Sebuah Renungan Tentang Sakarotul Maut

Abu Ismail Muhammad Rijal

Seakan tidak percaya hari ini tandu membawa sahabatku menuju liang lahad. Baru kemarin ia berjalan bersamaku, bergurau dengannya. Akupun tidak menyangka secepat itu sahabatku meninggalkan dunia, negeri yang fana, melanjutkan perjalanan panjang yang tidak pernah usai. Itulah sunnatullah, hari ini sahabatku pergi, kemudian besok atau lusa  ajal pasti menjemputku. Allah berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya. Al-A’raf: 34

Seharusnya manusia selalu ingat bahwa dunia bukan negeri kekekalan, telah meninggalkan dunia ini sekian generasi, orang tua dan kakek-kakek kita pun telah meninggalkan dunia. Masih teringat saat tangan ini dituntun orang tua bermain, sekarang tangan ini yang menuntun anak-anak, sementara orang tua-orang tua kita telah mangkat. Subhanallah, betapa cepat waktu berlalu menuju ketetapan Allah:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Ali Imran: 185

Sakaratul Maut

Itulah Al-Maut (Kematian), berpisahnya ruh dengan jasad. Kematian memiliki rasa sakit yang sangat yaitu sakarot.

Tentang betapa sakitnya sakaratul maut, Allah sebutkan di beberapa ayat dalam Al-Quran. Dalam surat Qaf Allah berfirman:

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ

Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. Qaaf: 19

Dalam surat Al-Waqi’ah Allah berfirman:

كَلَّا إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ (26) وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ (27) وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ (28) وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ (29)

Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”, dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), Al-Qiyamah: 26-29

Ya, kematian itu memiliki sakarot, nafas tersengal-sengal, ruh sampai ke kerongkongan, betis-betis bertautan, sakit tiada tara  tidak ada seorangpun menyembuhkan.

Terlebih orang-orang kafir dan munafiq, ruh dicabut dalam keadaan terhina, dicabut dengan sangat kasar, dicabut sebagaimana dicabutnya duri-duri dari tengah bulu domba yang basah, hingga terputus-putuslah urat-uratnya. Rasulullah bersabda:

وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنْ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنْ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مِنْ السَّمَاءِ مَلَائِكَةٌ سُودُ الْوُجُوهِ مَعَهُمْ الْمُسُوحُ فَيَجْلِسُونَ مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِي إِلَى سَخَطٍ مِنْ اللَّهِ وَغَضَبٍ قَالَ فَتُفَرَّقُ فِي جَسَدِهِ فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ مِنْ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ

Sesungguhnya hamba yang kafir ketika berpisah dengan kehidupan dunia dan menuju akhirat, turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit dengan wajah-wajah hitam membawa kafan dari neraka, mereka duduk sejauh mata memandang. Lalu datanglah malaikat Maut duduk disisi kepalanya seraya mengatakan: “Wahai jiwa yang busuk, keluarlah menuju kebencian dan kemurkaan Allah.” Maka ruh berpencar-pencar dari jasadnya dicabut sebagaimana duri dicabut dari kapas (bulu- domba) yang basah.”

Rasulullah Saw merasakan sakaratul maut lalu bagaimanakah kita?

Wahai jiwa, jangan dirimu berangan terbebas dari rasa sakit sakaratul maut. Sungguh manusia paling mulia, Rasul Allah dan kekasih-Nya, Muhammad bin Abdillah saw merasakan sakarotul maut. Ummul Mukminin, Aishah Ra mengisahkan detik menjelang wafatnya Rasulullah saw, sebagaimana diriwayatkan Al-Bukhari dalam Shahihnya (5/2387 no 6145),

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ أَوْ عُلْبَةٌ فِيهَا مَاءٌ يَشُكُّ عُمَرُ فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِي الْمَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَيَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ

Ketika (wafat menjelang) disisi Rasulullah saw ada sebuah bejana dari kulit (Rakwah) atau bejana dari kayu (‘Ulbah) berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan mengusap wajah dengan air itu seraya bersabda:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ

“Laa ilaha illallah, sungguh kematian memiliki sakarot.”

Wafatlah Rasulullah di pangkuan Aisyah ra, setelah beberapa waktu beliau sakit. Kekasih Allah merasakan sakarotul maut, lalu bagaimana dengan kita ? Aisyah Ra berkata:

مَا أَغْبِطُ أَحَدًا بِهَوْنِ مَوْتٍ بَعْدَ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ شِدَّةِ مَوْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Aku tidak lagi iri dengan seorangpun dengan mudahnya kematian sesudah aku melihat sakitnya ematian pada diri Rasulullah Shallallohu’alaihi wasallam. (HR At-Tirmidzi (3/309) dishahihkan Al-Albani.

Kontradiksikah?

Berita betapa sakitnya sakarotul maut tidak bertentangan dengan kabar Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam bahwa ruh seorang mukmin keluar sebagaimana keluarnya air dari wadahnya. Ya, Allah mudahkan keluarnya ruh bagi kaum mukmin, namun bersamaan dengan itu sakarat dirasakan. Allahua’lam.

Sumber: Majalah At-Tashfiyah

 

 

 

Posted on September 17, 2012, in Aqidah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: