Amalan Bagi wanita Haidh

Soal:

Amalan atau ibadah apa saja yg boleh dilakukan oleh wanita yg sedang haid, krn selama haid tdk boleh shalat, puasa, membaca Al-Qur’an dst. Mohon penjelasan. Jazakumullah khairan.

Jawab:

Alhamdulillah, Haidh bukanlah penghalang bagi seorang wanita untuk beramal dan meraih pahala besar di sisi Allah. Banyak pintu-pintu kebaikan dan ibadah yang Allah bukakan bagi kaum wanita meskipun dalam keadaan haidh atau nifas.

Perkara pertama yang kita wasiatkan, hendaknya setiap wanita ridho dengan ketentuan Allah yang Dia tetapkan kepada kaum wanita berupa haidh dan nifas yang demikian besar hikmahnya.

Ketahuilah, barokallahufikum, sesungguhnya ridho terhadap takdir Allah adalah kemuliaan tersendiri bagi kaum wanita, dan ibadah hati yang demikian besar nilainya di sisi Allah.

Saat Haji Wada’, Aisyah tiba di Makkah dan tidak bisa menyelesaikan Umrahnya karena wanita Haidh tidak boleh thawaf, Aisyah pun menangis. Dengan penuh kearifan Rasulullah saw bersabda:

إن هذا أمر كتبه الله على بنات آدم

“Sesungguhnya Haidh ini perkara yang telah Allah tetapkan untuk anak-anak perempuan Adam.” Demikian hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Subhanallah, betapa kelembutan Rasulullah saw tampak dalam hadits, beliau menghibur kesedihan Ummul Mukminin, beliau ingatkan bahwa haidh adalah ketetapan Allah ta’ala. Dalam sabda beliau ini juga terdapat dorongan bagi wanita untuk meridhoi ketetapan Allah atas semua anak wanita Adam.

Haidh bukan hanya menimpa anak adam, bahkan dinukilkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma bahwasannya Hawa, juga menimpa atas beliau haidh setelah Allah turunkan dari Jannah ke muka bumi.

Benar, memang selama Haidh ada beberapa ibadah yang tidak boleh dilakukan seperti Sholat dan puasa, sebagaimana pula tidak boleh bagi wanita untuk jimak (bersebadan) dengan suaminya.

Kaum muslimin bersepakat (Ijmak) bahwa wanita yang haidh dan nifas tidak boleh melakukan shalat, baik fardhu atau nafilah, bahkan kewajiban shalat gugur dan tidak ada Qadha atasnya.

Adapun puasa, ijmak juga menyatakan bahwa wanita haidh dan Nifas tidak boleh berpuasa namun wajib atasnya berpuasa di hari lain saat suci.

Shalat dan Shoum memang tidak diperbolehkan bagi mereka, Namun ibadah-ibadah lain masih banyak terbuka lebar.

Diantara yang bisa dilakukan adalah: Membaca Al-Quran, dzikir, doa bahkan amalan haji dan Umrah pun tidak disyaratkan suci selain Thawaf.

Adapun apa yang disampaikan penanya bahwa wanita haidh tidak boleh membaca Al-Quran, maka ini tidak benar.

Dzikir dan membaca Al-Quran tidak disyaratkan kesucian, boleh bagi wanita haidh dan nifas berdzikir dan membaca Al-Quran baik dari hafalannya atau dari mushaf berdasarkan hadits Aisyah Ra:

“Adalah Rasulullah saw berdzikir kepada Allah di setiap keadaannya.”

Juga berdasarkan hadits Aisyah ketika beliau haidh dan tidak bisa Thawaf Rasul bersabda kepadanya:

“Lakukanlah segala yang dilakukan jamaah haji, hanya saja janganlah kamu Thawaf.”

Hadits ini menunjukkan amalan-amalan haji seluruhnya boleh dilakukan seperti dzikir, talbiyyah, tahlil, doa, membaca Al-Quran, melempar jumrah, Wuquf di arafah, mendengarkan khutbah dst selain thawaf.

Ketika Rasulullah saw dan para shahabat sampai di Dzul Hulaifah untuk ihram dalam haji wada’, salah seorang shahabiyah melahirkan putranya. Dia adalah Asma’ bintu Umais istri Abu Bakr Ash-Shiddiq. Rasulullah saw memerintahkan Asma untuk mandi (meskipun masih nifas) dan melanjutkan perjalanan yang cukup panjang untuk melakukan haji.

Pintu kebaikan masih terus terbuka lebar bagi wanita haidh dan nifas.

Jika anda adalah seorang istri, ketaatan anda kepada suami dalam perkara yang ma’ruf bernilai ibadah yang besar di sisi Allah, sebagaimana ditunjukkan dalam dalil yang sangat banyak, bahkan wanita yang taat kepada suaminya Allah persilahkan untuk masuk ke dalam jannah dari pintu manapun yang dikehendakinya.

Haidh tidak menghalangi wanita untuk membahagiakan suaminya dengan kemesraan. Banyak contoh dalam kehidupan Rasulullah saw bersama Aisyah yang menunjukkan keromantisan beliau dan sekaligus bakti Aisyah meskipun dalam keadaan haidh, diantaranya Rasulullah pernah membaca Al-Quran dengan berbaring di pangkuan Aisyah sementara ia dalam keadaan haidh, ketika Rasul I’tikaf beliau keluarkan kepala beliau dari masjid untuk dibersihkan dan disisir Aisyah dalam keadaan haidh.

Dan banyak contoh lain, semua menunjukkan bahwa pintu kebaikan bagi wanita sangat terbuka lebar meski dalam keadaan haidh atau nifas. Walhamdulillah.

About salafartikel

bismillah

Posted on Juni 1, 2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: