Safar Tanpa Mahrom Untuk Menuntut ilmu

Soal:

Bismillah. Assalamu’alaikum warohmatulloh wabarokatuh, Afwan mau tanya, Bagaimana hukumnya seorang akhwat pergi sendiri untuk menuntut ilmu dengan naik kendaraan umum tanpa didampingi mahromnya & lama perjalanan sekitar 1 jam? Jazakumullohu khoiron.

Jawab:

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wabarokatuh. Bersyukurlah kepada Allah yang telah memberikan kepada anda niat dan semangat untuk menuntut ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah. Teruslah pupuk niat dan semangat tersebut dengan senantiasa memohon kepada Allah kemudahan, baik kemudahan dalam cara mencarinya, kemudahan dalam memahaminya atau kemudahan dalam mengamalkannya.

Adalah Rasulullah saw, beliau selalu memohon kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan mengamalkan ilmu tersebut seperti doa yang beliau panjatkan setiap pagi:

اللهم إني أسألك علما نافعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا

“Ya Allah aku mohon kepadamu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amalan yang diterima.”

Terkait dengan apa yang ditanyakan, jika perjalanan anda dalam menuntut ilmu tersebut mencapai jarak safar, maka wajib bagi anda safar bersama mahram.

Dan apabila perjalanan tersebut tidak mencapai jarak safar, kita wasiatkan kepada saudari penanya untuk tetap berusaha didampingi mahrom dalam perjalanan yang menempuh waktu cukup lama. Dua jam pulang pergi adalah perjalanan panjang dan sangat riskan bagi seorang muslimah yang multazimah, terlebih di akhir zaman ini, semakin banyak kejelekan dan fitnah, bukan hanya di jalan raya, di angkutan-angkutan umum pun demikian.

Islam adalah agama yang sangat bersemangat menjaga kaum wanita dan mendudukkan mereka pada martabat yang tinggi. Ketika Rasulullah saw melakukan safar menunaikan haji wada’, saat beliau hendak pulang meninggalkan Makkah menuju Madinah, Aisyah meminta izin untuk menunaikan Umrah dari Tan’im yang berjarak hanya sekitar 6 km dari masjidil Harom. Untuk ibadah tersebut, Rasulullah saw menugaskan Abdurrahman bin Abu Bakr –saudara kandung Aisyah- untuk mendampingi Aisyah ra.

Jika saudari penanya tidak mendapatkan mahram dalam safar menuntut ilmu, atau banyak fitnah yang dikhawatirkan dalam perjalanan tersebut, manfaatkanlah teknologi yang Allah mudahkan bagi kita saat ini untuk saudari tetap menuntut ilmu syareat. Alhamdulilah kaset-kaset ulama dan asatidzah ahlussunnah wal jamaah mudah didapatkan. Pilihlah tema-tema yang terpenting diantara yang penting untuk dipelajari, baik masalah aqidah, ibadah atau yang lain. Susunlah jadwal yang rapi untuk saudari mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Saudari juga bisa mendengar siaran radio-radio salafy yang menyiarkan secara langsung atau ulang dari taklim-taklim yang bermanfaat. Sibukkan pula dengan membaca buku-buku dan majalah terbitan ahlus sunnah wal jamaah yang saat ini cukup merebak walhamdulillah.

Dengan menempuh semua jalan-jalan tersebut semoga Allah mudahkan segala pintu ilmu dan pintu jannah sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw:

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة

Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu Allah akan mudahkan baginya dengan itu jalan menuju Jannah.

Dalam sebuah majelis di Masjid Nabawi, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad disodori sebuah pertanyaan dari seorang wanita, menanyakan perihal safar tanpa mahrom untuk menuntut ilmu menghadiri majelis masyayikh yang kebetulan tidak ada di kotanya.

Syaikh mengingatkan untuk wanita ini tetap dirumahnya dan tidak melakukan safar tanpa mahram, selanjutnya beliau mendorong penanya untuk banyak mendengarkan kaset-laset para ulama dan memanfaatkan berbagai kemudahan yang Allah bukakan di zaman ini.

Demikian beberapa nasehat yang bisa kita tulis, semoga Allah senantiasa membimbing kita diatas jalan ilmu dan memudahkan jalan mendapatkannya dan mengamalkannya. Amin.

About salafartikel

bismillah

Posted on Juni 1, 2014, in Fiqh - Tanya Jawab Fiqh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.