TUTORIAL AISAR

Mukadimah:

Alhamdulillahi robbil’alamin, segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Shalawat serta salam semoga selalu terlimpah kepada Sayyidul Anbiya’ wal Mursalin. Muhammad bin Abdillah Al-Qurasy Al-Hasyimi.

Hanya karunia Allah semata, kami dapat menyiapkan materi Tutorial Aisar yang sebenarnya sudah cukup lama kami janjikan. Panduan ini kami terbitkan sebagai pembantu bagi kaum muslimin yang menggunakan AISAR sebagai panduan untuk membaca dan memperbaiki bacaaan Al-Qur`an.

Kami merasa perlu menerbitkan tutorial ini sebagai jawaban bagi sebagian kaum muslimin yang mendapatkan beberapa kendala dalam metode pengajaran AISAR. Semoga panduan ini bermanfaat. Amin

Keistimewaan AISAR

(1) Dalam pengajarannya AISAR menekankan metode talkin (yaitu guru membacakan/memberi contoh bacaan yang benar kemudian murid menirukan). Dengan metode ini sangat murid akan lebih cepat mendapatkan cara bacaan yang benar baik dalam sifat atau makhroj huruf.

(2) AISAR disusun dengan ringkas dan mudah. Sehingga diharapkan: Murid mampu membaca Al-Quran dengan baik dalam waktu yang relative pendek (tentunya dengan bacaan yang benar dengan metode talqin).

Dengan ringkas dan mudahnya materi diharapkan murid tidak merasa terbebani, demikian pula guru lebih tekun dan sabar dalam mentalkin murid-muridnya. Guru tidak dihantui dengan banyaknya materi sehingga berhenti dari methode talkin.

(3) AISAR Menggunakan Mushaf Madinah sebagai acuan. Sehingga tullab mampu membaca Mushaf Madinah dan mushaf lainnya .

Mengapa dipilih Mushaf Madinah? Karena mushaf ini memiliki banyak keistimewaan jika dibanding mushaf lainnya. (Lihat pembahasan: Keistimewaan mushaf Madinah). (Keterangan tentang Mushaf Madinah dapat dibaca di buku terbitan kami: Zadul Qari Fi Tajwidi Kalamil Bari)

(4) AISAR  menekankan tiga sisi penyempurnaan bacaan: (a) Penyempurnaan  Makhroj huruf (b) Penyempurnaan sifat-sifat  huruf (c) penyepurnaan harokat.

(5) Aisar dilengkapi dengan teori Makhroj dan Shifat yang ringkas namun padat.

(6) Kalimat-kalimat untuk latihan AISAR dipilih dari kalimat-kalimat Quran dan kalimat bahasa arab seingga bagi lisan lebih ringan.

(7) Dalam hukum-hukum bacaan, AISAR mengacu pada satu riwayat, yaitu Hafsh dari ‘Ashim melalui jalan Syathibiyyah dan tidak mencampur adukan riwayat.

Perjalanan Revisi AISAR

Dalam perjalanannya AISAR mengalami dua kali revisi besar. Revisi pertama kami cetak dalam empat cetakan yaitu cetakan kedua, ketiga, keempat dan kelima. Adapun revisi kedua kami cetak dalam cetakan keenam dan ketujuh.

Sebelum Revisi terakhir, Penerbit menunjukkan dan menghadiahkan sebuah nuskhah AISAR cetakan kedua kepada Asy-Syaikh Abdullah bin Umar Mar’i ketika berkunjung ke Indonesia, beliau memberikan komentar kepada beberapa kalimat yang masih berat dalam lisan orang Arab.

Demikian pula masukan-masukan dari kaum muslimin kami tampung hingga terkumpul materi-materi yang perlu direvisi.

Lebih khusus, setelah penulis berada di Darul Hadits Yaman, mempelajari kitab-kitab tajwid dan qiroah demikian pula Allah mudahkan penulis menyelesaikan bacaan Al-Qur’an dengan sanad muttashil kepada Rasulullah shallalloh’alaihi wasallam, maka penulis dan penerbit berazam mengadakan revisi hingga terwujudlah cetakan keenam.

Panduan Pengajaran Jilid Satu

Tujuan yang diharapkan: Murid menguasai semua huruf hijaiyyah dalam keadaan fathah, Kasroh dan Dhommah dengan mengeluarkan huruf-huruf tersebut dari Makhroj yang Tepat dan dengan Sifat yang benar, diiringi dengan itmamul harokat (penyempurnaan harakat).

Metode dan rambu-rambu Pengajaran Jilid Satu;

Agar pengajaran jilid pertama berhasil dengan baik insyaallah, ada baiknya mu’allim memperhatikan metode-metode berikut

(1) Bagi murid yang sudah memiliki penalaran, atau mereka yang ingin memperbaiki bacaan ditekankan untuk menguasai teori makhroj huruf dan shifat. Untuk menguasainya butuh waktu dan tadrib (praktek/latihan) yang banyak.

(2) Bagi anak-anak yang belum begitu memahami tidak perlu disampaikan pembahasan ini karena pengajaran AISAR tertumpu pada talqin dan bagi guru diharuskan menguasai teori makhroj dan shifat untuk bisa mempraktekan dengan benar kepada anak didik.

(3) Guru Mentalqin murid dengan makhroj dan sifat lazimah yang benar. Pada masing-masing jalsah dibantu keterangan makhroj huruf dan sifatnya. Catt Penting:

Muatan huruf pada pengenalah huruf hijaiyyah pada AISAR cetakan keenam dan ketujuh separuh dari AISAR cet pertama hingga kelima. Penyederhanaan ini bukan dimaksudkan agar murid cepat selesai, namun maksudnya adalah agar guru lebih perlahan dalam mengajarkan dan mentalkin bacaan murid. Hendaknya mu’allim mengulang-ulang jalsah.

(4) Selalu ditekankan bagi guru dan murid  untuk menyempurnakan harokat. Bagaimana menyempurnakan harokat Fathah, Kasroh dan Dhommah?

Menyempurnakan harokat Fathah adalah turunan dari alif. Menyempurnakannya adalah dengan membuka mulut (ke atas).

Menyempurnakan harokat Kasroh adalah turunan dari ya`. Menyempurnakannya adalah dengan menurunkan rahang ke bawah.

Menyempurnakan harokat Dhommah adalah turunan dari wawu. menyempurnakannya adalah dengan menggabungkan 2 bibir dan mengedepankannya.

Catt: Dan hendaklah diketahui bahwa gerakan mulut harus menyertai harokat pada huruf. Tidak mendahului atau terlambat darinya.

(5) Murid menirukan dengan pelan dan guru harus senantiasa memperhatikan semua bacaan muridhingga selesai satu jalsah.

(6) Jika semua benar ulangilah jalsah tersebut satu kali dan sangat baik jika diulangi dua kali.

Catt: Untuk pengenalan huruf hijaiyyah dari jalsah 1 sd jalsah 28 sengaja masing-masing jalsah hanya separuh halaman, berbeda dengan cetakan lama yang memuat satu halaman penuh. Perubahan ini (dari satu halaman menjadi separuh) dengan maksud: Agar guru benar-benar bersemangat mentalkin satu jalsah, murid juga tidak merasa banyak beban, sebagian pengguna AISAR merasa bahwa contoh terlalu pendek sehingga murid kurang menguasai, masalah ini sebenarnya tidak akan muncul seandainya guru mentalkin setiap huruf kemudian murid mengulangi jalsah tersebut sekali atau dua kali.

(7) Setelah mrid menguasai huruf berharokat fathah, Guru beralih mengajarkan harokat Fathah dan kemudian Dhommah.

(8) Semua jalsah harus dilalui dengan sempurna dan jika belum menguasai diharuskan murid mengulangi jalsah tersebut. Tidak berpindah jalsah hingga guru benar-benar yakin kemampuan murid.

Insyaallah jika semua rambu diikuti dengan baik, siswa lulus dari jilid satu dalam keadaan menguasai semua huruf hijaiyyah dalam tiga harokat dengan makhroj dan shifat yang benar diiringi dengan penyempurnaan harokat.

Panduan Pengajaran Jilid Dua

Tujuan yang diharapkan: 

  • Dalam jilid ini murid diharapkan mampu membaca huruf hijaiyyah yang terangkai

  • Merid semakin mampu mempertahankan pengucapan huruf dari makhroj yang  benar diiringi penyempurnaan sifat dan harokat.

  • Dalam Jilid ini murid diharapkan menguasai bacaan sukun dengan segala keadaannya dan penulisannya dalam mushaf Madinah

  • Memperkokoh kemampuan murid dan penguasaannya terhadap makhroj huruf (dengan melatih huruf-huruf bersukun)

  • Memperkokoh penguasaan sifat-sifat lazimah seperti: Rokhowah, Istifal, isti’la,…Qalqalah dst.

Metode dan rambu-rambu Pengajaran Jilid Dua;

(1) Murid diajak berkonsentrasi mengenali huruf hijaiyyah dalam keadaan bersambung. (Jalsah 34 dan 35)

Catt: Peran guru sangat penting dalam memperkenalkan huruf-huruf bersambung disamping AISAR juga telah disusun sedemikian rupa sehingga memulai dari yang termudah hingga tingkatan yang lebih sukar termasuk dalam pengenalan huruf bersambung.

(2) Jilid 2 berisi latihan /tathbiq Sukun dengan segala keadaannya, yang secara ringkas ada tiga keadaan :

  1. Sukun Jenis Pertama: Sukun pada huruf mad, yakni Alif, Ya, dan Waw yang didahuli dengan huruf dari jenisnya seperti (أُوذِينَا)

  2. Sukun jenis kedua: Sukun pada huruf liyn seprti (زَوْجَيْنِ)

  3. Sukun Jenis ketiga: Sukun pada Huruf shahih seperti (أَنْ)

  • Sukun jenis pertama  diajarkan dari jalsah 36 hingga 39, dengan rincian:

  1. Mad thabi’i pada fathah yang diikuti alif tegak, seperti (عصاه), kemudian penulis isyaratkan adanya alif yang ditulis dalam bentuk ya seperti (عصى)

  2. Penulis ingatkan bahwa alif mad banyak ditulis dengan ukuran kecil, berdiri sendiri terletak setelah harokat fathah seperti (فرَ ٰ دى)

  3. Berikutnya mad thabi’i pada harokat kasrah seperti (نذري)

  4. Penulis awali dengan ya` sukun  mutatharrifah (ya` sukun yang terletak di akhir kata), untuk selanjutnya memberikan tanbih bahwa dalam mush-haf (terbitan Mujamma’ Malik Fahd dan salinannya) ya` mutatharrifah (baik sukun/berharokat) ditulis tanpa titik. Dengan tanbih ini diharapkan tidak terkaburkan bagi pembaca Al Quran antara Alif (maqshuroh) dan Ya`.

  5. Kemudian kembali pada mad thabi’i pada kasrah di tengah kata. seperti (يسير).

  6. Berikutnya mad thabi’i pada dhommah (أوتى) dilanjutkan dengan tanbih bahwa alif yang tertulis setelah wawu sukun tidak perlu dihiraukan. Seperti (قالوا)

  7. Berikutnya adalah wawu dan ya` sukun zaidah (yang tertulis kecil) terpisah dari kata sebelumnya. Dan karena keduanya banyak terdapat setelah ha` kinayah maka contoh-contoh yang penulis sebutkan adalah pada ha` kinayah (mad shilah).

  8. Di bagian akhir dari jenis sukun yang pertama ini, penulis sisipkan penyebutan ta` marbuthah, hal ini terkait dengan tanwin dan disebabkan contoh-contoh yang akan datang banyak melibatkan ta` marbuthah.

  • Sukun Jenis kedua adalah : ya` dan wawu sukun layyinah.

Catt: Tetap bagi guru mengingatkan itmamul harokah, dalam membaca Ya` dan Wawu sukun layyinah seringkali terjatuh kesalahan dengan mentafkhim bacaan yang seharusnya tidak

  • Sukun jenis ketiga: sukun pada huruf-huruf shahih.

Catt:

(1)  Latihan sukun pada huruf shahih pada buku AISAR dikelompokkan berdasarkan sifat-sifat penting dari mulai yang teringan (rokhowah-istifal, rokhowah-isti`la, bainiyyah, syiddah-hams, syiddah-qolqolah, kemudian istitholah), ini termasuk keistimewaan AISAR –walilahilhamdu- dari sisi peringatan kepada guru untuk selalu memerhatikan murid dalam menerapkan sifat-sifat lazimah pada huruf.

(2)  Dalam bab ini sengaja penulis tidak menyebutkan seluruh sifat huruf, sehingga diharapkan kepada pada guru, untuk memberikan tanbih seperlunya akan sifat-sifat lain seperti (ghunnah, tikrar, shafir, dan selainnya).

Panduan Pengajaran Jilid Tiga

Tujuan yang diharapkan: 

  • Murid mampu membaca Al-Quran dengan lancar dan menguasai sifat-sifat ‘Aridhoh bagi huruf seperti idzhar, ikhfa, iqlab dengan berbagai ragam dan rinciannya.

  • Dengan tetap mempertahankan kemampuan membaca dengan sifat-sifat lazimah yang mutqin.

Kerangka Bahasan Jilid 3

Jilid 3 berisi tathbiq (penerapan) ahkam (hukum-hukum bacaan), beragam jenis mad far’i. Dan mulai dari juz ini, penulis mensyaratkan untuk tidak mendatangkan contoh selain dari kalimat qur`aniyah, walaupun sejak pada juz 2, pembaca tidak akan mendapati contoh-contoh dari luar Al-Qur`an kecuali sedikit.

Adapun Ahkam yang tersebutkan dalam juz ini adalah sebagai berikut :

  1. Izh-har Qamary dan Id-gham Syamsi

  2. Nun Sukun dan Tanwin

    1.  Izh-har (disertai tanbih akan wajibnya menampakkan sifat bainiyyah dan ghunnah ghairi za`idah)
    2.  Ikhfa` disertai dengan tanbih akan dua perkara : (1) Melekatkan lisan pada ikhfa nun sukun dan tanwin pada huruf kaf dan qaf. Dan tidak melekatkannya selain pada 2 huruf ini. (2)Tafkhim Nun mukhfah pada huruf-huruf isti’la.
    3. Dua jenis Idgham, disertai tanbih akan wajibnya mendatangkan ghunnah pada idgham nun sukun pada wawu dan ya`.
    4. Iqlab, disertai tanbih bahwa kedua bibir dikatupkan tanpa menyisakan celah di antara keduanya
    5. Hukum Mim Sukun yakni tiga jenis, idgham pada mim, ikhfa` pada ba` dan izh-har pada huruf-huruf lainnya, disertai tanbih pada fa` dan wawu.
    6. Hukum Ro`, yakni tafkhim dan tarqiq. Dan penulis sisipkan penyebutan contoh hamzah washal sebagai tadzkirah dari bab-bab sebelumnya dan sebagai wasilah untuk menyebutkan contoh tafkhim pada ro` sukun  setelah hamzah washal.
    7. Hukum Lam pada lafzhul Jalalah
  • Mad far’i yang terdiri dari 6 jenis mad : Mad wajib muttashil,  Mad ja`iz muttashil, Mad shilah,  Mad lazim kilmi mukhaffaf,  Mad lazim kilmi mutsaqqal, Mad lazim harfi mukhaffaf, Mad lazim harfi mutsaqqal

Panduan Pengajaran Jilid Empat

Tujuan Yang Diharapkan:

Murid mampu membaca Al-Quran dengan sempurna dengan mengenal Waqof dan Ibtida.

Pokok Bahasan Jilid Keempat:

  1. Juz ini diawali dengan menyebut berbagai keadaan kalimat di saat waqof padanya. Sebagaimana diketahui, bahwa keadaan akhir kalimat yang diwaqofkan padanya sangatlah beragam : [ada yang berakhir dengan huruf sakinah, mutaharrikah,  ta` marbuthah, manshubah, musyaddadah (huruf ghunnah, huruf qolqolah, dan selain keduanya), atau didahului dengan mad, liyn, huruf shahih sakin, di mana huruf tersebut juga beragam keadaanya sesuai dengan sifat-sifat lazimah yang dimiliki. Yang demikian tentunya membutuhkan perincian terlebih bagi pemula yang dituntut jeli dan cermat dalam tathbiq.

  2. Ahkam Idgham (mutamatsilan, mutajanisan, mutaqariban)

  3. Bagaimana cara mengawali bacaan pada hamzah washal

  4. Bagaimana cara membaca tanwin yang bertemu dengan sukun

  5. Alamat Waqof, saktah dan lain sebaganya dari lafaz-lafaz yang dibutuhkan intibah dari setiap pembaca Al Quran, tentunya sangat diharapkan arahan yang jelas dan penuh kesabaran dari seorang guru. Wallohu A’lam bish showab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s