RALAT AISAR

Revisi dan Ralat pada AISAR edisi Kedua s.d. Ketujuh

Bismillahirrahmanirrahim, Kami bersyukur kepada Alloh yang telah mengizinkan kami menerbitkan kembali buku AISAR yang hingga kini telah tercetak 10 kali.

Kemudian kami bersyukur kepada saudara-saudara kami yang telah memberi andil dalam menyebarluaskan buku tersebut, mengambil manfaatnya, mengajarkannya, mencermatinya dan memberikan masukan-masukan berharga. Semoga Alloh menilai usaha tersebut sebagai amal yang bernilai di sisi-Nya. Amin

Para pengguna dan pemerhati AISAR rahimakumullah. Tentunya Anda telah sedikit banyak mendapati berbagai kekurangan dan kesalahan dalam setiap kali cetakan kami.

Sejak awal penerbitan, di bulan Jumada Tsaniyah 1430, hingga cetakan ketujuh kami telah menjalani 2 kali revisi yang cukup significan.

Revisi Pertama

Revisi pertama diterbitkan dalam 4 kali cetakan (cetakan kedua hingga kelima) dan revisi tersebut lebih menyentuh sisi lay out dan editting. Adapun perubahan dan penambahan pada revisi pertama dari sisi materi di antaranya adalah sebagai berikut :

  • menambah materi shifatul huruf (dengan berbahasa arab) pada bagian mukadimah.

  • menambah beberapa materi sebelum bab izh-har muthlaq, yakni: a. membebaskan tafkhim dari huruf-huruf istifal. b. memperjelas sifat syiddah pada huruf-huruf ba`, jim, dan dal. c. membedakan dhod, zho, dan dzal.

  • meluruskan istilah ketukan (untuk ukuran mad/ghunnah) dan menggantinya dengan istilah harokat.

Revisi Kedua

Pada edisi keenam (terbit pada bulan Dzulqa`dah 1432), seiring dengan tambahan wawasan, dan adanya masukan dari sejumlah ikhwah fudhola` (rekan-rekan yang mulia), dan setelah diterapkan di beberapa tempat dan berbagai kalangan, maka kami berkeputusan untuk kembali melakukan revisi untuk yang kedua kalinya. Sebuah revisi yang terhitung signifikan bila dibandingkan dengan cetakan-cetakan sebelumnya. Dimana dalam edisi tersebut kami melakukan berbagai hal yang intinya adalah sebagai berikut :

  1. Merombak cara penyajian, dimana tiap-tiap materi kami sajikan dalam satu jalsah khusus, sehingga guru dan murid tidak kesulitan dalam memulai atau mengakhiri materi pada tiap-tiap jalsah/temu muka.

  2. Mengungkap metode/asas pengajaran AISAR, (hal. 3)

  3. Memperjelas deskripsi tentang makhraj dan sifat huruf dengan bahasa nasional (hal. 5 – 16),

  4. Memperlugas sistematika bahasan dari tiap-tiap juz,

  5. Menyederhakan contoh-contoh dalam beberapa bab, seperti : a. pada juz 1 : penyederhanaan jalsah 1 -28, (hal.18-30) b. penghapusan bab berlatih cermat dalam pengucapan huruf yang serupa, c. meringkas lembar mudzakarah semua huruf dan semua harokat (hal.33-34) d. pada juz 2 : meringkas contoh pada pengenalan huruf-huruf mad, sukun pada nun dan tanwin, sukun pada huruf-huruf liyn (hal. 41-50), dan sebelumnya menghabiskan hampir 20 halaman. e. Menghapus wazan untuk itmam/penyempurnaan huruf, harokat, dan sukun. f. pada juz 3 : meringkas materi pada izh-har qomary dan idghom syamsi, (hal.63-66) g. menghapuskan mudzakaroh pada akhir juz 3

  6. Mengganti contoh kalimat dengan yang lain yang lebih tepat seperti: a. pada juz 1, dimana kami berusaha mencari susunan huruf tsulatsi yang punya asal makna dalam bahasa arab, jalsah 1 – 28, (hal.18-30) b. pada juz 2 – dimulai dari jalsah 37 (hal.43-60) – demikian pula juz 3 [lihat bab izh-har qomari & idghom syamsi (hal.63-66)], kami berupaya mendatangkan contoh-contoh hanya dari kalimat qur`an.

  7. Menggeser bab, mendahulukan atau mengakhirkannya, seperti : a. pada juz 1, huruf qof diakhirkan bersama huruf-huruf isti’la lainnya (hal.30) b. pada juz 2, materi sukun pada huruf-huruf selain (mad, lyn, dan nun), dimana kami dahulukan huruf-huruf yang bersifat lemah (rokhowah&istifal) sehingga ringan bagi lisan, dan mengakhirkan huruf dhod, huruf yang paling berat bagi lisan mayoritas kita. (hal.50-54)

  8. Menambahkan contoh atau materi penting seperti : a. waqof pada huruf syiddah yang bertasydid (hal.102) b. contoh ibdal/penggantian hamzah menjadi ya` sukun (hal.109) c. maqthu’ dan maushul, dan cara berhenti padanya (hal.116) d. ta` ta`nits yang tidak ditulis dalam bentuk ha`, dan cara berhenti padanya (hal.116) e. berhenti pada ya idhofah (hal.116)

  9. Memperjelas dan meluruskan beberapa definisi istilah dan kaidah baca, seperti : a. syarat tarqiq pada ro` sukun, yakni bahwa kasroh haruslah asli dan terkumpul bersama ro` tersebut dalam satu kata. (hal.83) b. tafkhim ghunnah nun mukhfah pada huruf qof, bahwa yang lebih tepat adalah berlaku mutlak, tidak hanya pada qof yang berharokat dhommah dan fathah. (hal.69-70) c. panjang mad ja`iz dan mad wajib, bahwa yang diamalkan dalam riwayat Hafsh ‘an ‘Ashim melalui jalan Syatibiyah adalah 4 harokat. (hal.86-87) d. ukuran dari 4 harokat atau 6 harokat tidak ditentukan dengan hitungan jari, (catatan kaki hal. 86) e. tentang mad tafriqoh, juga meliputi beberapa kalimat mad lazim kilmi mutsaqqol. (hal.88)

Demikianlah gambaran umum dari revisi dan ralat yang kami tempuh terhadap cetakan 2 hingga 5 dan kemudian kami sajikan pada cetakan 6. Tujuan kami adalah “perbaikan dan penyempurnaan”. Namun, setelah kami baca kembali edisi ke-6 ini lebih seksama, kami masih  terjatuh dalam kesalahan. Tidak lain hal ini berasal dari kealpaan dan banyaknya dosa, fanastaghfirullah wanatubu ilaih.

Maka sebagai upaya mengemban amanah ilmiah, berikut ini akan kami tuliskan ralat dari sejumlah kekurangan, kesalahan, dan ketergelinciran kami pada cetakan ke-6.

Kesalahan-kesalahan dalam edisi 6 secara garis besar adalah : – tidak tepat dalam pemilihan kata definisi, seperti :

i. cara menemukan makhroj, pada poin 2, disebutkan bahwa makhroj nun adalah punggung lidah.

ii. Menyamakan antara halq dengan hulqum dan memaknakannya dengan tenggorokan

iii. Ketidakjelasan keterangan pada makhroj ro`

iv. Pembagian sifat kuat dan lemah

v. Ketidakjelasan pada perbedaan syiddah dan jahr

vi. Terlewatkan dari permasalahan penting, seperti : i. gambar/ilustrasi makhroj zho, tsa dan dzal. ii. Tingkatan tafkhim

vii. Harokat yang hilang/tertutup garis

viii. Harokat yang salah, seperti pada (jalsah79 contoh ke6)

ix. Huruf terhapus seperti pada (jalsah 48 contoh ke 15,)

x. Kata terhapus/ gugur padahal kata tersebut termasuk inti yang sedang dibahas dalam jalsah seperti pada (hal113,3baris terakhir)

xi. Kata terbalik dalam ayat (jalsah 80, contoh terakhir)

xii. Tidak tercetaknya jalsah 7 dan 8.

Kami Memohon Maaf atas terjadinya beberapa revisi yang memang kami memandangnya harus untuk ditempuh. wallahul musta’an.

%d blogger menyukai ini: