Arsip Blog

Meraih Ridha Dan Cinta Allah Dalam Hidup Bertetangga

Abu Isma’il Muhammad Rijal Isnain

Rasulullah Shallallohu’alaihi wasallam  bersabda:

خَيْرُ الأصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

“Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah mereka yang terbaik pada sahabatnya dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah mereka yang terbaik pada tetangganya.”

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan At-Tirmidzi dalam As-Sunan, Kitab Al-Birr Wash-shilah Bab Ma Ja’a Fi Haqqil Jiwar (1/353) no.1944, Ad-Darimi dalam As-Sunan (2/215) no. 2441, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 518 dan 519, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/101) dan (4/164), Ahmad bin Hanbal dalam Al-Musnad (2/167-168), Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad Bab Khairul Jiran no. 115, dan Ibnu Bisyran dalam Al-‘Amali (1/143), melalui jalan Haiwah bin Syuraih dan Ibnu Lahi’ah. Keduanya meriwayatkan dari Syarahbil bin Syarik dari Abu Abdirrahman Al-Hubuli dari Abdullah bin Amr bin Ash[1] t dari Nabi Shallallohu’alaihi wasallam.

Melalui dua perawi inilah ( yakni Haiwah bin Syuraih dan Ibnu Lahi’ah) semua meriwayatkan hadits Abdullah Ibnu Amr t, kecuali At-Tirmidzi, Al-Bukhari, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, mereka hanya menyebutkan Haiwah bin Syuraih tanpa menyertakan Ibnu Lahi’ah dalam sanad hadits.

Hadits ini shahih, semua perawinya tsiqah wallahua’lam, walaupun ada kelemahan pada Ibnu Lahi’ah sebagaimana dimaklumi, akan tetapi dia meriwayatkan bersama Haiwah bin Syuraih. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, demikian pula Ibnu Bisyran menshahihkannya, dan dihasankan oleh At-Tirmidzi rahimahumullah.

Berkata Al-Hakim: Shahih ‘ala syarthi Asy-Syaikhain (Hadits ini shahih sesuai syarat dua Syaikh yakni Al-Bukhari dan Muslim).[2]

Berkata Ibnu Bisyran: “Haditsun Shahihun wa Isnaduhu Kulluhum Tsiqat.” (Hadits ini shahih dan sanadnya semuanya rawi-rawi terpercaya).

At-Tirmidzi berkata: Haditsun Hasanun Gharib (Hadits ini hasan gharib).

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Ash-Shahihah (1/211) no. 103.

Islam Mengatur Adab Bertetangga

Sebagai makhluk sosial, mustahil bagi manusia hidup menyendiri tanpa tetangga atau orang lain. Oleh karenanya, Allah I memerintahkan kita saling membantu di atas kebaikan dan takwa. Allah I berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah : 2)

Hadits Abdullah bin Amr t yang ada di hadapan kita, adalah sekian dari sabda Rasulullah r yang mengatur kehidupan seorang muslim dalam berakhlak dan bermuamalah dengan tetangganya.[3]

Mereka adalah orang terdekat dalam kehidupan. Tidaklah seorang keluar dari rumah melainkan dia lewati tetangganya, di saat dirinya membutuhkan bantuan tetanggalah orang pertama yang dia ketuk pintunya, di saat bepergian tetanggalah orang yang menjaga rumahnya, bahkan disaat dia meninggal bukan kerabat jauh yang diharapkan mengurus dirinya, tetapi tetanggalah yang dengan tulus bersegera menyelenggarakan pengurusan jenazahnya.

Begitu mulianya tetangga, islam datang mengajarkan adab-adab bertetangga untuk meraih cinta dan keridhaan Allah I. Dalam sebuah ayat Allah I berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (Q.S. Nisa: 36).

Rasulullah r mendorong umatnya untuk berbuat baik kepada tetangga dengan segala bentuk kebaikan, baik ucapan atau perbuatan sebagaimana ditunjukkan hadits Abdullah bin ‘Amr t.

Sabda ini juga memberikan faedah bahwa manusia bertingkat-tingkat dalam berbuat baik kepada tetangga. Semakin baik seorang kepada tetangga, semakin mulia dan tinggi pula derajatnya di sisi Allah I.

Hadits ini juga memberikan isyarat yang sangat lembut untuk kita berlomba dalam berbuat baik kepada tetangga agar menjadi yang terbaik di sisi Allah I meraih ridha dan cinta-Nya. Demikianlah dunia, di atas kefanaannya, Allah I jadikan dia sebagai ladang beramal dan berlomba meraih kedekatan di sisi Allah I.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S Al Maidah : 35)

Bagaimana Berbuat dan Berakhlak Baik Pada Tetangganya?

Menapaki perjalanan hidup Rasulullah r adalah satu-satunya cara untuk menjadi orang yang berakhlak mulia dan dicintai Allah I karena beliau adalah suri tauladan terbaik bagi manusia dalam segala sisi kehidupan. Allah I berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S.Al Ahzab :21)

Jawaban di atas adalah kaedah dalam kita mengarungi samudera kehidupan termasuk di dalamnya hidup bertetangga, sekaligus sebagai timbangan untuk menilai sejauh mana akhlak kita kepada tetangga. Dengan meminta pertolongan Allah I berikut disebutkan beberapa pembahasan terkait dengan adab yang mulia ini.

Pembaca rahimakumullah, secara umum seorang dikatakan berbuat baik dan memiliki adab mulia kepada tetangga jika dia berusaha mewujudkan dua pokok penting dalam hidup bertetangga.

Pokok pertama: Menahan diri dari segala bentuk kedzaliman dan perkara yang mendatangkan madharat kepada tetangga. Pokok ini ditunjukkan dalam sabda Rasulullah r:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمَ الْآخِرْ فَلَا يُؤْذِ جَارَه

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia sakiti tetangganya.”[4]

Pokok kedua:Berbuat baik dan menempuh segala sebab syar’i yang mendatangkan kebaikan bagi tetangga. Sebagaimana ditunjukkan dalam sabda Rasulullah r :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ باللهِ وَاليَومِ الآخرِ فَليحسِنْ إلَى جَارِهِ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berbuat baiklah kepada tetangganya.”[5]

Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Hafidzahullah menerangkan dua pokok ini ketika mensyarah hadits kelima belas dari hadits Arbain Nawawi: Hak tetangga adalah hak-hak yang sangat ditekankan atas tetangganya. Hadits-hadits telah datang begitu banyaknya memberikan dorongan untuk memuliakan tetangga sekaligus memberi ancaman dari menyakiti tetangga atau menimpakan madharat kepadanya. Memuliakan tetangga akan terwujud dengan menyampaikan kebaikan kepada mereka dan selamatnya mereka dari kejelekannya. (diringkas dari risalahFathu Al-Qawiyil Matin Fi Syarhil Arba’in Wa Tatimmatil Khamsin. hal.62-63)

Meninggalkan Semua Bentuk Kedzaliman dan Perkara yang Memudharatkan Tetangga.

Pembaca, semoga Allah I merahmati Anda, jeleknya hubungan bertetangga sangat sering kita saksikan. Terlebih di akhir zaman di tengah-tengah rusaknya tatanan kehidupan. Bahkan Rasulullah r telah mengabarkan bahwa hal tersebut adalah satu dari tanda-tanda dekatnya hari kiamat. Beliau r bersabda:

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَظْهَرَ الفُحْشُ وَ التَّفَاحُشُ وَ قَطِيْعَةُ الرَّحِمِ وَ سُوْءُ الْمُجَاوَرَةِ

“Tidak akan tegak hari kiamat hingga tampak perzinaan, perbuatan-perbuatan keji, pemutusan silaturrahmi, dan jeleknya hubungan bertetangga.” [6]

Apa yang Rasulullah r kabarkan benar-benar menjadi sebuah kenyataan. Perzinaan mewabah bahkan dilegalkan. Manusia berlomba saling menjatuhkan dan memutus tali kekerabatan. Demikian pula rusaknya hubungan bertetangga dan jeleknya muamalah di antara mereka menjadi pemandangan yang tidak asing bagi kita.

Seorang tidak lagi mengenal tetangga yang hanya berbatas tembok. Jangankan untuk memperhatikan kebutuhan dan keadaannya, bertegur sapapun adalah hal yang boleh dikatakan mustahil. Bukan hanya di perkotaan, bahkan di desa kecenderungan ini mulai merebak terlebih dengan adanya televisi dan media masa yang menyebarkan sekian banyak kerusakan dan penurunan moral.

Kedzaliman pada tetangga dengan berbagai ragamnya kerap kali kita dengar. Bahkan membunuh tetangga sudah menjadi hal biasa seperti apa yang sering kita dengar belakangan hari ini. Subhanallah ! benarlah sabda Rasulullah r empat belas abad silam :

لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَقْتُلَ الرَّجُلُ جَارَهُ وَأَخَاهُ وَأَبَاهُ  

“Hari kiamat tidak akan dibangkitkan hingga seorang membunuh tetangganya, saudaranya dan bapaknya.[7]

Dzalim Pada Tetangga Lebih Berat di Sisi Allah Ta’ala.

Pembaca rahimakumullah, sesungguhnya Allah I telah mengharamkan atas hamba-Nya semua bentuk kedzaliman. Tetapi kedzaliman pada tetangga jauh lebih berat di sisi Allah I daripada kedzaliman pada selain mereka. Miqdad bin Al-Aswad y  salah seorang sahabat Rasulullah r menuturkan:

سَأَلَ رَسُولُ اللهِ rأَصْحَابَهُ عَنِ الزِّنَى قَالُوا : حَرَامٌ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُولُهُ فَقَالَ : (( لَأَنْ يَزْنِى الرَّجُلُ بِعَشر نسوة أيسر عليه من أن يزنى بامرأة جاره )) وسألهم عن السرقة قالوا : حرام حرمها الله عز وجل ورسوله فقال : (( لأن يسرق من عشرة أهل أبيات أيسر عليه من أن يسرق من بيت جاره ))

Rasulullah r bertanya kepada para shahabat tentang zina? Mereka mengatakan: zina itu haram, telah diharamkan Allah I dan Rasul-Nya r. Kemudian beliau bersabda: Sungguh seorang berzina dengan sepuluh wanita lebih ringan baginya daripada berzina dengan istri tetangganya. Kemudian Rasulullah r bertanya: Apa pendapat kalian tentang mencuri? Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkannya, mencuri adalah haram. Maka Rasulullah r bersabda: Sungguh seorang mencuri dari sepuluh rumah lebih ringan atasnya daripada mencuri dari rumah tetangganya.[8]

Di kesempatan lain Rasulullah r mengabarkan bahwa menyakiti tetangga adalah sebab seorang terjerumus dalam neraka meskipun dia adalah ahli ibadah. Abu Hurairah y berkata:

قيل للنبي rيا رسول الله إن فلانة تقوم الليل وتصوم النهار وتفعل وتصدق وتؤذي جيرانها بلسانها فقال رسول الله r: (( لا خير فيها هي من أهل النار ))

“Dikatakan kepada Nabi r : Wahai Rasulullah sesungguhnya fulanah senantiasa melakukan shalat malam, berpuasa di siang hari, banyak beribadah dan bersedekah, tetapi dia selalu menyakiti tetangganya dengan lisannya, maka Rasulullah r bersabda:Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka” [9]

Bahkan dalam sabda yang lain Rasulullah r meniadakan keimanan dari orang yang berbuat dzalim kepada tetangganya. Abu Syuraih y meriwayatkan bahwa Rasulullah r bersabda:

والله لا يؤمن، والله لا يؤمن، والله لا يؤمن). قيل: ومن يا رسول الله؟ قال: (الذي لا يأمن جاره بوائقه

“Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman !” Rasul ditanya siapa wahai Rasulullah? beliau bersabda: “Seorang yang tetangganya tidak merasa aman dari keburukannya.”[10]

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah: “Dalam hadits ini terdapat dalil akan haramnya perbuatan dzalim kepada tetangga, baik dalam bentuk perkataan atau perbuatan.

Kedzaliman dalam bentuk perkataan misalnya tetangga mendengar suara yang mengganggu, di antaranya radio, televisi dan sejenisnya dari suara yang mengganggu. Sungguh hal ini tidak halal, meskipun yang diperdengarkan adalah bacaan Al-Quran, (selama itu) mengganggu tetangga berarti dia telah berbuat dzalim, maka tidak halal baginya untuk melakukannya.[11]

Adapun (kedzaliman dalam bentuk) perbuatan, seperti membuang sampah di sekitar pintu tetangga, mempersempit pintu masuknya, dan semisalnya dari perkara yang merugikan tetanga. Termasuk dalam hal ini adalah, jika seorang memiliki pohon kurma atau pohon lain di sekitar tembok tetangga, ketika dia menyirami (airnya berlebih hingga) melampaui tetangganya, sungguh ini pun termasuk kedzaliman, maka tidak halal baginya. (Syarah Riyadhus Shalihin (2/178))

Demikian pokok pertama dalam bermuamalah dengan tetangga, semoga Allah selamatkan kita dari segala bentuk kedzaliman yang pada hakekatnya adalah kegelapan di hari kiamat. Adapun pokok kedua yang ditunjukkan sabda-sabda Nabi r adalah:

Berbuat Baik Kepada Tetangga dan Menempuh Segala Sebab yang Mendatangkan Kebaikan Kepadanya.

Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang berbuat baik dan memerintahkan kita berbuat baik. Allah I berfirman:

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Al-Baqarah :195)

Berbuat baik tidak terbatas pada manusia, bahkan kepada hewan pun syariat islam memerintahkannya, sebagaimana ditunjukkan dalam sabda Rasulullah r (yang artinya):“Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk berlaku baik terhadap segala sesuatu. Maka apabila kalian membunuh berlaku baiklah dalam membunuh dan apabila kalian menyembelih berlaku baiklah dalam menyembelih. Dan hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan membuat nyaman hewan sembelihannya.”[12]

Di samping perintah yang bersifat umum, secara khusus islam memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada tetangga. Bahkan Rasulullah r menegaskan bahwa ihsan kepada mereka termasuk dari iman dan syarat kesempurnaan iman. Rasulullah r bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya.”

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah: Di antara faedah hadits ini menunjukkan wajibnya memuliakan tetangga, berdasar sabda Rasulullah r (yang artinya): “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya.”

Memuliakan (tetangga) dalam hadits ini bersifat mutlak (mencangkup segala bentuk pemuliaan). Maka (perlu) dikembalikan kepada ‘urf (adat kebiasaan yang berlaku di masyarakat). Terkadang pemuliaan terwujud dengan cara mengunjungi tetangga, mengucapkan salam dan bertamu kepada mereka, bisa jadi dengan cara memberinya hadiah-hadiah. Perasalahan ini dikembalikan kepada ‘urf (Syarah Arbain An-Nawawiyah hal. 201-203) Read the rest of this entry