IBNU SHOYYAD DALAM PERDEBATAN, Diakah Dajjal?

Abu Ismail Muhammad Rijal

Shof, demikian namanya. Keturunan seorang yahudi Madinah bernama Shoyyad. Dikenal pula dengan Abdullah bin Shoyyad atau Abdullah bin Sho-id.

Sosok Abdullah bin Shoyyad sejak kemunculannya terus menjadi misteri. Kematiannya pun menjadi polemik. Ada yang mengatakan dia meninggal saat peristiwa harrah, ada yang mengatakan dia mati di Madinah dan disaksikan kaum muslimin, sementara yang lain mengatakan dia tidak mati tetapi menghilang entah kemana.

Perkaranya memang sangat samar. Berita tentangnya begitu misterius. Para ulama berbeda pendapat tentang Ibnu Shoyyad, Diakah Dajjal yang akan muncul di akhir Zaman?

Keberadaan Dajjal sebuah keyakinan.

Sebelum berbicara perihal Ibnu Shoyyad, perlu diingatkan kembali bahwa Ahlus sunnah wal jamaah meyakini bahwa Dajjal akan muncul di akhir zaman menebarkan fitnah besar di muka bumi ini. Dajjal adalah seorang lelaki bani Adam, bukan simbol atau khayalan belaka.

Shahabat Abu Ruqayyah Tamim Ad-Dari –sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dari shahabat Fatimah bintu Qois radhiyallahu ‘anha- telah mengisahkan perjumpaannya dengan Dajjal di sebuah pulau. Dia terbelenggu menanti saat Allah izinkan keluar dengan membawa fitnah di muka bumi.[1]

Mereka yang mengedepankan akal dan hawa nafsu, mengingkari Dajjal sebagai sosok manusia, di antara alasan mereka, berita yang demikian hebat ini kenapa hanya diriwayatkan oleh seorang wanita yaitu Fatimah?

Kita katakana kepada mereka: Apakah merupakan cacat jika hadits hanya diriwayatkan seorang wanita? Fatimah bintu Qais, disepakati Ahlus Sunnah akan kesempurnaan agama dan kemuliaannya.

Sebagai seorang shahabiyah, beliau termasuk assabiqunal awwalun. Ketika Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab terbunuh, shahabat yang termasuk ashabu Asysyuro berkumpul dirumah Fathimah bintu Qais. Semua Ini menunjukkan tingginya kedudukan beliau di hadapan shahabat. Sehingga apa alasan untuk menolak hadits jika hanya diriwayatkan oleh Fatimah bintu Qais?

Dan ternyata kisah Tamim Ad-Dari diriwayatkan pula dari Shahabat lain, diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma.

Sungguh keadaan penentang keberadaan Dajjal dihadapan hujjah seperti keadaan Raja Namrudz ketika berdebat dengan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Rabbnya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Rabbku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

Ya Allah berilah kami petunjuk untuk selalu tunduk terhadap semua berita yang dibawa oleh Nabi dan Rasul-Mu…

Ibnu Shoyyad dalam Rangkaian Kisah Dajjal

Telah menjadi tradisi dikalangan para ulama, ketika membahas Al-Masih Ad-Dajjal tidak lupa menyebutkan kisah Ibnu Syoyyad,  seorang yang pernah tinggal di Madinah dan diisukan sebagai Dajjal, sebagaimana dilakukan oleh Al-Imam Al-Qurtubi dalam kitabnya At-Tadzkirah.

Abdullah bin Shoyyad lahir di kota Madinah, dari dua orang tua Yahudi dan tumbuh dalam keadaan Yahudi.

Keadaan bayi ini cukup aneh. Ibunya mengandung Ibnu Shayyad selama dua belas bulan. Ketika lahir matanya buta sebelah dan dia sudah berkhitan. Perkaranya memang aneh !

Abu Dzar berkata, Rasulullah saw pernah mengutusku menemui ibunya (yakni Ummu Shof). Beliau bersabda, “Coba tanyakan berapa lama ia mengandung ?” Saya datang kepadanya dan menanyakanya, kemudian ia menjawab, “Aku mengandungnya selama dua belas bulan.” Abu Dzar berkata, kemudian beliau menyuruh saya untuk menanyakan bagaimana ia berteriak sewaktu dilahirkan. Lalu saya kembali lagi kepadanya dan menanyakanya. Kemudian ia menjawab, “Dia menangis seperi menangisnya bayi berusia satu bulan. ….”[2]

Al-Imam Adz Dzhahabi rahimahullah berkata: “Abdullah ibnu shayyad dicatat oleh Ibnu Syahin, beliau berkata: Dia adalah ibnu shaaid ayahnya seorang yahudi. Ibnu shaaid dilahirkan dalam keadaan buta sebelah matanya dan sudah berkhitan, dialah yang di katakan orang sebagai Dajjal, lalu dia masuk islam, maka dia seorang Tabi’in yang pernah melihat Nabi”[3]

Ibnu Shoyyad masuk islam setelah wafatnya Rasulullah saw, sehingga dia bukan termasuk kalangan shahabat Rasulullah saw, karena tidak beriman saat hidupnya Rasulullah saw.

Berkata Ibnu Hajar Al-Asqalani: “Kesimpulannya, penyebutan Ibnu Shayyad dalam (nama-nama) Shahabat tidak bermakna, karena jika dia memang Dajjal, dipastikan dia bukan shahabat karena dia akan mati dalam keadaan kafir, dan seandainya dia bukan Dajjal, (dia tetap bukan shahabat) karena saat berjumpa dengan nabi pun dia tidak beriman.”[4]

Riwayat Lemah Shahabat Abu Bakrah

Ada sebuah riwayat berkenaan dengan Ibnu Shayyad yang memperkuat dia adalah Dajjal, Sayangnya riwayat ini lemah sehingga tidak bisa kita jadikan sebagai sandaran.

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Shahabat Abu Bakrah dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Kedua orang tua Dajjal berkeluarga selama tiga puluh tahun tidak memiliki anak, hingga keduanya dikaruniai seorang anak lelaki yang buta sebelah mata, anak yang memadharatkan dan sedikit manfaatnya, matanya tidur tapi kalbunya tidak tidur.” Kemudian Rasulullah menyebutkan ciri kedua orang tuanya, bapaknya sangat tinggi, hidungnya seperti paruh, ibunya pun sangat besar dan besar pula dadanya, kedua tangannya pun panjang. Berkata Abu Bakrah: “Lalu kami mendengar di Madinah seorang anak Yahudi terlahir, akupun bertolak bersama Zubair bin Awwam mengunjungi kedua orang tuanya, ternyata sifat keduanya persis seperti yang dikabarkan Rasulullah saw. Kami bertanya Apakah kalian berdua punya anak? Keduanya menjawab: Tigapuluh tahun kami bersama tidak punya anak, hingga kami dikaruniai anak laki-laki buta sebelah mata, anak yang memadharatkan dan sedikit manfaatnya, matanya tidur tapi kalbunya tidak tidur….”[5]

Upaya Rasulullah Saw menyingkap Jati diri Ibnu Shoyyad

Keanehan-keanehan inilah yang kemudian menjadi sebab tersebar berita di penjuru Madinah bahwa dialah Al-Masih Ad-Dajjal.

Tidak heran berita ini tersebar, beberapa sifatnya mirip seperti Dajjal sebagaimana Rasulullah saw kabarkan.

Bahkan sebagian shahabat bersumpah dengan nama Allah bahwa Ibnu Shoyyad inilah Dajjal. Perkaranya benar-benar samar. Diakah Dajjal yang akan muncul di akhir Zaman atau dia seorang dukun dan pendusta ?

Wahyu tak kunjung tiba kepada Rasulullah saw menyingkap jati diri Ibnu Shayyad. Beberapa kali Rasulullah saw mendatangi Ibnu Shoyyad untuk melihat kejelasan urusannya .

Berkata Abdullah bin Umar: Suatu saat Umar bin Al-Khattab ra. pergi bersama Nabi saw diiringi sekelompok  sahabat menuju Ibnu Shoyyad. Beliau mendapatinya sedang bermain dengan anak-anak di bangunan Bani Magholah. Saat itu Ibnu Shoyyad berusia menjelang baligh. Ibnu Shoyyad tidak menyadari kehadiran Rasulullah saw sampai beliau menepuk punggungnya.

Begitu Ibnu Shoyyad tahu kedatangan Rasul, Beliau bersabda: “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah”,

Ia memandang Ar-Rasul dan berkata: “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan orang-orang Ummy”.

Tida-tiba Ibnu Shoyyad balik bertanya: “Apakah engkau bersaksi aku adalah utusan Allah ?

Sungguh mengherankan, pertanyaan aneh muncul dari anak aneh ! Dia bukan rasul Allah namun dia meminta persaksian kepada Rasulullah saw….

Nabi menggenggamnya, lalu bersabda: “Aku beriman pada Allah dan Rasul-Nya”,

Kemudian beliau bersabda: “Apa yang kau lihat?”, ia berkata: “Datang kepadaku orang yang jujur dan pendusta”.

Dengan jawaban ini terang bahwa dia didatangi syaiton yang membawa berita-berita dusta, dan  terkadang benar, sebagaimana amalan dukun, para tukang ramal.

Rasulullah bersabda: “Dicampurkan atasmu perkara”.

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi saw juga bertanya kepada Ibnu Shayyad, “Apakah yang kau lihat?” dia menjawab, “Aku melihat singgasana di atas air.”

Rosulullah saw bersabda, “Engkau melihat singgasana Iblis di laut,”

Kemudian Rasulullah Saw bersabda: “Aku simpan untukmu sesuatu”(yakni menyimpan dalam hati beliau sesuatu),

Rupa-rupanya Ibnu Shoyyad menebak apa yang disembunyikan dalam benak Rasulullah saw. ia menjawab: “Itu adalah Ad-Dukh…”, (Ibnu Shoyyad hendak mengatakan Ad-Dukhon (yang artinya Asap) namun dia memotongnya hanya kalimat Ad-Dukh… Ad-Dukh…, sebagaimana dukun dan tukang sihir memotong kalimat)

Nabi bersabda: “celaka, engkau tidak akan melewati kodratmu”.

Semakin tampak bahwa Ibu Shoyyad ketika itu melakukan amalan-amalan perdukunan, ya dia dukun atau tukang sihir yang bemuamalah dengan syaiton menebak-nebak apa yang ada dalam benak…

Ketika itu Umar meminta izin kepada Rasulullah untuk membunuhnya. Umar berkata:”Wahai Rasulullah, Izinkan aku tebas lehernya”.

Namun Rasulullah saw bersabda:

إن يكن هو لا تسلط عليه ، وإن لم يكن هو فلا خير لك من قتله “

“Kalau memang ia Dajjal maka kau tidak akan menguasainya [6], dan jika tidak, maka tidak ada baiknya membunuh dia”.

Jawaban Rasulullah saw menunjukkan bahwa beliau tidak memastikan dia adalah Dajjal sebagaimana beliau tidak mengingkari dia adalah Dajjal.

Pada kesempatan lain Rasulullah saw berusaha menjumpai Ibnu Shoyyad untuk lebih mendalami jatidirinya. Sebagaimana kelanjutan kisah, Abdullah bin Umar berkata: Setelah itu Rasulullah berangkat bersama Ubay bin Ka`ab Al-anshari. Keduanya berjalan menuju sebuah kebun kurma di mana disitu ada Ibnu Shoyyad.

Keduanya memasuki kebun. Segera Rasulullah bersandar pada pelapah kurma, Beliau mengintip agar mendengar sesuatu dari Ibnu Shoyyad sebelum ia melihat. Ibnu Shoyyad sedang tiduran diatas kasur. Tiba-tiba sang ibu melihat Nabi bersandar di pelapah kurma, Lalu berkatalah ia  pada anaknya, Ibnu Shoyyad: “Hai Shoof”, Ini ada Muhammad”.  Ibnu Shoyyad pun menyingkir.

Rasulullah saw bersabda: “Andaikan ibunya meninggalkannya tentu akan menjadi jelas”.

Demikian perjalanan Rasulullah bersama Ubay bin Ka’b di sebuah kebun Kurma.

Ibnu Umar selanjutnya berkata: Rasulullah berdiri diantara Manusia, kemudian Memuji Allah sebagaimana mestinya, kemudian beliau menyebut-nyebut Dajjal, lalu bersabda:

إني أنذركموه ، وما من نبي إلا وقد أنذر قومه ، لقد أنذر نوح قومه ، ولكني سأقول لكم فيه قولا لم يقله نبي لقومه ، تعلمون أنه أعور ، وأن الله ليس بأعور

“Aku peringatklan kalian semua (Tentang Dajjal), tiada seorang Nabipun kecuali memperingatkan kaumnya (akan Dajjal), Nabi Nuh juga memperingatkan kaumnya akan Dajjal, tetapi aku akan mengucapkan pada kalian sesuatu tentang Dajjal yang belum pernah di Ucapkan oleh seorang Nabipun pada kaumnya, kalian lihat dia itu buta sebelah, dan sesungguhnya Allah tidak buta sebelah

Ibnu Shoyyad sepeninggal Rasulullah saw.

Saat Rasulullah di Madinah, Ibnu Shoyyad belum lagi baligh. Masing anak-anak yang suka bermain. Rasulullah saw wafat, Ibnu Shayyad masih dalam agama Yahudi. Beberapa waktu kemudian Ibnu Shayyad masuk Islam sebagaimana diterangkan Adz-Dzahabi.

Ibnu Shayyad memang masuk islam sebagaimana akan kita sebutkan dalam kisah Abu Sa’id Al-Khudri bersama Ibnu Shayyad ketika menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji atau umrah bersama kaum muslimin.

Ibnu Shayyad berkeluarga. Bahkan dia memiliki anak bernama Umarah bin Abdullah bin Shoyyad yang berkunyah Abu Ayyub.

Perlu diketahui, Umarah memiliki kedudukan yang cukup tinggi di kalangan para ulama. Beliau meriwayatkan hadits dari Jabir bin Abdillah, Sa’id bin Al-Musayyab dan ‘Atho bin Yasar. Yahya bin Ma’in dan An-Nasai mengatakan tentangnya: Dia seorang yang Tsiqah. Salah satu murid Umarah adalah Imam Malik bin Anas dan Dhahhak bin ‘Utsman Al-Khuzami.

Kisah Abu Sa’id Al-Khudri bersama Ibnu Shoyyad

Masuk Islamnya Ibnu Shoyyad dan kenyataannya memiliki keturunan semakin membuat bimbang apakah Ibnu Shoyyad adalah Dajjal.

Bukankah Rasulullah saw mengabarkan bahwa Dajjal seorang yang kafir, sementar Ibnu Shoyyad masuk Islam? Rasulullah saw juga mengabarkan bahwa Dajjal mandul dan tidak punya anak sementara Ibnu Shoyyad memiliki keturunan, bahkan anaknya yang bernama Umaroh termasuk salah seorang ulama terkemuka?

Keyakinan Ibnu Shoyyad adalah Dajjal terus bergulir sepeninggal Rasulullah saw. Ibnu Shoyyad pernah mengeluhkan perihalnya bahkan keinginannya bunuh diri karena isu yang demikian gencar mengganggunya.

Abu Said al Khudri, mengisahkan, “Kami pernah melakukan perjalanan haji atau umroh bersama ibnu shayyad, lalu kami singgah di suatu tempat dan orang orang pun berpencar. Tinggal saya dan ibnu shayyad.

Saya merasa sangat ketakutan kepadanya, mengingat apa yang dikatakan orang tentang dia.

Saat beristirahat, dia letakan perbekalannya bersama perbekalanku. lalu saya berkata, “Sungguh hari sangat panas, sebaiknya engkau letakan saja barangmu dibawah pohon itu”.

Ibnu Shayyad bangkit memindah barangnya, menuruti permintaan Abu Sa’id.

“Di tengah istirahat, datang Ibnu Shayyad membawa wadah berisi susu, mendekat kepada Abu Sa’id seraya berkata, “Minumlah wahai abu said!’

Aku hanya menimpali: “Sungguh hari amat panas, dan susu itu juga panas.”

Saya berkata demikian itu hanya karena saya tidak suka minum sesuatu dari tanganya atau mengambil sesuatu dari tanganya.

Duduklah Ibnu Shoyyad, dengan sedih ia berkata: “Wahai Abu Said, ingin rasanya aku mengambil tali kugantungkan pada pohon, lalu kucekik leherku karena kekesalan hatiku terhadap apa yang dikatakan orang banyak mengenai diriku !”

Katanya selanjutnya: “Wahai Abu said, kalaulah orang-orang tersamar terhadap hadis Rasulullah maka tidaklah ada kesamaran atas kalian kaum Anshar. Bukankah Engkau termasuk orang yang paling tau tentang hadis Rasulullah saw ?”  “Bukankah Rasulullah telah bersabda bahwa Dajjal itu mandul, tidak punya anak, sedangkan Aku punya anak di Madinah? Bukankah Rosulullah telah bersabda bahwa Dajjal itu tidak bisa memasuki kota Madinah dan Mekah, sedangkan saya datang dari Madinah dan hendak menuju Mekah ?

Ya, cukup beralasan argumen Ibnu Shoyyad, hampir saja Abu Sa’id menerima alasannya. Kata abu said: “Begitulah hingga aku hampir menerima alasanya.”

Namun tiba-tiba Ibnu Shoyyad kembali mengutarakan kalimat-kalimat aneh, Ibnu shoyyad berkata: “Ingatlah, Demi Allah, sungguh Aku mengenal Dajjal dan mengetahui tempat kelahiranya serta mengetahui dimana ia sekarang berada.”

Saya berkata kepadanya: “Celakalah engkau pada hari harimu.”[7]

Kematian Ibnu Shoyyad.

Ada yang mengatakan bahwa Ibnu Shoyyad meninggal dimadinah dan disaksikan kaum muslimin, mereka menyolatinya dan membuka wajahnya yang telah terbujur kaku.

Namun pendapat ini lemah. Ibnu Hajar melemahkannya dalam Fathul Bari (13/328) dan menshahihkan riwayat Jabir bin Abdilah Ra ia berkata:

فقدنا ابن صياد يوم الحرة

“Kami kehilangan Ibnu shayyad pada huruhara Harrah.”[8]

Perbedaan ulama tentang Ibnu Soyyad, Diakah Dajjal

Demikian sekelumit kisah yang diriwayatkan tentang Ibnu Shayyad. Para ulama berselisih pendapat mengenai Ibnu Shoyyad apakah dia Dajjal ?

Pendapat pertama mengatakan bahwa dia adalah Dajjal, berdalil dengan riwayat para shahabat yang memastikan bahwa Ibnu Shoyyad adalah Dajjal.

Umar pernah bersumpah disisi Rasulullwah saw bahwa ibnu shayyad adalah dajjal sementara Rasulullah tidak mengingkarinya.

Inilah dalil terkuat bagi mereka yang menetapkan bahwa Ibnu Shoyyad adalah Dajjal, sumpah Umar dihadapan Rasulullah saw dan diamnya beliau.

Sebagian sahabat juga berpendapat seperti pendapat umar sebagaimana diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, Abdullah bin Umar dan abu dzar Al-Ghifari.

Muhammad ibnu Al-Munkadir berkata, “Saya melihat Jabir bin Abdullah bersumpah dengan nama Allah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, saya bertanya, anda bersumpah dengan nama Allah? dia menjawab, Saya mendengar Umar bersumpah begitu disisi nabi tetapi beliau tidak mengingkarinya.” Mutafaqun ‘Alaih.

Dari Zaid bin Wahab berkata, Abu Dzar berkata “Sungguh jika saya bersumpah sepuluh kali bahwa ibnu shayyad adalah Dajjal lebih saya sukai dari pada bersumpah satu kali bahwa dia bukan dajjal. HR. Ahmad.

Nafi berkata, “Ibnu umar pernah berkata, Demi Allah saya tidak ragu bahwa al masih ad dajjal adalah ibnu shayyad. HR. Abu Dawud.

 Diantara ulama yang merajihkan pendapat ini adalah Al-Imam Al-Qurtubi sebagaimana tampak dalam pembahasan beliau dalam kitabnya At-Tadzkirah demikian pula An-Nawawi. Al-Bukhari sepertinya juga condong kepada pendapat ini sehingga beliau tidak mengeluarkan hadits Fatimah bintu Qois tentang kisah Tamim Ad-Dari.

Adapun pendapat kedua dari pendapat para ulama tentang Ibnu Shoyyad: Dia bukan dajjal, banyak sifat-sifat dajjal yang  tidak sesuai pada Ibnu Shoyyad.

Dalil yang mereka pegang adalah hadits Fathimah bintu Qais tentang kisah Tamim Ad-Dari. Dajjal terbelenggu di sebuah pulau menanti saat Allah izinkan untuk keluar dengan membawa fitnah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah merajihkan bahwa Ibnu Shoyyad bukan Dajjal berdasarkan kisah Fatimah bin Qais dan juga banyak sifat Ibnu Shayyad yang tidak sesuai dengan Dajjal, mengenai diamnya Rasulullah atas sumpah Umar bin Al-Khaththab bukan pembenaran namun karena belum turunnya wahyu dalam perkara Ibnu Shayyad.

Pendapat kedua ini tampaknya lebih kuat, dan sesungguhnya hanya Allah sajalah yang mengetahui segala sesuatu, yang dzahir atau yang batin.  Semoga Allah selamatkan diri kita dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal…[9]

Sumber: Majalah Qudwah Edisi 12, Vol. 1 1434 H/2013


[1] Lihat kembali kisahnya di Majalah Qudwah edisi perdana.

[2] Musnad Imam Ahmad (5/261) Berkata Ibnu Hajar tentang sanadnya: Shahih Lihat Fathul Bari (13/325)

[3] Tajrid Asma` Ash-Shahabah (1/319)

[4] Al-Ishobah (3/133)

[5] At-Tirmidzi (4/518 no. 2248) Syaikh Al-Albani lemahkan hadits ini dalam Dha’if Sunan At-Tirmidzi.

[6] Yakni engkau tidak akan mampu membunuhnya, karena Allah telah tetapkan bahwa yang membunuh Dajjal adalah Nabi Isa ‘Alaihissalam.

[7] Kisah Abu Sa’id ini diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya

[8] HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (4/121 no. 4332) berkata Al-Albani: Shahihul Isnad.

[9] Rincian kejadian fitnah Dajjal semoga bisa diketengahkan di Majalah kita ini sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadits seperti hadits Nawwas bin Sam’an Radhiyallahu ‘anhu.

About salafartikel

bismillah

Posted on Februari 14, 2014, in Kisah dan Ibroh and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.