Iman Kepada Qadar Tidak Meniadakan Ikhtiyar

Abu Ismail Muhammad Rijal

عن عبد الله بن عباس: أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه خرج إلى الشأم، حتى إذا كان بسَرْغ لقيه أمراء الأجناد، أبو عبيدة بن الجراح وأصحابه، فأخبروه أن الوباء قد وقع بأرض الشأم. قال ابن عباس: فقال عمر: ادع لي المهاجرين الأولين، فدعاهم فاستشارهم، وأخبرهم أن الوباء قد وقع بالشأم، فاختلفوا، فقال بعضهم: قد خرجت لأمر، ولا نرى أن ترجع عنه، وقال بعضهم: معك بقية الناس وأصحاب رسول الله r، ولا نرى أن تُقْدِمَهُمْ على هذا الوباء، فقال: ارتفعوا عني، ثم قال: ادع لي الأنصار، فدعوتهم فاستشارهم، فسلكوا سبيل المهاجرين، واختلفوا كاختلافهم، فقال: ارتفعوا عني، ثم قال: ادع لي من كان ها هنا من مشيخة قريش من مهاجرة الفتح، فدعوتهم، فلم يختلف منهم عليه رجلان، فقالوا: نرى أن ترجع بالناس ولا تُقْدِمَهُمْ على هذا الوباء، فنادى عمر في الناس: إني مُصَبِّحٌ على ظَهْرٍ فأصْبِحُوا عليه. قال أبو عبيدة بن الجراح: أفراراً من قدر الله؟ فقال عمر: لو غيرك قالها يا أبا عبيدة؟! نعم نفر من قدر الله إلى قدر الله، أرأيت لو كان لك إبل هبطت وادياً له عدوتان، إحداهما خصبة، والأخرى جدبة، أليس إن رعيت الخصبة رعيتها بقدر الله، وإن رعيت الجدبة رعيتها بقدر الله؟ قال: فجاء عبد الرحمن بن عوف، وكان متغيِّباً في بعض حاجته، فقال: إن عندي في هذا علماً، سمعت رسول الله r يقول: (إذا سمعتم به بأرض فلا تَقْدَمُوا عليه، وإذا وقع بأرض وأنتم بها فلا تخرجوا فراراً منه). قال: فحمد اللهَ عمرُ ثم انصرف.

Abdullah bin Abbas Ra berkata: Umar bin Al-Khaththab Ra, pernah menempuh perjalanan menuju Syam. Ketika sampai di Sargh[1] beliau ditemui para amir kota-kota syam[2] -Abu Ubaidah dan sahabat-sahabatnya[3]–  mereka memberitakan bahwa wabah thaun  melanda Syam.

Berkata Umar: Kumpulkan kepadaku sahabat muhajirin yang pertama!. [4] Umar lalu meminta pendapat dan memberitahukan kepada mereka bahwa wabah thaun telah berjangkit di Syam. Ternyata sahabat muhajirin berselisih pendapat. Sebagian mereka berkata: Engkau pergi untuk suatu urusan dan kami tidak sepakat jika engkau kembali. Sebagian lain berkata: Bersama engkau masih banyak rakyat dan para sahabat dan kami tidak sepakat bila engkau membawa mereka menuju wabah thaun.

Umar berkata: Tinggalkanlah aku, dan tolong panggilkan sahabat-sahabat Ansar! Aku pun (Ibnu Abbas –pen) memanggil mereka. Ketika dimintai pertimbangan, mereka juga berbeda pendapat seperti halnya orang-orang Muhajirin.

Umar berkata: Tinggalkanlah aku! Lalu berkata: “Panggilkan sesepuh Quraisy yang dahulu hijrah di tahun penaklukan (Fathu Makkah) dan sekarang berada di sini!” Aku pun memanggil mereka, dan ternyata mereka tidak berselisih. Mereka semua berkata: “Menurut kami sebaiknya engkau kembali bersama orang-orang, dan tidak mengajak mereka mendatangi wabah ini. “

(Setelah mendengar berbagai pendapat-pen) Umar berseru di tengah-tengah manusia (berijtihad memutuskan apa yang beliau anggap mendekati kebenaran-pen): “Sungguh Aku akan mengendarai tungganganku untuk pulang esok pagi, hendaknya kalian juga mengikuti !”

Abu Ubaidah bin Jarrah ra. bertanya: “Wahai Umar apakah untuk menghindari takdir Allah? Umar menjawab: “Kalau saja bukan engkau yang mengatakan itu, wahai Abu Ubaidah (Tentu Aku tidak akan heran-pen) !, Ya, kita lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Apa pendapatmu wahai Abu Ubaidah seandainya engkau memiliki seekor unta yang turun di sebuah lembah yang memiliki dua lereng, salah satunya subur dan yang kedua tandus, bukankah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur berarti engkau menggembalakanya dengan takdir Allah? Begitu pun sebaliknya, kalau engkau menggembalakannya di tempat yang tandus, bukankah engkau menggembalakanya juga dengan takdir Allah?” (Demikian pula apa yang kita putuskan tidak lepas dari taqdir Allah sebagaimana apa yang dilakukan si penggembala mengarahkan untanya dari tanah tandus ke tanah subur tidak lepas dari takdir Allah–pen)

Berkata Ibnu Abbas Ra.: Tiba-tiba datanglah Abdurrahman bin ‘Auf, yang sebelumnya tidak hadir karena keperluannya, ia berkata: “Sungguh dalam masalah ini aku memiki ilmunya, aku mendengar Rasulullah r bersabda:

إذا سمعتم به بأرض فلا تَقْدَمُوا عليه، وإذا وقع بأرض وأنتم بها فلا تخرجوا فراراً منه

Jika engkau mendengar wabah thaun di sebuah negeri maka janganlah kalian memasukinya, dan seandainya wabah thaun terjadi di negeri yang engkau di dalamnya janganlah engkau meningalkan negerimu karena lari dari thaun.”

Berkata Ibnu ‘Abbas: (Begitu mendengar hadits), Umar memuji Allah, lalu meninggalkan majelis.

Takhrij Hadits

Hadits Abdullah bin Abbas Ra diriwayatkan Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya Kitab Ath-Thib (Pengobatan), Bab Penyakit Thaun (10/178 no.5729 dengan Fathul Bari), lihat pula no. 5730 dan 6973.

Juga diriwayatkan Imam Muslim dalam As-Shahih, Kitab As-Salam (4/1740 no.2219), Abu Dawud dalam As-Sunan, Kitab Jenazah Bab Keluar dari penyakit Thaun, no.3103, Imam Ahmad dalam Al-Musnad (1/194),  Malik dalam Al-Muwaththa’ dan Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra.

Penjelasan Hadits

Abdullah bin Abbas Ra. mengabarkan kepada kita perjalanan Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab Ra menuju Syam bersama rombongan sahabat di masa kekhilafahan beliau.

Badruddin Mahmud bin Ahmad Al-‘Aini (855 H)  rahimahullah berkata: “Perjalanan tersebut terjadi pada bulan Rabiul Akhir tahun 18 H,  (sementara itu) Khalifah bin Khayyath (240 H) menyebutkan bahwa keluarnya Umar menuju Syam kali itu terjadi di tahun 17 H untuk melihat keadaan rakyat dan para gubernur. Sebelumnya, di tahun 16 H Umar juga pernah menuju Syam, yaitu ketika Abu Ubaidah ‘Amir bin Jarrah Ra. mengepung Baitul Maqdis (hingga dikuasai kaum muslimin). Penduduk Baitul Maqdis menginginkan sulh (perjanjian damai) dilakukan oleh Umar sendiri, maka keluarlah beliau (dari Madinah menuju Syam) untuk tujuan tersebut. (Umdatul Qari 21/283)[5]

Di tengah perjalananyang kedua menuju Syam, datang berita bahwa thaun tengah melanda negeri itu. Umar bin Al-Khaththab Ra mengajak para sahabat bermusyawarah menentukan kebijakan dalam menghadapi berita thaun. Terjadilah perbedaan pandangan diantara sahabat, masing-masing memiliki ijtihad apakah tetap melanjutkan perjalanan masuk ke Syam atau harus kembali ke Madinah? Dari musyawarah yang cukup panjang dan dengan segenap pertimbangan, Umar bin Al-Khaththab Ra berijtihad memutuskan kembali ke Madinah bersama sahabat. Beliau rajihkan pendapat kebanyakan sahabat, dan ternyata ijtihad beliau mencocoki sabda Rasulullah saw yang dibawa Abdurrahman bin Auf  Ra.

Saudaraku semoga Allah merahmatimu, Thaun  adalah penyakit yang mewabah secara merata menimpa wilayah tertentu, dengan izin Allah ia memakan korban yang demikian banyak.

Thaun di zaman Umar bin Al-Khaththab Ra yang dikisahkan dalam riwayat Ibnu Abbas Ra terkenal dengan thaun ‘Amwas, nama sebuah kota di wilayah Palestina berjarak lebih kurang enam mil dari kota Romlah.[6] Menurut pendapat jumhur, Thaun ‘Amwas terjadi pada tahun 18 H, dan meninggal pada wabah tersebut sekitar dua puluh lima hingga tiga puluh ribu muslimin –sebagaimana disebutkan para ahli tarikh- diantara mereka yang wafat adalah sahabat Abu Ubaidah ‘Amir bin Al-Jarrah Ra , salah seorang dari sepuluh sahabat yang mendapat jaminan Jannah dari Rasulullah r.

Thaun ‘Amwas yang menelan banyak korban termasuk tanda dari tanda-tanda kiamat yang telah dikabarkan sebelumnya oleh Rasulullah r dalam sabdanya:

اعدد ستا بين يدي الساعة: موتي، ثم فتح بيت المقدس، ثم موتان يأخذ فيكم كقعاص الغنم …

 “Nantikan enam perkara sebelum hari kiamat: Kematianku, kemudian ditaklukkannya Baitul Maqdis, lalu kematian besar menimpa kalian seperti penyakit Qu’ash[7] pada kambing ….” Al-Hadits.

Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam Ash-Shahih Kitab Jizyah no. 3176 dari Auf bin Malik Ra. [8] Berkata Ibnu Hajar: Tanda kiamat yang disebut dalam hadits ini terwujud pada Thaun ‘Amwas di masa kekhilafahan Umar, sesudah direbutnya Baitul Maqdis (Fathul Bari 6/278).

 

Iman Kepada Takdir salah satu Pokok Keimanan.

Kisah perjalanan Umar bin Al-Khaththab Ra, kita ketengahkan dalam majelis ini untuk menunjukkan bagaimana shahabat Rasulullah saw beriman kepada taqdir sebagaimana tampak dalam kisah di atas, demikian pula mereka memahami bahwa iman kepada takdir bukan maknanya putus asa dan lari dari usaha.

Perhatikan kisah di atas, ketika Abu Ubaidah Ra bertanya kepada Umar:  “Apakah engkau akan lari dari takdir Allah dengan  kembali ke Madinah ?” Umar bin Al-Khaththab Ra menjawab dengan membuat sebuah permisalan yang indah tentang seorang penggembala yang selalu berusaha mencari tempat yang paling banyak rumputnya untuk hewan gembalaannya. Jika ia dapatkan dua lahan yang gersang dan subur tentu ia akan arahkan unta tau kambingnya menuju lahan yang subur, semua itu tidak luput dari takdir Allah subhanahu wata’ala.

Iman Kepada taqdir  adalah salah satu pokok dari pokok-pokok iman yang ditunjukkan Al-Qur’an, As-Sunnah dan kesepakatan kaum mukminin. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadar. Al-Qamar: 49

Hakekat iman kepada takdir adalah mengimani ilmu Allah ta’ala yang maha sempurna. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, apa yang belum terjadi, apa yang sedang terjadi, apa yang telah terjadi, dan apa yang tidak terjadi, dan seandainya sesuatu yang tidak terjadi itu terjadi Allah maha tahu bagaimana terjadinya. Dengarlah firman Allah tentang penduduk neraka yang mereka kekal di dalamnya mengharapkan kembali ke alam dunia, Allah maha tahu apa yang akan mereka lakukan seandainya dikembalikan ke dunia:

وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ  بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Rabb kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. Al-An’am: 27-28

Demikianlah ilmu Allah, tidak ada sedikitpun luput dari ilmu Allah. Berdasarkan ilmu yang maha sempurna itu Allah menulis segala sesuatu yang akan terjadi di Lauhil Mahfudz, limapuluh ribu tahun sebelum Allah ciptakan langit dan bumi. Rasulullah saw bersabda:

كتب الله مقادير الخلائق قبل أن يخلق السماوات والأرض بخمسين ألف سنة.

“Allah mencatat taqdir-takdir makhluk-makhluk-Nya limapuluh ribu tahun sebelum Dia ciptakan langit-langit dan bumi.” (HR. Muslim Kitab Al-Qadar no.2653 dari Abdullah bin Amr Ra)

Apa yang telah tercatat dalam Al-Lauhul Mahfudz terjadilah dengan rinci satu-persatu, semua dengan penciptaan Allah dan di bawah kehendak-Nya. Tidak ada satupun yang terlepas dari ilmu, kehendak dan penciptaan Allah ta’ala. Allahu Akbar.

Tidak Beriman Orang Yang Mengingkari Taqdir

Pengingkar taqdir bukanlah golongan orang yang beriman. Amalan mereka sia-sia dan tidak diterima Allah ta’ala. Oleh kerena itulah ketika sahabat Abdullah bin Umar Ra mendengar berita munculnya Qadariyah yaitu kaum yang mengingkari taqdir, dengan tokohnya Ma’bad Al-Juhani di Bashrah, dengan tegas Ibnu Umar berkata:

فإذا لقيت أولئك فأخبرهم أني بريء منهم، وأنهم برآء مني. والذي يحلف به عبدالله بن عمر! لو أن لأحدهم مثل أحد ذهبا فأنفقه، ما قبل الله منه حتى يؤمن بالقدر

“Jika engkau berjumpa dengan mereka (qadariyah) kabarkanlah bahwasanya aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku, Demi Dzat yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan-Nya, seandainya salah seorang mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu diinfakkan, Sungguh Allah tidak akan menerimanya hingga ia beriman kepada taqdir.”

Di atas keyakinan inilah para sahabat berpijak, di atas aqidah inilah salafus shalih bersandar. Al-Imam Ibnu Majah rahimahullah meriwayatkan kisah Ibnu Dailamy rahimahullah saat ia mengadukan kegelisahan hatinya mengenai takdir kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum hingga ia dapatkan jawaban yang sangat menyejukkan.

Ibnu Dailamy rahimahullah berkata: “Ada sesuatu yang tidak baik tentang takdir dalam diriku, aku sangat khawatir hal ini merusak agama dan urusanku. Akupun datang kepada Ubay bin Ka’b Ra, bertanya: Wahai Abul Mundzir, sungguh dalam diriku ada bisikan yang kurang baik tentang taqdir, aku mengkhawatirkan agamaku dan urusanku, nasehati aku tentang itu semoga Allah memberikan manfaat kepadaku dengannya.

Berkata Ubay Ra: “(Wahai Ibnu Dailamy janganlah engkau bimbang dengan takdir) seandainya Allah mengadzab penduduk langit-langit dan bumi-Nya sungguh Ia tidak mendzalimi hamba-Nya, demikian pula seandainya Allah merahmati mereka (memasukkan mereka dengan jannah-Nya), sungguh rahmat-Nya melebihi amalan-amalan mereka,[9] seandainya engkau memiliki gunung Uhud emas yang engkau infakkan fisabilillah, tidak akan diterima amalanmu hingga engkau beriman kepada takdir, dan hingga engkau yakin bahwa apa yang telah ditakdirkan akan menimpamu tidak akan meleset darimu, dan apa yang ditakdirkan tidak menimpamu tidak akan menimpamimu, dan sungguh seandainya engkau mati dalam keadaan tidak beriman kepada takdir engkau akan masuk ke dalam neraka.”

“(Wahai Ibnu Dailamy) kalau engkau mau, pergilah pada saudaraku Abdullah bin Mas’ud dan bertanyalah !. Akupun mendatangi Ibnu Mas’ud, aku bertanya dan ternyata ia menjawab seperti jawaban Ubay. Lalu Ibnu Mas’ud berkata: “Coba engkau datangi Hudzaifah!” Akupun datangi beliau, aku tanyakan masalahku dan beliau manjawab seperti jawaban Ibnu Mas’ud. Kemudian Hudzaifah berkata: Cobalah engkau datangi Zaid bin Tsabit, tanyalah ia!. Akupun bertanya kepada Zaid, lalu beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:

لو أن الله عذب أهل سمواته وأهل أرضه لعذبهم وهو غير ظالم لهم. ولو رحمهم لكانت رحمته خيرا لهم من أعمالهم. ولو كان لك مثل أحد ذهبا أو مثل جبل أحد تنفقته في سبيل الله ما قبله منك حتى تؤمن بالقدر كله. فتعلم أن ما أصابك لم يكن ليخطئك. وما أخطأك لم يكن ليصيبك. وأنك إن مت على غير هذا دخلت النار

“Sungguh seandainya Allah mengadzab penduduk langit-langit-Nya dan bumi-Nya sungguh Dia mengadzab dalam keadaan  mendzalimi hamba-Nya, demikian pula seandainya Allah merahmati mereka (memasukkan mereka dengan jannah-Nya), sungguh rahmat-Nya melebihi amalan-amalan mereka, seandainya engkau memiliki gunung Uhud emas yang engkau infakkan fisabilillah, tidak akan dterima amalanmu hingga engkau beriman kepada takdir seluruhnya, dan engkaupun meyakini apa yang telah ditakdirkan akan menimpamu tidak akan meleset darimu, dan apa yang ditakdirkan tidak menimpamu tidak akan menimpamimu, dan sungguh seandainya engkau mati tanpa iman kepada takdir engkau akan masuk ke dalam neraka.” (Muqaddimah Sunan Ibnu Majah Bab Al-Qadar no. 77 dishahihkan Al-Albani rahimahullah)

Renungkanlah bagaimana jawaban sahabat-sahabat mulia saat Ibnu Dailamy bertanya tentang takdir !. Semua memiliki keyakinan yang sama tentang taqdir, keyakinan agung yang diajarkan Rasulullah r.

Di antara hadits yang menunjukkan segala sesuatu termasuk kebahagiaan dan kesengsaraan telah Allah taqdirkan adalah hadits Abdullah bin Mas’ud Ra. Rasulullah r bersabda: ’Sesungguhnya setiap orang diantara kamu dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah (air mani), kemudian menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) selama waktu itu juga, kemudian menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama waktu itu juga, lalu diutuslah seorang malaikat kepadanya, kemudian malaikat meniupkan ruh padanya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat: Rizkinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celakanya atau keberuntungannya. Maka demi Allah Dzat yang tiada sesembahan yang haq selain-Nya, sesungguhnya ada diantara kamu yang melakukan amalan penduduk surga hingga antara dirinya dan surga dekat sejarak satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga dia masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya ada seseorang diantara kamu yang melakukan amalan penduduk neraka dan amal itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke dalamnya.”

Iman Kepada Taqdir Bukan Maknanya Mengabaikan Ikhtiar

Taqdir bukan maknanya seorang malas dari menempuh usaha. Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasul menunjukkan pokok yang agung ini. Rasulullah bersabda:

احرص على ما ينفعك. واستعن بالله ولا تعجز. فإن أصابك شيء فلا تقل: لو إني فعلت كذا وكذا. ولكن قل: قدر الله، وما شاء فعل. فإن لو تفتح عمل الشيطان.

Bersemangatlah kamu menempuh apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan sekali-kali engkau malas, dan seandainya menimpamu sesuatu janganlah kau katakan: Seandainya dahulu aku lakukan itu niscaya akan demikian dan demikian. Namun katakanlah: ini adalah taqdir Allah dan apa yang ia kehendaki pasti terjadi.”

Rasulullah saw membimbing umatnya untuk bersemangat berikhtiar, menempuh usaha yang bermanfaat dalam urusan dunia dan juga agama. Perintah Rasulullah saw kepada ummatnya untuk berikhtiyar itu beliau gabungkan dengan iman kepada taqdir, ini menunjukkan bahwa iman kepada taqdir tidak menafikan (meniadakan) usaha.

Benar, penduduk jannah telah ditetapkan tidak akan meleset dari apa yang telah Allah tentukan. Demikian pula penduduk neraka telah Allah tentukan dan pasti mereka akan memasukinya, namun bersamaan dengan itu Allah perintahkan kita untuk beramal, dan sungguh seorang yang jujur dalam beramal akan Allah mudahkan jalan menuju jannah-Nya. Sesungguhnya Allah adalah dzat yang maha adil, tidak mendzalimi hamba-Nya, dan Dzat yang memiliki hikmah yang maha sempurna. Shahabat Ali bin Abi Thalib Ra berkata:

بينما نحن مع رسول الله r وهو ينكث في الأرض إذ رفع رأسه إلى السماء ثم قال ما منكم من أحد إلا قد علم قال وكيعٌ إلا قد كتب مقعده من النار ومقعده من الجنة قالوا أفلا نتكل يا رسول الله؟ قال: لا، اعملوا فكل ميسرٌ لما خلق له.

Dari Ali Ra berkata: Ketika Kami bersama Rasulullah saw, sambil beliau menggores-gores tanah, beliau angkat wajah ke langit lalu bersabda: Tidak ada seorangpun diantara kalian kecuali telah diketahui, dalam riwayat Waki’: Telah ditentukan tempatnya di neraka dan tempatnya di Jannah. Shahabat bertanya: Wahai Rasulullah saw apakah berarti kita bersandar saja (dengan takdir dan tidak beramal ?) Rasulullah bersabda: “Tidak, beramalah kalian ! Karena semua akan dimudahkan kepada apa yang telah ditentukan untuknya.”[10]

Dalam riwayat lain Rasulullah saw membacakan firman Allah:

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. QS. Al-Lail: 5-10

 

Mengapa Manusia Bedakan Urusan Dunia dan Akhirat ?

Orang-orang yang malas beribadah, saat diingatkan sorga dan neraka dengan enteng mengatakan: “Bukankah sorga dan neraka sudah di taqdirkan? Apalah artinya beramal, toh seandainya aku beramal saleh tetapi neraka telah ditaqdirkan untukku sia-sia semua amalan, sebaliknya kalau aku malas beribadah namun Jannah telah ditakdirkan untukku niscaya sorga tidak akan lari untukku?

Saudaraku, ungkapan di atas sesungguhnya bisikan dan was was syaiton. Dalam urusan akhirat manusia dibujuk untuk meninggalkan amalan dan bersandar kepada takdir, namun sebaliknya dalam urusan dunia syaiton terus hembuskan syahwat dunia hingga seorang menjadi ambisius terhadapnya dan melupakan negeri akhirat.  Siang malam keringat diperas, semua kekuatan dicurahkan untuk mengais emas dan perak.

Sungguh sangat mengherankan !. Dalam urusan akherat mereka tinggalkan ikhtiyar sementara dalam urusan dunia mereka sadar bahwa duduk di rumah bersandar kepada taqdir tanpa usaha adalah bentuk kebodohan.

Dua sikap yang bertolak belakang ini sungguh mengherankan, dan seharusnya manusia tidak membedakan urusan dunia dan akhirat dalam beriman terhadap takdir dan dalam menempuh usaha. Sebagaimana ia berusaha mendapatkan rejeki di dunia yang semuanya telah Allah taqdirkan, demikian pula  seharusnya ia berusaha menempuh amalan yang menyelamatkan dirinya dari neraka dan melakukan amalan saleh untuk kebahagiaannnya di akhirat yang itu semua juga telah Allah takdirkan.

 

Mendulang Beberapa Faedah Riwayat Ibnu Abbas Ra.

Perjalanan Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab Ra menyimpan banyak faedah dalam masalah aqidah, ushul fiqh, ahkam demikian pula adab diantaranya:

  1. Seorang pemimpin keluar untuk melihat sendiri keadaan rakyatnya.
  2. Perjalanan Umar Ra. adalah tauladan dalam ketawadhuan. Beliau termasuk Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin yang mendapat pujian dari Rasulullah saw, bahkan beliau telah dijamin sebagai ahlul jannah namun kemuliaan itu tidak menghalangi beliau untuk keluar melihat keadaan rakyatnya, demikian seharusnya seorang pemimpin.
  3. Ketika pemimpin melihat sendiri keadaan rakyatnya, memberikan faedah menakut-nakuti musuh Allah dan ahlul fasad (pembuat kerusakan) sehingga mereka segera menghentikan kedzaliman.
  4. Berkumpul dengan ulama, sebagaimana amir-amir Syam menjumpai Umar bin Al-Khaththab Ra.
  5. Pentingnya musyawarah dalam menyelesaikan perkara yang dihadapi, sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an dan dicontohkan dalam sunnah Rasulullah saw.
  6. Mendahulukan Ahlul Fadhl (orang-orang yang memiliki keutamaan dalam ilmu dan amal) dalam bermusyawarah.
  7. Menempatkan manusia sesuai kedudukan mereka, Muhajirin lebih mulia dari Anshor, dan Anshor lebih mulia dari sahabat yang masuk islam ketika Fathu Makkah.
  8. Disyareatkan Munadzarah (diskusi ilmiyah) sebagaimana terjadi antara Umar Ra dan Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah Ra. Dengan munadzarah yang penuh dengan adap akan teranglah perkara yang samar dan tampaklah al-haq.
  9. Adanya tarjih (menguatkan satu pendapat dari pendapat-pendapat yang diperselisihkan dengan memerhatikan faktor-faktor penguat yang mengitarinya). Dalam kisah ini, Umar Ra memilih pendapat kembali ke Madinah karena pendapat ini disepakati sesepuh Quraisy yang tentu memiliki banyak pengalaman sebagai orang tua, disamping pendapat ini adalah pendapat mayoritas Muhajirin dan Anshar.
  10. Hadits menunjukkan kefaqihan Umar Ra dan keutamaan beliau dalam ilmu, dimana ijtihad beliau mencocoki hadits Rasulullah saw yang dibawa Abdurrahman bin Auf Ra. Setelah berjalannya musyawarah.
  11. Imam (khalifah) memutuskan perselisihan di kalangan ummat dalam masalah ijtihadiyah, sebagaimana Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab Ra. memutuskan untuk kembali ke Madinah setelah adanya perbedaan pendapat dan memerintahkan rakyatnya mengikuti beliau.[11]
  12. Khilaf (perbedaan pendapat) dalam masalah ijtihadiyah tidak menyebabkan saling memutuskan hubungan (boikot)  atau saling mencela dan mengeluarkan dari ahlus sunnah sebagaimana fenomena menyedihkan ini terjadi di sekitar kita. Allahul musta’an.
  13. Di antara sebab terjadinya khilaf di antara ulama adalah tidak sampainya dalil, sehingga terpaksa bagi ulama untuk berijtihad.
  14. Bolehnya Ijtihad di saat safar atau peperangan.
  15. Mungkin suatu ilmu tidak diketahui oleh seorang yang alim, lihatlah Umar beserta shahabat Muhajirin dan Anshor tidak mendengar apa yang di dengar Ibnu Auf Ra.
  16. Mengambil ilmu meskipun dari orang yang lebih muda atau lebih rendah tingkat keilmuannya.
  17. Hadits Ahad adalah hujjah, dan wajib diamalkan sebagaimana dalam kisah di atas seluruh sahabat –yang mereka tidak diragukan adalah ahlul halli wal ‘aqd– bersepakat menerima berita Abdurrahman bin Auf Ra. Padahal beliau seorang diri dalam meriwayatkan. Ini sekaligus bantahan bagi Mu’tazilah dan yang berjalan bersama mereka para pengingkar hadits Ahad.[12]
  18. Dipakainya qiyas dalam pengambilan hukum. Tentu dengan syarat-syaratnya seperti tidak adanya nas. Dalam kisah ini Umar mengiaskan masalah yang sedang dihadapi dengan seorang penggembala di hadapan dua lembah gersang dan subur.
  19. Semangat untuk kembali kepada Al-haq ketika terjadi perselisihan. Jika ada nash tidak ada lagi ijtihad, siapapun orangnya, jika dating dalil yang ada hanyalah berserah diri kepada dalil.
  20. Al-Quran dan hadits adalah ilmu. Sebagaimana dikatakan Abdurrahman bin Auf Ra: “Aku memiliki ilmu.” dan yang beliau maksud adalah hadits Rasulullah saw.
  21. Menyampaikan ilmu ketika safar.
  22. Hadits ini juga menunjukkan sebuah masalah penting yang diyakini shahabat dan generasi salaf yaitu iman kepada taqdir.
  23. Tidak ada sesuatu yang keluar dari taqdir Allah, masuk ke Syam atau tidak masuk semuanya dengan taqdir.
  24. Iman kepada takdir tidak menafikan usaha, sebagaimana Umar memilih kembali ke Madinah, seperti penggembala unta berusaha menggiring untanya menuju lembah yang subur.
  25. Wali-wali Allah tidaklah ma’shum, dalam mereka berijtihad bisa sesuai dengan al-haq bisa pula menyelisihi Al-haq.
  26. Wali-wali Allah tidak mengetahui perkara ghaib, Umar bin Al-Khaththab dan sahabat muhajirin dan Anshor tidak mengetahui terjadinya thaun ‘Amwas, demikian pula tidak tahu ilmu yang diketahui Abdurrahman bin ‘Auf, sehingga mereka pun harus berijtihad.
  27. Wali-wali Allah selalu terikat dengan syareat, Al-Kitab dan As-Sunnah, lihatlah tiga orang yang dijamin Jannah, Umar bin Al-Khaththab, Abu Ubaidah ‘Amir bin Al-Jarrah dan Abdurrahman bin ‘Auf yang disebut namanya dalam hadits ini semuanya tunduk dengan hadits Rasul r, demikian pula muhajirin dan anshar yang mereka juga wali-wali Allah.
  28. Terjadinya Thaun ‘Amwas di masa Umar bin Al-Khaththab adalah salah satu tanda kenabian Rasulullah saw.
  29. Tidak memasuki negeri yang terjadi wabah thaun.
  30. Bagi yang berada di dalam negeri yang terjadi thaun padanya tidak boleh keluar karena lari dari thaun.
  31. Mafhum dari sabda Rasulullah r, jika seorang keluar bukan karena lari dari thaun, diperbolehkan.
  32. Menjauhkan diri dari sebab-sebab kebinasaan, dan menempuh sebab-sebab keselamatan.
  33. Berbahagia dengan nikmat ilmu dan memuji Allah atas nikmat tersebut. Allah berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. Yunus: 58 (Sumber: Majalah Asy-Syariah)


[1] Sargh adalah daerah di pinggiran Syam, di wadi (lembah) Tabuk.

[2] Kota-kota Syam adalah Palestina, Urdun, Himsh, Damaskus, dan Qanasrin.

[3] Yakni Khalid bin Al-Walid, Yazid bin Abi Sufyan, Syarahil bin Hasanah, Amr bin Al-‘Ash, Radhiyallahu ‘anhum.

[4] Shahabat muhajirin yang pertama adalah mereka yang shalat menghadap dua kiblat, Baitul Maqdis dan Ka’bah. Dalam sebagian riwayat, Umar Ra memanggil sahabat muhajirin.

[5] Jumhur ahli sejarah menyebutkan bahwa tahun dibukanya Baitul Maqdis dan kehadiran Umar untuk melakukan sulh adalah tahun 17 H.

[6] Lihat Mu’jam Al-Buldan 4/157.

[7] Qu’ash adalah penyakit yang menimpa hewan menimbulkan aliran cairan dari hidung hewan tersebut dan mengakibatkannya mati mendadak An-Nihayah (4/88) dan Fathul Bari (6/278)

[8] Berkata ‘Auf Ra: Ketika perang Tabuk aku mendatangi Rasulullah saw di tenda yang terbuat dari kulit. Beliau bersabda: “Nantikan enam perkara… Al-Hadits

[9] Yakni janganlah engkau bimbang dengan takdir, penduduk neraka sudah Allah takdirkan demikian pula penduduk jannah, semua manusia telah Allah takdirkan tempat mereka di syurga atau neraka. Dan keimananmu terhadap takdir jangan membawamu suudzon kepada Allah ta’ala, Allah tidak mendzalimi hamba-Nya.

[10] HR. At-Tirmidzi no. 2219 dari Ali bin Abi Thalib Ra berkata At-tirmidzi : Hadits ini Hasan Shahih

[11] Penentuan hilal Ramadhan dan Syawwal misalnya, hendaknya masyarakat mengikuti keputusan waliyul amr, sehingga persatuan muslimin lebih terwujud dan kokoh dan tidak terjadi pertikaian yang menyebabkan kelemahan di tubuh muslimin.

[12] Lihat kembali pembahasan Agungkan Sunnah Penuhi Seruan Rasulullah saw. Asysyariyah Edisi IAIN Vol. VI/no.63/1431 H/2010.

About salafartikel

bismillah

Posted on April 29, 2013, in Syarah Hadits and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: