Wajib Bertanya Pada Ulama. Tapi Siapakah Ulama Itu?

Abu Sulaiman Hammad Al-Ghazy, Lc

Ulama termasuk golongan manusia yang memiliki hak-hak khusus yang wajib ditunaikan.

Diantara sebab kejelekan umat manusia manakala mereka tidak lagi mendudukkan ulama pada kedudukan yang Allah tempatkan. Manusia pun terbagi dalam tiga kelompok besar. Diantara manusia ada yang benar-benar meremehkan ulama dan menghinakannya (jafa’), diantara mereka ada yang berlebihan dan melampaui batas dalam mengagungkannya (ghuluw). Adapun golongan yang selamat adalah mereka yang menempatkan ulama sesuai kedudukan yang Allah telah tempatkan mereka di dalamnya dan menjauhkan diri dari ghuluw dan jafa’.

Ulama yang kita maksud tentunya ulama dalam arti yang sesungguhnya. Yaitu mereka yang Allah sanjung dalam Al-Qur’an dan Rasulullah saw puji dalam Sunnahnya. Seperti firman Allah:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Fathir:28

Juga sabda Rasulullah saw:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sertamerta dari hamba-hamba-Nya, akan tetapi Allah cabut ilmu dengan diwafatkannya Ulama, sehingga ketika tidak ada lagi seorang yang ‘alim, manusia menjadikan orang-orang jahil sebagai pemimpin-pemimpin, mereka ditanya, merekapun berfatwa tanpa ilmu, hingga mereka sesat dan menyesatkan.[1]

Ulama yang kita maksud adalah mereka yang berilmu, menyibukkan dirinya dengan ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah dan mengikuti jejak As-Salaf Ash-Shalih dalam memahami keduanya.

Ulama adalah mereka yang menyertakan amalan dalam ilmu yang mereka ketahui, mereka juga bersungguh-sungguh dalam mendakwahkan risalah Rasulullah saw kepada ummat dan mereka selalu sabar di atas ilmu, amal dan dakwah.

Mereka adalah kaum yang berusaha mewujudkan sifat-sifat mulia yang tertera dalam surat Al-Ashr.

وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

Diantara mereka para ulama adalah para shahabat nabi saw, bahkan merekalah semulia-mulianya ulama. Kemudia para tabi’in, atbaut tabi`in, dan mereka yang mengikuti para shahabat dengan ihsan seperti para ulama ahlul hadits, sepanjang zaman.

Ulama dalam pengertian sesungguhnya bukanlah sekedar gelar yang disematkan pada sebagian manusia yang kenyataannya sangat jauh dari sifat-sifat ulama.

Di banyak negeri, dengan mudahnya gelar ulama disandangkan pada sebagian tokoh padahal sangat tampak dari dirinya sifat-sifat yang jauh dari ulama’, justru ia adalah tokoh yang mengajak kepada kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiyatan. Ucapannya jauh dari Al-Kitab dan As-Sunnah, ucapannya penuh dengan caci-maki kepada islam, bahkan kotor dan kufur, menyatakan semua agama benar, membenci ahlul islam dan menjalin kasih sayang dengan zionis, lebih menyedihkan lagi ketika ia mati kuburnya diagungkan dan dibangun patung besar, dianggap sebagai wali yang mendekatkan kepada Allah wal-iyadzu billah.


[1] HR. Al-Bukhari (1/186) Muslim 4828 dari Shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Ra

Posted on Desember 20, 2012, in Aqidah and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: