Atsar Salaf Tentang Halawatul Iman – Jalan Meraih Manisnya Iman (Bag-2)

Pembaca rahimakumullah, sebagai generasi terbaik, para shahabat telah merasakan lezatnya iman. Kebahagiaanpun mereka raih bersama bimbingan Rasulullah r. Mari kita simak beberapa atsar shahabat tentang halawatal iman.

Abdullah bin Al-Abbas bin Abdil Muththalib t berkata:

من أحب في الله ، وأبغض في الله ، ووالى في الله ، وعادى في الله ، فإنما تنال ولاية الله بذلك ، ولن يجد عبد طعم الإيمان- وإن كثرت صلاته وصومه- حتى يكون كذلكوقد صارت عامة مؤاخاة الناس على أمر الدنيا ، وذلك لا يجدي على أهله شيئا

Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, membela karena Allah dan memusuhi karena Allah, dengan itu ia peroleh kecintaan Allah, dan seorang hamba tidak akan mendapatkan manisnya iman meskipun banyak sholat dan puasanya hingga ia memiliki sifat-sifat itu. Dan sungguh kebanyakan persaudaraan manusia karena urusan dunia (bukan lagi karena Allah) dan yang seperti itu tidaklah memberi manfaat sedikitpun padanya. (HR. Abu Dawud Kitab As-Sunnah no. 4681 dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 380)

Shahabat Ubadah bin Ash-Shamit t pernah berwasiat kepada putranya:

يَا بُنَىَّ إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الإِيمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :« إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ قَالَ رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ ». يَا بُنَىَّ إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :« مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّى ».

Wahai anakku, sungguh engkau tidak akan mendapatkan kelezatan hakekat iman hingga engkau meyakini bahwasannya apa yang telah Allah takdirkan menimpamu tidak akan luput darimu dan apa yang ditakdirkan tidak menimpamu tidak mungkin mengenai dirimu. Aku mendengar Rasulullah r bersabda: Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah qalam (pena) lalu Allah berfirman kepadanya: “Tulislah!” Pena berkata: Wahai Rabbku apa yang aku tulis?” Allah berfirman: “Tulislah takdir-takdir segala sesuatu hingga tegak hari kiamat. Kemudian Ubadah berkata: Wahai anakku sungguh aku mendengar Rasulullah r bersabda: Barangsiapa mati tidak diatas keimanan kepada takdir, ia bukan dari golonganku.” (Sunan Abu Dawud no. 4078 dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Ammar bin Yasir t salah seorang sahabat peraih janji surga berkata:

ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان الإنفاق من الإقتار وإنصاف الناس من نفسك وبذل السلام للعالم

Tiga perkara barang siapa tiga perkara itu ada padanya ia akan merasakan manisnya iman, berinfak di masa sempit, bertindak adil kepada manusia, dan menebarkan salam kepada manusia. ( HR. Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf no. 19439 dari Ma’mar dari Abu Ishaq dari Shilah bin Zufar dari Ammar bin Yasir t)

Berkata Abdullah Ibnu Mas’ud Al-Hudzali t:

ثلاث من كن فيه يجد بهن حلاوة الإيمان : ترك المراء في الحق ، والكذب في المزاحة ، ويعلم أن ما أصابه لم يكن ليخطئه ، وأن ما أخطأه لم يكن ليصيبه.

Tiga perkara barangsiapa tiga perkara itu ada padanya niscaya ia akan mendapatkan manisnya iman: Meninggalkan perdebatan sementara ia berhak, meninggalkan dusta meskipun dalam gurauan, dan ia yakin bahwa apa yang ditakdirkan pasti tidak akan luput darinya, dan apa yang tidak ditakdirkan tidak akan menimpanya (Diriwayatkan Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (9/157 no.8790) Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf no.20082).

Berlomba Meraih Manisnya Iman

Hadits-hadits dan atsar shahabat yang telah lalu menunjukkan bahwa manisnya iman adalah perkara yang bisa dirasakan seorang mukmin. Tentu keledzatan dan manisnya iman tersebut bertingkat-tingkat antara seorang mukmin dengan mukmin lainnya.

Kelezatan iman dalam kalbu seorang mukmin yang kokoh adalah kenikmatan yang agung, melebihi kenikmatan-kenikmatan dunia, bahkan tidak bisa dibandingkan. Bisa jadi seorang kurang dari sisi dunianya namun sesungguhnya ia orang yang berada dalam puncak-puncak kebahagiaan karena iman yang tertanam dalam kalbunya.

Suatu saat Ibrahim bin Adham[1] rahimahullah –salah seorang ulama ahlul hadits dan ahli zuhud di zamannya- berjalan dalam sebuah safar bersama sahabat-sahabatnya. Dalam perjalanan tersebut mereka beristirahat untuk menikmati bekal berupa potongan roti-roti kering –bukan daging dan roti-roti basah dari tepung gandum halus yang biasa dihidangkan di meja para raja- lalu Ibrahim turun ke sungai, dia ambil air dengan tangannya, meneguknya dengan menyebut Asma-Allah, kemudian berkata:

لو علم الملوك وأبناء الملوك ما نحن فيه لجالدونا عليه بالسيوف.

Seandainya para raja dan anak-anak para raja mengetahui (kebahagiaan dan kelezatan) yang sedang kita rasakan niscaya mereka akan mencambuk kita dengan pedang-pedang (karena iri dan tidak mendapatkan kebahagiaan itu –pen) (Hilyatul Auliya (7/370)

Subhanallah, demikianlah kebahagiaan meliputi kalbu manakala iman telah mendarah daging, kebahagiaan yang tidak dicapai penguasa-penguasa dunia.

Sebagian salaf mengungkapkan kelezatan iman dalam perkataannya:

مساكين أهل الدنيا ، خرجوا منها وما ذاقوا أطيب ما فيها ، قيل : وما أطيب ما فيها ؟ قال : محبة الله ومعرفته وذكره ” .

Sesungguhnya orang-orang miskin dari ahli dunia adalah mereka yang meninggalkan dunia namun belum merasakan apa yang paling lezat di dunia,” Ditanya: Kenikmatan apakah yang paling lezat di dunia? Dijawab: “Kenikmatan itu adalah kecintaan kepada Allah, mengenalnya dan mengingat-Nya. 

Kelezatan iman  adalah surga di dunia ini. Sebagian ulama berkata:

إن في الدنيا جنة ، من لم يدخلها لا يدخل جنة الآخرة .

Sungguh, di dunia ada syurga, siapa yang belum memasuki surga di dunia itu ia tidak akan masuk surga di akhirat,” (Surga yang dimaksud adalah keledzatan iman berupa kecintaan Allah –pen)

Manusia di muka bumi ini, ada yang mencapai puncak-puncak keimanan hingga kelezatan iman ia rasakan, ada yang hanya memiliki iman seberat dzarrah atau lebih ringan bahkan kebanyakan manusia tidak mau masuk ke dalam keimanan. Wal‘iyadzubillah.

BagaimanaMeraih Manisnya Iman.

Dalam Hadits Anas bin Malik Ra Rasulullah r menyebutkan tiga sifat dengannya seorang mukmin memperoleh manisnya iman. Tiga sifat inilah yang seharusnya setiap insan muslim memohon kepada Allah dan berlomba menggapainya, Allah berfirman:

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.Al-Muthaffifin:26

Sifat pertama untuk meraih manisnya iman adalah mencintai Allah dan rasul-Nya, dan mendahulukan keduanya atas kecintaan yang lain. Rasulullah r bersabda:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين

Tidak akan sempurna iman salah seorang diantara kalian sehingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia.

Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya bukan sekedar pengakuan, akan tetapi harus dibuktikan sebagaimana Allah firmankan:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ali Imran: 31

Dusta seorang yang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya namun ia tidak mengikuti aqidah Rasulullah r, justru yang dia ikuti adalah kesyirikan atau khurafat. Dusta seorang yang mengakui dirinya lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya dari segala sesuatu namun dalam beribadah lebih memilih kebid’ahan-kebid’ahan. Demikian pula dusta seorang yang mengaku cinta Allah dan Rasul namun berpaling dari ilmu syareat.

Kecintaan kepada Allah demikian pula sebaliknya kecintaan Allah kepada hamba-Nya hanya diperoleh dengan ittiba’ Rasulullah r.

Barangsiapa mentadabburi ayat ini niscaya ia akan sadar bahwa cinta kepada Allah demikian pula sebaliknya  kecintaan Allah kepadanya akan diperoleh manakala seorang terus menapaki jejak Rasulullah r dalam segala sisi kehidupan.

Jika seorang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari kecintaan atas segala sesuatu, kebahagiaan dan kelezatan iman akan mengiringi perjalanan hidupnya. Apapun yang dihadapi dalam perjalanan hidupnya tidaklah menambah melainkan kebahagiaan, kebaikan dan ketinggian derajat di dunia dan di akherat. Namun jika seorang lebih mengutamakan kecintaan yang lain atas kecintaan Allah dan Rasul-Nya, tunggulah datangnya ancaman Allah ta’ala:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.At-Taubah: 24

Satu kejadian tertulis dalam referensi-referensi sirah Nabi r, menunjukkan betapa shahabat adalah orang-orang yang sangat bahagia dengan kelezatan iman yang menghiasi dengan mendahulukan kecintaan Allah dan Rasul-Nya. Dikisahkan, seusai perang Uhud pasukan Rasulullah r memasuki Madinah, seorang wanita dari Bani Dinar mendapatkan kabar kematian ayahnya, saudara kandungnya dan suaminya. Sungguh berita yang sangat menyedihkan, namun wanita itu terus bertanya Bagaimana dengan Rasulullah r? bagaimana keadaan beliau? Begitu ia mendengar dan melihat Rasulullah r selamat, kesedihan itu sirna. Dari lisannya mengalir ucapan:

كل مصيبة بعدك جَلَلٌ

“Semua mushibah (yang menimpaku) tidak ada artinya setelah Engkau (mendapatkan keselamatan).”.

Ketenangan dan kebahagiaan disaat musibah karena kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dan jihad melebihi segala sesutu.

Sifat kedua yang dengannya seorang mukmin merasakan manisnya iman adalah mencintai karena Allah demikian pula dalam membenci, membela dan memerangi, semua karena Allah

Cinta dan benci karena Allah adalah tali iman yang paling kokoh sebagaimana ditunjukkan sabda Rasulullah r:

أوثق عري الإيمان الموالاة في الله و المعاداة في الله و الحب في الله و البغض في الله

Tali iman yang paling kokoh adalah memberikan loyalitas karena Allah, menusuhi karena Allah, mencintai karena Allah dan membenci Karena Allah. (HR Ath-Thabarani dari Ibnu Abbas dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah (2/734 no. 998)

Cinta dan benci karena Allah adalah konsekwensi kecintaan seorang kepada Allah. Seorang yang jujur dalam cintanya kepada Allah akan mencintai apa yang Allah cintai, juga membenci apa yang Allah benci.

Oleh karena itu diantara doa Rasulullullah r bahkan beliau mewasiatkan ummatnya untuk berdoa dengannya adalah:

أسألك حبك وحب من يحبك وحب عمل يقربني إلى حبك

“Ya Allah aku memohon agar aku mencintai-Mu dan mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai semua amalan yang mendekatkanku kepada cinta kepada-Mu.” (HR.At-Tirmidzi dan Ahmad. Didha’ifkan Syaikh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ kemudian beliau Shahihkan dalam Sunan At-Tirmidzi no.3235 dan Al-Misykah no. 747)

Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata: “Dalam doa ini, disamping Rasulullah rmeminta kecintaan kepada-Nya beliau juga memohon dua perkara lainnya. Pertama, Memohon untuk Mencintai orang-orang yang mencintai Allah. Demikianlah, orang yang mencintai Allah pasti mencinta mereka yang dicintai Allah dan membenci musuh-musuh Allah…. Dan semulia-mulianya manusia yang wajib dicintai karena Allah adalah para nabi dan Rasul-Nya terlebih Nabi Muhammad r yang telah Allah wajibkan manusia mengikuti jalan beliau… (Perkara kedua yang beliau mohon adalah): Mencintai amalan yang mendekatkan diri kepada Allah (Syarah hadits Ihtishom Al-Mala’il A’la)

Cinta karena Allah dan membenci karena Allah semakin terkikis di akhir zaman. Lihatlah betapa banyak manusia mengikat kecintaannya bukan karena Allah, mereka mengikat kecintaan dengan tarekat sufi, klub olah raga, klub pecinta alam, klub sepeda motor atau partai-partai yang mencerai beraikan kaum muslimin.  Saudaranya muslim dibenci hanya karena berbeda partai, sementara seorang fasik atau kafir dia sayangi karena satu partai.[2] Abdullah bin Al-Abbas bin Abdil Muththalib Ra berkata:

وقد صارت عامة مؤاخاة الناس على أمر الدنيا ، وذلك لا يجدي على أهله شيئا

Sungguh kebanyakan persaudaraan manusia karena urusan dunia (bukan lagi karena Allah) dan yang seperti itu tidaklah memberi manfaat sedikitpun padanya.

Sebab Ketiga: Membenci kesyirikan dan kekafiran sebagaimana bencinya ia untuk dilemparkan ke dalam api.

Kebencian terhadap kesyirikan dan segenap bentuk kekafiran diwujudkan dengan senantiasa memohon kepada Allah agar diselamatkan dari kekufuran dan agar hatinya selalu dikokohkan di atas keimanan. Diwujudkan pula dengan ushanya mengenali kekafiran agar ia bisa menghindarinya.

Bilal bin Rabah Ra, salah seorang shahabat peraih syurga salah satu sosok tauladan dalam mempertahankan iman. Hatinya diliputi kecintaan kepada iman dan kebencian kepada kekufuran. Saat beliau disiksa kafir Quraisy di kota Makkah awal-awal dakwah islam, beliau dipaksa meninggalkan islam. Apakah kemudian beliau melepaskan keimanan? Tidak! beliau hanya mengatakan: Ahad ! Ahad ! Beliau tetap berada dalam agama tauhid, hingga datang pertolongan Allah, Abu Bakar membelinya dan membebaskannya dari perbudakan. [3]

Keluarga Yasir Ra adalah contoh lain dari pengorbanan mempertahankan Islam. Kafir Quraisy menyiksa keluarga yang mulia ini. Yasir dan istrinya Sumayyah memperoleh syahadah, tertumpah darah keduanya dalam keadaan ridho kepada Allah dan Allah ridho kepada keduanya. Jannah mereka raih setelah mereka merasakan manisnya iman dalam kehidupan dunia. Rasulullah saw bersabda kepada mereka:

أبشروا آل عمار وآل ياسر فإن موعدكم الجنة

“Berbahagialah kalian wahai keluarga ‘Ammar, wahai keluarga Yasir karena sungguh tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah Al-Jannah.” (Lihat Shahih As-Sirah An-Nabawiyah Syaikh Al-Albani hal 154)

Mereka adalah kaum yang telah berlalu, meninggalkan dunia dengan penuh kebahagiaan. Tinggalah kita merenung nasib kita masing-masing dan bertanya: “Sudahkah cintaku kepada Allah dan Rasul-Nya lebih dari segala nya? Sudahkah cinta dan benciku karena Allah? Sudahkah aku dapatkan kebencian kepada kekufuran sebagaimana aku membenci diriku dilemparkan ke dalam api ?.

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ

Ya Allah hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami tauladan yang membimbing dan mendapatkan bimbingan. Amin.

 


[1] Ibrahim bin Adham bin Manshur Al-‘Ijli Abu Ishak Al-Balkhy. Meninggal 162 H

[2] Termasuk partai-partai yang menyatakan berbasis perjuangan islam semacam Partai Keadilan dan partai-partai lainnya cinta dan benci mereka bukan lagi karena Allah.

[3] Lihat Musnad Imam Ahmad (1/404) dengan sanad yang Hasan.

Posted on Agustus 6, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: