereka syirik, mereka menyembah matahari.

Suatu hari nabi Sulaiaman mengumpulkan pasukannya untuk melihat sendiri keadaan dan kondisi mereka. Demikianlah contoh seorang pemimpin. Selalu melihat masyarakat yang dipimpinnya, bahkan tidak tanggung-tanggung nabi Suliaman melihat sendiri keadaan pasukannya. Dalam kesempatan itu ternyata burung hud-hud, sejenis burung pelatuk berjambul, tidak hadir.

وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ  * لأعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لأذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”.

Dalam ayat ini ada faedah, disyareatkannya ta’zir (hukuman) bagi orang yang melanggar syareat dan orang yang tidak mentaati sulton (penguasa), tentu dalam hal-hal yang ma’ruf. Sebagaimana nabi sulaiman mengancam hud-hud dengan hukuman pedih ketika ia tidak hadirp.

Ucapan sulaiman: “kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang,” menunjukkan kehati-hatian beliau dalam menetapkan hukuman, disamping di dalamnya ada pelajaran bagi seorang hakim untuk memahami akar permasalahan sebelum memutuskan perkara atau menjatuhkan hukuman.

فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ

Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini,  An-naml:22

Allahuakbar, Hud-hud burung kecil nan mungil yang sejak tadi tidak muncul di tengah barisan pasukan sulaiman ternyata baru saja melakukan sebuah perjalanan jauh dari negeri yaman. Ribuan kilometers ia tempuh untuk mendapatkan berita penting. Apakah gerangan berita itu? Allah beritakan dalam ayat selanjutnya:

إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ * وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لا يَهْتَدُونَ * أَلا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ * اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai `Arsy yang besar”. An-naml:23-26

Hud-hud mengenal Allah ta’ala, ia juga mengenal bahwa Allah sajalah dzat yang berhak diibadahi, karena Dialah yang menciptakan, mengeluarkan tanaman dan buah-buahan, Dialah Dzat yang mengetahui segala sesuatu dan pemilik Arsy yang agung.

Pembaca qudwah, apakah berita hud-hud langsung diterima mentah-mentah oleh nabi sulaiman as?  Tidak. Beliau ingin pastikan kebenaran berita. Ini juga pelajaran berharga bagi setiap kita untuk bertatsabbut, mencari kepastian berita. Terlebih jika berita itu dari orang-orang fasik atauorang yang tidak kita kenal dan atau tertuduh kejujurannya. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. al-hujurat:6

قَالَ سَنَنْظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.

 

Mengutus hud-hud dengan surat Dakwah ke negeri Saba

Untuk membuktikan kebenaran berita Hud-Hud, Sulaiman mengutusnya dalam sebuah misi Agung, dakwah kepada tauhid. Sulaiman berkata:

اذْهَبْ بِكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهِ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ

Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan” An-Naml:28

Kembali hud-hud terbang jauh menuju Yaman, kali ini dengan membawa sebuah surat penting, mengajak ratu Saba dan penduduk negerinya mengikhlaskan ibadah kepada Allah dan meninggalkan kesyirikan.

Bagaimana kisah surat Nabi Sulaiman?

Sampailah hud-hud di negeri Saba’, Surat ia lemparkan dan sampailah kepada Ratu Saba’. Segera musyawarah kerajaan digelar, pembesar-pembesar kerajaan dipanggil Ratu Saba` untuk melihat urusan mereka.

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلأ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ * إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * أَلا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang muslim (berserah diri)”.

Inilah isi surat nabi sulaiman. Ringkas padat dan penuh arti. Surat Sulaiman kepada Ratu Saba ini sangat unik dalam sejarah kemanusiaan. Nabi Sulaiman as dengan tegas dalam suratnya menyebutkan tentang kebesaran Allah Ta’ala, beliau mengawali surat dengan basmalah. Dalam kalimat ini ada penetapan uluhiyyah bagi Allah sebagaimana ditetapkan pula nama-nama Allah dan sifat-nya. Dalam surat itu beliau juga perkenalkan dirinya. Lalu beliau memperingatkan Ratu Saba agar tidak memamerkan kekuasaannya, tidak sombong dengan bala tentaranya, dan memerintahkan agar dia menyerah dibawah kekuasaannya, memerintahkan Ratu Saba untuk menyerahkan dirinya kepada Allah Ta’ala dan datang ke Syam sebagai seorang Muslim.

Tidak ada manusia manapun yang sanggup menulis surat yang demikian singkat, komprehensif, dan jelas. Surat ini juga mukjizat lain dari mukjizat-mukjizat nabi Sulaiman as. Sama

Surat segera difahami balqis. Problem besar menggelayut di benaknya. Musyawarah dengan punggawa-punggawa kerajaan dilanjutkan. Terjadilah perbincangan seperti apa yang Allah kabarkan dalam ayat-ayat berikut:

Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis (ku)”.

Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”.

Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.

Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.

 

Demikian keputusan musyawarah. Kerajaan Saba mengutus delegasi khusus dengan hadiah-hadiah besar untuk Nabi Sulaiamn, siapa tahu dengan itu pertempuran bisa dicegah. Utusan segera menuju Syam, dengan beragai hadiah untuk Nabi Sulaiman ‘alaihis salam.

 

Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.

Nabi Sulaiaman kemudian memerintahkan utusan untuk kembalii ke negri Saba dengan membawa ancaman yang sangat menakutkan. Sulaiman mengancam sebuah invasi besar-besaran menuju negeri Saba. Allah berfirman:

 

Kembalilah kepada mereka, sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”.

Faedah kisah:

  1. Ahli akherat tidak merasa bangga dengan dunia, sebagaimana ahlud dunya tidak merasa senang dengan akherat. Utusan ratu saba merasa bangga dengan hadiah besar yang mereka bawa, namun sulaiman tidak sedikitpun memandang hadiah tersebut.
  2. menggunakan ancaman dan tekanan kepada musuh sebelum tindakan fisik (invasi militer) yang memang dimampui. Sebagaimana Sulaiamn menggunakan cara ini

 

 

Pemindahan Singgasana Ratu Saba’

Kembalilah delegasi Ratu Saba’. Dengan membawa ancaman Nabi Sulaiman. Kembalilah delegasi ratu Saba setelah mereka menyaksikan betapa besarnya kerajaan Sulaiaman yang tidak mungkin ditandingi. Bagaimana mungkin menandingi tentara sulaiman yang terdiri dari manusia, jin, hewan-hewan.

Sesampainya utusan ke negeri Saba dengan membawa berita dari Syam, sang ratu memutuskan untuk tunduk kepada Nabi Sulaiaman ‘alaihis salam.Berangkatkan ratu Saba menuju Syam.

Kedatangan Ratu Saba’ telah diketahui Nabi Sulaian, tentu dengan wahyu dari Allah. Oleh karenanya Sulaiaman berkehendak menunjukkan sesuatu kepada Ratu Saba yang menjadikannya lebih tunduk dan menyaksikan kebesaran Allah ta’ala. Maka Sulaiaman menginginkan agar Singgasana Ratu Saba dipindahkan dari Yaman ke Syam sebelum kedatangannya. Allah berfirman:

 

Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.

Berkata `Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni`mat-Nya).

Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. Dia berkata: “Robahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal (nya)”.

 

Datanglah Ratu Saba ke negeri Syam dan di istana nabi Sulaiman. Semakin yakinlah Ratu Saba’ tentang kekuasaan Sulaiman. Dan semakin takjub ketika ia melihat singgasananya telah berpindah. Terlebih ketika melihat Istana Sulaiman yang sangat menakjubkan. Iapun tunduk dan menyatakan dirinya sebagai seorang muslimah. Allah berfirman:

Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu?” Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri”.

Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.

Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya.

Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”.

Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”.

Demikian akhir kisah, Ratu Saba’ tunduk dan berserah diri kepada Allah. Kisah tentang nabi Sulaiaman banyak diriwayatkan riwayat-riwayat israiliyat namun kita mencukupkan apa yang disebutkan dalam Al-Quran sebagaimana dikatakan Ibnu Katsir rahimahullah: Banyak ahli tafsir baik dari ulama terdahulu atau berikutnya menyebutkan kisah-kisah serta berita-berita dalam kisah Dawud dan Sulaiman yang kebanyakannya berita israiliyat (berita ahlul kitab), diantara berita-berita itu dipastikan kedustaannya, maka kami tinggalkan berita-berita israiliyat itu, mencukupkan dengan membaca apa yang tersebut dalam Al-Quran Al-Adzim, sesungguhnya Allahlah Dzat yang member petunjuk menuju shirotol mustaqim. Al-Bidayah Wan-Nihayah (2/13)

Faedah-faedah Kisah.

Sebagian faedah telah kita lalui bersama di tengah-tengah kisah. Sebagai penutup, mari kita selami beberapa faedah berikutnya dari kisah yang sungguh indah dan menakjubkan di atas. Diantara faedah lain dari kisah adalah:

  1. Disyareatkannya dakwah dalam bentuk surat, sebagaimana ini juga dilakukan Rasulullah saw. seperti surat beliau kepada raja Romawi, Heraklius.
  2. 2.      Disyareatkan mengawali surat dan tulisan-tulisan penting dengan basmalah. Asy-Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bahkan menyatakan bahwasanya meninggalkan basmalah ketika menulis karya tulis termasuk meninggalkan sunnah dan telah mengikuti gaya orang barat.
  3. 3.      Jihad termasuk syareat umat-umat terdahulu, sebagaimana tampak dari keinginan Nabi Sulaiman mengerahkan pasukan menuju Yaman.
  4. 4.      Kisah ini menunjukkan keutamaan ilmu. dengan ilmu seorang akan mendapatkan keselamatan dan keberuntungan sebagaimana selamatnya hud-hud dari hukuman sulaiaman dengan sebab ilmu yang dimilikinya.
  5. 5.      Nabi sulaiaman tidak mengetahui perkara ghaib. hanya allah sajalah yang mengetahuinya. Beliau tidak tahu kemana hud-hud pergi, tidak tahu pula keberadaan kerajaan saba kecuali setelah datang kabar dari hud-hud. Hud-hud sendiri berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya
  6. 6.      Disyareatkan bagi pemerintahan islam untuk memiliki mata-mata dengan tujuan mengetahui keadaan musuh-musuh Allah. Terlebih dimasa genting, dimasa peperangan.
  7. 7.      Pentingnya mengenal pemetaan geografi dengan melihat dari angkasa seperti dengan pesawat, sebagaimana burung Hud-hud menyusuri perjalanan dari Syam menuju Yaman.
  8. 8.      Perlu dan pentingnya mengenal daerah-daerah yang strategis untuk berdakwah, demikian pula mengenal tentang kultur atau idiologi daerah yang akan didakwahi.
  9. 9.      Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Saba’ menjelaskan hakekat at-tauhid.
  10. 10.  Tauhid rububiyyah memberikan konsekwensi penetapan tauhid uluhiyyah, artinya jika Allah adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan, mengatur, menghidupkan dan mematikan maka sudah seharusnya Dia sajalah Dzat yang disembah.
  11. 11.  Disyareatkan mengutus utusan untuk dakwah kepada tauhid
  12. Semua nabi dan rasul berdakwah kepada tauhid
  13. Sulaiman memiliki berbagai mukjizat diantaranya: Allah kuasakan atas beliau golongan jin, manusia, burung dan juga angin. Nabi Sulaiman as juga mampu memahami bahasa binatang.


[1] Hingga saat ini kaum Yahudi masih mencari-cari dimana istana sulaiman itu berada, dan mereka meyakini bahwa istana itu terletak di lahan tempat Masjid Al-Aqsa sekarang. Inilah alasan mengapa kaum Yahudi ingin meruntuhkan Masjid Al-Aqsa dan merekonstruksi situs istana Sulaiman.

About salafartikel

bismillah

Posted on Oktober 10, 2013, in Kisah dan Ibroh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: