KISAH PETANI TUA ; Sukses Semu Pak Jendral dan Kisah Pak Tua Sang Petani

Teeet…. Alarm berbunyi dua tiga jam sebelum subuh. Sosok setengah baya itu bangun mempersiapkan segala sesuatu untuk memulai aktifitas kerjanya di kota metropolitan. Sebelum subuh, sebuah sedan mewah meluncur cepat bersama sang sopir yang setia, meninggalkan rumah dan keluarganya meniti karir yang selama ini ia perjuangkan. Entah dimana dia sholat subuh atau malah tidak sholat sama sekali, demi menghindari macetnya Jakarta.

Sehari penuh pikiran terkuras. Bersama sisa-sisa tenaga tubuh setengah baya itu kembali ke rumahnya selepas isya. Koran dan secangkir minuman diraihnya sembari mata menyaksikan layar kaca mendengar berita atau mencari chanel-chanel hiburan yang dia rasa cocok. Demikian roda kehidupannya berputar setiap hari bersama hingar bingarnya Ibu Kota.

Sekilas, mata kebanyakan manusia silau melihat kekayaan dan jabatannya. Manusia mengira kehidupannya bahagia sejalan dengan karir yang terus melejit.

Ternyata tidak seperti yang disangkakan. Dia mengeluh akan kepenatan dan kesempitan hidup. Kebahagiaan belum dia rasakan. Keharmonisan rumah tangga tidak dia temukan. Hari-hari habis di luar rumah, tidak ada kesempatan bercengkrama dengan anak istri. Masing-masing mereka penat dengan kesibukan dan rutinitas harian.

Kebahagiaan dan kesuksesan hidup ternyata tidak bisa diukur dengan harta yang dikumpulkan. Kebahagiaan dan kesuksesan yang hakiki ternyata tidak bisa dia beli dengan kepingan-kepingan emas.

Nyata sudah bahwa gemerlap dunia tidak identik dengan kebahagiaan dan kesuksesan. Dunia diraih namun nihil dari kebahagiaan sebab berpaling dari Al-Kitab dan As-Sunnah.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan”. Thoha: 124-126

Sebaliknya ada keluarga yang hidup apa adanya tetapi merasakan kesuksesan hidup, karena dia berupaya meniti jalan yang digariskan Allah dan rasul-Nya saw.

Bandingkan kisah keluarga karir di atas dengan salah satu keluarga petani di sebuah dataran tinggi yang penuh dengan kesahajaan namun mereka merasakan kesuksesan dalam kehidupan.

Pagi hari kehidupannya diawali dengan shalat shubuh berjamaah di surau. Dia sambut seruan adzan yang demikian indah.  Seruan untuk meraih kebahagiaan “Hayya ‘alal Falah.” “Mari menuju kepada keberuntungan.”

Dengan tenang, langkah kaki pak tua menyusuri jalan kampung seiring dengan derajat yang diperolehnya di sisi Allah dan dosa yang dihapus oleh-Nya dengan sebab langkah-langkah kaki menuju rumah-Nya, Insyaallah, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلْ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ

 “Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 131 dan Muslim no. 649)

Sementara sang bapak berada di masjid, istrinya di rumah menunaikan shalat shubuh dan mengerjakan pekerjaan rumah tangganya, yang sudah menjadi tugas dan tanggungjawabnya.

Seusai shalat, lelaki yang sudah mulai keriput kulit tubuhnya duduk berdzikir di masjid hingga terbit matahari lalu ia tunaikan dua rakaat shalat sunnah semua itu dengan harapan ia mendapatkan pahala besar sebagaimana disabdakan dalam sabda Rasulullah saw:

Barangsiapa salat subuh berjamaah kemudian duduk berzikir kepada Allah Ta’ala sampai terbit matahari lalu salat 2 rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umroh secara sempurna, sempurna, dan sempurna.” (HR. Tirmizi dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Dengan penuh kebahagiaan lelaki itu kembali ke rumah kayunya. Doa kebaikan untuk keluarganya berupa salam terucap dengan tulus dari lisannya,: Assalaamu’alaikum warahmatullohi wabarokatuh…

Salam pun disambut dengan doa serupa. Senyum manis sang istri yang masih menyisakan kecantikan demikian bersahaja menyambut kedatangan suami yang dicintai. Keduanya duduk di kursi sederhana sambil memangku cucu-cucu yang mulai bisa mengaji alif, ba, ta….

Suasana akrab dan hangat demikian terasa. Bukan Es Krim Starbuck yang menemani, bukan pula burger McDonald’s atau Spangheti ala prancis dan inggris yang terhidang. Hanya potongan-potongan singkong goreng “mempur” dan teh pahit hasil kebunnya, namun kebahagiaan benar-benar tampak dari raut muka keluarga yang tinggal nun jauh di sebuah dataran tinggi di negeri ini.

Beberapa saat kemudian sang bapak meninggalkan rumah dengan cangkulnya menuju ladang pertaniannya…. Hingga menjelang dhuhur kembali untuk menyambut seruan Rabbul ‘alamin: Hayya ‘alal Falah….

Demi Allah, Demi Dzat yang seluruh jiwa di tangan-Nya, siapakah diantara dua keluarga di atas yang benar-benar bahagia dan meraih kesuksesan, dan siapakah diantara keduanya yang hanya meraih kebahagiaan semu ???

Apakah Qarun memetik kebahagiaan dengan harta yang dia kumpulkan ? Adakah diantara pembaca menilai Qorun sebagai orang yang sukses ? Qarun inilah peraih harta yang sangat banyak, pengumpul emas dan perang yang luar biasa sebagaimana Allah sebiutkan kisahnya dalam Al-Quran.

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”. Al-Qashahsh: 76

Sebagian manusia silau dengan kekayaan Qarun, adapun mereka yang mengetahui hakekat kebahagiaan memahami bahwa apa yang disisi Allah lah kebahagiaan yang hakiki.

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلا يُلَقَّاهَا إِلا الصَّابِرُونَ

Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”.

Sungguh manusia yang paling sukses dan bahagia adalah Rasulullah saw, namun beliau sama sekali tidak silau dengan gemerlap dunia…. Karena bukan itu patokan kebahagiaan dan kesuksesan hidup.

Rasulullah saw pernah mengganjal perutnya dengan bebatuan karena lapar, beliau tidur di atas tikar hingga membekas di punggung beliau, beliau meninggal dalam keadaan baju perang beliau digadaikan di sisi seorang Yahudi sebagai jaminan atas gandum yang beliau pinjam untuk keluarga beliau. Namun seluruh manusia menyaksikan dan bersaksi bahwa beliaulah manusia yang paling berbahagia, beliaulah manusia yang telah mencapai kesuksesan hidup…

Sobat Tashfiyah, kebahagiaan yang sesungguhnya hanya ada pada ketaatan kepada Allah.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. Ar-Ra’d: 28-29

About salafartikel

bismillah

Posted on Oktober 13, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: